Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM176. Kista benalu


__ADS_3

"Canda, kau tak apa?"


Sudah sebulan berlalu, Givan merasa istrinya semakin tidak baik-baik saja. Wajah pucat Canda, menunjukkan bahwa tubuh Canda terlalu lemah untuk beraktivitas.


Perutnya lebih sering merasa sakit, Givan pun hampir seminggu sekali membawa istrinya untuk cek kandungan. Pertumbuhan kista di dalam perut Canda, hampir mengalahkan pertumbuhan seorang bayi di dalam kandungan Canda.


Dokter pun langsung menyarankan, agar nantinya bayinya harus dilahirkan lebih dini, dari hari taksiran hitungan hari terakhir menstruasi. Hingga keputusan Canda akan disesar, akan dilangsungkan dua bulan ke depan.


Pemikiran Givan yang berpikir yang tidak-tidak, karena teringat akan nasib Ai dan bayinya. Ia tidak ingin, jika sampai satu-satunya bayi di rahim Canda pun mengalami nasib serupa dengan bayi Ai. Ia menyesali perbuatannya yang tidak datang sama sekali, dalam bela sungkawa untuk Ai di hari kepergian bayinya.


Meski Givan selalu meyakinkan diri bahwa sendiri, bahwa hal itu tidak ada sangkut pautnya. Tapi, ia merasa bahwa hal tersebut terjadi karena Yang Kuasa ingin dirinya sadar dari sikap buruknya pada Ai.


Ia mengerti Ai datang dan menuntut hal di luar inginnya. Namun, harusnya ia tidak berlaku begitu teganya pada bayi Ai yang tidak berdaya.


Hasil tes DNA yang berada di tangan orang tuanya pun, tidak menarik perhatian Givan untuk mengetahui hasilnya. Ia sudah benar-benar tidak mengurusi hal itu, karena melihat keadaan istrinya yang semakin bertambah buruk. Perut istrinya pun, benar-benar seperti tengah mengandung anak kembar.


"Ayo istirahat dulu, biar nanti aku yang lanjut jemur bajunya." Givan mengajak Canda berteduh dari hangatnya matahari jam delapan pagi ini.


Ia pun tidak membiarkan istrinya melakukan aktivitas apapun seorang diri. Hal seringan menjemur pakaian pun, Givan usahakan untuk membantu istrinya. Karena ia yakin, Canda tidak benar-benar baik-baik saja.


"Mas, kalau kistanya diangkat sekarang aja tak bisa kah?" Canda merasa begitu payah, karena nyeri perut yang begitu intens.


Givan menggeleng. "Nunggu anak kita kuat, Canda. Kistanya di angkat, anak kita pun dilahirkan. Disesar nanti, kau lahirkan anak kita dan pengangkatan kista tersebut." Givan berulang kali mengatakan hal seperti yang dokter jelaskan.

__ADS_1


"Sakit betul, Mas." Canda kembali merintih dengan memegangi perutnya.


Givan semakin kalut, karena Canda pernah hilang sadar saat merasakan nyeri perut seperti itu. Ia tidak tahu harus bagaimana, selain kembali membawa istrinya ke salah satu rumah sakit terdekat.


Kembali lagi, selang infus terpasang di punggung tangan istrinya seperti seminggu yang lalu. Ia teringat akan kondisi Ai yang sering bolak-balik ke rumah sakit saat hamil, tapi ia tidak memperdulikannya karena menjaga perasaan istrinya. Ia memang Canda yang tidak baik-baik saja, saat ia sedikit iba pada Ai.


Kabar buruk itu ditebar, saudara Givan mulai berdatangan dengan beberapa buah tangan yang baik untuk dikonsumsi oleh Canda. Mereka tahu, bahwa Canda dilarang untuk makan makanan siap saji.


"Harus gimana aku ini, Bang?" Givan memijat pelipisnya, dengan siku yang berpijak di tepian brankar yang Canda tempati.


"Harus sabar, kalau kau tak sabar ya resikonya bayi kau. Kau pengen pengangkatan kista itu sekarang, ya siap-siap juga kehilangan bayi kau. Kau tau kan, resikonya bayi dilahirkan begitu muda?" Kenandra hanya memberi gambaran yang masuk di logika Givan.


Givan mengangguk. "Aku tak bisa lihat dia begini terus." Givan menekan ujung matanya, ia tidak mau menangis di depan istrinya yang sudah pulas itu.


Ia tidak menyangka, penyakit tersebut menggerogoti tubuh istrinya yang begitu ideal di matanya. Dalam waktu sebulan, Canda terlihat begitu menyedihkan.


Givan berpikir kista tersebut seperti benalu di dalam tubuh istrinya. Tak cuma memberikan sakit pada Canda, tapi menyerap nutrisi yang ada di tubuh Canda. Masih untung, kala ia tahu jika berat bayinya umum sesuai usia kandungannya.


"Aku ke sini sama rombongan Awang dan Nafisah. Mereka...." Kenandra menyampaikan informasi yang tidak lengkap. Ia seolah mengundang Givan untuk bertanya, dalam kalimatnya yang menggantung tersebut.


"Mereka ke mana?" Givan mendongak menatap wajah kakak angkatnya sekilas.


"Mereka nemenin Ai di IGD, dia belum dapat kamar. Tapi aku udah arahin Awang caranya, katanya tak apa aku tinggal juga," lanjut Kenandra kemudian.

__ADS_1


Givan mengerutkan keningnya. Ia tahu jika Ai dalam masa tahanan mandiri kembali, kenapa Ai bisa sampai berada di rumah sakit? Givan enggan bertanya lebih lanjut, sengaja menunggu Kenandra menceritakannya sendiri. Ia khawatir Canda terbangun dan mendengar pertanyaannya tentang Ai, lalu Canda berpikiran lain kembali tentangnya yang bertanya tentang Ai.


"Ai shock pas aku serahkan hasil tes DNA ke kamar mandirinya itu. Dia pingsan dan terbentur pojokan ranjang. Aku sarankan untuk scan aja, karena aku khawatir kalau lukanya itu tak berdarah. Takutnya luka dalam gitu loh." Kenandra bercerita perlahan, dengan duduk di tepian brankar Canda yang masih terlelap.


Givan menggeser kursinya, agar ia bisa berhadapan dengan Kenandra yang duduk di brankar istrinya. "Kenapa dia sampai shock? Kan bukannya dia tau dari awal kan?" Givan pun bahkan tidak menilik sedikitpun hasil tes tersebut, karena ia yakin hasilnya tidak ada campur tangannya.


"Nah itu dia. Ai ini kan maksanya, kalau itu tuh anak kau. Sedangkan, hasilnya kan....." Kenandra seperti menimbang-nimbang untuk melanjutkan kalimatnya.


"Hasilnya bagaimana?" Ghifar yang sejak tadi mendengarkan dari sofa panjang, ia bergerak untuk ikut mendengarkan kabar tersebut.


Givan melirik ke ibu satu ibunya tersebut. "Ish! Kau ini ngagetin aja!" Ia mengusap-usap dadanya sendiri.


Ghifar terkekeh geli, melihat kakaknya yang sampai tersentak kaget tersebut. Ia paham, kakaknya tidak bisa dikagetkan ketika tengah serius.


"Lebay! Kek tak tau aku ada di sini aja." Ghifar terkekeh sampai memegangi perutnya sendiri.


"Bukan masalah tau tak taunya, tapi kau ini tiba-tiba muncul. Udah kek lelembut aja kau!"


Kenandra dan Ghifar terbahak-bahak, mendengar Givan menyamakannya seperti makhluk halus. Hubungan kakak beradik itu semakin erat, seiring semakin dewasanya mereka.


"Tegang dia ini, Far. Dia takut kek di sinetron-sinetron gitu, Far. Di mana Ai keluyuran, terus memanipulasi hasil tes DNA anaknya. Biar hasilnya itu, kek di mau Ai gitu. Kan bisa-bisa, Abang kau serangan jantung, ginjal, limpa dan lambung tuh." Kenandra semakin mencairkan suasana, membuat Ghifar semakin terbawa dengan tawanya.


"Yaaa.... Tak begitu juga. Ya logikanya sih, rumah sakit besar begitu kan tak bisa kalau hasil tes dimanipulasi. Tapi barangkali ada kekeliruan, atau ada kesamaan DNA yang dipahami secara medis, tapi tidak dimengerti oleh kita yang awam gitu. Jadinya, kita semua berpikir bahwa ya itu memang anak kita. Padahal, ada suatu kesamaan medis begitu. Kan bisa ya, Bang?" Givan mengarahkan pandangannya lagi ke arah Kenandra.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2