
"Cani sayang, cucu Kakek. I love you, sehat-sehat love-nya Kakek." Adi menciptakan rasa haru untuk anak perempuan tersebut.
Cani langsung merentangkan kedua tangannya pada kakeknya, kemudian Adi langsung mendekap dan menggendong tubuh anak tersebut.
"Kakek, Adek mau sembuh." Cani menangis di dekapan kakeknya.
"Adek bakal sembuh, Sayang. Nurut sama dokter sama sus ya? Kalau minum obat, Adek yang mau ya?" Adi mengayun tubuh anak perempuan tersebut, kemudian mengusap-usap kepala belakang anak tersebut.
"Adek tak mau sakit, Kek." Cani memeluk leher kakeknya.
"Iya, sabar ya? Adek mau buah tak? Nih, Kakek bawa buah." Adi menarik tiang infus Cani, agar berada di sisinya untuk duduk di sofa.
Sejak kedatangannya ke sini, Cani menjadi fokusnya. Sedangkan anaknya yang keadaannya tengah tidak baik-baik saja itu, selalu pulas karena keadaannya yang lemas.
Adinda mendekati Gavin, ia memperhatikan anaknya yang tengah mendengkur itu. Ia yakin anaknya akan cepat pulang, tapi ia harus mau repot untuk mengurus konsumsi anaknya agar HB-nya cepat naik.
Adinda melipir mendekati suaminya, ia tidak berniat mengganggu anaknya yang tengah beristirahat. Gibran langsung bergegas berganti pakaian, begitu ransel berisi pakaian yang dibawakan oleh kakaknya sudah datang. Ia adalah orang yang ingin selalu dalam kondisi bersih. Ketika waktu sholat Dzuhur tiba pun, ia lebih memilih untuk mandi membersihkan diri dulu dan berganti pakaian juga.
"Ketemu Kakek ya? Ayangnya Cani. Cepat sembuh ya, Adek ya?" ucap Givan, dengan menata beberapa barang yang ia bawa.
"Ya, Ayah." Cani terus bersandar pada kakeknya, terlihat juga semangatnya bertambah sejak kakeknya datang.
"Hmm, jadinya tak tega. Gimana kalau nginep aja, Dek?" Adi mengusap lengan istrinya yang baru duduk di sampingnya.
"Hm, hm, hm... Katanya besok sibuk, tak bisa kalau nginep sih?" Adinda melirik malas suaminya.
Ia sudah menyangka keputusan suaminya akan berubah, jika Adi sudah bertemu dengan cucunya. Adinda tidak mengerti, ia selalu mendapat tanggapan dari anak-anaknya bahwa dirinya terlihat lebih sayang pada cucu-cucunya ketimbang anaknya. Sekarang, ia pun berpendapat bahwa suaminya pun lebih terlihat condong ke cucunya, ketimbang ke anak-anak mereka.
"Tak tega lihat Adek nih, Nek. Sayang betul Kakek." Adi mencium kepala Cani begitu lama.
Ia tidak tega melihat cucunya terlihat begitu lemas tersebut. Sedangkan anaknya tidak terlihat menyedihkan, karena malah mendengkur keras.
__ADS_1
"Wah, padahal tadi udah bisik-bisik. Kecewa dong, Mamah? Tau begitu, tak usah bisik-bisik ya, Mah?" sindir Givan pada orang tuanya.
Adinda tertawa geli, dengan Adi yang menoleh tak berkedip mendapatkan sindiran dari anaknya.
"Bisik-bisik apa coba?!" Adi terlihat menampik sindiran tersebut.
"Ya bisik-bisik ada deh. Biasanya ngobrol tuh, tak bisik-bisik. Itu kan berarti lain yang diomongin, terbukti sampai bisik-bisik gitu." Adinda memojokkan Adi.
Adinda tertawa geli, kemudian menepuk pangkuan suaminya. Namun, Cani yang berada di dekapan kakeknya, merasa tidak terima dengan pukulan yang Adinda berikan untuk Adi.
"Nenek, jangan. Kakek sakit." Cani mengusap-usap pangkuan kakeknya.
"Ehh...." Adinda menoleh ke arah cucunya, kemudian ia tertawa geli.
Ia teringat, ketika suaminya begitu mendambakan anak perempuan dalam pernikahan mereka. Tidak disangka, yang berlimpah malah cucu perempuan. Ia merasa sekarang keinginan suaminya bisa terpenuhi, karena mendapat banyak cucu perempuan.
Salah satu dari mereka, kini mulai mendambakan cucu laki-laki. Meski masing-masing di rumah tangga anak-anaknya memiliki anak laki-laki, tapi jumlahnya kalah banyak dengan anak perempuan. Bukan hanya pada Givan, tapi pada Ghifar dan Ghavi. Karena Ghava sudah berkomitmen bahwa mereka ingin memiliki dua anak saja, itu pun karena ia sudah merasa memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Sedangkan Giska, ia lebih unggul karena memiliki dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Givan memperhatikan interaksi cucu dan kakek tersebut. Ia merasa bersyukur, karena ayah sambungnya begitu sayang pada anak-anaknya, meski cucunya merupakan bukan cucu kandung.
"Bang, minta air minum, Bang." Suara serak Gavin, mengalihkan perhatian mereka.
"Eh, iya bentar." Givan langsung mendekati adiknya.
Gavin mencoba bangkit dari posisinya, tapi pengar begitu ia rasakan. Bukan lain, itu adalah gejala dari tensinya yang rendah.
"Apa yang kau rasa, Vin?" Adinda bangkit, ia segera menghampiri anaknya yang tengah memegangi kepalanya tersebut.
Adi memperhatikan dari posisinya, sebelum akhirnya ia menarik tiang infus Cani, agar ikut berjalan bersamanya. Ia mulai khawatir pada keadaan anaknya, yang tidak pernah betah berada di rumah tersebut. Adi paham, anaknya membutuhkan peran keluarga. Tetapi, permasalahannya adalah Gavin yang tidak pernah berada di rumah.
"Pusing, Mah." Gavin baru membuka matanya perlahan, setelah rasa kliyengan itu terasa mereda.
__ADS_1
"Dapat obat apa aja sih, Van?" Adinda bertanya pada anak sulungnya, yang tengah membantu adiknya untuk minum.
"Belum dapat, Mah. Obat-obatannya masih jalur infus aja. Tapi aku perhatikan sih, efeknya ini buat Gavin tidur terus." Givan menutupi kembali tutup botol air mineral tersebut.
"Ya kurang istirahat sih, jadi kurang darah, HB turun. Suka nongkrong di mana sih, Vin? Papah ikut sih, Vin. Bosen Papah di rumah aja." Adi mencoba mengakrabkan diri pada anaknya.
Jelas hal itu tidak mungkin ia rasakan. Ada teman hidupnya, yang selalu mewarnai kesehariannya.
"Adek ikut Kakek." Cani langsung memasang wajah sendu, karena khawatir dirinya tak diajak oleh kakeknya untuk berjalan-jalan.
Tawa ringan menyelimuti mereka.
"Iya deh, kalau udah sembuh Adek boleh ikut." Adi mencoba memberi kalimat penenang untuk cucunya.
"Bang, anak kau, kek anak Kakeknya," ujar Gavin, dengan menunjuk Cani yang berada di dekapan ayahnya.
Givan mengangguk. "He'em, lantaran sering dititipkan sama kakak ipar kau. Ra, kek anak Ghifar. Cani, kek anak Kakeknya"
Mendengar ucapan kakaknya, Gavin langsung teringat pada anaknya yang berada di asuhan kakaknya. Ia khawatir kejadian yang sama menimpa dirinya, ia khawatir anaknya malah menganggap kakaknya adalah orang tuanya, sedangkan begitu asing kala melihatnya.
Ia ingin dianggap ayah oleh anaknya, ia ingin dianggap sebagai orang tua oleh anaknya. Ia ingin sekali, Cali diasuh oleh tangannya sendiri. Ia ingin berjasa di setiap pertumbuhan anaknya.
"Ngelamun apa kau?" Givan menggoyangkan lengan adiknya.
Rasa cengeng Gavin tumbuh. Ia memejamkan matanya dan menekan kelopak matanya, wajahnya memerah di sela tangisnya yang tertahan. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata orang tuanya, ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri karena begitu lemah menyikapi masalahnya.
"Mah, dia ini habis ke psikolog siang tadi itu." Givan membocorkan kebenaran tersebut.
"Loh? Kok Mamah tak tau. Psikolog mana, Vin? Terus hasilnya gimana? Apa katanya?" Adinda mendekati brankar Gavin, kemudian ia menarik sebuah kursi untuk duduk di dekat anaknya.
"Katanya...." Pandangan Gavin menerawang jauh.
__ADS_1
...****************...