
"Ini tentang nikah siri itu." Canda menatap netra suaminya tajam.
"Terus?" Givan masih ingin melanjutkan pembicaraan itu.
"Ai bilang, dia tak pernah ada ngomong tentang nikah siri itu. Bahkan katanya, dia tak pernah ngobrol dan tunjukkan sesuatu ke tetangga belakang ruko ibu. Dia tak tau ada yang sebarkan nikah siri itu, dia tak pernah pernah buka apapun tentang masalah kehamilannya juga katanya. Malahan, tadi dia minta cepat dinikahi karena kandungannya udah besar."
Givan melongo saja. "Tuh kan? Aku kan udah jujur juga, Canda. Tak ada nikah siri di antara aku dan Ai."
Canda tidak percaya, ternyata suaminya malah langsung percaya tentang pembelaan Ai yang ia ceritakan.
"Terus kabar itu datang dari mana coba? Orang kak Eva cerita sendiri, dia dikasih liat foto Mas dan Ai juga." Canda sampai mencubit lengan suaminya. Ia terpancing emosi, dengan tanggapan suaminya.
Givan mulai memikirkan. "Kalau foto, ya tak mungkin dimiliki orang juga. Memangnya foto apa? Aku tak pernah ada foto bareng Ai." Dari ucapannya sendiri, Givan menangkap kebenaran yang di dalamnya.
"Eh, berarti Ai yang nyebarin sendiri dong?" lanjut Givan setelah dirinya mengerti.
"Terus sejak kapan, Mas berubah jadi bodoh? Kalau foto kalian kesebar kan berarti salah satu diantaranya yang nyebarin. Mas ngerasa nyebarin tak?" Givan langsung menggeleng, ketika istrinya bertanya demikian.
__ADS_1
"Kalau bukan Mas, berarti kan Ai. Dia nyebarin orang-orang, bahwa kalian nikah siri. Sedangkan sebenarnya, kalian tak nikah siri. Pas ditanya aku sama mamah, dia jawabnya lain lagi. Dia tak pernah ngaku bilang nikah siri dan nikah siri itu tak betul. Dalam artian, dia langsung nepis hal itu. Dia berdusta kan? Pengakuan dan ucapan yang disebar itu, beda lagi. Ditambah-tambah, dia malah ngaku bahwa dia ini tak pernah banyak ngobrol sama orang luar dan tentang kehamilannya."
Givan manggut-manggut menyimak. "Apa mungkin orang-orang berasumsi sendiri bahwa aku dan dia nikah siri, karena aku datang ke kamar penginapannya? Kan apalagi aku nih tak pernah masuk, aku ngomong depan pintu. Jadi orang dari luar itu lihat sendiri, terus main hakim aja kalau aku dan dia ini nikah siri." Givan memiliki pemikiran kecil yang lain.
Menurut Canda, hal itu masuk akal juga. Ia paham, hidup di kampung semua tetangga adalah CCTV.
"Eh, coba Mas jawab jujur." Canda teringat akan pengakuan lain dari Ai, agar ia tidak bingung dengan sifat Ai. Karena instingnya mengatakan, bahwa di sini yang berdusta adalah Ai.
"Oke, apa tuh?" Givan memasukkan ke kantong plastik yang sudah tidak terpakai beberapa bungkus makanan yang berceceran ini.
"Mas jamin Ai sama anak? Betulkah sampai anaknya dewasa?"
Canda hanya bisa berkedip saja, tanpa menjawab ucapan suaminya. Instingnya begitu yakin, bahwa Ai pendusta di sini. Meski Ai tidak sepenuhnya berbohong, tapi ada kalimat yang Ai lebihkan. Canda yakin, hal itu dilakukan untuk membuatnya kalap sendiri.
"Canda, kau tak apa?" Givan khawatir istrinya shock dan ambruk sendiri.
Canda menggulirkan pandangannya ke netra suaminya lagi. "Aku pernah ada percakapan sama Ai. Dia ngakunya mas jamin kebutuhan dia dan anaknya juga, Mas sanggupi anaknya sampai dewasa." Canda mengadukan hal ini.
__ADS_1
Givan menghela napasnya dan geleng-geleng kepala. "Ai nih pandai bohong keknya. Padahal dulunya dia tak begitu loh, Canda. Dia juga pelaku yang bilang ke Key kalau ayahnya jahat. Pas aku datang dan negur dia, jawabannya berbelit-belit betul. Mamah juga cenderung percaya sama Ai, karena pas ditanya langsung itu ekspresi mengibanya dapat tuh. Betul-betul tak nampak, kalau dia lagi bohong gitu. Nangisnya juga cepat, jadi bikin orang bingung di awal." Givan merangkum ini dari beberapa pembicaranya dengan ibunya.
Ia merasa, bahwa dirinya tak mudah untuk membasmi Ai dari kehidupannya. Jika ia tahu akhirnya seperti ini, ia tidak akan pernah mau untuk merespon Ai, ataupun menjebak Ai. Ia pikir, ia akan bebas dan tidak terbebani seperti ini ketika sudah membuat Ai hancur. Nyatanya, ia malah dibuat repot dan pusing sendiri karena ulahnya sendiri.
"Terus gimana, kalau mamah lebih memihak ke Ai?" Canda langsung murung. Ia merasa aduan dan kesediaan keteguhan hatinya percuma saja.
"Bukan lebih mihak juga sih, tapi bingung gitu loh. Dilihat dari ekspresinya, Ai ini tak nampak kek bohong. Sedangkan posisinya juga korban dan yang paling dirugikan. Yang buat mamah bingung, karena aku dalam tindak kriminal katanya. Kalau kau tak lagi hamil, mungkin mamah lebih milih aku dipenjara. Tapi papah tuh kebingungan juga, soalnya aku banyak usaha dan tak bisa lepas tanggung jawab gitu aja. Coba kau mau gimana, Canda?" Jika sudah pusing seperti ini, Givan lebih memilih pasrah saja. Seperti saat pertambangannya diacak-acak oleh anak lain dari mantan istri ayahnya, Givan lebih memilih diam dan meninggalkan usahanya itu.
"Aku tak mau Mas dipenjara." Canda malah terisak dengan menutupi wajahnya.
Ia tidak bisa membayangkan hari-harinya tanpa suaminya. Namun, ia pun tidak ingin ada orang lain yang menghiasi rumah tangganya.
"Aku pun tak pengen ninggalin kau dalam keadaan hamil, Canda. Pikiran burukku udah macam-macam, aku takut kau kenapa-napa." Givan merangkul istrinya, dengan Canda yang langsung menyandarkan kepalanya pada dada suaminya.
Ia ingin tidak cengeng seperti kemarin hari, tapi mood hamilnya membuatnya begitu labil dan lemah. Canda ingin masalah ini lekas selesai, dengan suaminya yang tetap bersamanya. Namun, bagaimana jika raganya saja yang ia miliki? Tidak dengan hari suaminya.
Canda menegakkan punggungnya, lalu ia memandang wajah suaminya begitu intens. Ia khawatir suaminya pun berdusta. Ia berpikir, suaminya tetap memilih bersamanya karena anak-anak mereka. Ia berpikir, suaminya mempertahankannya karena dirinya tengah mengandung anak nasab seorang Ananda Givan. Lebih-lebih, sekarang ia menyangka bahwa suaminya bertahan karena tidak ingin kehilangan harta bendanya. Karena mereka sama-sama tahu, bahwa Canda mengantongi harta benda dan aset semua usaha suaminya.
__ADS_1
...****************...