
"Ayah sini." Jasmine melambaikan tangannya pada ayahnya.
Givan beradu pandang dengan Putri. Ia tidak ingin mengganggu waktu pribadi Putri dengan anaknya, ia hanya ingin melihatnya dari jauh saja. Yang penting terkontrol dan terlihat di jangkauan matanya.
"Ayah...." Jasmine memandang ayah asuhnya penuh harap.
Ada sedikit kekhawatiran akan amarah ayahnya, ketika ia mengobrol bersama ibu kandungnya. Jasmine takut memancing atau mengundang amarah ayahnya, yang tidak ia sengaja. Ia teringat urat masam ayahnya, ketika ia bercerita tentang ibunya yang mendekatinya di jalan.
"Kenapa, Kak?" Givan terpaksa berjalan ke arah Jasmine dan ibu kandungnya.
"Ayah di sini aja, temani aku." Jasmine merengek dengan wajah memerah.
"Kenapa sih gitu, Kak?" Givan duduk berjarak dengan Putri.
Pikir Putri, ya sudah lebih baik ia sedikit malu pada Givan. Toh, Givan pun sudah tahu bagaimana kondisi perekonomiannya.
"Ammak punya hadiah buat Jasmine." Dengan haru, Putri memberikan bingkisan dari dalam tasnya.
Lihatlah, terkadang Putri begitu miris. Ketika melihat tas yang ia kenakan, hanya seharga seratus ribu saja.
"Apa ini?" Jasmine langsung membuka bungkusan tersebut.
"Wow, baju muslim Ethica. Bisa buat aku ngaji nih." Dengan gembira, Jasmine langsung mencoba pakaian tersebut.
Putri membantu Jasmine mengenakan baju tersebut, dengan mata yang basah. Kebahagiaan anaknya, seperti kebahagiaan sendiri untuknya.
"Iya, buat Jasmine ngaji." Putri mengusap air cengengnya.
"Makasih ya, Ammak." Jasmine memutar-mutar tubuhnya dengan pemberian dari ibunya itu.
"Sama-sama, Sayang. Ngaji yang rajin ya? Biar bisa doakan mangge Lendra, kakek dan nenek." Putri memegangi lengan anak itu, kemudian membawanya ke dalam dekapannya.
Putri tidak yakin, anaknya bisa mengaji jika masih hidup bersamanya. Ia hanya menekankan agar Jasmine kecil, mampu menghafal alfabet dan angka dengan baik.
"Aku udah bisa, Ammak. Aku doakan kakek nenek dan Ammak juga. Biar Ammak selalu diberi kesehatan dan keselamatan." Jasmine memegangi kedua pipinya.
Givan hanya diam, memperhatikan interaksi mereka. Seperti ibu dan anak umum, tidak menimbulkan kecurigaan untuk Givan.
"Wow, siapa yang ngajarin? Jasmine pintar betul." Putri mendekap tubuh anaknya lagi.
"Biyung dong, Ammak. Sama Ayah, aku belajar sholat subuh yang ada qunutnya, sholat witir, dhuha, tarawih, tahajud, sholat jenazah dan cara memandikan jenazah. Banyak lagi deh, biyung sama Ayah banyak ajarkan. Hukum baca Al-Qur'an juga ada, idzhar, iklab, idghom bilagunah, idghom bigunah, ikfah. Banyak lagi deh, Ammak." Jasmine memutar matanya, sambil mengingat semuanya.
__ADS_1
"Wah, alhamdulilah. Banyak ilmu dong?" Putri membingkai wajah anaknya. Ia bersyukur, karena anaknya diajarkan banyak ilmu yang berlimpah.
"Aku juga diajari untuk buat cerita sama nenek. Dikasih paham tentang garis besar, sinopsis, alur, blurb, banyak lagi deh. Aku belum bisa semua, karena ilmunya banyak." Jasmine kembali melepaskan baju dari ibunya tersebut.
Putri bersenang hati, karena anaknya menerima dan suka pemberian darinya. Suatu saat nanti, ia akan berkunjung dengan jumlah barang yang pas untuk anak-anak Givan. Agar ia tidak minder dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial untuk mereka semua.
"Foto dulu yuk? Biar Ammak punya kenang-kenangan." Putri mengeluarkan ponselnya.
"Ammak memang tak malu, kalau mau pajang aku?" Jasmine sedikit mengerti, karena dulunya dirinya tidak pernah difoto oleh ibunya.
"Ya tak dong, Sayang." Putri lupa akan sedikit perlakuannya dulu pada anak itu.
Senyum merekah terpotret dalam kamera ponsel Putri. Beberapa foto yang ia ambil, merekam kebahagiaannya mereka saat ini.
Uapan lebar dari Givan, menunjukkan betapa jenuh dan mengantuknya dirinya. Ingin meninggalkan Jasmine dan ibu kandungnya, Givan khawatir Putri membawa anak asuhnya pergi tanpa izin.
Hingga beberapa topik pembicaraan dihabiskan oleh Putri. Ia merasa perutnya cukup lapar, dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ia tidak mau merepotkan orang lain, apalagi tuan rumah yang sudah membesarkan anaknya.
Namun, ia ingin menjalin hubungan yang baik juga dengan keluarga Givan. Ia ingin mampir sejenak ke rumah Adinda, ke rumah orang tua Nalendra dan ibunda Canda. Setelah itu, ia baru berencana untuk pulang.
"Van, aku pamit dulu ya? Jasmine juga keknya udah ngantuk nih." Putri mengusap-usap kepala anaknya yang bermanja di lengannya.
Putri mengantarkan anaknya masuk ke tempat tidur. Hunian sederhana yang terlihat mewah, menjadi tempat tumbuh kembang anaknya.
"Oh, iya. Van, aku mau mampir ke rumah mamah Dinda, mangge dan bu Ummu dulu. Cuma mau silaturahmi dan nanya kabar aja, aku harus langsung pulang." Sebenarnya, Putri hanya khawatir perutnya berbunyi di waktu ia bertamu.
"Loh, kok?" Givan mendadak bingung.
"Kau bisa tanyakan bagaimana cara aku bertamu nanti, kalau kau tak percaya sama aku." Putri telah memakai lagi sandalnya.
"Eummm.... Gini aja deh, aku duluan ke sana. Kau keluarkan mobil kau dulu aja, nanti tutup lagi pintu gerbangnya." Givan mencoba mengontrol keadaan.
Ia tidak mau Putri membuat onar kedamaian yang sudah ia buat begitu sulit.
Putri mengangguk. Ia paham, kesalahannya wajar meninggalkan ketidakpercayaan orang-orang terhadapnya.
Givan sudah berada di rumah ibunya lebih dulu. Ia tercengang, melihat Ai duduk di sofa ibunya. Keadaannya cukup memperihatinkan. Ia bertambah kurus, dengan ukuran perutnya yang bertambah besar.
Tidak bisa dicegah lagi, mobil Putri sudah terparkir di depan pagar ibunya. Putri sengaja tidak membawa mobilnya masuk ke halaman rumah Adinda, karena ia tidak lama berada di situ.
"Bayinya gerak lemah katanya, Van. Dia ngerasa pusing, mual, muntah, pendarahan ringan. Mamah lagi coba hubungi Ken, barangkali dia masih stay di sini," ujar Adinda, ketika melihat putra sulungnya berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Givan menoleh ke arah belakang, di mana Putri tengah berjalan ke arahnya. "Mah, ada Putri mau silaturahmi." Givan berkata dengan ragu-ragu.
"Hah? Iyakah?" Adinda sedikit terkejut mendengarnya.
"Assalamualaikum...."
Givan belum menjawab, Putri sudah berada di hadapan mereka. Putri memamerkan senyumnya dengan begitu tulus.
"Wa'alaikum salam." Adinda menyamarkan kekagetannya dengan senyum ramahnya.
"Sehat, Mah?" Putri melangkah masuk dan langsung merundukkan punggungnya. Ia mencium tangan Adinda, lalu mendekap tubuh Adinda.
"Aku minta maaf ya, Mah? Aku minta maaf, udah buat kekacauan." Putri penuh penyesalan saat mengatakannya.
"Mamah juga minta maaf, udah persulit hidup kau. Mamah gimana awalnya kau aja, Put. Kau baik, Mamah bakal lebih baik." Adinda membalas pelukan Putri dan mengusap punggung Putri.
"Sama-sama, Mah. Kita saling memaafkan ya, Mah." Putri melepaskan pelukannya.
Adinda mengangguk. "Iya, Put." Adinda membalas senyum tulus Putri.
Ia tidak sepenuhnya percaya, dengan permintaan maaf dari Putri. Namun, ia hanya mencoba menghargai permintaan maaf orang bersangkutan.
"Papah mana, Mah?" Putri mengedarkan pandangannya. Tetapi, malah ia menemukan sosok mantan kekasih Givan yang pernah ia lihat dalam sebuah bentuk foto dalam ponsel.
"Masih di luar, Dzuhur nanti juga pulang." Adinda mengajak Putri duduk.
"Waduh, aku pun mau silaturahmi ke bu Ummu dan mangge Yusuf juga, Mah." Ingin menolak, tapi ia terlanjur tidak enak pada Adinda.
"Rehat dulu sebentar, Put." Adinda memaksa agar Putri duduk bersamanya.
Givan masih bingung, melihat dua mantan kekasihnya yang ada di hadapannya.
"Mah, ini tuh Ai Diah ya?" Putri menunjuk Ai dengan ibu jarinya.
Kemudian, ia bergulir memandang Givan. Givan hanya mengangguk samar, kemudian ia duduk di sofa single yang ada. Ia ingin tahu sendiri, percakapan apa saja yang Putri lontarkan.
"Assalamualaikum...."
Siapa lagi perempuan yang datang? Givan bertanya-tanya seorang diri.
...****************...
__ADS_1