Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM41. Perut cekung


__ADS_3

"Mas Givan kenapa, Mah?" Canda langsung menanya keadaan suaminya.


"Tak tau, jam satu malam dia ketuk-ketuk kamar Mamah katanya abis muntaber. Pucat betul, terus jadinya papah tidur di kamar Givan. Kata papah juga, sampai magiin itu Givan bolak-balik muntah di kamar mandi aja. Kata papah, udah muntah di tong sampah aja. Soalnya udah nampak pucat dan lemas betul. Sampai sekarang, dia kalau jalan sampai ngerambat. Tega tak tega Mamah tinggalkan buat manggil tenaga medis. Ingat jam sepuluh malam, Ken baru berangkat sama Ria. Jadi Mamah ke bidan, dia tak ada di rumah, lagi tugas di puskesmas. Barulah lari ke Rauzha, soalnya tante Shasha ditelpon itu tak nyambung terus, katanya HP-nya lowbat." Adinda memainkan jemarinya sendiri, terlihat ia begitu cemas dengan anak sulungnya.


"Awalnya mas Givan apa, Mah?" Canda teringat akan ucapan Rauzha yang mengatakan bahwa suaminya mungkin memakan makanan yang sudah tidak layak.


"Dari sampai di sini, Givan itu tak makan-makan. Van makan, iya nanti. Van makan, biar nanti. Nyeduh teh lagi, minum susu lagi, tak mau makan-makan nasi. Di luar negeri aja, dia terbiasa makan berat." Adinda sampai hampir menyuapi anaknya yang sulit untuk makan itu.


Sudah seperti ini, Canda malah berpikir bahwa Givan sengaja ingin sakit agar ia iba padanya. Padahal, keadaannya yang tengah stress. Givan merasa perutnya tidak kunjung lapar, ia pun tidak berminat untuk makan. Membuat kondisi tubuhnya melemah, karena tidak mendapatkan asupan makanan.


"Mas Givan dari mana aja, Mah? Mungkin dia makan di luar." Canda masih memiliki secuil prasangka akan suaminya yang salah makan.


"Coba kau tanyakan. Mamah sih liatnya dia di rumah aja, bolak-balik ke kamar sama ke halaman belakang aja. Nih, balurkan minyak aromaterapi ke dia. Mamah mau ngabarin papah dulu, biar papah pulang cepat. Kau jagain suami kau dulu, Mamah sekalian mau ke dapur. Barangkali ada yang lapar, Mamah belum masak nasi lagi." Adinda memberikan botol kecil yang berbahan beling tersebut. Ia pergi ke dapur, dengan mengantongi ponselnya yang tergeletak di meja.


Canda menatap botol minyak aromaterapi itu, kemudian helaan napas panjangnya terdengar dengan langkah kakinya yang bergerak menuju ke kamar suaminya. Ia sejenak memperhatikan Givan yang masih memejamkan mata, dengan bersandar pada kepala ranjang. Kemudian ia memantapkan dirinya untuk naik ke atas ranjang dan mengecek keadaan suaminya.


"Mah, jangan naik ke kasur. Mual aku datang, kalau kasur aku sedikit bergoyang," pinta Givan, tanpa tahu siapa yang naik ke ranjangnya.


Canda tidak menjawab, ia mengambil posisi di tengah ranjang dan persis di sebelah kiri suaminya. Tanpa berkata, ia membuka tutup botol minyak aromaterapi tersebut dan mengoleskan sedikit ke dada lebar suaminya.


"Mah, aku jangan digoyang-goyang. Mual aku datang lagi." Gerakan Canda, membuat tubuh Givan sedikit terguncang.


Canda memindahkan tangannya, kemudian ia meratakan minyak angin tersebut ke leher suaminya.


"Coba didengus, biar mualnya hilang." Canda menepatkan telapak tangannya di dekat hidup suaminya. Tangannya dipakai untuk meratakan minyak angin tadi, membuat aroma segar itu menempel di punggung tangannya.


Givan langsung membuka matanya, ia mendelik cepat pada istrinya. Dalam diam, Givan memperhatikan wajah tanpa ekspresi dari istrinya tersebut.

__ADS_1


Ia yakin, ibunya yang memanggil Canda untuk datang dan mengurusnya. Ia sadar, bahwa ia sudah merepotkan orang tuanya. Ia paham, bahwa tenaga orang tuanya tidak kuasa lagi untuk mengurusnya


Givan menuruti perintah istrinya. Ia mengambil napas dalam-dalam, untuk merasakan aromaterapi dari minyak angin tersebut. Givan melakukannya berulang, sampai bau di telapak tangan Canda itu berkurang.


"Mau makan sama apa?" Canda memahami bahwa perut suaminya itu lapar. Perut datar berotot tersebut, terlihat cekung ke dalam.


"Nanti aja." Givan merasa rasa mualnya tak kunjung berkurang.


"Aku mau bakso balungan. Cepat sehat, tak ada yang disuruh pergi untuk beli."


Senyum Givan terukir samar. Ia geli sendiri, kala mendengar istrinya butuh sesuatu tapi tidak ada pesuruh. Givan paham, ia cukup bisa diandalkan untuk istrinya.


"Barengan ya?" Givan menurunkan kaki kanannya dari ranjang.


Telapak kaki kanannya menyentuh langsung dinginnya lantai marmer ini.


"Katanya mau bakso balungan. Aku belikan dulu." Ia memahami kebiasaan ngidam Canda, yang terus akan merengek sampai keinginannya terpenuhi.


Canda menahan lengan kiri suaminya, ia tidak mau suaminya pergi dengan keadaan seperti ini. Ia hanya mencoba membangkitkan semangat Givan saja, agar Givan tak begitu lemas dan mau makan.


"Kan aku bilang nanti kalau sembuh." Canda menarik kaki Givan, agar naik ke atas ranjang kembali.


"Sembuh." Givan tersenyum genit, kemudian mencium pipi kanan istrinya dan mengusap perut datar istrinya.


"Udah makan apa aja anak Ayah? Ayah lupa nyetok susu untuk Biyung dan Adek, mau Ayah belikan kah? Mau merek apa?" Givan merangkul bahu istrinya, dengan ia aktif mengusap-usap perut istrinya.


Masih datar dan belum ada pergerakan juga, tapi pertumbuhan di dalam sana begitu aktif.

__ADS_1


Canda ragu suaminya sakit. Ia melihat kesembuhan dan pucat yang sedikit sirna dari wajah suaminya.


"Pesan makanan aja, aku belum makan dan tak masak. Aku mau bakso balungan, sama sate taichan." Canda hanya menyebutkan random, karena sebenarnya ia lebih ingin melihat suaminya makan.


Perut cekung ke dalam itu benar-benar tidak bisa berbohong. Canda mempercayai itu, daripada pengakuan sehat dari suaminya.


Givan menarik tangannya dari perut Canda. Tangan kanannya tersebut, ia gunakan untuk meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Tanpa takut ada kekeliruan yang akan diketahui Canda, Givan langsung memberikan ponsel tersebut. Karena aplikasi pesan makanan begitu lengkap di ponselnya. Sedangkan ponsel Canda, hanya dipenuhi dengan game dan aplikasi hiburan lainnya.


Aplikasi untuk belanja online pun, Givan sengaja mendownload agar istrinya belanja dari ponselnya saja. Karena dari ponselnya, bisa langsung terhubung ke pembayaran debit dengan atas nama dirinya. Sedangkan aplikasi Canda, kurang canggih karena Canda tidak memiliki pembayaran menggunakan kartu debit dan semacamnya.


"Aku mau pesan banyak, karena aku sarapan lebih pagi dari biasanya. Aku lapar betul, aku mau makan yang berkuah dan ada rasa ladanya juga. Abis makan bakso balungan, aku mau makan soto ini nih." Canda mulai mengoperasikan ponsel suaminya, lalu dirinya menunjuk gambar makanan yang terdapat di layar ponsel suaminya.


"Terus apalagi? Nanti habis tak?" Givan kembali mencium pipi istrinya, kemudian ia bersandar pada bahu istrinya yang lebih rendah.


Rasa pusing di kepalanya kian mereda, karena kehadiran salah satu manusia yang ingin ia temui sejak tadi itu.


"Tak, kan ada Mas yang berfungsi untuk habiskan makanan yang tak aku habiskan." Canda melirik suaminya dan Givan kembali terkekeh mendengar ucapan Canda.


Karena seperti itulah setiap harinya. Ia sudah bagaikan tong sampah makanan yang tidak Canda habiskan. Tanpa jijik, ia menghabiskan makanan sisa istrinya. Meski awalnya ia terpaksa, karena Canda selalu berkata mubazir. Namun, ia sudah terbiasa sekarang.


"Ya udah sok order. Jangan yang begitu pedas lagi, aku tak mau kau diare. Sambalnya pisah aja, biar kita bisa kira-kira pedasnya seberapa."


Sayangnya saran dari Givan, membuat Canda teringat pengakuan suaminya yang mengatakan ia lebih memilih untuk mementingkan keadaannya yang tengah diare. Daripada melanjutkan malam hina mereka bersama Ai.


"Kenapa, Cendol?" Givan mengamati wajah istrinya yang mendadak mematung tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2