Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM169. Cerita random pembakar cemburu


__ADS_3

"Pulanglah kau, Van! Sana kelonan." Adinda mengusir anak sulungnya, meski menantunya yang membuat suasana begitu acak.


"Mamah kok gitu? Apa aku salah ngomong? Kan tak juga. Aku kan ngomong betul, Mah." Canda duduk santai di sofa yang tersedia.


"Ai, kau tenang aja. Kelak nanti kau punya hutang di warung pun, pasti kau mampu bayar kalau ada niatan untuk bayar. Aku pernah kok begitu, tak pernah ditagih karena aku betul-betul bayar hutang-hutang aku di warung. Dibawa santai aja, Ai. Jangan dijadikan beban, jangan dibuat pikiran. Karena kalau memang lagi tak ada, ya tak bisa dipaksakan juga."


Mereka melongo saja melihat Canda. Nasehat Canda tidak bermakna untuk mereka, malah terdengar seperti tengah mengajari untuk ikhlas menerima kemiskinan yang melanda.


"Kau sebenarnya mau ngomong apa? Biar aku bantu jelaskan, biar tak belibet sekali kau ngomong, Canda!" Givan menghempaskan alas duduknya di samping istrinya.


"Aku mau cerita aja, aku tak mau ngomong apa-apa. Tak ada yang perlu diomongin, orang nyatanya pun aku pernah miskin. Bau ketek pun aku pernah, aku sampai dibelikan deodorant pas baru sampai di Padang. Saking tak kuat baunya kak Anisa, bang Dendi sama bang Daeng. Sebenarnya aku mampu beli, cuma terhalang diapers Chandra. Yang sachet itu kan, harganya dua ribu lima ratus. Tapi aku lebih milih beli diapers Chandra. Karena Chandra tak punya baju juga masa itu, tiap hari dia pakai diapers aja kalau baju habis. Ya tak lama sih, soalnya cuci kering pakai. Mandi sore, sekalian aku cuci baju Chandra biar sorenya lagi bisa dipakai. Tapi kadang kan anak-anak, makan belepotan, baju kotor, ganti lagi. Ya keburu habis baju, sedangkan belum ada yang kering. Mau tak mau, ya dia cuma pakai diapers yang dua ribuan aja." Canda mulai menggigit jambu kristal yang ia dapat dari ayah mertuanya yang duduk di bawah pohon mangga halaman rumah itu.


Adi tidak mengetahui, jika di dalam rumah sedang ada keributan.


Adinda dan yang lain mulai mendengarkan cerita Canda, Ai pun sudah teralihkan pikirannya dengan cerita dari Canda.


"Ya ampun, Canda. Cucu mahal Mamah kau pakaikan diapers aja?!" Adinda menggeleng tak percaya mendengar hal tersebut.

__ADS_1


Canda mengangguk mantap. "Tak ada uang lagi, ya mau gimana, Mah? Aku sampai jadi tukang bersih kost-kostan dadakan, diupah lima puluh ribu, ada yang seratus kalau sama cuci baju. Itu per satu kamar kost, dari delapan kamar kost. Tak semuanya nyuruh di hari itu, kadang-kadang dan tak tiap hari juga. Bayaran besar itu dari bang Daeng itu, Mah. Tapi tak dibayarkan, diganti sama surat cerai untuk Mas Givan. Kerja dua Minggu keknya itu, tapi dia gerutu aja soalnya novel Mamah disobek Chandra, kasurnya diompolin Chandra." Canda terkekeh seorang diri, teringat pria bertato yang sampai menangis palsu melihat novel kesayangannya dirobek oleh Chandra kecil.


"Barang-barang Lendra sekarang simpan di mana, Dek?" tanya Adinda kemudian.


"Di kamar atas aku, yang dijadikan tempat kerja Ria. Beberapa barang yang dari Padang tuh, disimpan di situ. Kek novel Mamah, terus play station punya dia, TV sih udah rusak. Terus kek beberapa baju formal dia, sarung, ikat pinggang mahal, kacamata mahal. Orangnya suka beli ikat pinggang mahal sama kacamata mahal, Mah. Soalnya tuh, dia ini kan ketemu sama klien penting gitu, jadi harus berwibawa kelihatannya. Tapi tak pakai sabuk mahal pun, dari tato aja dia udah kelihatan berwibawa. Tak usah sampai 'wih, bawa ikat kacamata mahal'. Tapi hobinya begitu, Mah. Awet kok barang-barangnya itu, Celine Trapeze yang dia kasih untuk aku pun, masih layak pakai dan tak ngelupas sama sekali. Bener-bener awet, beli mahal juga tak rugi gitu, Mah. Karena masa pakainya sampai puluhan tahun, ibaratnya. Dari dia meninggal kurang lebih delapan tahun lamanya tuh, ya masih bagus barangnya." Canda selalu excited jika menceritakan tentang mantan suaminya.


"Bang Daeng itu siapa, Mah?" tanya Ai pelan, yang hanya didengar oleh Adinda saja.


Adinda menoleh sekilas pada Ai. "Oh, itu tuh mantan suaminya Canda. Anaknya mangge Yusuf itu, yang sempat jagain kau di rumah sakit." Adinda memperhatikan menantunya lagi. "Barang-barang Lendra itu dikasihkan, Canda. Dia kena hisab loh di sana nantinya," lanjutnya kemudian.


"Udah dikasihkan semua. Itu beberapa aja, sengaja buat kenang-kenangan. Kalau anak aku mau, ya nanti kan bisa buat anak aku, Mah. Wanginya aja masih nempel, bahkan ada satu baju yang tak aku cuci sengaja. Aku nemuinnya di ranjang kamarnya, yang ada di ruko mangge Yusuf. Kan aku berbenah tuh, aku nemuin kaosnya. Aku langsung simpan, pakai plastik baju baru, terus didobel kotak gitu. Jadi aromanya tak ilang, Mah."


"Kau tidur harus nempel aku, kau cium bau ketek aku. Berani-beraninya kau simpan aroma khas laki-laki lain," ujarnya lirih penuh penekanan.


"Mana laki-laki lain?" Canda menoleh dengan wajah polos tanpa dosanya.


"Ya itu yang kau simpan di kamar kau di rumah ibu."

__ADS_1


Adinda mulai menikmati drama anaknya. Ia suka melihat wajah cemburu anaknya, ia seperti melihat wajah mantan suaminya yang tak pernah merasa cemburu padanya. Ada kepuasan tersendiri, karena melihat Givan begitu cemburuan pada istrinya.


"Itu kan bang Daeng. Kita rujuk, bahkan biaya resepsi, riasan, katering, pelaminan dan kamar pengantin pun dari dia semua. Mas yang tinggal saya terima nikah dan kawinnya. Huuuuuuuu..... Gayanya ngomong laki-laki lain! Mas yang laki-laki lain lah, nyerobot rujukannya bang Daeng," kesal Canda dengan melirik suaminya.


"Mahar dari aku sampai senilai lima puluh enam miliar ya, Canda! Kalau kau jadi sama dia kan, cuma uang dua juta sama seperangkat perhiasan aja!" Kesombongan Givan muncul seiring emosinya.


"Sebenarnya, apa masalah yang ada sama kalian itu? Apa yang diributkan sebenarnya? Mau bawa Lendra naik musyawarah di desa juga kah? Hei, Van. Itu orangnya udah tak ada, udah meninggal lama. Kalian bahas aroma tubuhnya, sampai ke mahar segala." Adinda geleng-geleng tak percaya menahan rasa gelinya ingin tertawa.


"Tak tau tuh, Mah. Canda memang suka betul buat aku emosi." Givan menyatakan bahwa sumber masalah adalah istrinya.


"Loh, kok emosi? Orang bang Daeng aja udah almarhum kok, udah meninggal. Mas mau emosi sama siapa? Bilang aja iri, karena kalah pamor kan sama bang Daeng? Mas lihat lah, kalau tahlil rutin di setiap masjid. Nalendra kerabat teungku haji itu, masih dikirimi doa karena banyak buat perubahan di kampung kita ini loh. Buat masjid dia ini, buat madrasah, buat plang bertuliskan nama gang, wariskan banyak usaha untuk anak-anaknya, termasuk untuk Chandra juga, besarkan usaha galon aku, sampai sekarang tak sepi pembeli padahal udah delapan tahun lamanya." Canda semakin membuat Givan panas, karena ia mendengar istrinya sendiri menyanjung laki-laki lain.


"Kau tak hitung kebaikan aku, karena tak nyekik kau dari dulu kah? Kau tak hitung aku kasih makan kau, anak-anak kau, ego kau dari kukawini kau kah? Melek ya kau, Canda. Badan aku itu kecil betul untuk ukuran badan aku, bisa aku kubanting dan KUCEKIK kau dari dulu." Givan mengisyaratkan mengemasanya pada jemarinya sendiri.


Adinda tertawa geli melihat anak dan menantunya tengah adu mulut. "Canda, kau yang paham. Itu suami kau lagi cemburu, kau malah lanjut puji-puji Lendra." Adinda menunjuk anak sulungnya dengan dagunya.


Canda dan Givan saling melirik.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2