Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM24. Mencari kebenaran


__ADS_3

"Canda? Apa yang sakit, Sayang?" Givan sumringah, saat Canda membuka matanya.


Namun, bola mata itu berputar ke atas sebelum akhirnya terpejam kembali. Sontak saja, Givan lebih panik dari sebelumnya.


Ia kalang kabut, dengan suara tinggi dan bergetar tersebut. Petugas medis ia serukan, untuk menolong istrinya yang lemah tersebut.


Canda hilang sadar kembali, sesaat setelah dirinya tersadar dan melihat wajah suaminya. Canda terlalu shock, untuk mengetahui semuanya itu. Ia tidak pernah berpikir hal demikian, karena merasa suaminya selalu berada di jangkauannya.


"Darahnya rendah sekali, Pak. Cukup bahaya, karena di bawah dua puluh empat bulan usia kehamilan." Seorang perawat, memberi tindakan kecil pada Canda.


"Apa resikonya, Dok?" tanya Adinda, pada seseorang berpenampilan dokter yang tengah menyuntikkan obat berwarna kuning, pada saluran infus Canda.


"Resiko tensi rendah di kehamilan awal, bisa menyebabkan janin tidak berkembang,


bayi lahir prematur dan berat badan lahir rendah. Anemia pada ibu hamil yang sangat parah, bahkan bisa menyebabkan kerusakan jantung dan otak, hingga kematian."


Mendengar kata kematian, lutut Givan semakin lemas bagai tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Ia terduduk di sofa, dengan memperhatikan istrinya begitu pilu.


Bahkan, alat bantu pernapasan saja terpasang. Canda benar-benar shock, hingga tekanan darahnya langsung turun membuatnya kehilangan kesadaran.


"Gimana ini?" Givan bertanya pada telapak tangannya sendiri.


Ia bingung ingin melakukan apa. Lalu apakah itu bisa membuat keadaan Canda baik-baik saja, jika ia melakukannya.

__ADS_1


"Papah suruh ke sini, Van." Adinda berjalan ke arah anaknya.


Givan memalingkan pandangannya ke arah ibunya. "Keadaan di sana gimana, kalau papah ke sini? Mah, aku tak bisa ngelakuin apa-apa. Aku cuma fokus sama Canda, aku tak mau Canda kenapa-kenapa. Apalagi, kalau sampai aku pergi untuk cari ayah anak Ai dan ninggalin dia di sini dengan Ai berkeliaran. Resiko stress untuk Canda itu terlalu berat, makanya aku tak pernah ambil opsi itu. Aku tak mau ninggalin Canda, karena aku yakin Ai lebih semena-mena untuk usik pikiran Canda." Ia memiliki pemikiran untuk mencari ayah dari anak Ai, tapi ia tidak memiliki rasa tega untuk meninggalkan Canda dengan benih cintanya itu.


"Kita terus terang dulu ke Canda. Bukannya Mamah diam tanpa pergerakan, Mamah cari bukti-bukti yang kuat. Terus bandingkan dengan kebenaran yang ada. Mamah ragunya di sini, karena ekspresi wajah Ai, keyakinan Ai itu begitu kuat, kalau anak yang dikandungnya itu anak kau." Adinda berbicara dengan nada lirih, ia khawatir menantunya terbangun dan mendengarkan semuanya tanpa penjelasan jelas.


"Mah, sumpah Demi Allah. Aku tak pernah nidurin Ai. Memang hampir, aku udah ngeluarin punya aku, udah aku basahi juga. Dalam hati sih, ah yang penting buang luar. Tapi entah gitu, ragu betul. Untungnya, saat itu juga Canda nelpon. Aku kesakitan sendiri ngangtongin lagi punya aku ke dalam celana jeans, tapi aku tak pedulikan itu buat bisa balik ke kamar Canda. Jadi gimana dia bisa hamil? Kalau penetrasi aja belum ada gitu." Givan menekan rasa malunya, agar ibunya benar-benar percaya dengan cerita versi dirinya.


Givan pun tidak paham, kenapa Ai pandai sekali mengiba sampai orang tuanya ragu tentang kebenaran yang ia ucapkan. Masalahnya hanya itu, hanya wajah memelas dan tidak berdaya Ai yang membuat orang tuanya berpikir bahwa Ai benar-benar tidak berbohong.


"Posisi Ai masa itu tuh gimana? Pas kau mau gitukan itu tuh." Adinda berpikir keras di sini. Ia mencoba menggabungkan semua logika yang diterima dengan nalar.


"Ai udah tak respon. Pas aku minta izin buat robek variasi di roknya pun, Ai udah tak respon aku," jawab Givan kemudian.


"Berarti, kemungkinannya dia diperkosa dengan keadaan hilang sadar. Tapi Ai tuh tetap ngakunya main dikasarin sama kau, Van." Adinda menatap wajah anak sulungnya sekilas. Kemudian ia memutar lehernya, untuk melihat ke tempat menantunya berbaring dengan alat-alat yang berbunyi.


Ia kalut dengan keadaan menantunya yang hilang sadar itu, tapi malah berkelanjutan ke kondisi yang tidak stabil.


"Aku tak makan dia, Mah. Memang kapan aku pernah bohong ke Mamah? Aib aku waktu nidurin Nadya aja, aku buka terus terang di depan mamah."


Ibunya sendiri pun, kini ragu untuk mempercayainya. Bukan karena Givan sering melakukan kesalahan, tapi karena Ai yang terlihat lebih meyakinkan dengan perkataan dan ekspresi wajahnya.


"Siapa-siapa lima orang itu? Kontaknya Mamah minta sini, kalau kau tak mau ninggalin Canda untuk cari mereka." Adinda berjalan ke arah nakas yang berada di samping brankar Canda, guna mengambil pulpen dan sisa formulir milik Canda yang salah mengisi tadi.

__ADS_1


"Aku cuma punya kontak dua orang dalam ruangan itu, ini nomor Farhad. Terus, ini nomor orang yang pernah ada transaksi pembelian tanah dan bangunan sama aku namanya Setiawan." Givan menyodorkan kontak yang berada di dalam layar ponselnya.


Adinda langsung menyalin nomor tersebut. Ia terkendala oleh ponsel, yang lupa ia bawa. Kejadian pagi tadi begitu cepat, ia tidak memiliki waktu untuk masuk ke dalam rumah dan mengambil ponsel.


"Lima orang ya, Van?" tanya Adinda, dengan memerhatikan dua nomor telepon beserta namanya tersebut.


"Ya, Mah. Udah di atas empat puluh tahun. Farhad sendiri yang muda, dia baru tiga delapan keknya." Givan ingat akan perut buncit para laki-laki yang ada di malam itu.


Adinda memijat p*ngkal hidungnya. "Tega-tega betul sih kau, Van. Lima orang laki-laki, satu barang. Mamah tak bisa bayangkan gimana linunya, ngeladenin satu laki-laki aja kadang lecet. Ini, lima sekaligus." Adinda meringis membayangkannya sakitnya intinya sendiri.


"Aku tak tau lima laki-laki itu kah yang pakai, entah satu atau dua orang aja. Karena mereka itu udah pada mabuk berat, minumannya dengan kadar alkohol yang kuat. Aku sih yakinnya mereka ambruk, tak bakal tubuhnya kuat nopang. Apalagi, keadaan Ai yang tak ada pergerakan. Mungkin pun, mereka kesulitan untuk masuk juga karena perutnya besar-besar." Givan memahami hal itu, karena wawasannya cukup paham tentang rahasia laki-laki dari muda sampai tua.


"Berarti kemungkinan tak semuanya pun, ada kan? Maksudnya, bisa jadi Ai main sama pacarnya, terus main sandiwara di sini. Tapi, ekspresi wajahnya itu meyakinkan betul. Cara dia menangisnya pun, tak dibuat-buat." Adinda mengingat segala komunikasinya bersama Ai.


Bahkan untuk meyakinkan dirinya sendiri, Adinda sampai bertanya tentang kejadian itu setiap kali berjumpa dengan Ai. Adinda masih mencari titik terang dari teka-teki yang membingungkan dirinya ini.


"Ya mungkin, aku tak tau pasti juga. Yang jelas, Ai sekarang jadikan kehamilannya itu senjata." Givan sedikit menguak misteri Ai yang tidak diketahui oleh Adinda.


"Maksudnya? Gimana memang?" Adinda mengerutkan keningnya, dengan mengamati perubahan wajah pada anak sulungnya tersebut.


"Aku.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2