Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM259. Tiket perjalanan


__ADS_3

"Kenapa Mas baru cerita sih?" Canda memukul lengan suaminya.


Ia merasa kesal tidak karuan, karena rasa bencinya yang mendadak tumbuh.


"Karena biar kau ngerti, bahwa kau tak perlu bilang apapun ke bang Ken. Kau cuma buat usaha aku sia-sia, kalau akhirnya kau kasih tau di mana keberadaan Ria. Lambat laun juga, harapan Ria ke bang Ken pasti pupus. Lambat laun juga, Ria pasti punya pengganti bang Ken. Kek kau yang mampu nemuin Lendra, meski hanya untuk jaga kau sementara waktu aja. Pasti ada orang yang tepat untuk Ria. Tak sekarang, tapi nanti. Tak hari ini, mungkin esok atau lain waktu. Kita tak selalu ada kesempatan untuk bahagia, tapi pasti ada waktu yang memberi kita kesempatan untuk bahagia. Kalau pada akhirnya Ria harus sama bang Ken, ya pasti akan terwujud kebahagiaan mereka." Givan mencoba memberi istrinya pemahaman, tapi ia pun mencoba memberi ketenangan agar istrinya tidak begitu merasa benci pada Kenandra


"Tapi, Mas. Kenapa Ria bisa begitu?" Canda tidak tega menyebutkan bahwa adiknya sehina itu.


"Yaaa.... Katanya sih, awalnya karena tak sepakat." Givan sengaja tidak membeberkan jika sebelumnya Ria sudah mengerti tentang dunia dewasa, hanya saja masih mampu menjaga kesuciannya saat itu.


"Terus?" Canda mengerutkan keningnya.


"Ya terus, yang kedua Ria diberi obat perangsang. Yang ketiga, yang keempat, karena bujuk rayunya." Givan sengaja mempersingkat ceritanya.


"Berati, tak ada kasus pemer****** ya, Mas?" Canda merasa bahwa cerita adiknya tidak sama dengan ceritanya.


"Ya, tak ada." Givan hanya menjawab cepat.


"Bujuk rayunya tuh diiming-imingi apa, sampai pasrah begitu? Aku jadi penasaran. Karena dari dulu, kok aku tak ada yang bujuk dan ngerayu?" Ia bertopang dagu, dengan siku bertumpu pada lututnya. Canda sampai mengingat setiap momennya dengan para laki-laki.


Ia teringat kala Nalendra pulang dari pekerjaannya, kemudian memberinya ponsel terkini di masanya, yang masih ia simpan meski telah rusak. Ia pun teringat tas yang cukup mahal, pemberian Nalendra di masa itu, ia pun masih menyimpannya sampai sekarang.


Ia bertanya-tanya, apa bujuk rayu itu semacam itu. Ia terpikirkan, dengan Ghifar dan beberapa laki-laki yang akrab dengannya seperti Dendi. Ia mengingat kembali setiap momen mereka, apa ada dari mereka yang memberikan bujuk rayu pada Canda.


"Ya tak tau, Canda. Ya mungkin, janji nikahin." Givan tidak bertanya langsung pada Ria tentang hal itu, karena ia merasa tidak enak hati karena terlalu mengorek.


"Masa iya, Mas? Gimana bilangnya tuh? Aku dulu langsung minta nikah malah, pas bang Daeng langsung naik aja. Aku udah takut duluan, udah nangis heboh duluan."

__ADS_1


Givan sampai menoleh tak percaya.


"Ya iya, makanya Lendra turun lagi. Belum diapa-apakan, kau udah nangis heboh. Pasti mengundang kecurigaan orang di sekeliling. Bisa malu lah dia." Givan berpikir wajar menurut pendapatnya.


Canda menoleh dengan tatapan bodohnya. Kemudian, ia terkekeh malu. "Iya kah, Mas?" tanyanya konyol.


"Ya iya, mungkin. Aku tak tau, Canda." Givan menarik pipi istrinya berlainan arah karena gemas.


"Berarti Ria udah ngerti enak dong ya?" Canda kembali tertawa malu.


"Ya ngerti kali. Kau nih, nanyanya udah yang aneh-aneh aja." Givan memencet hidung istrinya.


"Ah, Mas!" Canda berontak merasa risih karena tingkah suaminya.


"Kau aja ngerasa enak gimana? Mas, Mas, Mas, mau pipis. Lepas dulu, kek tak tahan mau apa aku ini. Sampai akhirnya, langsung kejang-kejang." Givan meledek istrinya dengan suara menirukan istrinya.


Canda terkekeh malu, kemudian ia langsung bersembunyi di lengan suaminya. "Memang Mas tak kek gitu, pas baru ngerasain keluar?"


"Yuk? Katanya ke swalayan?" Canda mendongak, menatap penuh harap.


"Aku mandi dulu ya? Kau udah mandi kah?" Givan bangkit, melepaskan rangkulannya pada istrinya.


"Udah, Mas. Aku ganti baju, siap-siap dulu ya?" Canda mengekori suaminya.


"Oke." Givan mempersilahkan istrinya untuk keluar lebih dulu dari ruangannya. "Jadi kau udah ngerti kan? Kau tak boleh kasih tau informasi apapun ke bang Ken, kau pun harus jaga rahasia aib adik kau sendiri." Givan memberi peringatan, kala Canda baru saja melewatinya untuk keluar dari pintu ruangan tersebut.


"Oke, Mas. Aku ngerti kok." Canda punya rencana tersendiri untuk Kenandra.

__ADS_1


Ia memilliki harapan kecil, agar Kenandra tersadar. Meski akhirnya, tidak menikahi adiknya juga.


Mereka sibuk mempersiapkan diri mereka, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke swalayan hanya berdua saja. Canda pun memiliki rentetan keinginan, untuk memperindah tampilan dirinya untuk suaminya. Ia ingin tetap dilihat menarik untuk suaminya.


Daftar belanjaan dari Adinda pun, sudah dikirimkan ke dalam room chat Givan. Agar anaknya tak lupa membelikan kebutuhan yang orang tuanya butuhkan.


Sore harinya, Givan kedatangan ayah sambungnya. Untungnya, Adi datang sebelum Givan berencana keluar bersama Gibran. Givan sudah mulai mengajari Gibran, agar anak itu terlatih dan menyerap ilmu yang ia ajarkan langsung ke lapangan.


"Ikut ngopi ke luar yuk, Pah?" Givan hanya berbasa-basi, ia tahu ayah sambungnya akan menolak.


"Tak, Papah punya janji ngopi sama mamah kau. Van, tolong carikan tiket pesawat dan kereta api untuk sampai ke Cirebon. Nih, pakai HP Papah aja kah?" Adi menyodorkan ponselnya. Ia hanya kurang mengerti, jika pemesanan dua tiket beda jenis kendaraan tersebut. Belum lagi, ia tidak mengerti cara memperkirakan waktunya.


"Untuk berapa orang, Pah? Siapa aja?" Givan menggeleng dengan melirik ponsel ayah sambungnya. Ia langsung mengeluarkan ponselnya.


"Buat Ai, Awang, Naf, Mamah sama abang kau. Papah mau ikut, gimana Gavin? Gimana Gibran juga? Udah pada besar juga, kek anak kecil. Sholat aja, mesti diingatkan. Makan aja, mesti disuruh. Jadi Papah kepikiran, gimana mereka masa di rantau orang, masa di Brasil. Padahal didikan pesantren ya? Sampai rumah kok kumat lagi kek anak kecil." Adi geleng-geleng kepala, teringat akan tingkah dua anak terakhirnya.


"Tuh, nanti Papah siapa yang ngurus? Papah tinggal di sini aja deh. Entah Canda masak apa entah apa, bisa kali dia ngurus Papah. Yang nyajiin makannya siapa, yang nyajiin makannya gimana?" Givan memikirkan ayah sambungnya repot mengurus kedua adiknya, sampai lalai dengan dirinya sendiri.


"Ya, Insha Allah bisa lah." Adi sebenarnya pun tidak yakin.


"Jangan bisa-bisanya aja. Papah tuh udah umur, aku sih khawatir aja kalau Papah sendirian di rumah. Aku sama Canda sementara di sana, atau Papah sama Gavin dan Gibran yang sementara di sini? Siang sih kan, semuanya aktivitas. Kalah makan gitu kan, malamnya juga. Ya, Pah. Di sini aja kali ya? Tidur ngegoler bareng di ruang tengah gitu, aku ada banyak kasur busa lipat." Alisnya menyatu, ia merasa khawatir memikirkan.


"Ya udah, nanti ngungsi sementara di pondok kau." Adi tidak mau ambil pusing.


"Coba, pesankan tiket untuk lima orang itu. Tiket pesawat, sama tiket kereta juga ya?" Adi menunjuk ponsel Givan yang menyala.


"Oh, iya. Untuk kapan, Pah?" Givan kembali fokus memandang ponselnya.

__ADS_1


"Untuk hari.....


...****************...


__ADS_2