Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM212. Video call bersama keluarga


__ADS_3

"Apa, Pah?" Canda kurang puas mendengar, karena ayah mertuanya menggantungkan penjelasannya.


"Adek pulang aja, lihat sendiri. Biar Abang di sini sama Zuhdi, sampai boleh pulang. Tak paham lagi harus gimana, mana tau Adek bisa pahami di sana." Adi seolah memasrahkan masalah yang ada di rumah pada istrinya.


"Pencurian kah? Uang cash hilang kah?" Adinda coba mengorek keterangan dari suaminya, yang enggan berkata terus terang.


Adi hanya menggeleng, untuk menjawab pertanyaan istrinya.


"Abang ada perempuan lain? Perempuannya datang kah ke rumah?"


Adi langsung menatap wajah istrinya. "Mentang-mentang Abang pernah buat kesalahan, bukan berarti Abang selalu buat salah, Dek. Cari sampai dapat, kalau memang ada perempuan lain." Adi tersulut emosi.


Adinda terkekeh pelan, ia bergelayut di lengan suaminya. "Ya bukan gitu, Bang. Abang tak terus terang aja sih, aku kan jadi nebak-nebak terus."


Canda yang berada di dalam panggilan video seolah tidak direspon.


"Adek pulang aja, istirahat. Kata dokter, mungkin sore atau malam Abang boleh pulang. Sekarang masih observasi." Adi memerintahkan istrinya untuk pulang lebih dulu kembali.


"Sebetulnya ada apa di rumah? Aku jadi takut pulang, dengan Abang nyuruh aku pulang terus. Apa ada ular masuk kah di sana? Atau, ada luwak masuk? Aku diminta usir binatang dulu kah?" Adinda berpikir bahwa ia diminta untuk pulang, untuk menghadapi binatang liar yang masuk ke dalam rumah.


Ghifar terkekeh, melihat ayahnya berulang kali melirik ke arah ibunya dengan menyatukan alisnya. Ia pun tidak mengerti pola pikir ibunya, ia jadi merasa ibunya ketularan kakak iparnya.


"Tak ada, Mah," timpal Zuhdi dengan menahan tawanya.


"Tapi feeling Mamah begitu, Di. Waktu ada ular kopi di dapur, Mamah kurung itu ular pakai tutup panci presto. Kan bentuknya kek baskom gitu tutupnya, lebar dan cekungannya dalam. Eh, Papah kau suruh bawa keluar. Malah dia tak mau coba, dia lebih milih manggil tetangga aja." Adinda menceritakan pengalamannya pada menantunya.


"Eh, Adek." Adi meraup wajah istrinya. "Abang kan takut sama berbagai macam jenis ular, mana punya riwayat digigit ular kopi. Daripada Adek jadi janda, mending istri tetangga aja yang jadi janda."


Canda yang berada di seberang telepon, Zuhdi dan Ghifar pun tertawa geli mendengar ucapan Adi.


"Tapi warga sini tak pernah ada ceritanya digigit ular kopi itu meninggal, Pah. Ular kopi ini kan, makannya tikus, katak, kadal. Ular itu tak berbisa, cuma memang lincah dan bergigi tajam aja," terang Zuhdi kemudian.

__ADS_1


"Nah, itu. Gara-gara digigit, jentik kaki Papah kan sampai dijahit. Panas dingin efek jahitannya, mana betinanya buas lagi." Adi teringat kisahnya yang diminta jatah ranjang di malam hari, setelah paginya ia mendapat musibah digigit ular kopi.


"Ular betina kah yang gigit?" tanya Canda dalam panggilan video tersebut.


Adinda menahan tawa, ia tahu maksud suaminya. "Dodol, Abang tuh." Ia merasa malu karena disebut betina buas.


"Ada pokoknya, Dek. Baca aja novel Belenggu Sang Pemuda. Agak lain Mamah kau di sana," jawab Adi kemudian.


"Kan masih muda lah, Bang. Abang pun agak lain di sana, pandai betul bohong." Kemesraan mereka terlihat dengan canda tawa hangat.


"Oh, iya-iya." Adi menyambung tawa malu, karena namanya ditarik dengan suatu hal yang tidak baik.


"Jadi masalahnya apa, Pah?" Jika penasaran Canda semakin menggebu-gebu.


"Nanti kau pulang pun tau sendiri lah, Dek. Sehat-sehat, biar cepat kumpul lagi di sini." Adi memilih untuk tetap tidak membuka masalahnya.


"Tuh, kan? Aku penasaran, Pah." Canda langsung merengek.


"Ya tak mau apa-apa, mau nonton aja." Canda terkekeh geli mengakuinya.


"Dasar!" Adinda geleng-geleng kepala.


"Papah mah lihat cucu Papah yang paling cantik dong." Adi mengalihkan pembicaraan mereka.


"Bentar, Pah. Aku benahi dulu, lagi ASI dia dari episode tadi tak udah-udah. Kuat betul ASI-nya, padahal udah pulas." Canda meletakkan ponselnya sejenak, karena ia akan menutupi dadanya yang terekspos.


Kemudian, ia mengambil kembali ponselnya dan memutar kameranya untuk diarahkan ke putri kecilnya yang berada di dekapannya.


"Kok makin mirip Givan? Nak, wajah kau sangat betul." Adi terkekeh, mendengar komentarnya sendiri.


"Cantik loh tapi dia ini, Bang," tambah Adinda dengan memperhatikan layar ponsel Ghifar yang berada di tangan kiri suaminya.

__ADS_1


"Kek Adek gitu, umum campuran Chinese. Adek keturunan Chinese dari mana sih?" Adi menoleh sekilas pada istrinya yang berada di sampingnya.


"Ibu dari nenek, dia dulunya pedagang barang elektronik di pasar-pasar gitu. WNI keturunan Tionghoa, Bang. Belum muslim, barulah sampai ke nenek itu muslim, ibu muslim, aku muslim," jelas Adinda tentang sejarah kecil mata sipitnya dan kulit cerahnya.


"Ohh, aku kira Mamah pribumi asli." Canda baru mengetahui, ternyata buyut dari ibu mertuanya adalah keturunan Chinese.


"Ya pribumi asli mungkin, karena ibunya Mamah nikah sama pribumi asli. Nama ibunya Mamah juga masih keren, Risa Yoshika." Adinda membeberkan nama mendiang ibunya.


"Mamah kenapa cuma Adinda aja? Kerenan aku, aku pernah dipanggil Dinan sama mas Givan tapi aku yang tak ngeuh." Gurauan Canda menambah kehangatan meski dirinya tidak berada di dekat orang tuanya.


"Lebih baik Cendol," pungkas Ghifar kemudian.


"Iya, tapi aku ngeuh dipanggil Cendol," ungkap Canda yang menambah tawa mereka.


"Suami kau mana?" Ghifar melongok ke arah layar ponsel tersebut.


"Kau nanyain suami aku terus. Aku curiga, pasti kau ada lain sama mas Givan." Canda mengerucutkan bibirnya.


"Ah, ada lain sama kau dong. Kan lumayan nyolong-nyolong waktu di belakang laki kau." Ghifar menaikturunkan alisnya iseng.


"Sekali dengar Givan, udah kau telinga bisa pindah ke jidat." Adinda memukul lengan anaknya pelan.


"Mas Givan lagi diperiksa lagi, Mah. Semacam USG kah katanya, atau rontgen begitu. Jadi aku sama Cala ditinggal sementara dulu." Canda mengarahkan kembali ponselnya ke arah anaknya yang masih terlelap dengan bibir yang bergerak.


"Belum sehat kah dia? Pikiran Mamah tuh bercabang ke mana-mana. Makanya pengen anak cucu tuh kumpul semua di sini. Tak apa ladang kopi bagian depan dialih fungsikan untuk rumah cucu-cucu Mamah sama Papah, biar kumpul sampai kapanpun. Biar kalau sakit begini, itu bisa gantian nemenin di rumah sakitnya. Kalau kau dekat, Mamah bisa bolak-balik ke kau sama ke Papah. Ini sih jauh betul, capek di perjalanan." Adinda mengeluhkan jarak yang ia tempuh sampai membuat pinggangnya sakit.


"Memang kapan kau boleh pulang, Dek?" tanya Adi kemudian.


"Malam nanti pun udah boleh kalau aku benar-benar udah baik-baik aja. Tapi, Cala belum boleh dibawa penerbangan karena dia bayi prematur dan beratnya masih dibawa rata-rata. Tapi, semalam mas Givan udah hubungin.......


...****************...

__ADS_1


__ADS_2