Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM199. Persalinan dan tindakan


__ADS_3

"Mas, Hadi sama Ceysa nih besarnya nanti gimana ya?" tanya Canda, setelah panggilan telepon itu selesai.


"Ya tak gimana-gimana, biarkan mereka tumbuh. Kalau tetap dekat, ya syukur. Kalau mereka udah punya pilihan hidupnya sendiri-sendiri, ya tak masalah juga. Sekarang sih namanya juga masih anak-anak, Hadi tambah besar, baligh, Hadi pasti ada suka ke perempuan lain. Ceysa besar, baligh, dewasa, dia pun pasti ada minat ke laki-laki yang ada di Singapore sana. Rasa cinta, suka, itu pasti datang kalau ada kedekatan dan waktu bersama. Sekarang sih mereka masih anak-anak, wajar aja masih begitu. Rasa sukanya pun, pasti sebatas sayang ke kakak atau ke adiknya. Manjanya Ceysa ke Hadi kan, sama kek manjanya Ceysa ke Chandra." Givan tidak ingin menjalani proses perjodohan untuk anaknya, biarkan anak-anaknya memilih pendamping hidupnya sendiri.


Hanya satu yang ia tekankan pada anak-anaknya, yaitu menghindari dari status berpacaran. Chandra dan Izza pun, sejauh ini hanya sebatas teman saja. Chandra pernah meminta izin, untuk memberi Izza ikatan menjadi kekasihnya. Sayangnya, Givan langsung melarang dan menasehati anak tersebut.


"Tapi kan, Hadi ke Ceysa itu spesial. Barang, atau panggilan pun, ia khususkan untuk Ceysa seorang." Canda menguak fakta yang dilupakan suaminya.


"Eh, iya betul." Givan mengusap-usap dagunya. "Ceysa jangan coret-coret wajah Ceysa, nanti tak cantik lagi. Ceysa coret-coret wajah Hadi aja." Givan menirukan suara keponakannya.


"Hadi belikan baju baru untuk Ceysa, untuk Hadi sendiri sih belinya boxer aja," tambah Canda dengan menirukan suara Hadi, membuat mereka berdua tertawa renyah.


"Centil betul tuh anak laki-laki ya? Sok manis gitu ya?" Givan teringat tingkah Hadi yang seolah mencari perhatian Ceysa.


"Kek Giskanya, pembawaan Zuhdi kan gentle gitu loh. Makanya Giska bisa takut, berani bentak soalnya. Salah bentak, marah bentak. Dikekang juga dia anteng aja, tak begitu mempersalahkan, karena mungkin takut dibentak juga. Dapat suaminya yang kek papah Adi, anak perempuan satu-satunya dapat menantu persis kek ayah kandungnya." Givan memainkan jemari istrinya.


"Aku jadi takut anak-anak perempuan Mas dapat suami kek Mas semua." Canda langsung melamun memikirkan.


"Ya jangan dong, jangan sampai. Makanya setiap aku ingat dosa aku, aku sholat taubat terus. Karena aku ngerasa, begitu banyaknya dosa aku, mungkin tak ya dimaafkan. Gitu loh, Canda." Givan menyalurkan ketenangan dari jemari tangannya.


Canda melirik suaminya, kemudian ia memandang ke arah lain kembali. "Aku juga mikirin dosa-dosa aku. Apa ingat, kalau aku hampir zina besar sama bang Daeng." Seketika itu juga, Givan langsung meraup wajah istrinya.


Canda terkekeh geli, ia tahu suaminya benar-benar cemburu sekarang. "I love you." Canda mencium dagu suaminya.


"Kau tau jawabannya, Canda." Givan membingkai wajah istrinya, kemudian menyatukan dahi mereka.


"Memang apa?" Canda berpura-pura bodoh.

__ADS_1


"Love you too, Dinan." Givan hampir menyatukan indra pengecap mereka. Namun, Canda langsung menarik kepalanya.


"Siapa Dinan?" Matanya sampai membulat sempurna.


Givan terkekeh kecil. "Dinanti. Canda Pagi Dinanti. Nama kau bagus aslinya, tapi memang bagusan jadi candaan namanya. Cendol, Cendol, Cendol, gitu kan?" Givan menaikturunkan alisnya.


"Tau ah! Seneng betul ngeledekin istrinya." Canda bersedekap tangan, dengan punggung tangan kirinya yang berada di tumpukan atas karena terdapat jarum infus di sana.


"Tak kok, Sayang. Sini peluk, ayo begituan." Mendengar ucapan suaminya, mata Canda langsung mencilak.


Givan tertawa lepas. Ia merasa geli melihat reaksi istrinya. Jelas ia tidak mungkin mengajak istrinya untuk menunaikan kewajibannya, dalam keadaannya yang menahan sakit seperti itu.


"Gemes." Givan mencubit pipi istrinya berlainan arah.


"Anterin keliling taman dulu, Mas. Aku bosan betul di sini, gimana nanti sampai sebulan?" Canda kembali bergerak.


Aktivitas mereka selama satu bulan di rumah sakit tersebut, telah tiba di mana Givan harus menandatangani surat pernyataan jika ia mengizinkan istrinya untuk dioperasi. Kehadiran Adinda dan Ghifar cukup menguatkan Givan, ditambah dengan support dari anak sulung Canda yang duduk di sampingnya.


Givan tidak diizinkan hadir di dalam ruang operasi, dikarenakan ada operasi tindakan yang memerlukan waktu lebih lama untuk persalinan Canda. Doa selalu dipanjangkan, berharap Canda mendapat keselamatan dan juga bayinya.


Sekalipun dokter menenangkan, bahwa Canda pasti kuat melakukan persalinan dan operasi tindakan tersebut, jika dilihat dari keadaan kesehatannya sekarang. Tapi yang Givan takutkan adalah ketidakstabilan keadaan istrinya secara mendadak, seperti saat persalinan melahirkan Caera.


Bibir Givan sampai gemetar, ia tak kuasa menahan rasa harunya saat bayi kecil berada di dalam sebuah inkubator didorong keluar dari ruang tindakan tersebut.


"Pak Givan, silahkan ikut," panggil perawat dengan ramah. Dari gelagat perawat yang terlihat tenang tersebut, Givan merasa bahwa keadaan Canda dan bayinya cukup stabil.


"Oh, iya." Givan hendak melangkah mengikuti arah perawat tersebut berada.

__ADS_1


Namun, pintu operasi yang belum terlalu rapat ditutup. Menampilkan kepanikan yang terjadi di dalam ruangan tersebut, dokter dan suster yang bergerak cepat, suara ribut dokter dan perawat yang bersahutan memberi dan menerima perintah, membuat kepercayaan Givan gentar seketika.


"Far! Far.... Kau pamannya. Tolong adzankan bungsu aku dulu." Givan menepuk pundak adiknya cepat.


"Tapi, Bang...." Ghifar terlihat bingung dengan menggaruk kepalanya.


"Udah, cepat!" bentakan Givan membuat Ghifar bergerak cepat.


Ia lekas meninggalkan lorong tersebut, dengan mengikuti perawat yang sudah lima langkah di depannya. Ghifar tahu tentang siapa saja boleh mengumandangkan adzan untuk bayi yang baru lahir. Jika ayah dari sang bayi berhalangan hadir, petugas medis pun siap menggantikan untuk mengadzani bayi tersebut jika diberi informasi. Namun, Ghifar khawatir kakaknya tersinggung meski kakaknya sendiri yang memerintahkan.


"Ya Allah, Nak. Yang kuat, Nak." Ghifar menahan tangisnya, ketika mencoba menggendong tubuh yang begitu mungil tersebut.


Ia tidak kuasa menahan kekhawatirannya, pada bayi yang tangisnya begitu pelan bagaikan suara anak kucing yang baru dilahirkan. Air matanya jatuh tak terbendung, saat bait demi bait panggilan sholat tersebut ia kumandangkan di ruangan bayi.


"Sehat-sehat, Nak. Meutuah dara." Ghifar mengembalikan bayi tersebut pada perawat yang menunggunya.


"Bayinya Insha Allah kuat, Pak. Untuk berat bayi prematur, dia cukup besar dengan resiko berebut nutrisi itu. Organ dalamnya pun, udah terbentuk sempurna karena terus ditangani dokter khusus. Untuk data bayinya boleh diisi, Pak. Karena dia pun belum kuat di suhu ruangan, sementara waktu biarkan dia tumbuh di tempat khusus dulu." Salah satu perawat penjaga, membawa Ghifar untuk ikut dengannya.


Ghifar menghapus air matanya. Ia menoleh ke arah bayi yang dipasangkan beberapa selang tersebut. Ia tidak mengerti dengan kalimat penenang tersebut. Kenapa bayi tersebut bisa dibilang kuat, jika bernapas saja perlu bantuan selang?


"Bapak ayah bayi ibu Canda tadi?" Ghifar dipersilahkan duduk di depan meja tepat berada di sisi kanan ruangan bayi.


"Bukan, Sus. Pamannya." Ghifar menjawab jujur.


"Oke, ini ada beberapa hal yang harus Bapak baca. Untuk keperluan bayi dan susu formula khusus bayi prematur, disediakan tapi hanya satu dus berukuran tiga ratus lima puluh gram ya, Pak. Jadi, Bapak bisa membeli sesuai rekomendasi dokter di store yang terdapat di rumah sakit ini bilamana Bapak ingin menyetoknya. Lalu, ini....." Ghifar menyimak dengan seksama, penjelasan dari staf yang berjaga tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2