Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM8. Cawan untuk Ai


__ADS_3

"Kenapa ya, A?" Ai dilepaskan para laki-laki buas tersebut, sehingga ia bisa memenuhi panggilan Givan.


"Coba cicipi ini." Givan menyodorkan secawan minuman keras dengan kadar yang cukup tinggi.


Terbukti dengan dirinya yang cukup baik mentoleransi minuman keras tersebut, tetapi langsung merasa pengar setelah mencicipi tiga teguk saja. Givan yakin, Ai akan langsung terbang tanpa sayap jika mencicipi minuman ini.


Senyumnya terukir puas, ketika sang mantan tersebut begitu patuh meneguk minuman tersebut. Satu hal yang ia rencanakan dalam hatinya, ia ingin membuat Ai lunglai karena minuman keras. Lalu membiarkannya disantap oleh para laki-laki matang di sini, dengan dirinya segera pergi.


"Jangan banyak-banyak, Cantik. Kamu harus nemenin kita tiga jam di sini." Salah satu teman berambut gondrong tersebut, terlihat komplain karena Givan menyodorkan gelas kedua pada Ai.


Ia yang kuat minum saja, langsung merasa pusing. Apalagi, untuk ukuran seorang perempuan. Givan menjamin, Ai pasti akan tergolek lemas.


"Udah, Bang! Kita sewa dia, buat jadi hiburan kita," protes seorang teman yang duduk paling ujung.


"Aku ganti uangnya." Givan begitu fokus memperhatikan leher Ai yang bergerak seiring dengan air yang masuk ke tubuhnya.


Givan merasa, cawan kelima cukup berarti untuk Ai. Ia meminta Ai untuk bangun, lalu menyanyikan sebuah lagu untuknya.


Lagu yang Ai nyanyikan belum habis, tapi Ai sudah mencari tempat duduk dengan memijat pelipisnya sendiri. Ai tidak begitu paham dengan kadar minuman keras. Tapi sepengetahuannya, ia tidak pernah langsung ambruk seperti ini.


Ai menyangka, Givan sengaja memberikan sesuatu pada gelasnya tersebut. Padahal, murni karena kadar alkohol yang tinggi. Bukan karena Givan menaruh sejenis obat tidur atau semacamnya, pada cawan Ai.


"Ai, kau bisa privat kan?" tanya Givan dengan suara seru.


Volume musik langsung diturunkan, dengan gelak tawa para laki-laki yang sebenarnya tengah merendahkan Ai.


"Ya, cuma sama Aa."


Tawa lepas dari para laki-laki menyertai ujung kalimat Ai, yang membuat Givan sedikit malu.


"Paham aja, kalau bayaran dari Bos Tambang itu beda," celetuk Farhad kemudian.


"Ada kamar kan di sini?" Givan bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Ada, Bang. Kelas ruangannya pun beda, Bang." Teman yang paling ujung, membukakan pintu lain untuk Givan.


Givan manggut-manggut. "Minta berapa, Ai?" Givan mencoba membawa Ai untuk berdiri.


"Delapan digit." Ai sudah merengkuh tubuh ayah enam anak tersebut.


"Oke." Givan memperhatikan wajah teman-temannya.


"Lima puluh juta, untuk lima orang laki-laki," ucapnya dalam hati, ketika melihat lima orang laki-laki dewasa yang tersenyum penuh minat itu.


"Aku bakal bayar kau lima puluh juta." Dalam artian, Ai harus melayani lima orang laki-laki tersebut. Lima hanya teman-teman Givan saja, Givan tidak termasuk. Givan berencana hanya merebahkan Ai di tempat tidur, kemudian dirinya segera pergi. Agar Ai paham, bahwa ini semua adalah pembalasan darinya, akan sakit hati yang Ai torehkan pada ayah enam anak tersebut.


Suitan kemenangan dari teman-temannya, berbarengan dengan terangkatnya tubuh wanita tiga puluh enam tahun tersebut.


Givan tidak tahu bahwa tindakannya merenggut kesucian Ai, saat ia memacari Ai. Membuat Ai ditinggalkan suaminya, setelah sebulan dinikahi.


Saat awal sebelum menikah, Ai tidak jujur mengenai kondisinya. Namun, saat malam sah itu terjadi. Nyatanya laki-laki tersebut amatlah kecewa, karena satu kekecewaan itu merambat naik atas ketidakjujuran Ai dalam hal itu. Hingga sebulan kemudian, Ai sudah menjalani masa iddahnya.


Hanya pembohongan semata, saat Ai mengatakan pada Givan bahwa calon suaminya menerima keadaannya. Pengakuan itu, agar Givan tidak mengusiknya lagi.


Givan tidak sadar, bahwa dirinya telah merusak masa depan orang lain. Ai pun tidak menyadari juga, ternyata dirinya adalah luka untuk orang lain.


Dengan perlahan, Givan merebahkan Ai yang sudah memejamkan mata.


"Jadi, kali ini aku harus bayar?" Givan merapikan rambut yang menutupi wajah Ai.


Kesadaran Ai masih berkumpul, meski pusing di kepalanya dan berat di matanya sulit dikendalikan. Ia lebih memilih pasrah, karena ia paham akan perlakuan kasar dari Givan.


"Kau tau? Karena terlalu sering berhubungan di luar nikah dengan kau dulu, aku sampai sulit punya keturunan. Sesabar itu loh, Canda nemenin aku berobat. Setelaten itu loh, Canda urus makanan yang dipantang dan disarankan. Terus.... Kau pasti bahagia kan, karena aku sempat cerai dengan Canda? Untungnya, aku tak ketemu kau. Kalau ketemu kau, mungkin hidup aku bakal lebih nelangsa lagi. Setelah hari ini, setelah bayaran yang aku kasih, tolong pergi dari pandangan mata aku. Atau.... Aku akan lebih-lebih bikin hidup kau semiris malam ini." Givan menepuk-nepuk pipi Ai. "Dasar, perempuan bodoh!" gerutunya kemudian.


Givan pun hendak enyah dari atas tubuh Ai.


"Duh, sialan!" makinya, kalah melihat kepala ikat pinggangnya tersangkut di pakaian Ai.

__ADS_1


"Ai! Susah dilepas, aku sobek aja ya?" Givan terus mengusahakan agar kepala ikat pinggangnya terbebas dari variasi rok seperti jaring laba-laba.


Namun, Ai tidak merespon. Givan menatap aneh pada Ai, hingga telunjuknya sendiri langsung mengecek hembusan nafas di hidung Ai.


"Takut mati duluan." Givan mengusap-usap dadanya, sebelum akhirnya ia menarik paksa kepala ikat pinggangnya itu.


Membuat variasi pada rok mini tersebut terlihat sobek parah, juga tidak memiliki bentuk yang menarik lagi.


Sayangnya, matanya menangkap paha mulus tersebut. Body gitar spanyol, membuat keliaran mata Givan semakin menelisik.


"Yang penting buang luar." Kegilaannya mulai hidup.


Sebegitu kuatnya ia menguatkan tekadnya sendiri. Nyatanya, jiwa lelakinya berkata lain.


Hingga ponsel mahal yang mengganggu di kantong samping kanan celananya tersebut, membuat Givan tersadar dari tindakan salahnya


"Astaghfirullah, Canda." Nama keramat itu ia nobatkan, dengan kekacauan pikiran dan fantasinya yang sulit untuk diredakan mendadak.


"Ya hallo, Canda." Givan menegakkan punggungnya, berbarengan dengan telepon yang menempel di telinganya.


Isak tangis Canda di seberang telepon, seakan membuat Givan terpojokkan atas segalanya. Ia menatap bingung perempuan yang pasrah di bawahnya, dengan isakan yang masih terdengar jelas tersebut.


"Mas...," panggil Canda di seberang telepon, membuat Givan semakin merasa bersalah.


"Kenapa, Canda? Ya, aku balik ke kamar." Givan menjepit ponselnya dengan bahunya.


Kemudian kedua tangannya mengemas kembali warisan turun temurun, dengan helm besi yang terlihat cukup besar tersebut. Setelah membenarkan posisinya yang belum jinak. Dengan meringis, Givan menarik resleting celananya ke atas.


Ia perlahan mundur meninggalkan tubuh sintal tersebut, dengan membenahi kembali ikat pinggangnya.


Kekhawatiran bercampur takut. Ia khawatir, saat membuka pintu kamar rahasia ini, ada istrinya yang berdiri tegak di depan pintu.


Pasti, beribu kebaikan dan perjuangannya selama ini akan langsung sirna. Karena, satu kesalahannya yang berani masuk ke kamar dengan perempuan yang sudah pasrah karenanya tersebut.

__ADS_1


"Mas, aku......


...****************...


__ADS_2