
"Pengen jus buah, Mas." Canda bergelayut manja di lengan suaminya yang masih mengobrol dengan Putri.
"Mobil aku masih di depan sana, aku mampir dulu ke bu Ummu sama mangge Yusuf. Aku pamit ya, Van? Canda?" Putri terlampau tidak enak, melihat istri Givan yang begitu manja pada Givan tersebut.
"Oh, iya. Makasih, Put." Givan mencoba bangkit untuk mengantar Putri.
"Mas, iyain dulu," rengek Canda masih dengan menggelayuti lengan Givan.
"Iya, Canda. Siap, Canda. Aku OTW sekarang." Givan bertutur halus dan lembut, malah membuat Putri terheran-heran.
Ingin rasanya ia menanyakan kenapa Givan berubah drastis. Tapi melihat di sisi mantan kekasihnya itu rupa seorang wanita yang lemah lembut, membuat Putri mengerti bahwa Givan mencoba mengimbangi Canda.
"Aku pamit dulu ya, Canda?" Ulang Putri kemudian.
Barulah Canda tersadar, bahwa ada seorang tamu yang ingin pamit padanya dengan sopan.
"Oh, iya. Ati-ati, Put." Canda mengajak Putri bercipika-cipiki.
"Oke." Putri tersenyum lebar.
"Mari, assalamualaikum...." Putri bergulir menatap Givan dan Canda bergantian, kemudian ia melangkah pergi dari halaman rumah Ceysa lewat pintu pagar yang langsung menuju ke jalanan gang di depan rumah, tanpa melewati kawasan pondok biyung yang merupakan halaman rumah Canda.
"Wa'alaikum salam."
Givan membenahi kemejanya yang sedikit tertarik di bagian lengan yang Canda ganduli.
"Aduh, Canda. Aku sampai keringatan ini." Givan menarik napas panjangnya.
"Mas ninggalin ranjang kita masa aku lagi tidur, aku tak suka Mas kek gitu." Suara manja Canda tidak tertahankan lagi.
"Ra masuk minta sayur sop. Aca masak ikan sarden sama tumis kangkung, kau tak masak. Jadi aku keluar beli sop iga di pertigaan sana." Givan menunjuk arah pedagang yang dimaksud berada.
"Pasti aku tak dibelikan." Canda langsung memanyunkan bibirnya.
"Beli, Ra juga cuma makan kuahnya aja." Givan gemas sekali pada istrinya, rasanya ia ingin meraup wajah Canda sedikit kasar. Namun, ia takut istrinya itu menangis heboh.
"Ayo beli jus." Canda menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
"Iya, iya. Ini mau pergi." Givan memakai sandalnya dengan terburu-buru.
__ADS_1
Canda melepaskan suaminya. "Mas bawa dompet tak? Nih, aku bawa uang." Canda merogoh kantongnya.
"Ada, aku bawa. Jus buah apa maunya?" Givan berkaca pada jendela rumah Ceysa, ia merapikan kerah kemejanya dan menggulung ulang lengan kemejanya.
"Jus bengkoang."
Givan langsung patah semangat. Ia menghela napasnya, lalu duduk kembali di emperan rumah anaknya.
"Kok duduk? Katanya mau OTW?" Canda menyatukan alisnya.
"Jus apel, jus alpukat, jus buah naga, umumnya begitu. Jangan bikin aku susah hati, di mana harus aku cari pedagang jus bengkoang? Kau mau maskeran atau gimana sebenarnya?" Givan sampai mencubit-cubit pipinya sendiri.
"Ya udah kita cari sama-sama." Canda berdiri dan mengulurkan tangan kanannya.
"Ini, Dek."
Pandangan Canda teralihkan, ketika Shauwi sudah berada di dekat anaknya dan memberikan satu cup jus buah pada Ceysa.
"Loh?" Canda melongo saja melihat Ceysa langsung menanamkan sedotan pada cup jus tersebut.
"Barengan aja ya, Hadi?" Ceysa membagi jus buah dalam cup tersebut.
"Buat Biyung mana, Dek?" Canda menaiki undagan tangga teras tersebut, kemudian duduk di samping anaknya yang tengah bermain krayon tersebut.
Namun, Ceysa sudah terlanjur dibuat menangis oleh Canda. Givan hanya bisa menarik Canda pergi, membiarkan Ceysa ditenangkan oleh Shauwi.
"Orang tuh! Anaknya sendiri dibuat mewek terus," gerutu Givan, dengan mengeluarkan motornya.
"Minta sedikit aja tak boleh. Sama Hadi barengan terus, biyungnya sendiri tak dikasih." Canda menggerutu seperti anak kecil yang kalah berebut mainan.
Mereka keluar dari rumah, bertepatan dengan berangkatnya Ai ke rumah sakit bersama Kenandra. Mobil Kenandra yang mendahului Givan di depan gang, membuat mereka langsung memperhatikan orang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Ai, Mas." Canda menepuk pundak suaminya.
"Iya, terus kenapa?" ketus Givan dalam menjawab.
"Dirujuk ke RS lagi kah? Kandungan dia sebenarnya gimana sih? Aku jadi mau tau yang sebenarnya." Rasa penasaran Canda mencuat, ada sedikit rasa takut disalahkan juga ketika ia melihat Ai terus saja dibawa ke rumah sakit.
Apa hal itu gara-gara dirinya? Apa hal itu gara-gara suaminya? Canda bertanya-tanya dalam hatinya sendiri.
__ADS_1
"Mas, keknya kita perlu lihat keadaan Ai di RS deh. Dia sering betul bolak-balik RS." Canda iba melihat keadaan ibu hamil seperti Ai.
"Udah, Canda. Jangan cari masalah! Aku tak mau jadinya kau yang malah dirawat di RS." Givan selalu berpikir, bahwa nantinya Ai akan membuat Canda memiliki beban pikiran. Apalagi, kehamilan Canda beresiko karena ia hamil muda dengan dua janin.
"Sesekali aja, Mas. Kalau dia udah beberapa hari di sana tuh, baru kita tengok," usul Canda setengah memaksa.
"Ya udah! Terserah kau lah!" Givan berkata seperti itu, karena ia yakin bahwa Ai langsung pulang lagi ke rumah setelah dirujuk ke RS.
Sayangnya, tebakannya kali ini salah. Esok paginya, Kenandra datang ke rumahnya dengan membawa selembar kertas.
Canda melihat kehadiran Kenandra yang tergesa-gesa, sempat berhenti dari aktivitas membantu anaknya memakai sepatu sekolah.
"Givan mana, Dek?" tanyanya meski belum sampai di hadapan Canda.
"Lagi BAB," jawab Canda yang sebenarnya.
"Ish!" Kenandra geleng-geleng kepala, kemudian duduk di samping Canda.
Bunga mendekati ayah kandungnya itu, ia membawa sepatunya yang urung dikenakan. Senyumnya merekah, berharap ayahnya mau memakaikan sepatunya.
"Anak Ayah, bobo di mana semalam?" Kenandra tahu, tentang pengasuh untuk anaknya yang belum bertugas mengurus Bunga.
"Sama Cani." Bunga menunjuk Cani, yang tengah dibantu membenahi seragam PAUD.
Canda dan Givan tidak berniat menyekolahkan Cani lebih dini, khawatir anak itu merasa bosan. Namun, baru tiga tahun usianya, ia sudah ingin bersekolah seperti saudaranya. Ia selalu sendirian di rumah dan hanya bersama pengasuhnya raja, ketika saudaranya yang lain bersekolah. Hingga akhirnya, Givan memilih untuk menyekolahkan Cani agar anak itu senang dan tak selalu murung merengek ingin berangkat sekolah.
"Nanti agak siangan mungkin, si pengasuhnya Bunga ke sini sama Ceysa. Soalnya aku bilang kemarin, istirahat dan berbenah aja dulu. Dia ada di rumah bu Ummu, sama Ria," terang Ken yang tengah membantu anaknya mengenakan kaos kaki.
"Tapi betul kah Bunga ini kelas satu SD kek Ceysa? Kok badannya besar sekali?" Canda memperhatikan tubuh Bunga yang terbalut seragam merah putih berlengan panjang dan berkerudung tersebut.
"Betul lah. Memang badan idealnya anak kelas satu SD itu ya seusia Bunga, Ceysa kan memang imut." Ken melirik Ceysa yang duduk di teras rumah Chandra. Anak itu tengah berbicara dengan kakak laki-lakinya tersebut.
"Jangan salah loh...."
Canda dan Kenandra menoleh ke belakang. Ada Givan yang tengah berdiri dengan membenahi ikat pinggangnya.
Kenandra langsung terburu-buru menyampaikan kabar yang ia dapat dari rumah sakit.
"Van, gini. Ini mengenai Ai." Kenandra mengeluarkan secarik kertas yang ia lipat dan masukan ke dalam saku kemejanya.
__ADS_1
"Kenapa?" Givan bergerak untuk duduk di samping Kenandra, dengan menggulung lengan kemejanya.
...****************...