
".... Setelah bercerai antara aku dan Canda, kami kembali dengan hubungan kakak beradik yang lebih dekat. Dudanya aku dan jandanya Canda, kami tak pernah melakukan hubungan terlarang meski di kamar. Begitu percayanya Canda sama aku, laki-laki ba*i*gan yang selalu memanfaatkan peluang. Aku pun tak mau Canda takut dan hilang kepercayaan sama aku, dengan maksa dia berhubungan masa kami menduda dan menjanda dulu meski aku bisa. Aku jaga kepercayaannya, karena aku tau kalau aku adalah luka terhebat untuknya. Hubungan kami lebih baik, setelah melewati masa perceraian. Perceraian itu pun kehendaknya, bukan aku yang mau. Dia ceraikan aku, karena aku khilaf di malam reuni dan aku punya satu anak dengan teman masa kuliah aku karena hubungan khilaf itu. Alhamdulillah, setelah rujuk dengan Canda. Aku bahagia, dia bahagia, meski di antara kami ada dua anakku dengan perempuan lain, ada juga anak Canda dengan laki-laki lain. Hubungan se*s pun lebih baik dari pernikahan pertama, karena Canda bisa menyikapi ketakutannya sendiri tentang se*s, karena kejadian pemerkosaan itu. Aku dan Canda bisa menyalurkan fantasi dan ibadah kami, dengan se*s yang rutin kami lakukan. Hasil buah cinta kami setelah rujuk pun, mix antara aku dan Canda. Wajahnya selalu teduh kek Canda, tapi watak kerasnya mirip aku. Itu adalah salah satu anak kami, yang Canda kandung setelah rujuk. Untuk anak kedua kami setelah rujuk, berjarak sekitar dua tahun dengan anak pertama. Dia persis kek Canda, sifatnya pun seperti Canda, tapi dari pola pikir yang sering aku tanyakan dengan dialog dengan anak aku yang itu. Ternyata, pola pikirnya seperti aku. Si kecil Cani, yang logikanya bermain, tidak dengan perasaannya. Padahal itu anak perempuan, anak perempuan yang hadir karena kami membuatnya dengan kenyamanan kami berdua. Mungkin, fantasi aku sekarang udah beda dari yang dulu. Karena menyesuaikan diri dengan pasangan hidup aku, yang jelas punya trauma besar dan pelakunya aku. Jangankan sedikit kekerasan, kakinya ditarik pun dia udah panik, moodnya udah berubah, karena tindakan narik kakinya itu hal yang sering aku lakukan pas mau memperdaya dia." Givan beberapa kali menjeda kalimatnya.
"Kenapa aku gak percaya ya, A?" Harusnya Ai menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Tapi, cerita Givan seolah bualan untuk dirinya.
"Kau perlu jawaban yang kek gimana?" Givan merasa sudah berterus terang, tapi rupanya jawaban itu tidak cukup membuat Ai puas.
"Yaaa..... Kaya gak nyata. Masa iya seorang Givan sampai memikirkan perasaan orang lain?" Ai mengatakan hal seperti ini, karena ia tahu tabiat Givan.
__ADS_1
Givan merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi Google Drive, di mana ia menyimpan foto-foto lamanya dengan Canda.
"Ini anniversary yang pertama pernikahan aku sama Canda. Penampilan kami, jauh dari kata kaya." Givan duduk di tepian ranjang dekat Ai, ia menunjukkan fotonya bersama istrinya.
Givan duduk beriringan bersama Canda, dengan membawa senampan nasi kuning yang berbentuk kerucut. Berbagai lauk pauk mengitari nasi kuning tersebut, hingga terlihat menarik dan pantas.
"Baru satu tahun menikah, aku ninggalin tambang dengan alasan malas ribut. Tapi yang sebenarnya, aku malas ditanya kolega tentang aku yang tak jadi nikah sama kau. Satu tahun pernikahan, kita udah miskin betul. Nah, ini foto pas aku jadi buruh cat. Aku rela kerja kasaran, untuk hidupi Canda." Givan menunjukkan fotonya bersama beberapa buruh cat lainnya, yang pakaiannya begitu kotor dengan berbagai warna cat.
__ADS_1
"Ini foto aku, Canda dan anak-anak jalan-jalan car free day. Ini status kami bukan suami istri, kami akur dengan anak-anak kami." Givan menunjukkan foto dengan suasana ruangan terbuka.
"Dia istri Aa, pasti Aa lewati banyak cerita sama dia. Itu umum, A. Tapi perasaan Aa gimana? Aku yakin, tentang kita belum sirna kan?" Ai bertanya lirih, hingga tidak mampu didengar Kenandra yang menyimak sejak tadi.
"Nah, kau paham. Cerita aku sama dia lebih banyak, udah pasti kenangannya pun lebih beragam. Jangan dibandingkan, dengan kenangan kita yang hanya beberapa bulan aja. Karena jelas tak sebanding, Ai. Kalau tentang kita belum sirna, aku tak akan pernah pikirkan kehidupan Canda agar lebih baik dari sebelumnya. Kalau tentang kita belum selesai, udah pasti aku akan usahain kau pas kau datang lagi. Iya kan? Kan aku tak begitu, bukan karena anak-anak juga alasannya. Tapi karena Canda yang memang aku inginkan untuk nemenin aku di dunia ini. Anak-anak, mereka udah lepas dari kita sejak mereka kecil. Mereka hidup dengan pengasuh mereka, bukan kami yang mengurus mereka mandi dan sebagainya. Aku tak akan terlalu rumit mikirin anak-anak, karena mereka terbiasa ditinggal masa orang tuanya pergi perjalanan bisnis. Yang paham, Ai. Hati seseorang itu cepat berubah, satu bulan hidup sama Canda, bahkan aku udah hafal gimana bau dan nada kentutnya. Tak sulit untuk aku lupain kau, tapi malunya sampai hari ini setiap ada kolega yang nanya kenapa tak jadi menikah, ada masalah apa. Belum-belum kalau nanyanya depan Canda, aku harus bangkitin mood dia yang rusak karena pertanyaan itu. Tapi sekarang pertanyaan kek gitu udah tak ada, digantikan dengan pertanyaan anaknya udah berapa, kenapa yang kecil tak dibawa, gitu-gitu lah pokoknya." Givan menerawang jauh, ia teringat tentang semua anaknya yang pernah ia ajak makan malam di acara resmi. Semua kolega sampai bertepuk tangan, karena anak-anak Givan yang tidak sedikit. Belum lagi para pengasuh yang ikut dalam acara tersebut, mengesankan Givan bagaikan sultan karena masing-masing anaknya memiliki seorang pengasuh.
"Aa tak ingat janji Aa, masa ajak aku untuk berhubungan badan yang pertama kalinya?" Pertanyaan lirih Ai, mampu merebut perhatian Givan.
__ADS_1
Givan pernah menjanjikannya atas nama Tuhannya. Lalu, bagaimana jika janji itu tidak terlaksana bukan karena dirinya ingkar? Apakah pantas Ai masih menagih janji itu? Apakah harus Ai mengingatkan janji yang bukan Givan penyebab janji itu tidak pernah terealisasikan? Bukankah Givan pernah mengusahakan janji itu agar terlaksana? Namun, ditolak mentah-mentah oleh si penerima janji.
...****************...