
"Sebelumnya, aku memang ada cerita kalau Canda bukan ibu kandungnya. Zio tau kalau dia bukan anak Canda. Tapi, respon anak itu adem aja. Dia pun nanya gini, apa aku anak ibu. Ya aku bilang, bukan anak ibu juga, tapi Zio tetap anak ayah. Pernah aku kasih lihat juga kok fotonya Nadya, aku ambil do medsos. Zio ya cuma manggut-manggut aja, kek tak penasaran gitu. Nanti aku ajak ngobrol Zionya lagi deh, Mah. Soalnya kan Mamah tau sendiri, Zio tak banyak pertanyaan." Givan garuk-garuk kepala merasa bingung dengan keadaan yang tidak bisa ia atur.
"Nadya ada nitip kartu nama, dia minta kau hubungi dia kalau udah sampai. Dia masih di sekitar sini, lagi liburan sama Ziyan. Awalnya sih, dia mau ajak Zio liburan. Tapi, Mamah yakin Zio belum tentu maunya." Adinda bangkit dari kursinya. "Mamah ambil kartu namanya dulu." Ia keluar dari area dapur tersebut.
Givan melirik ke hasil masakan ibunya. Terong balado dengan bumbu yang amat menggoda, ia malah mengusap perutnya karena tiba-tiba berselera untuk makan.
Namun, ia teringat akan masakannya dengan Canda. Ia sudah masak bersama, untuk makan malam mereka nanti. Ia akan menahan laparnya, daripada nanti mengecewakan istrinya.
"Ini nih, Van." Adinda sudah kembali dengan secarik kertas seukuran KTP yang cukup tebal.
Givan menerima dan melihat kartu nama tersebut. "Agen J**?" Givan gagal fokus tentang keterangan pada kartu nama tersebut.
"Iya, dia bilang ada usaha ekspedisi di garasi rumahnya. Suaminya meninggal beberapa bulan yang lalu, kena serangan jantung. Dia tak bisa lanjutkan usaha suami, karena suaminya seorang makelar tanah. Makanya dia buka usaha itu, Van." Adinda kembali beroperasi di depan kompornya.
"Hmm, janda lagi aja. Udah nih, Canda mencak-mencak. Ria kemarin peluk-peluk aku di rumah sakit, di rumah aku ditanya Canda. Enak tak pelukannya, mas. Dadanya berasa besar tak, hangat tak." Givan menirukan suara istrinya sendiri. "Sama adiknya aja cemburu. Canda hamil tuh absurd betul, tambah agak-agak. Tapi makin dia cemburu, aku makin merasa dicintai aja. Kadang terharu tuh, Mah. Ya ampun, istri aku sampai begitu cintanya sama aku. Bersyukur betul aku ini, istri sendiri kesengsem suami tak ada awal dan akhirnya," lanjutnya kemudian.
Adinda terkekeh kecil, dengan menggoreng ikan yang berukuran sedang. "Ya perempuan juga sama, Van. Mereka senang, kalau suaminya cinta betul tuh. Cuma kebawa kesal juga, karena kalau laki-laki cemburu itu marah-marah. Malah jadi sakit hari gitu, karena dibentak-bentak dan ditunjuk-tunjuk depan mata." Adinda mengambil sebuah tutup panci, lalu menutup wajan yang terus ikan yang tengah digoreng tersebut.
"Papah juga begitu, Mah?" Givan memang merasa dirinya seperti contoh laki-laki yang ibunya sebutkan.
Adinda mengangguk. Ia mengecilkan nyala api dalam kompornya, kemudian berjalan ke kursi makan tempat Givan berada kembali. "Papah kasar kalau udah marah. Suaranya nyaring, tunjuk-tunjuk depan muka. Nuduh tuh yang bukan-bukan, bahkan pernah sampai dibui karena masalah dia pukuli laki-laki yang buat dia cemburu. Keknya itu tuh waktu hamil Ghifar deh." Adinda sudah sedikit lupa dengan kejadian itu.
__ADS_1
"Dilapor ya karena tindak pengeroyokan mungkin ya?" Givan mengerti hubungan penjara dan tindak kekerasan yang sedikit Adinda ceritakan.
"Iya, papah kau kalau cemburu itu tuh udah gelap betul. Dia tak bisa kontrol, dia tak bisa dinasehati. Kalau perempuan kan, cemburu itu masih bisa main cantik. Kalau laki-laki tak begitu, hawanya udah emosi aja. Udah numpahin emosinya ke mana-mana, ke arah ranjang pun jadi tekanannya agak kasar tuh. Kek tak habis-habis itu marah, nyangkanya udah jauh aja. Ya itu sih, Mamah tau sendiri karena papah Adi begitu. Kalau papah Hendra kan, dia hampir tak pernah cemburu. Cuek tuh ya cuek bebek aja udah, tutup mata tutup telinga. Say hay sama teman laki-laki di jalan pun, papah Hendra tak ada marah." Adinda pun baru memahami ternyata cara laki-laki memperlihatkan kecemburuannya itu begitu menyeramkan.
"Aku tau alasannya, Mah. Karena papah Hendra itu percaya betul sama Mamah, dia tau bagaimana Mamah. Jadi papah Hendra itu berpikir, ya Mamah tak mungkin macam-macam." Givan yang pernah tinggal bersama ayah kandungnya, tentu memiliki banyak obrolan yang menyangkut segala hal.
"Ya tapi kesannya kek tak peduli tuh. Dapat papah Adi, ya plus minus. Dapat papah Hendra, ya plus minus." Adinda paham, bahwa tidak ada laki-laki sempurna seperti yang ada pada cerita novel.
"Mending papah Adi menurut aku sih, Mah. Ibu Syura di sana berapa kali dipoligami, untungnya dapatnya yang ala-ala ahli surga, jadi tak minta cerai. Papah Adi belum mangap minta poligami, kan udah patah duluan tulang rusuknya," sindir Givan kemudian.
Adinda terkekeh kecil, kemudian memukul lengan anaknya. "Kadang tuh, Van. Kadang ya ini sih, Mamah berpikir begini. Kalau papah tak hidup sama Mamah, ya udah mati aja gitu. Tapi masa itu Mamah kontrol, karena niatnya memang tak ingin buat suami almarhum. Mamah masih belum siap."
"Ya mending Canda, Canda kan jurusnya maksa. Pokoknya, pokoknya, pokoknya. Udah tuh, sulit dimengerti tapi harus dituruti."
Adinda memahami dan tahu betul bagaimana seorang Canda. Ia tidak kaget, malah sudah hafal sifat menantunya.
"Mah, aku minta terongnya. Tapi dibawa pulang aja. Aku udah masak sama Canda tadi, takut dia marah kalau aku makan di sini." Givan menunjuk makanan yang ia inginkan.
"Ambil ajalah, Mamah juga masak banyak kok." Adinda mengambilkan sebuah piring hadiah deterjen pada anaknya.
"Betul tak sih, Mah. Katanya kalau makan terong itu jadi kisut?" tanya Givan, dengan menyendokkan lauk yang ia inginkan.
__ADS_1
"Mitos aja itu sih, karena tekstur terong yang dimasak jadi mengkisut, jadi asumsi masyarakat begitu. Malahan para peneliti mendapati bahwa antosianin yang ada pada terong bisa menghambat peradangan sel otak, sekaligus membuat sinyal antar sinaps atau sambungan antara saraf otak lebih aktif. Selain itu, juga bisa memfasilitasi aliran darah hingga ke otak. Terong bekerja pada otak untuk menghilangkan frigiditas dan meningkatkan h*****t se*s**l. Terong merangsang pusat h*****t se***al di otak. Kebalikannya, bukan? Kalau makan terong buat kisut, harusnya papah Adi udah kisut dari dulu. Orang buktinya sampai sekarang masih bisa aja, masih butuh aja."
Givan terkekeh geli mendengar ucapan ibunya. "Ya Mamahnya juga sama." Celetuk Givan kemudian.
"Ya lah, masih hidup ya masih butuh." Adinda tidak malu mengakui hal tersebut.
"Nanti aku tua kek gitu tak ya, Mah? Menurut Mamah aku panjang umur tak sih ngaldenin sifat tuanya Canda nanti?" Givan membuat ibunya tertawa terbahak.
"Panjang umur lah, kau habis marah langsung ketawa. Emosi keluar, humor juga dapat." Adinda paham, panjang umur dipengaruhi oleh tingkat beban pikiran seseorang.
"Alhamdulillah deh, bisa walikan nikahnya sampai yang terakhir nanti dong ya?" Givan mengusap-usap dadanya dengan tersenyum lebar.
"Yang penting sampaikan ilmu yang bermanfaat, bentuk akhlaknya selagi masih bisa dibentuk. Agamanya perkuat, keimanannya tebalkan. Masalah wali nikah sih, jaman sekarang ada hakim. Beranak sih beranak aja, tak usah mikirin mati kapan. Kalau mikirin mati kapan, ya tak jalan-jalan kehidupan kita. Tapi berbuat baiklah, seolah mati esok hari. Begitu."
Givan merasa nasehat ibunya cocok untuk kakak angkatnya.
Givan manggut-manggut. "Aku pulang dulu ya, Mah? Mau cerita ke Canda tentang Nadya, terus kasih pemahaman ke Zio." Givan bangkit dengan membawa piring berisi lauk tersebut.
"Iya, kau hubungi dia cepat katanya." Adinda mengamanahkan pesan dari Nadya.
"Iya, Mah." Givan keluar dari area dapur ibunya.
__ADS_1
...****************...