Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM93. Mediasi


__ADS_3

"Siap, Bang?" Kepala desa ikut hadir dalam mediasi di aula kantor desa tersebut.


Dilakukan mediasi terlebih dahulu, untuk menarik keterangan Ai perihal hal-hal yang disebutkan dan direkap dalam bukti yang telah disatukan. Mediasi adalah, cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator.


Mereka dibantu untuk mendapatkan jalan tengah. Sebelum, kasus ini benar-benar naik ke ranah yang lebih tinggi.


"Saya siap, Keuchik." Kemantapan Givan sudah membuat.


"Kompleks sekali ini, Bang Givan?" Salah satu pemeriksa bukti, mengeluarkan suaranya.


"Ya, Pak." Givan hanya bisa memajang senyumnya.


"Pernah diselesaikan secara kekeluargaan? Pernah didatangkan juga pihak-pihak bersangkutan? Apa kedua wali dari pihak Bang Givan dan Dek Ai hadir juga?" Pertanyaan beruntun diajukan, oleh petugas yang mengecek dokumen penyerta.


Ternyata, Givan tidak langsung diadili. Ada rasa kecewanya pada kepala desa setempat, karena minggu lalu kepala desa sempat mengatakan bahwa Givan diusahakan langsung mendapat putusan.


"Orang tua dari pihak Dek Ai, katanya ini virtual."


Sontak, seluruh anggota keluarga Adi's Bird yang hadir menoleh tajam pada Ai. Ai selalu beralasan, ketika diminta nomor kontak keluarganya. Namun, kali ini ponsel milik Ai sudah menayangkan sebuah wajah yang cukup jelas dalam panggilan video.


"Siapanya ini, Dek?" tanya petugas hukum di desa tersebut. Ponsel milik Ai tersebut diposisikan sedikit jauh dari tempat Ai.


"Eummm.... Kakak Saya, Pak."


Alis Givan menyatu heran. Ia tahu kakak Ai dan orangnya bukanlah yang itu. Givan masih ingat jelas, seseorang yang pernah merendahkan harga diri dan.


"Berapa saudara, Dek Ai?" Keuchik ikut mengeluarkan pertanyaannya.


Jika dalam mediasi seperti ini, andil dirinya cukup besar di sini.


"Saya anak kedua dari empat bersaudara." Ai menjawab dengan menunjukkan kepalanya.


"Betulkah?" Mulut Givan reflek menanyakan itu.

__ADS_1


Bukan perihal jumlah saudara Ai yang Givan ragukan. Ia cukup ingat, bahwa Ai memang anak kedua dari empat bersaudara. Tetapi, hubungan antara Ai dan pemilik wajah dalam panggilan video tersebut yang Givan ragukan.


Itu bukanlah wajah kakak Ai. Dengan kedudukan Ai anak kedua, jelas ia tidak memiliki kakak lain. Kecuali, memang ia masih memiliki dua adik.


Ai memutar kepalanya melihat Givan, tapi ia segera menunduk kembali. Pertanyaan singkat Givan, hanya dibalas dengan anggukan samar saja.


"Saya tahu kakaknya, sedangkan itu bukan kakaknya." Givan menunjuk ponsel Ai yang terpasang pada sebuah stand holder.


Canda langsung ingat, jika Ai adalah mantan terindah untuk suaminya. Jelas suaminya akan tahu wajah kakak Ai, yang mungkin tak bisa Givan lupakan juga.


Sedikit protes Givan tentang kakak dari Ai tersebut, nyatanya membuat Canda cemburu dan sedih. Pada Ai, suaminya bahkan tidak bisa lupa dengan saudara-saudara Ai. Apalagi, tentang orang bersangkutan.


"Terus dia siapa?" Banyak pertanyaan yang dilayangkan juga, dari beberapa orang penting di desa tersebut yang hadir. Seperti imam masjid, kyai, RT setempat dan juga RW setempat.


"Itu benar kakak Saya, Pak. " Ai mencoba meyakinkan para petugas. "Coba tanyakan aja langsung ke kakak Saya." Ai menunjuk kasur ponselnya, yang berjarak satu meter setengah di depannya.


"Benar, Pak. Saya kakak Ai sendiri." Terdengar jelas sahutan dari dalam ponsel tersebut.


"Coba, sebutkan nama kedua orang tuanya. Nama Anda, nama adik-adiknya dan nama satu pamannya." Perintah kecil dari Givan, membuat Canda berpikir bahwa suaminya tau banyak tentang Ai.


"Nama ayahnya, Eka. Nama ibunya, Nyi. Nama kakaknya, Awang. Nama adik-adiknya, Deden dan Dedeng. Kami tidak memiliki paman."


Menurut Givan, kalimat tersebut terdengar cacat. Tidak seperti cara penyebutannya, jika namanya terkandung dalam salah satu daftar yang disebutkan. Lalu, tidak benar jika Ai tidak memiliki paman. Bahkan, paman Ai ditarik Ai untuk bekerja di perusahaan Givan dulu.


"Anda siapanya?" Givan mencoba menjadi lebih tenang di sini.


Sayangnya, keberanian dan kurang pandainya bercakap seseorang yang mengaku sebagai kakak Ai tersebut. Malah berujung dengan dirinya mematikan panggilan video tersebut sepihak. Tanpa izin, di depan orang banyak, panggilan video tersebut terputus tanpa ada pamit. Padahal, ia berada di depan orang banyak meski virtual. Sinyal pun, cenderung stabil dan kuat.


Glek.....


Ai menelan ludahnya. Semua mata tertuju padanya, sorot mereka seperti meminta penjelasan pada Ai.


"Tolonglah, Ai. Jangan dipersulit, aku cuma minta kontak keluarga kau aja. Biar kau ada walinya, ada yang berada di pihak kau. Karena bukan aku aja yang diminta ketenangan, kau pun sama juga. Karena hal ini menyangkut diri kau juga, bukan cuma aku." Givan terlihat begitu memohon, agar Ai mau diajak bekerja sama.

__ADS_1


"Kan aku udah bilang, A. Kita selesaikan kekeluargaan aja, jangan kek gini." Ai memandang para petugas dengan tidak enak hati.


"Kalau kek gitu, nantinya tak cukup adil untuk aku. Aku bersalah di sini, aku udah buat kau hamil secara tidak langsung. Permintaan maaf dan jaminan aja itu tak cukup, aku harus dapat hukuman juga." Begitu banyak pemahaman yang ia lontarkan untuk Ai. Nyatanya, Ai tetap tidak mau mengerti tentang kesalahannya. Ia hanya berfokus, agar masa depannya cerah dengan jaminan yang dibelikan.


"Tapi, aku pun bersalah juga." Ai menunduk, pandangannya tertuju pada jemarinya yang sedikit basah tersebut.


Ia yakin, dirinya pun akan mendapat hukuman. Sekarang saja, dirinya sudah menjadi tahanan mandiri. Belum lagi hukum cambuk yang harus ia jalani, setelah nanti selesai nifas. Pasti, nanti akan bertambah berat saja hukumannya.


"Hukuman aku udah berat, A. Aku rasa, aku gak yakin untuk jalaninnya. Ditambah lagi, kandungan aku begini. Perut aku, tidak dalam kondisi baik. Bayi aku pun bermasalah, Aa tau sendiri." Ai sudah pasrah bagaimana dengan nasibnya. Ia sudah amat pusing, dengan keadaannya sendiri. Ia tidak tahu, harus bagaimana lagi untuk menyikapi hukum-hukum yang tidak ada habisnya ini.


"Memang bayinya kenapa, Dek?" Kepala desa tertarik untuk mendengarkan cerita Ai.


"Pertumbuhannya gak normal, Pak. Fisik, otak dan organ dalamnya juga katanya. Meski memang masih dalam tahap pembentukan, tapi udah ada kebaca medis." Ai menyampaikan kabar tidak baik tersebut.


"Loh?" Kepala desa bertukar pandang dengan Adi dan Adinda.


Bagaimana kedepannya nanti?


Kepala desa seolah ingin menanyakan hal itu, hanya saja mulutnya tidak mampu untuk mengutamakannya. Ia khawatir pertanyaannya menyinggung perasaan Ai.


"Ya makanya sini kontak keluarga kau, biar aku yang ngomong." Givan juga berpikir, bahwa Ai tidak bercerita apapun pada keluarganya. Ai menyembunyikan kebenaran dan keadaannya.


Meski prasangka Givan adalah benar, tentang Ai yang tidak melibatkan keluarganya di sini. Tapi tetap, Ai tidak sedikitpun ingin keluarganya tahu tentang apapun yang terjadi pada dirinya.


"Mereka udah gak mau nerima aku lagi, begitu tau aku mengandung, A."


Itu tidak benar terjadi, mulutnya berdusta lagi di sini. Mereka tidak tahu apapun, bagaimana mereka bisa mengusir atau tetap bersama menguatkan Ai.


"Memang gimana?" tanya Adinda.


"Aku diusir dari rumah, Mah. Aku gak diterima mereka lagi, makanya aku cari A Givan sampai ke sini." Wajah memelasnya kali ini begitu dipercaya, karena sebelumnya Ai sudah merencanakan hal ini.


"Yang video call tadi itu siapa?" tanya Adi dengan menunjuk ponsel Ai yang masih berada pada stand holder tersebut.

__ADS_1


"Itu.....


...****************...


__ADS_2