Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM52. Tentang test DNA


__ADS_3

"Aa sukses banget. Sayang sekali Aa dulu gak bersikap baik sama aku. Kalau sikap Aa bisa dirubah, mungkin kita masih sama-sama."


Givan bergidikan. Ia malah bersyukur, karena ia tidak jadi menikahi Ai.


"Ya udah gih prepare. Taksi online pesan dari penginapan aja." Adinda mengusir lembut Ai.


Ai mengangguk, kemudian sedikit membungkuk saat melewati Givan. Itu adalah suatu tindakan yang sopan menurutnya.


Sorot mata Givan mengikuti arah Ai pergi. Kemudian, ia memilih untuk melipir mendekati sofa ruang tamu.


"Duh, Mamah ngapain sih gitu?" Givan menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Nampak nih, Van. Udah kentara, dia ini butuh harta kau. Mimik wajahnya, sahutannya, sorot matanya. Udah nih, fix dia pemain. Keknya, semuanya udah terencana gitu. Coba kau diskusi sama adik-adik kau yang dari papah Hendra, mana tau mereka mau bantu usaha kau. Terus, biar proses polisi aja. Biar selesai gitu masalahnya, dipenjara pun papah pasti fasilitasi yang terbaik."


Jika Givan mengambil opsi ini, urusannya dengan Ai akan benar-benar selesai. Ia dipenjara, dengan kasus kriminal menjebak Ai dan membiarkannya digunakan beberapa laki-laki. Namun, ia terpikirkan tentang harapan Canda yang menginginkan dirinya ada di sisi istrinya.


Jika ia membalikkan fakta, melaporkan Ai karena mengganggu rumah tangganya. Otomatis, ia akan terseret dengan alasan dari Ai. Dengan alasan Givan yang menjebak dirinya, lalu membuatnya mengandung anak Givan. Hal ini tidak akan pernah dilakukannya, karena akan membuat masalah makin rumit.

__ADS_1


Ia sadar, ia bersalah di sini.


"Canda tak mau, Mah. Aku pun tak mau ninggalin Canda, apalagi dia lagi hamil begini. Tak apa dipenjara kalau boleh bawa istri sih. Mana kan, Canda perlu perawatan rumah sakit kalau bersalin. Riwayatnya operasi sesar, udah pasti tuh bakal sesar lagi nanti." Membayangkannya saja, sudah membuat Givan garuk-garuk kepala.


"Kalau mau ngajuin hukum juga, kau harus ngangtongin bukti yang membenarkan kau, biar nanti masa hukum kau tak berat. Kita tunggu Ken aja, kuncinya ada di Ken sama Ria. Semoga pas mereka balik, bukti-bukti udah jelas tuh. Jadi misalkan harus diselesaikan secara hukum juga, posisi kau ini bisa kuat, masa hukum kau bisa tak lama."


Givan mengusap wajahnya kasar. "Kalau bisa kekeluargaan, kekeluargaan aja deh. Maksudnya, nanti kan ada tes DNA juga. Pas tes keluar, kita musyawarah lagi gitu. Bang Ken pun ceritakan dan tunjukan bukti, biar langsung dibuka di depan kita semua gitu. Kalau memang aku harus bertanggung jawab, karena sengaja membuat Ai diperkosa orang dan hamil, ya oke aku bakal tanggung jawab, tapi tidak menikahi. Terus juga tidak harus menanggung biaya anaknya sampai dewasa, apalagi tanggung jawab untuk masa depan Ai. Ai soalnya bilang ke Canda, omongannya tuh dilebih-lebihkan. Mana kan, Canda ini tak bisa punya beban pikiran. Si Ai ini, ngakunya aku bilang ke dia jamin dia dan anaknya sampai dewasa."


Adinda menjentikkan jarinya. "Istri kau pun ngadu begini ke mamah. Katanya, sombong betul suami aku ini. Dikiranya aku ikhlas apa, kalau dia sedekah terus ke Ai."


"Kalau dipikir juga, dia dikasih uang ini itu tuh, bukannya merasa bahwa dia ini disembunyikan. Tapi, dia malah berpikir bahwa Mamah itu punya simpati besar ke dia. Ai malah ngucapin terima kasih, karena udah mau percaya dan berpihak padanya. Padahal kan, Mamah ini lagi nyari kebenaran gitu. Kasih uang, kasih ini itu, ya karena Mamah tak mau dia keluyuran dan menciptakan asumsi warga. Bisa-bisanya gitu, dia berpikir bahwa Mamah simpati dan berpihak ke dia." Adinda geleng-geleng dan tertawa sumbang.


Givan pun mulai merangkum pendapat Ai yang sangat berbeda dengan niatnya. "Percaya dirinya hebat dia ini, Mah. Aku kan terus terang, bahwa Fira ini ngandung anak aku dan tak aku nikahi. Dia malah berpikir, aku pacarin dia dulu ini dengan status suami orang. Terus pas Gavin datang dan Canda nyariin aku malam-malam, kan Gavin ajak Canda balik. Aku kan tetap antar Ai, karena tak mau pas aku ngelangkah ke Canda, terus si Ai gebrok-gebrok pintu dan manggil aku teriak-teriak. Canda bisa tau dong kalau begitu? Mana kan, masa itu Canda belum tau apa-apa. Dia berpikir, bahwa aku lebih mengutamakannya coba, Mah." Givan geleng-geleng kepala, dengan ibunya yang merespon dengan tawa geli.


"Ada lagi nih, Mah. Kan aku ngasih tau dia, untuk DNA janinnya ditest kecocokan DNA aku. Dia malah berpikir, bahwa aku ini ingin memastikan bahwa anak yang dikandungnya itu anak aku. Padahal kan, aku cuma nyari bukti aja kalau itu benar bukan anak aku. Pola pikirnya itu kek aneh gitu, Mah. Pola pikir Canda yang polos pun, keknya tak sepositif itu. Pasti kan, dia punya tuh pikiran jelek ke orang."


Adinda tertawa lepas, ketika anak sulungnya selesai bercerita. Ia baru tahu, ternyata orang seperti Ai itu benar-benar memiliki kepercayaan diri yang besar.

__ADS_1


"Positif thinking mungkin itu namanya." Adinda masih terkekeh kecil.


"Positif sih positif, tapi tak usah percaya diri betul. Kan itu salah betul, Mah." Givan menarik sebuah bantal sofa, lalu ia tempatkan di salah satu sandaran sofa. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan kaki yang diluruskan.


"Canda kan masuknya udah terkendali nih. Maksudnya, dia udah kek santai gitu ngadepin masalah ini. Nah, tinggal kita tunggu antrian tes DNA aja ya?" Menantunya, adalah kuncinya di sini. Ia berharap Canda bisa bersabar sebentar saja, mengikuti rencana beberapa orang cerdas dalam keluarga.


"Itulah, Mah. Antriannya pun lama, bisa makan waktu tiga bulan. Hasilnya sih, empat mingguan udah keluar kata bang Ken." Inilah yang Givan lamuni.


Belum lagi jika hasil tes menunjukkan bahwa itu benar-benar bukan anaknya. Pasti Ai mempersulit lagi, atau bahkan bisa meminta pertolongannya untuk melakukan tes DNA pada beberapa lagi di karaoke room malam itu. Selain kocek yang tidak murah, waktu yang cukup panjang pasti memberatkan Givan karena Ai pasti masih tinggal di kampungnya.


"Kata Ken, kau delapan mingguan lagi bisa langsungkan test DNA itu kan?" Adinda pun pernah menanyakan hal ini pada Kenandra.


Givan mengangguk. "Delapan minggu itu lama loh, Mah. Nunggu delapan mingguan juga, karena janin Ai belum boleh melakukan test DNA itu, Mah. Nunggu janin Ai siap, kita tes kesehatan awal, terus langsung diarahkan DNA. Bang Ken udah tunjuk satu dokter, yang sekiranya bisa mempermudah kita nanti. Aku udah minta sampelnya jangan satu, biar benar-benar akurat gitu loh. Sampel air liur, darah, rambut atau kuku. Bisa sejak bayi di dalam perut, bisa juga pas lahir. Tapi kalau nunggu lahir, ini pasti lama. Tapi kalau diambil sejak di kandungan, ada resikonya juga untuk janinnya." Givan pun merasa sedikit takut jika sudah berhubungan dengan janin di dalam perut. Jika terjadi sesuatu, Givan khawatir disalahkan.


"Gini aja.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2