Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM119. Hilang kesabaran Putri


__ADS_3

"Put, zaman sekarang itu apa-apa bisa dibuat. Siapa tau, video itu dipangkas dan diacak perputarannya." Ai tetap tidak percaya, meski Putri telah menunjukkan rekaman CCTV itu.


Putri menghela napasnya, ia merasa sia-sia telah mempelajari semuanya dan menjelaskan tak tersisa. Ia berpikir, Ai sedari kecil sudah pintar sendiri tanpa penjelasan pelajaran dari gurunya.


"Terus, untuk beberapa pengakuan laki-laki itu. Kau mau paham tak?" Setelah memutar rekaman video CCTV pun, ia memutar langsung pengakuan beberapa laki-laki.


"Bisa jadi, itu cuma akal-akalan Givan."


Lagi dan lagi, Ai begitu kekal dengan pengertiannya sendiri. Keras kepala dan mungkin otak baja, pantas untuk dijadikan predikat seorang Ai.


"Oh, gitu? Ya udah, terserah kau!" Putri bersedekap tangan dengan menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.

__ADS_1


Ia menyerah. Ilmunya banyak, tapi kesabarannya kurang. Itulah seorang Putri.


"Pengen berpihak di posisinya Givan ya?" Ai malah tersenyum tenang.


"Aku tak pernah pengen berpihak. Tapi, aku cuma mau ngasih saran terbaik untuk kau. Demi kebaikan kau sendiri, biar kau tak lebih malu dari sekarang. PSK, resiko hamil itu ditanggung sendiri. Kau jualan, kau yang menjajakan diri. Dengan akad jual beli, terus kau hamil, kau datang, itu tuh udah hal yang bodoh betul. Kau cuma merendahkan diri kau dan nyari kasihan orang aja di sini. Sayangnya, Givan udah berubah sekarang. Givan bukan seratus persen, Givan yang dulu lagi. Dalam menyikapi emosinya, dia ini lebih terkendali sekarang. Kalau dia masih sama kek dulu, mungkin kau bakal lebih malu dan lebih terinjak. Dengan beberapa kejadian kau pendarahan kek gini, aku tanyakan ke dia bagaimana respon dia. Yang pertama adalah, dia tak peduli dan tak berniat untuk nolong kau, di samping dia menjaga perasaan Canda. Sisi kemanusiaannya udah mati, dengan sosok seperti kau. Untung orangan Kenandra yang selalu kau repotkan, seseorang yang suka dengan hal medis. Aku sadari, aku pun tak tau malu kek kau. Tapi, aku cuma jadi omongan orang aja. Aku tak pernah bawa-bawa keluarga Givan, waktu aku datang dan merecoki dirinya. Aku tak numpang hidup, aku tak numpang makan dan aku tak berkomunikasi berbagai topik dengan keluarganya. Incaran aku, Givan. Ya cuma Givan yang aku libatkan. Sedangkan kau bagaimana??? Kau bawa orang sekampung, yang nyatanya malah buat kau menderita di sini. Aku yakin nih, lepas ini kau bukannya benar-benar kapok. Terbukti dari kau yang kekeh bahwa itu anak Givan, kau tetap percaya akan hal yang tidak terbukti itu. Misalnya nanti, anak itu terbukti benar-benar bukan anak Givan. Yang malu lagi di sini itu adalah kau, Ai! Kau udah merendahkan diri, mempermalukan diri, lalu ditambah lagi dengan membohongi diri sendiri. Bodoh-bodohnya orang, ya yang membohongi diri sendiri. Dibohongi orang lain aja, itu sakit. Apalagi, jika tau dibohongi oleh diri sendiri. Aku tak bisa bayangkan, gimana rasanya jadi kau. Aku menasehati ini, biar kau tak terlanjur. Tapi udah begini, tapi kau tetap diam aja. Ya nanti pun, aku tak bisa nolong kau dengan hal apapun. Kau bakal jadi orang yang benar-benar merugi dalam hidup, karena udah melakukan kesalahan kek gini." Napas Putri sampai terengah-engah.


"Asal kamu tau aja ya, Put! Akad itu terjadi, cuma dengan Givan. Bukan dengan banyak laki-laki. Jadi bisa kamu pahami, siapa yang bersalah di sini."


Ai terjebak dalam ucapannya sendiri. Putri lebih pandai untuk membolak-balikan pembicaraan, termasuk satu kalimat dari Ai yang malah menjebak Ai sendiri.


"Kau tak ngerti, Put." Ai menggeleng lemah.

__ADS_1


"Iya, di mana ketidakpahaman aku? Dilihat dari beberapa sisi pun, kau tetap yang salah untuk meminta tanggung jawab di sini. Terlepas dari Givan membiarkan kau dengan lima laki-laki. Givan pun nyatanya udah siap, untuk diproses secara hukum. Kau yang tak mau, karena kau yakin kau bakal dapat hukuman juga. Kau minta keadilan ke Givan. Tapi diadili sama hakim, kau nolak. Kau cuma minta keadilan dari Givan, hidup bersama dengan Givan. Tapi kasusnya bukan begini, Ai! Kau salah narik kasus, biar kau dapat tanggung jawab Givan. Contohnya, kau harus dipacari Givan dulu. Barulah, kau bisa naikan kasus kek gini. Kalau ceritanya kau PSK, lalu hamil anak Givan, itu kurang logis untuk masuk ke pikiran manusia. Kan ada akad jual beli gitu loh. Para laki-laki hidung belang yang booking kau, kan pengen tau beres tanpa resiko kehamilan, makanya mereka jajan perempuan. Kalau mereka berani dengan resiko, ya mereka nikah, mereka tak mungkin jajan. Udah cacat logika, harusnya kau tak kekeh minta tanggung jawab ke Givan. Kau kek orang gila yang kurang waras dalam pikirannya, padahal kau jelas-jelas manusia sehat dan normal. Apa ucapan aku, masih buat kau bingung? Apa masih kurang jelas? Apa masih tak cukup untuk buka pikiran kau? Mau dibawa naik ke hukum, ya aku bantu nih. Tapi, aku tak yakin kau dapat keadilan juga. Berpacaran, terus wanitanya hamil. Nah hal itu aja itu tak bisa dibawa ke hukum, karena atas dasar suka sama suka. Bisanya, kalau perempuan di bawah umur terus dicabuli sama laki-laki yang lebih dewasa. Nah, itu bisa tuh untuk dibawa ke hukum. Kau tak mau diselamatkan lebih awal ya, Ai? Apa mau tenggelam aja udah? Daripada lebih malu dari sekarang, daripada lebih hancur, daripada lebih rendah. Lebih baik, ikuti saran aku," ucap Putri bercampur emosi.


Ai memandang wajah Putri. Terlintas sadarnya, dari penuturan Putri. Benar, tidak ada yang salah dari ucapan Putri. Putri pun, terlihat netral tanpa berpihak pada siapapun.


Namun, jelas ia akan benar-benar tidak mendapatkan apa-apa. Jika ia mengikuti saran dari Putri.


Ia mencoba lebih gila, agar Givan mau memberinya keadilan. Hanya satu harapannya, Givan kasihan dengan anak yang Ai kandung.


"Kau mundur, ikuti aturan desa. Kau bebas, kau bisa pergi. Harga diri kau selamat, kau bisa lanjutkan kehidupan kau, kau bisa hidup dengan berkah dengan anak kau setelah ini. Aku yakin, jaminan lima juta dari Canda untuk anak kau tak akan dicabut, kalau bisa bisa membesarkan anak kau sendiri dengan baik. Hiduplah dengan positif dan berguna untuk orang lain. Kisah ini, harusnya bisa jadi pelajaran untuk kehidupan kau selanjutnya."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2