Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM59. Fitnah Ai


__ADS_3

"Kau terlalu berbelit-belit, Ai! Kau bisa langsung sebutkan namanya aja siapa, karena kita pasti kenal."


Dadanya bergemuruh hebat, keringat dinginnya terus membasahi berbarengan dengan rasa mulasnya yang datang. Ai dirundung gemetar mendadak.


"Mau diapakan memang, Mah?"


Adinda pun mengenali ciri ketakutan dalam diri Ai tersebut. Ia paham, sejak tadi Ai berbohong dan tengah mencari alasan. Namun, ia malah memancing agar Ai terus mengeluarkan jurus-jurus dustanya.


"Biar jadi saksi di desa nanti. Nanti kita jemput ya? Kau, sama kawan kau itu. Givan pun bakal datang kok, sama istrinya juga." Adinda merangkul menantunya, ia mengusap bahu menantunya dengan tersenyum lebar.


Canda pun mengangguk dan membalas senyuman ibu mertuanya. Ia mencoba tangguh, meski bisa beresiko ia mati rasa pada suaminya.


"Tapi, Mah...." Ai menggigit bibir bawahnya.


"Jangan tak hadir ya, Ai?" Givan memajang senyum indahnya.


"Nanti sama-sama kok, tak sendirian," tambah Canda terdengar ramah.


Karena sudah begitu tersudutkan, ia langsung menyebut nama salah satu warga yang selalu mendengar ceritanya. Karena ia berpikir, bahwa kasus akan dibawa ke balai desa hanyalah gertakan semata.


"Eva, Mah. Kita bawa Eva aja ke sini, kita selesaikan secara kekeluargaan." Pikir Ai, ia tidak apa keluar uang untuk bisa mengajak Eva bekerja sama.


"Kan malu, Mah. Kalau cuma permasalahan kek gini, tapi di bawa ke balai desa," lanjutnya kemudian.

__ADS_1


Tetapi, hal itu sudah tidak bisa dinego lagi. Adinda sudah mengantongi nama itu, ia akan tetap membawa perkara ini ke balai desa saja. Untuk Eva si tetangga belakang rumah ibu Ummu, sudah pasti Adinda akan menariknya untuk dijadikan sebagai saksi yang mendengar langsung cerita dari Ai.


Apakah cerita itu sama halnya yang beredar di warga, atau seperti pengakuan dari Ai sendiri. Jika ada perbedaan, biar hukum dilanjutkan untuk keadilan bersama.


Sebenarnya, Adinda pun tidak menyangka jika Ai berani sampai menjelek-jelekkannya di mata masyarakat. Givan dan Canda yang jelas masih menjaminnya pun, nyatanya terkena fitnah dari Ai. Mungkin Ai pun tidak tahu, jika masalah ini sampai didengar langsung oleh keluarga Adinda. Apalagi, yang mengadukan langsung adalah ketua RT setempat. Ia merasa kapok, karena sudah mengumbar mulutnya sendiri. Ia dibuat pusing dan mendadak pucat, karena langsung ditegur dengan orang yang bersangkutan. Belum lagi, ia nanti harus menjelaskan juga di balai desa.


"Kami permisi ya?" Adinda bangkit lebih dulu, diikuti dengan anak dan menantunya.


Ai hanya mengangguk. Ia terlalu lemas untuk bangun, kemudian mengantar tamunya sampai teras rumahnya.


"Canda, kira-kira berapa jumlah rupiah sembako yang kau kasih ke Ai?" tanya Adinda, saat mereka berjalan kembali ke rumah.


Canda mengingat kembali. "Tak tau, Mah. Soalnya, sekalian belanja bulanan buat kita sendiri." Canda tidak pandai mengira-ngira harganya.


"Apa kurang kah untuk dia seorang diri? Sampai gembar-gembor ke orang-orang begitu." Adinda berpikir, mungkin Ai kecewa dengan jumlah yang Givan beri. Karena tidak sesuai dengan harapannya.


"Aku udah bilang, Mah. Kalau kurang, hubungi dan buat list yang dibutuhkan aja di nomor ini. Istri Ghifar mau jadi perantara dan dia juga tak keberatan nomornya disimpan Ai. Karena aku pikir, kalau nomor aku, dia pasti spam chat ke aku. Nomor Canda, pasti dia terus manas-manasi Canda aja," ungkap Givan dengan menggenggam tangan istrinya.


Adinda baru tahu di sini, jika salah satu menantunya pun ikut andil untuk mengurus Ai. "Kalau begitu, istrinya Ghifar juga harus hadir di balai desa nanti. Biar dia jadi saksi, tentang kau yang memang jamin Ai dan bahkan bolehin Ai minta jaminan yang ia butuhkan lagi lewat istrinya Ghifar."


"Tapi kata mama, dia tak pernah dapat chat dari Ai. Tanggung bulan begitu, dia chat ke Ai butuh apa begitu. Ya katanya, Ai malah jawab panjang, segala katanya dia tak butuh belas kasih kami." Adinda langsung memekarkan pandangannya, begitu mendengar cerita dari Canda.


"Loh? Tak butuh belas kasih kami, ya udah aja besarkan anaknya sendiri tanpa cari kami di sini. Mulutnya itu suka betul buat dusta. Ke Mamah mohon dikasihani, ke Givan nuntut pengakuan bayi. Eh ngomongnya malah dibuang-buangi aja! Sombong betul itu perempuan."

__ADS_1


Di luar perbuatan kriminal Givan, yang membuat Ai menjadi korban di sini. Seharusnya, tak sepatutnya Ai berbicara sombong seperti itu. Karena ia datang dengan mengiba, tapi di belakang lain lagi mulutnya berbicara. Ai seperti tidak menysukuri semua rasa simpati yang keluarga itu berikan padanya.


"Memang tuh harusnya jatah berapa banyak sembako, Mah?" tanya Canda, karena ia berpikir memang Ai merasa kurang kecukupan dari jatah tersebut.


"Ya, mungkin kan orang ada pengen jajannya. Mungkin tak cukup, kalau cuma makan-makan aja," jawab Adinda, ia merasa memang dirinya pun tidak cukup jika hanya makan saja.


"Uangnya pun aku kasih dua juta, Mah. Aku sih bilangnya buat pegangan aja, terus barangkali ia mau jajan kan gitu. Kan sering ada pedagang yang mangkal depan penginapan, Mah," terang Givan dengan menoleh sekilas pada ibunya.


Jika dirasa itu cukup untuk seorang Ai. Lalu apa sebabnya Ai berkelana dan mengumbar fitnah? Apa itu hanya inginnya saja, atau lebih memang ingin menjelek-jelekkan keluarga Givan?


Padahal, tidak diikuti dengan fitnah juga. Semua mata juga bisa memahami, bahwa Givan bersalah di sini. Tapi sepertinya, itu tidak cukup puas untuk seorang Ai. Rupanya, ia ingin membuat semua orang merasa bersimpati padanya.


"Aku udah mikirin, gimana nanti kalau Mas Givan harus dipenjara? Terus, apa Ai tak bersalah gitu karena udah buat fitnah kek gini? Aku pernah dengar, hamil di luar nikah pun kena hukum di sini. Aku jadi mikirin, Mah." Canda sudah terlihat melamun.


Givan lebih erat menggenggam tangan istrinya. Ia sadar, dirinya salah tanpa harus membela juga. Tapi ia ingin sekali semesta memahami, bahwa dirinya tidak sepenuhnya bersalah.


Apalagi, dalam akad jual beli jasa seperti itu. Harusnya Givan tahu beres, karena ia hanyalah pembeli. Penjual harus lebih paham resiko pasar, karena Givan membayarnya di sini. Yang tidak ia mengerti, kenapa ketika Ai mengandung malah dirinya yang harus bertanggung jawab? Bukankah ia adalah pembeli di sini?


Givan hanya ingin memberi Ai pelajaran saja, tidak dengan resiko kehamilan juga. Jika harus Ai mengandung, itu adalah resiko Ai sendiri.


Karena sepengetahuannya, tidak ada pelacur yang hamil dan meminta pertanggungjawaban pada pelanggannya. Itu adalah resiko pasar, dengan dirinya yang harus mencegah dan menanggulanginya.


Logikanya seperti itu saja, meski kenyataannya dirinya tidak benar-benar mencicipi Ai. Namun, dirinya memang merasa membeli Ai untuk malam itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2