Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM25. Hutan belantara


__ADS_3

POV Canda


Perasaan, aku belum kabur. Kenapa sekarang, aku sudah berada di hutan belantara? Apa aku tengah berwisata ke tengah hutan Kalimantan? Tapi, aku pernah menolak saat diajak teman-teman mas Givan untuk berburu ke hutan.


Aku pernah meminta untuk pergi melihat buaya di sungai, tidak dengan harimau, macam, singa, gajah, ular dan binatang mengerikan lainnya. Makanya aku menolak, saat diajak berburu ke hutan. Aku ingin menaiki speed boat, lalu ada buaya lewat. Kan pasti seru sekali kebut-kebutan dengan buaya yang berada di dalam air.


"Mas Givan...." Aku menyerukan nama suamiku.


Sepertinya aku dibuang suamiku, saat aku pingsan tadi. Mas Givan pasti sudah terdoktrin dengan Ai, sampai-sampai ia tega padaku.


Kutandai ya kau, mas! Kelak aku memegang uang, akan aku kerahkan semua dukun-dukunku. Kusantet sekalian, daripada kupelet kau. Kesal sekali rasanya, kenapa bisa aku manut saja pada laki-laki begini. Kalau jaminannya bukan surga, mungkin aku akan berkelana mencari bang Daeng.


"Nih, Dek."


Aku menoleh ke sumber suara.


"Hei, baru aku bilang dalam hati mau cari Abang. Kok ada di sini sih?" Aku kaget, melihat sosok tinggi kurus dengan biceps yang pas tersebut.


Daengku.


Bang Daeng hanya tersenyum, dengan mengulurkan potongan bambu berisi air padaku.


"Apa ini, Bang? Tak ada kah cawan? Gelas, Bang." Aku menerima bambu berisi air ini.


"Minum, katanya haus."


Aku melirik air dalam potongan bambu ini, lalu melihat wajah bang Daeng. Bukannya aku takut, karena teringat dirinya sudah wafat. Aku malah berpikir, bahwa otakku yang sudah tak waras karena berhalusinasi begitu nyata.


"Air putih ini?" Aku ragu untuk meneguknya.


"Getah!" Wajah bang Daeng langsung tidak terlihat ramah.


"Jangankan getah kita, benihmu saja kutelan hidup-hidup." Aku langsung menghabiskan air dalam potongan bambu ini.


Begitu sejuk, seperti air dingin dalam kulkas.


"Ngomongin benih ditelan, dulu suruh nyoba bujuknya setengah mati." Bang Daeng malah menggerutu.


Aku tertawa lepas, kemudian menagrup tubuhnya. Uhh, wanginya parfum mahalnya.

__ADS_1


"Kangen betul aku tuh. Kalau udah kangen Abang, rasanya pengen dihamili aja tak apa." Aku mencoba mencium dagunya.


Namun, begitu sulit. Karena bang Daeng begitu tinggi.


Mata tajam dan memikat tersebut menatapku begitu dalam, senyum manisnya terukir samar. Bang Daeng yang tidak tampan, tapi aku terDaeng-Daeng olehnya.


"Bang, aku tuh sering mimpi basah sama Abang. Dosa tak ya, Bang?" Aku memperhatikannya dari bawah seperti ini.


"Adek mikirin mimpi basah dosa gak? Adek peluk-peluk Abang begini, memang gak pernah berpikir dosa gaknya?" Bang Daeng membingkai wajahku, kemudian menepuk dahiku.


Aku tertawa renyah, kemudian melepaskan pelukannya. Kini aku malah bergelayut di lengannya, kemudian aku melirik pada tato di lehernya.


Bang Daeng berpenampilan rapi seperti biasa, dengan kemeja gelap yang dua kancing teratasnya dibuka. Dipadukan dengan jeans berwarna gelap juga, dengan kepala ikat pinggangnya yang mengintip dari balik kancing kemeja paling bawah.


"Bakso yuk, Bang?" Duka lara dan kebingunganku sirna sudah, ketika melihat dirinya.


"Kita harus cari jalan keluarnya dulu, baru bisa beli bakso. Di tengah hutan begini, gak ada orang jual bakso, Dek." Bang Daeng menolehkan kepalanya beberapa kali.


Benar juga.


"Aku manut aja, Bang." Aku memasrahkan diriku padanya.


Aku ikut saja akan dibawa ke mana.


"Oke, Bang. Aku melu." Aku mulai melangkah, dengan bergandengan tangan dengannya.


"Dek, benih-benih kita gimana?" tanyanya di sela langkah kami yang begitu berliku karena akar pepohonan yang mencuat dari dalam tanah.


"Yang aku telan tadi? Masih di kerongkongan keknya."


"Itu air minum, Dek. Astaghfirullah.... Untungnya udah mati, rasanya tekanan batin cinta keknya kalau begini tiap hari." Bang Daeng mengusap-usap dadanya sendiri.


Kenapa sih dengan orang-orang yang dekat denganku, pasti sering mengusap-usap dadanya sendiri? Aku jadi heran dengan tingkah mereka.


"Bang Daeng tak pernah mati di hati aku. Kita beranak pinak, ibarat pohon itu anak akarnya semakin banyak, meski yang tumbuh ke atas hanya putiknya aja."


Mulutku langsung dibekap. "Udah gak usah merangkai kata-kata, buat Abang jadi pemikir aja."


Tawaku pecah, dengan melepaskan tangannya yang berada di mulutku. Kami masih melangkah bersama, dengan sesekali menunduk untuk mendapatkan pijakan yang tepat.

__ADS_1


"Bang, aku tuh lagi hamil. Jangan capek-capek, takut ngeflek nantinya." Aku menariknya, agar tidak semakin jauh melangkah meninggalkanku.


"Mau istirahat dulu kah?"


Sontak saja, aku langsung mengangguk. Bang Daeng membawaku untuk duduk di salah satu pohon yang tumbang, tempat di situ cukup kering dan tentunya teduh.


"Hamil berapa bulan?" Bang Daeng mengusap perutku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya merangkulku.


"Satu bulan setengah, Bang. Tapi ayahnya bertingkah, dia hamili mantannya, sekarang aku dibuang di hutan. Untungnya, ketemu sama Abang di sini." Aku bersandar pada dadanya.


Miris sekali hidupku di buang di hutan. Pasti perempuan di luar sana tidak ada yang pernah merasakan di buang di hutan sepertiku saat ini.


"Macamnya kek kita ketemu di tukang bakso, Dek. Adek beraktivitas di alam bawa sadar Adek, atau mungkin Adek sekarang udah mati. Tak ada yang bisa buang Adek, yang ada Adek yang pergi dari orang tersebut. Sama halnya, kek Adek yang pergi ninggalin kostan kita." Bang Daeng mengusap-usap kepalaku.


Romantis sekali berpacaran di tengah hutan.


"Aku lagi hamil, masa mati? Nanti aku jadi kuntilanak atau kuyang, Bang?" Aku memutar alas dudukku, lalu memperhatikan wajahnya begitu lekat.


Ukuran kumis dan bulu dagunya masih segitu saja. Tidak lebat seperti pak kyai yang berada di pesantrenku dulu.


Helaan napasnya begitu lelah. "Sundel bolong lah, Dek. Beranak dalam kubur." Bang Daeng memutar bola matanya.


Aku terbahak-bahak kembali. Uhh, Daengku. Akhirnya, aku bisa mendengus bau ini.


"Bang, Abang pulang ke mana? Aku ikut aja, Bang. Mas Givan hamili mantannya, rasanya udah bengkak-bengkak mata ini nangis. Aku tau sifat mas Givan, ia tak akan ngasihani aku hanya karena aku nangis aja." Aku menggenggam tangannya, mencoba memberitahunya bahwa harapanku ada padanya.


"Kalau Givan gak kasihan sama Adek, dia gak mungkin berpikir biar masa tua Adek gak sengsara. Adek yakin Givan hamili mantannya?"


Aku langsung mengangguk, aku teringat akan ucapan ibu dan ditambah bukti perut cembung Ai.


"Eummm.... Abang kalau dalam pekerjaan nih, Dek. Abang ragu dengan kerjasama di PT A, karena beberapa fakta buruk Abang ketahui sendiri dari PT tersebut. Abang pengen tau tentang kebenarannya, Abang tak nanya langsung ke PT tersebut, Abang nanya ke perusahaan musuh dari PT tersebut. Karena pasti orang benci itu tuh, akan tau semua boroknya PT A. Abang udah kantongi informasi boroknya, Abang gali juga informasi bagusnya. Barulah Abang putuskan, dari semua informasi yang Abang dapatkan sendiri itu. Kalah Abang main tolak kerjasamanya, Abang khawatir malah merugi karena melewatkan kesempatan tersebut." Bang Daeng bercerita, dengan memainkan jemari tangan kiriku.


"Aku tak paham, Bang. Intinya aja, aku harus gimana?" Aku tidak paham dunia usaha, apalagi jika disamakan dengan persoalan hidupku.


"Jangan terburu-buru mengambil keputusan, apalagi pergi dari kenyataan. Kek keputusan Adek sebelumnya yang pergi dari suami dan pergi dari Abang. Jangan termakan omongan dari orang bersangkutan, entah itu pihak ketiga ataupun Givan. Karena di pihak yang benar, akan terus mencari pembuktian akan kebenarannya. Lalu pihak yang salah, akan terus mencari kesalahan dari pihak Givan. Adek harus pura-pura percaya, tapi Adek pun cari informasi tentang kebenaran itu sendiri. Jangan tanya ke Givan, kau tinggal simak penjelasannya. Adek pun jangan tanya ke pihak ketiga itu, Adek harus punya pemikiran yang tenang dan terima informasi buruk tentang Givan dari pihak ketiga itu. Jangan pergi, karena pihak ketiga yang akan menang. Jangan bertahan, karena pihak Givan juga akan lebih semena-mena. Berdirilah dengan kakimu sendiri, jangan pernah menangis di hadapan mereka. Jangan diam juga, Adek harus ada gerakan untuk cari kebenaran sendiri. Kalau memang gak bisa menemukan kebenarannya, Adek hanya perlu diam dan gunakan insting. Kalau pada akhirnya harus pisah, usahakan jangan dirimu yang tersakiti. Kalau harus bertahan, tanyakan diri kita sendiri juga, apakah tersakiti dengan pertahanan kita. Ngerti?"


Mataku senantiasa terkunci olehnya. Aku terhipnotis oleh sorotnya yang berwarna coklat tua itu.


Namun, tiba-tiba netra tua itu berubah menjadi hitam.

__ADS_1


"Canda? Ngelamunin apa?"


...****************...


__ADS_2