
CANDA POV
Aku merasa, bahwa aku adalah orang baik. Tapi, kenapa aku mendapat suami seperti itu? Katanya, jodohmu adalah cerminan dirimu? Atau aku akan berganti suami lagi nanti? Dalam artian, mas Givan bukanlah jodohku yang sebenarnya?
Tapi siapa? Ghifar? Dia sudah memiliki istri dan banyak anak. Tak mungkin kembarannya bang Daeng juga, mangge Yusuf tidak merasa memiliki anak kembar.
Apa bang Ken? Dia sama bejatnya seperti suamiku.
Sudahlah! Pusing-pusing memikirkan jodoh, lebih baik aku menikmati laki-laki yang masih menjadi hakku saja.
"MAS...." Lelah sekali rasanya jika memanggil ayahnya anak-anak ini. Telinganya super tebal, tidak akan menyahut jika belum lima kali panggilan.
"Ya Allah...." Tenggorokanku kering mendadak, menunggu panggilanku segera dipenuhi.
"MAS GIVAN.......!!!!" teriakku lebih nyaring dari sebelumnya.
"Ya...."
Dasar, anak Adinda! Telinganya baru bisa mendengar rupanya.
"Datang coba kalau dipanggil tuh!" Aku masih menunggunya muncul di pintu kamar.
"Iya, Canda. Iya! Ini lagi jalan." Suaranya semakin mendekat.
Hingga, sosok tampan tapi menyesatkan itu muncul. Lihatlah, aku begitu mabuk dengan tubuh atletisnya. Semakin tua, semakin tampan saja. Semoga, ia benar-benar sudah tobat dari kelakuan nir akhirnya.
"Lagi apa coba?!" Aku menatapnya tajam.
Kemejanya yang tidak pernah rapi ketika di rumah tersebut, memberi kesan menarik lima kali lebih kuat. Ia berjalan menghampiriku, dengan menggulung lengan kemejanya.
"Ada Nando di depan, mau aku suruh dia urus meubel di sini. Minta kerjaan soalnya, istrinya mau lahiran lagi." Ia sudah berada di hadapanku.
Tepat di depan mataku, terhias tengah-tengah tubuhnya yang menyembul dari celana formalnya itu. Ia baru pulang dari Bank, untuk mencetak bukti-bukti pembayaran Ai beberapa bulan silam.
"Duduk coba! Tak sopan betul." Aku menarik pergelangan tangannya, kemudian menepuk tempat di sebelahku.
__ADS_1
"Oke, oke. Ada apa Nyonya Besar?" Ia menarik celana bagian lututnya dulu, sebelum duduk di sampingku.
Aku selalu curiga padanya dan mencurigainya. Apalagi, kini Ai tinggal di rumah mamah Dinda lantaran dirinya sudah pendarahan saja.
"Dapat belum kontak keluarga Ainya? Ghifar nyaranin untuk kita antar dia ke kampungnya aja. Mas pernah ngoceh-ngoceh waktu mabuk, katanya datangi rumah keluarga Ai untuk nemuin Ai. Nah, berarti kan Mas tau rumah keluarganya." Aku baru selesai bertelepon ria dengan mantan kekasihku yang memiliki rumah di sebelah rumahku. Tapi entah berada di mana sekarang, karena ia suka keluyuran untuk bekerja.
"Ck.... Biar apa?! Aku malah ingat perlakukan kakaknya nanti." Iya condong ke depan dengan menyatukan telapak tangannya sendiri.
"Ai kan udah ngerengek aja minta diselesaikan secara kekeluargaan aja, dia sama bayinya stress karena mikirin hukuman syariat di sini. Aku kasih lima juta per bulan, udah selesai." Meski awalnya memang tak ikhlas, tapi mau bagaimana lagi? Aku takut jika sudah menyangkut bayinya, nanti bagaimana jika salah satunya kalah dan dikebumikan di sini? Sanak saudaranya tak ada yang tahu, tentang kabar duka itu.
"Biarin, Canda. Kau ini jangan terlalu nurutin dia. Toh, aku juga dihukum kok."
Suamiku memang gila. Ia mau dihukum, untuk permasalahan yang rumit ini. Aku kini, lebih merasa bahwa suamiku dijebak. Namun, karena suamiku menurut saja. Aku pun berpikir, bahwa dia memang belum bisa melepaskan Ai. Ia masih memiliki rasa dengan Ai.
"Dasarnya memang masih pengen Ai ada di pandangannya," ucapku menurun, dengan beranjak menunju ranjang.
"Aku bukan Ghifar," tegasnya dengan ekspresi wajah seram.
"Aku paham, aku udah punya istri. Kau tak bakal ngerti, susahnya mengimbangi satu wujud perempuan aja. Aku tak punya waktu, untuk mengertikan perempuan lain di luar kewajiban aku."
Ia selalu berbicara berbelit-belit. Malasnya begini sama suami sendiri.
Usulanku tidak pernah dipakai. Mumpung bukti-bukti belum diserahkan, pikirku lebih baik cabut tuntutan dan mengantarkan Ai ke rumah keluarganya.
Entah siapa yang pelaku dan korban di sini. Tapi aku memang berniat menyantuni anak Ai sebesar lima juta sebulan, sampai batas waktu yang belum aku tentukan. Setidaknya, yang penting di awal berjalan lancar dan Ai tidak semakin menuntut saja.
Aku ingin bahagia. Sejak ada Ai di sini, aku selalu was-was melepaskan suamiku untuk keluar rumah. Karena Ai selalu bisa menjadi sumber perhatian mas Givan. Ada saja pokok bahasan yang ia bawa, sehingga mas Givan mau mendekat dan berbicara dengannya. Beginikah rasanya Kin, yang menderita sindrom othello itu? Sindrom tentang cemburu yang berlebihan itu.
"Kelonnya nanti, ada Nando di depan. Aku tak lama, nanti aku ke sini lagi." Punggung lebar itu keluar lagi dari kamar.
Masih jam sebelas siang. Baiknya, aku berkunjung ke saudara saja deh. Aku belum terlalu mengantuk.
"Mas, aku ke rumah Ghifar." Aku pamit, ketika melewatinya di ruang tamu.
Benar, ada Nando di sini. Nando adalah pesuruh handal, yang kapan saja mau untuk bepergian ke luar kota menjalani perintah mas Givan. Sayangnya, Nando menolak untuk ikut ke Jepara bersama bang Ken dan Ria. Lantaran, istrinya sudah mendekati masa bersalin.
__ADS_1
"Ya, Canda." Ia tengah serius mengobrol dengan Nando itu.
Lewat pintu penghubung, aku langsung berada di halaman samping rumah Ghifar.
"Mama...." Aku terbiasa nyelonong masuk ke dalam rumah milik Ghifar.
Istri Ghifar yang sekarang, dari pernikahan ketiganya. Istri pertamanya meninggal. Kemudian ia menikah dengan sepupu dari papah Adi, tapi bercerai. Kemudian, kini ia menikah dengan sepupu dari mamah.
"Apa?" Ia tengah membenahi sofa ruang tamu.
"Ra mana?" Aku menanyakan anakku yang diasuh olehnya.
Awalnya, ia adalah baby sitter Ra. Namun, setelah Ra dikembalikan padaku karena ia menikah. Ra malah mengamuk hebat dan minta untuk tetap bersama mamanya itu. Alhasil, Ra mengusik ketenangan pengantin lama rasa baru tersebut.
"Di belakang, lagi disuapi kak Tami." Kak Tami adalah baby sitter paruh waktu. Ia memiliki seorang baby sitter dan juga ART yang tinggal bersama di sini.
"Minta yogurt sih, Ma." Aku menuju ke dapurnya.
Tiba-tiba, secara mendadak aku ingin yogurt.
"Lah.... Main-main malah minta yogurt." Sepertinya ia mengikuti langkah kakiku.
"Aku pengen makan juga." Selamitanku kambuh.
"Ambillah sendiri." Ia membereskan beberapa piring lauk yang sudah habis.
Aku membawa yogurt yang sudah aku buka ke arah meja bar. Kemudian aku menarik satu bangku, lalu duduk menghadap pada kumpulan makanan ini.
"Ma.... Pernah pacaran sama mas Givan kan?" Aku terpikir untuk mengorek aib suamiku lagi. Karena bisa jadi, mas Givan berbohong.
"Jangan cari penyakit! Udah ribut Ai, malah nanya-nanya masa lalu." Ia memberiku segelas air putih.
Ia juga ingin makan rupanya.
"Pengen mencocokkan dengan pengakuannya aja. Soalnya banyak yang bilang kalau dia ini......
__ADS_1
...****************...
Sedikit untuk mencairkan kerumitan.