Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM135. Kabar duka


__ADS_3

"Apa???" Canda malah terkejut, ketika menerima panggilan telepon dari adik iparnya di ponsel suaminya.


"Ya ampun, Kakak Ipar. Bang Givan mana?" Gavin tidak menyadari, ternyata yang menerima panggilan teleponnya adalah kakak iparnya.


Ia sudah terlanjur menyampaikan berita duka dengan terburu-buru, tanpa mengetahui pasti siapa yang mengangkat telepon darinya.


"Betul anak Ai meninggal?" Canda sudah fokus pada informasi yang Gavin berikan di awal.


"Eummm.... Iya, Kakak Ipar," jawab Gavin dengan berpikir ulang.


Ia tidak ingin menyampaikan berita itu langsung pada Canda, karena khawatir kakak iparnya langsung negatif thinking tentang kandungannya sendiri. Gavin tahu, tentang kakak iparnya yang mudah stress.


"Innalilahi.... Ya Allah, nak. Surga untuk kau, nak." Canda tidak bisa membayangkan jadi Ai, bagaimana perasaan seorang ibu yang ditinggalkan oleh anaknya yang baru dilahirkannya.


"Baik-baik ya, Kakak Ipar? Aku cuma mau ngabarin aja, tak minta bang Givan datang kok," ujar Gavin yang mendengar suara bergetar Canda.


"Nanti Kakak sampaikan ke abang kau, Vin. Sekarang dia lagi keluar, lagi tambal ban motornya." Canda memberitahukan keberadaan suaminya yang tidak di rumah.


"Iya, Kak. Nanti kalau pulang aja sampaikan. Udah dulu ya, Kak? Assalamualaikum...." Gavin berniat menyudahi panggilan telepon tersebut.


Canda sudah menebak hal ini lebih awal, tapi ia tidak berpikir bahwa anak Ai tidak bertahan secepat ini. Karena di lingkungannya, ia tidak menemukan cerita bayi prematur yang dilahirkan di usia enam bulan. Ada pun di usia lima bulan, itu pun bayi dalam keadaan meninggal.


"Wa'alaikum salam." Canda mengerti di sana tengah banyak kerepotan.


"Aduh, gimana ini?" Canda langsung bingung sendiri. Ia tidak tahu, apa yang harus ia lakukan.


Haruskah ia menyampaikannya pada ketua RT, untuk membuat siaran di masjid? Atau, haruskah ia membenahi rumah untuk pelayat yang datang? Tapi, rumah siapa yang harus ia bereskan? Sedangkan, ia tidak mau rumahnya sendiri menjadi tempat berkumpulnya pelayat. Ia takut jika ada keramaian di rumah, ia seketika teringat sedihnya ditinggal Nalendra untuk selamanya.

__ADS_1


Ucapan terbata-bata Nalendra ketika menyampaikan amanat pada Givan, ia menuntun Nalendra untuk mengucapkan talqin, tangis Jasmine yang menggema, Ceysa yang selalu meminta jajan ketika melihat wajah pucat ayah kandungnya, suasana ramai dengan keluhan Givan sakit gigi. Semua masih terekam jelas, ketika ia teringat dengan kematian mantan suaminya. Kematian yang datang, di malam sebelum pernikahannya.


Air matanya mulai menggenang, dengan jemari tangan dan kakinya yang mulai dingin. Pikiran negatif Canda langsung bercampur, akan keadaan bayi kembarnya. Ia tahu, begitu beresikonya mengandung dan melahirkan dua bayi sekaligus. Apakah ia mampu? Apakah anaknya kuat? Karena dokter pernah mengatakan, bahwa kemungkinan Canda akan bersalin lebih cepat. Pikiran Canda mulai membuatnya menjadi lemas sendiri.


Kewarasannya masih berkumpul, ia melangkah keluar untuk mencari seseorang yang bisa diajak berbicara olehnya. Ia takut, keadaan lemasnya semakin buruk jika ia tetap sendirian di dalam kamar.


"Far...." Canda selalu mendatangi rumah yang paling dekat dengannya itu.


"Eummm? Apa, Cendol? Aku baru pulang kerja," sahut Ghifar yang tengah melepaskan sepatu kerjanya di teras rumahnya.


Canda melangkah dengan tangan yang gemetar, ia mendekati Ghifar dan duduk di sampingnya. Ghifar menoleh dan memperhatikan Canda sejenak. Ia yakin, ada yang tidak beres dengan Canda. Wajah murungnya, ditambah bias pucat yang dominan, Ghifar paham Canda sedang tidak dalam keadaan baik.


"Aku keinget waktu bang Daeng meninggal, Far."


Tatapan heran, langsung Ghifar berikan. Tidak dalam peringatan tahunan meninggalnya Nalendra, tapi Canda teringat mantan suaminya.


"Soalnya, anaknya Ai meninggal," lanjutan kalimat Canda membuatnya melongo.


"Lahiran, siang tadi. Aku harus gimana dulu, Far? Aku kalau ingat rumah ramai, malah ingat bang Daeng waktu sakaratul maut. Aku masih ingat siaran di mushola, di masjid yang disebutkan kerabat papah Adi dengan nama Nalendra itu. Lutut aku langsung lemas, langsung mandi keringat, aku bingung betul." Canda mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangannya.


Mata yang basah, kentara memperlihatkan jika beberapa kali air mata lolos dari matanya.


"Mau kupeluk, kau istri orang. Masuk aja deh, sama Aca tuh. Bingung aku kalau udah begini. Yang meninggal anak Ai, malah nangis dan lemas karena ingat bang Lendra. Bingung aku ngadepin kau, Canda." Ghifar bangkit lebih dulu, kemudian mengulurkan tangannya pada Canda.


Canda dibantu untuk bangkit oleh Ghifar, kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah Ghifar. Canda langsung mengadukan suasana hatinya pada Aca, dengan Ghifar yang kembali keluar rumah untuk mencari suami Canda.


Drama Canda dimulai. Orang-orang terlalu fokus pada keadaan Canda, membuat mereka tidak tahu pasti ingin berbuat apa untuk bayi Ai yang telah tiada tersebut.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Givan memutuskan untuk menghubungi adiknya kembali setelah istrinya tenang dan tertidur. Satu masalah Givan, ketika Canda banyak memikirkan hal-hal lain. Yaitu, ia hanya takut istrinya stress dan berpengaruh pada keadaan bayi mereka.


"Hallo, Vin. Gimana? Dibawa ke rumah kah?" Givan menghubungi adiknya di teras rumah Ghifar.


Bahkan, Canda belum sempat diajaknya untuk pulang. Namun, Canda sudah lebih dulu terlelap di rumah Ghifar.


"Belum, Bang. Masih diurus-urus di sini. Belum diapa-apakan, soalnya kakaknya Ai mau lihat dulu katanya. Ya mungkin ditunggu sampai besok, mereka lagi di perjalanan soalnya. Jadi ya, bayinya di kamar mayat rumah sakit ini dulu. Ai drop juga, setelah dengar kabar anaknya meninggal. Ya gimana ya, cuma aku, bang Ken sama mamah aja. Kita sampaikan kabarnya bukan pakai bisik-bisik, ya terdengar udah ke telinga Ai. Darahnya mendadak tinggi Ai ini, kan bahaya juga untuk dia."


Givan memperhatikan dari jauh, ayah sambungnya yang baru masuk halaman rumah. Berarti, ayah sambungnya itu tidak tahu kabar apapun yang terjadi hari ini.


Givan masih menempelkan ponselnya di telinganya, dengan kakinya yang terayun untuk menemui ayah sambungnya.


"Rumah perlu disiapkan tak? Untuk kepulangan jenazah anaknya Ai ini?" Givan bertanya pada teleponnya.


"Tak, Bang. Katanya sih diurus di rumah sakit, jadi pulang itu langsung ke pemakaman. Ya mungkin, nanti minta orang untuk gali kuburan aja. Bayinya aja kecil betul, tak ada satu kilo, entah harus berapa besar kuburannya." Gavin teringat jenazah bayi yang begitu ringan saat ia dekap tadi.


"Oh, jadi dimandikan, dikafani di sana kah?" Givan sudah berada di halaman rumah orang tuanya.


"Iya, Bang. Disholatkan di sini juga, jadi pulang udah beres, langsung ke pemakaman. Apalagi yang menjadi walinya Ai kan kakak kandung Ai, otomatis nunggu kakaknya Ai datang untuk gendong jenazah bayi ke pemakaman." Gavin memperhatikan lalu lalang di depan lorong tempat ia berdiri. Ia tengah merokok, ia tengah bersantai sejenak setelah mengurus kerepotan yang terjadi.


"Eh, katanya harapan hidup bayi itu lima puluh persen?" Givan sedikit bingung, kenapa anak Ai bisa meninggal tanpa kabar yang buruk dulu.


"Tuyulmu! Tujuh belas persen, paling banyak lima puluh persen. Kasian betul lah kalau diingat lagi, merah betul, kulitnya kek kulit ari salak, tak tega aku gendong meski udah tak bernyawa. Organ dalamnya itu belum sempurna, Bang. Apalagi kan bayi ini ada masalah sama ginjalnya, tangannya aja bikin merinding lihatnya. Pas ditunjukkan ke Ai, Ai kek tak berani nyentuh anaknya sendiri. Maaf-maaf ya ini sih, Bang. Jarinya itu ada beberapa hal tak tumbuh. Terus, telapak tangannya bahkan tak sempurna tumbuh juga. Pelajaran betul untuk ibu hamil, harus benar-benar jauh dari alkohol, kalau tak mau kejadian begini-begini. Ayahnya pun sama, harusnya mereka yang ingin jadi ayah itu tobat dulu kalau mau buat anak. Biar anaknya tak begini kisahnya, bikin tak tega lihatnya. Ditambah lagi, sekecil itu harus dilahirkan. Ya tak kuat dia, belum waktunya." Gavin merinding sendiri jika mengingat jenazah kecil yang ia gendong untuk diperlihatkan pada Ai, sebelum diserahkan ke kamar mayat rumah sakit tersebut.


"Tuntutan pekerjaan, Ai mau tak mau minum untuk kepercayaan dirinya. Apalagi, wajarnya dunia LC itu dekat sama minuman keras. Kalau memang Ai sayang anak, harusnya berhenti sejak awal dia tahu ngandung. Apalagi, dia ini udah genggam uang banyak juga. Tak paham lah sama pikiran Ai. Abang aja tak kira, ternyata begini sifat asli Ai." Givan teringat beberapa klise tentang hubungan mereka dahulu.


Benar-benar tidak terbayangkan olehnya, jika Ai memiliki sifat asli yang seperti ini. Empat bulan nyatanya tak mampu membuatnya mengenal Ai lebih dekat.

__ADS_1


"Ada apa, Van? Mamah kau mana?" tanya Adi, yang melihat anak tirinya ada di teras rumahnya.


...****************...


__ADS_2