
"Jadi, kek ada pertumbuhan yang sumbat gitu logikanya. Harusnya tumbuhnya di ujung, tapi malah tumbuh di p*ngkal. Jadi kan bisa dibayangkan tuh, bagaimana bentuk tak normalnya. Ya udah begini, mau gimana lagi? Kita pun tak bisa cegah kan? Yang terpenting, sekarang kau jaga kondisi Canda aja. Support dia habis-habisan, yakinkan kalau keadaannya baik-baik aja. Canda nih, jangan sampai lihat kau begini. Yang ada, nanti keadaannya makin drop. Kalau dia lihat kau sedih, lihat kau tak bersemangat begini, yang ada dia nanti malah nethink terus. Kau yang ikhlas, terima dan jaga pemberian satu bayi yang terus tumbuh di rahim Canda itu. Sering-sering kontrol keadaan bayi kau, seringlah bawa Canda cek up. Yang penting nih, kau jaga pola makan Canda. Kau jangan sehat sendiri aja, kau makan sayur sendiri aja, istri kau bebasin. Bawel sedikit ke istri, biar istri panjang umur. Kau kasih dia makanan cepat saji terus, kek pengen buat dia mati duluan." Adinda tahu kebiasaan Canda yang jarak masak, masakan Bu Muna pun jarang dimakan oleh Canda. Jika ia tidak mengirimkan menantunya makanan, menantunya pasti akan makan makanan cepat saji. Untungnya, anak-anak Canda terbiasa makan masakan bu Muna yang sengaja mengurus perihal dapur mereka.
"Mah, aku cuma pengen Canda senang. Kalau dia senang makanan yang begitu, ya biarkan gitu." Givan tidak bisa melihat Canda hanya mengaduk-aduk makanannya, ketika dipaksa makan makanan yang tidak Canda sukai.
"Jangan jauh-jauh, belajar dari Lendra. Kau tak mau kan dia kek Lendra? Jarak pendeknya kek gitu aja deh." Adinda hanya menarik asal contoh yang ada di lingkungannya. Sebenarnya ia tahu, bahwa Nalendra pemilih makanan. Tapi ia menjadikannya contoh, hanya untuk menakut-nakuti Givan.
Givan menunduk, ia merasa bahwa dirinya memang membebaskan apa saja yang ingin Canda makan.
"Dokter nyaranin untuk Canda jangan makan makanan cepat saji tak?" tanya Adinda yang diberi anggukan oleh Givan.
"Nah, pakai garam herbal yang udah SNI, yang udah ada BPOMnya. Pakai penyedap rasa yang jangan ada kandungan MSG-nya. Mamah tau mecin aman, tapi stop sementara waktu karena keadaan tubuh Canda lagi sensitif. Usahakan masak sendiri, Van. Nanti Mamah kirim makanan deh tiap hari, kalau hawanya Canda malas ke dapur terus." Adinda teringat akan Canda saat posisinya tidak punya, menantunya itu rajin memasak. Tapi kenapa sekarang begitu malas memasak? Ia sering sekali melihat Canda membawa makanan matang dari rumah bu Ummu, ibu kandung Canda sendiri.
"Iya, makin ke sini aja, nyuci piring aku terus. Hamil yang sekarang, aku perhatikan tuh dia di ranjang terus. Kalau dia main keluar tuh, kadang harus sama aku atau ya dia punya keperluan sendiri. Rebahan lagi, rebahan lagi. Mentang-mentang tau nanti bakal disesar lagi, jadi dia tak punya inisiatif gerak karena tahu usahanya percuma." Diam-diam pun Givan memperhatikan istrinya.
"Ya kaunya yang harus bisa bawa Canda aktivitas. Jadi dia ikut serta gitu, kau ajak dia masak, ajak dia main, ajak dia nyuci baju dan sebaginya. Nanti kesannya romantis loh, Van," usul Adi kemudian.
Ia pernah merasakan sendiri di saat muda. Saat istrinya hamil, ia selalu ikut serta dalam aktivitas istrinya. Ia seperti itu, guna mensupport Adinda agar mau tetap beraktivitas dalam kesehariannya.
"Aku tak bisa begitu. Aku mau aktivitas atau buat sesuatu, ya aku bisa buat sendiri. Malah nambah pusing, kalau Canda ikut mondar-mandir di dapur tuh." Oleh sebab itu, ia menjadi salah satu manusia bukan tipe romantis.
__ADS_1
"Ya tak romantis. Biar Mamah begini-begini pun, senang aja kalau suami romantis. Merasa kek dipentingkan dan kek dicintai aja, meski aslinya entah." Adinda melirik suaminya.
"Cinta lah, dinomorsatukan dan dipentingkan juga lah. Buktinya kalau jajan makanan di luar, Abang bungkus buat Adek juga. Abang ingat Adek di rumah, pasti Adek tak jajan enak kek Abang di ladang." Adi langsung membela dirinya.
"Masa? Masa itu aku pergi kirim makanan, eh di ladang Abang udah makan ayam geprek aja. Abang tak bungkus buat aku, yang ada buat aku kecewa karena makanan aku tak dimakan." Adinda langsung memasang wajah cemberutnya, seperti kala di masa ia mendapati suaminya sudah makan di ladang.
"Kan Abang bilang, iya sini makanannya nanti dimakan lagi. Abang dikasih itu tuh, dikasih sama cek Nawi. Bukan beli sendiri." Adi masih berusaha membela dirinya.
"Huh, tau salah sih. Jadi cari pembenaran terus." Adinda memalingkan wajahnya bertolak dari arah suaminya berada.
Givan garuk-garuk kepala, ternyata ibunya suka memainkan drama juga seperti istrinya. Kini ia berpikir, bahwa itulah sifat dasar wanita.
"Tak mau aku, aku udah masak!" Adinda menarik pipi suaminya yang sudah kendor berlainan arah.
Adi seperti rupa manula pada umumnya. Di mana kulit tidak elastis lagi, dengan uban yang hampir merata di rambut hitamnya. Berbanding terbalik dengan Adinda, yang masih terlihat begitu muda karena perawatannya. Tapi meski rupa yang sudah tidak indah lagi, rasa dalam diri mereka masih seperti pertama bertemu.
"Udah coba! Aku yang malu sendiri." Givan meninggalkan kamar orang tuanya dengan wajah tidak bersahabat.
Tidak seperti Ghifar yang menyikapi dengan santai, Givan malah seperti terlihat iri melihat romansa orang tuanya.
__ADS_1
"Yuk?" Adi tetap membujuk istrinya yang sudah terlanjur cemberut.
"Tak mau aku! Abang gitu terus."
Adi seperti mendapat gelitikan sendiri, setiap Adinda mengatakan bahwa dirinya seperti itu terus. Ia merasa sudah menjadi pribadi yang istrinya inginkan, tapi rupanya masih terlihat salah juga.
"Duh, sayang betul aku cinta." Adi meraup wajah istrinya dengan gemas.
"Abang!!!" Adinda tidak suka dengan perlakuan suaminya yang menghilangkan moisturizer di wajahnya.
Adi terbahak-bahak, melihat bibir istrinya yang mengerucut tinggi.
"I love you, I miss you, I nice You, I jebret-jebret padamu."
Adinda terbahak-bahak, mendengar ucapan suaminya. "Jebret-jebret too," balas Adinda membuat tawa mereka berdua semakin menggema.
Canda butuh ucapan seperti itu, meski hanya gurauan. Ia merindukan ucapan seperti ini, yang tidak pernah ia dengar sama sekali dari bibir suaminya. Terkadang Canda menginginkan suaminya seperti Nalendra, yang tidak ragu mengakui bahwa dirinya cinta pada diri Canda. Yang selalu mengatakan, bahwa Candalah cintanya, bahkan cinta pertamanya.
Hal sederhana, yang perlu wanita dengar hanyalah kata cinta. Memang cinta perlu pembuktian, tapi perasaan itu juga perlu diungkapkan. Ia selalu ragu akan cinta suaminya, karena suaminya tidak pernah mengatakannya. Jika ia begitu percaya, ia khawatir itu akan mempermalukan dirinya sendiri.
__ADS_1
...****************...