Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM171. Privilege


__ADS_3

"Ya iya dong, Ai. Canda kolaps waktu lepas sesar Ra, Givan yang histeris. Padahal kata dokter, keadaan Canda stabil. Karena cinta begini tuh, tak bakal tau kalau tak ditinggalkan atau tak terjadi apa-apa. Waktu pas awal kau datang, Givan sempat diusir dari rumah juga kan? Givan nangis-nangis di sini, kau pun tau sendiri kan?"


Ai mengingat kejadian awal. Meski ia pernah mendengar tentang perumpamaan tentang air mata buaya, tapi ia yakin Givan bukan jenis buaya yang suka menangis. Jangankan untuk menangis, mengatakan 'I love you' pun, hampir tidak pernah. Givan selalu akan mengatakan bahwa dirinya tertarik, bukan dirinya mencintai perempuan tersebut.


"Ya udah, A. Baiknya dipercepat aja pulangnya." Ai kini benar-benar sadar, bahwa tidak ada harapan lagi untuknya. Dunia Givan, sudah teralihkan oleh Canda.


"Gak bisa, Ai. Kamu harus jalani hukuman kamu dulu." Awang mencoba mengajarkan Ai untuk bertanggung jawab.


"A, kita langsung pulang aja. Dendanya besar, aku pun harus ikuti masa kurungan lagi." Ai benar-benar sudah tidak sanggup untuk menjalaninya.


"Nanti kau sambil kerja di sini aja, Wang. Nanti ikut ke ladang sama papah. Atau nanti biar Mamah bilang ke Givan, untuk kau jadi kuli tokonya. Soalnya, kadang ada yang bongkar semen tapi tak bawa kuli. Bongkar batu bata, tapi tak ada kuli." Adinda sering melihat anaknya mencari kuli dadakan, bila kekurangan kuli angkut di toko material milik Givan sendiri.


"Iya, Mah. Biar Nafisah di sini bisa pegang uang, aku pun bisa kirimkan ke kampung untuk anak-anak." Awang tahu, upahnya tidak seberapa. Tapi, ia tahu bahwa anak-anaknya pun membutuhkan jajan dan makan.


"Iya, entah berapa atau berapa. Yang penting ada pemasukan. Givan dulu kerja jadi kuli cat, sehari delapan puluh lima ribuan. Bawa bekel makan siang sendiri, bawa air sendiri. Kasian betul, tapi anaknya susah diarahkan. Harus aja tuh ngerasain kapok sendiri, baru mau diurus diarahkan." Adinda merasa memang anak sulungnya membutuhkan penanganan ekstra darinya.

__ADS_1


"A Givan beneran pernah kerja kasaran, Mah?" Ai tidak bisa menutupi kekagetannya.


"Pernah, lama malah. Ganti jadi buruh bangunan, Zuhdi jadi tukangnya. Sekarang Zuhdinya udah jadi pemborong, Givan yang jadi buruhnya malah sekarang jadi bos dari segala bos lagi. Kenyang diajak susah Canda tuh, jahit pakaian sendiri tuh hampir tiap hari. Kainnya udah rapuh, nyucinya di mesin cuci, ya sobek terus. Akhirnya ya gitu rutinitasnya, makanya tadi dia bilang CD tambal sulam. Memang benar seperti itu, memang nyatanya begitu. Penghasilan Givan itu, untuk kebutuhan makan mereka aja gak cukup. Mamah sampai tak pernah mintain uang listrik, malah selalu bentuk ngasih ini dan itu." Adinda teringat masa-masa sulit anaknya, tapi enggan dikasihani.


"Kehidupan itu berputar ya, Mah?" tambah Nafisah.


"Yaps, betul. Tapi putaran di porsi rotasinya masing-masing. Ada ilmunya malah loh, tapi waktu itu Mamah tak pelajari dalam. Intinya begini, orang turunan bawah ini bisa berada di atas ya sesuai porsinya. Orang yang kaya karena warisan, itu bisa semakin kaya pun sesuai jangkauan modal awalnya. Jadi ilmu begini, orang tanpa privilege family kaya atau koneksi sama sekali itu bisa sukses, artinya dari nol dan background family biasa-biasa aja, mereka bisa sukses di ukuran kesuksesan dia. Contohnya gini, si A anak single parent, family tak ada warisan, tak ada dukungan koneksi dan tak ada dukungan materi untuk modal apapun. Nah, kesuksesan orang non privilege begini bisa sukses dengan jumlah kekayaan ratusan juta atau beberapa miliar itu ya udah di ukurannya. Beda nih misal sama orang keturunan sultan dan warisan menunjang, sukses dianggapan dia itu ratusan miliar atau triliunan. Orang yang non privilege sama sekali pun bisa di ukuran orang dengan privilege, tapi probobalitasnya dikit betul. Karena tak bohong, koneksi dan modal itu penting betul untuk mempercepat karir di bisnis apapun. Karena orang circle atas itu, cara mainnya beda dengan orang di circle tengah atau bawah. Pemahaman begini nih, Mamah dapatkan dari mantan suaminya Canda itu. Dia disebut licik oleh sebagian orang, tapi nyatanya dia itu koneksinya banyak, meski modalnya kecil. Salah satu hal yang perlu dicontoh lagi, jangan sampai hutang piutang menyangkut modal awal usaha. Karena bukannya berkembang, kau malah terbebani bayar hutang di masa usaha kau belum stabil. Dari benar-benar nol, dia bisa punya perusahaan distributor terbesar, karena koneksinya luar biasa dan dia bisa dipercaya." Adinda pun merasa lebih cepat untuk membesarkan usahanya, setelah mengikuti langkah-langkah dari mendiang Nalendra.


"Wah, berarti aku salah ya, Mah? Aku sering beli barang lewat Bank keliling gitu, Mah. Jadi misalkan kursi plastik persatu bijinya ini seratus lima puluh ribu, aku bayar seribu rupiah sampai lima bulan. Gitu, Mah. Aku kan dagang, jadi rasanya murah gitu karena bayar tiap harinya ringan." Nafisah merasa bahwa dirinya masih berkecimpung di hutang piutang.


"Kan barangnya udah di tangan juga, A. Tinggal nyicil kedepannya gitu." Nafisah hanya tidak sabar ingin segera memiliki barang.


Awang mulai mengatur napasnya. Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain, di jalanan ia tidak mudah tersulut emosi, tapi di hadapan istrinya ia mudah sekali ingin meluapkan kekesalannya.


"Udah, udah. Jangan dulu ditawarkan ke orang rumahnya, Wang. Sana ngobrol kerjaan dulu sama papah. Rumah nanti tunggu konfirmasi Givan gimana baiknya, soalnya ada hak adik-adik kau di rumah yang mau kau jual itu. Tak bisa semuanya untuk biaya denda Ai, takutnya adik kau yang satu lagi tak terima." Adinda paham perihal warisan itu sangat sensitif. Ia berharap semoga anak cucunya tidak meributkan warisannya dan suaminya. Apalagi, ada anak dari istri kedua Adi yang bukan merupakan anak Adi sendiri. Ada Givan juga, yang merupakan bukan anak Adi juga. Pasti permasalahan nanti lebih rumit, jika ia tidak membuatkan surat wasiat sejak dini.

__ADS_1


"Iya, Mah. Sebenarnya aku mikirin juga ke situnya, tapi kasian sama Ai, Mah. Aku gak berdaya, mau bantu kaya gimana, karena aku pun gak punya harta untuk bayar dendanya." Awang sadar diri bahwa dirinya adalah orang yang tidak mampu.


"Maafin Ai, A. Aa udah buat repot." Ai menyesali kepergiannya beberapa tahun silam.


"He'em, gak usah dibahas kalau buat kamu sedih. Cepat pulih, biar kita bisa berjuang bersama kedepannya." Awang adalah manusia yang tidak mau membahas kejadian yang sudah-sudah. Ia menganggap kejadian itu telah selesai, jika baiknya adalah tidak dipermasalahkan lagi.


"Eh, aku ada telepon dari Givan, Mah." Awang mendapatkan panggilan telepon dari ponsel android milik anaknya yang ia genggam.


"Kalau mau ngobrol panjang, kau yang ke sana aja. Agak susah Givan keluar kandang, istrinya rewel." Ai dan Nafisah tertawa geli, kala Adinda mengatakan hal tersebut.


"Iya, Mah. Aku permisi angkat telepon dulu." Sopan santun Awang patut diacungi jempol.


Awang sudah berada di teras rumah, ia sudah menerima panggilan telepon dari Givan. "Ya, hallo. Gimana, Van?" tanya Awang setelah mendengar suara grasak-grusuk Givan.


"Ya, hallo. Aku udah ngobrol sama Canda barusan, nih Canda juga ada di samping aku. Katanya, untuk masalah rumah yang mau dijual itu.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2