Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM145. Saling menghangatkan


__ADS_3

"Iya, Mah. Aku coba selalu ikutin saran Mamah, biar aku mampu jadi panutan anak-anak aku dan didik mereka dengan baik. Apalagi, sekarang ini Chandra udah puber. Dia udah nanya-nanya perihal nikah, segala macam. Udah berani main ke temen perempuan yang dia suka juga ternyata." Givan geleng-geleng kepala dengan menutupi wajahnya.


Ia tidak menyangka, jika di zaman sekarang puber pada anak bisa lebih cepat. Anak-anak menjadi cepat dewasa, meski belum di usianya.


"Nanti Mamah ajak ngobrol. Mamah mau belanja sayur sama daging dulu." Adinda melanjutkan langkahnya.


"Eh, ini Mah." Givan segera bangkit. "Ada tiga ratus nih, Mah." Givan mengulurkan tangannya mengambil uang yang ia taruh di atas angin-angin pintu rumahnya.


"Bilang Canda, Van. Jangan main kasih aja. Tau dari mulut Mamah, nanti kesal dia karena kau langkahi dia. Ngasih orang tua tuh, lebih baik pakai tangan istri tuh. Kau nyuruh Canda ngasih ke Mamah, ngasih ke bu Ummu." Adinda menerima uang tersebut. Ia tidak pernah menolak pemberian anaknya dalam bentuk apapun, karena ia mencoba menghargai anaknya yang sudah ia besarkan. Ada di pikirannya, apa anaknya memiliki rezeki lebih sampai mampu memberi untuk orang tuanya. Tetapi, otaknya memahami bahwa anaknya ingin membagi sedikit rezekinya pada orang tuanya.


"Kan cuma sedikit, Mah. Ini pun uang pegangan aku kalau anak minta jajan. Cuma buat masak aja, nanti aku minta masakan jadinya sedikit buat Canda yang suka selamitan makan." Givan terkekeh tatkala meledek istrinya sendiri.


"Minta kek ke siapa aja! Tinggal ambil di rumah, buat Anak Daeng pun Mamah spesialkan nantinya. Mamah senang, udah beberapa hari ini Ceysa ke rumah terus buat makan. Lama tak lihat dia makan nasi, terus akhirnya datang sendiri buat minta makan dan makan dengan lahap tuh, hati kek berbunga-bunga sendiri." Adinda terkekeh kecil dengan memasukkan uang ke sakunya.


Givan melebarkan matanya dengan garis bibir tertarik ke atas, ia baru tahu jika Ceysa sudah ada peningkatan untuk mau makan nasi. "Alhamdulillah, setelah ribut sama Cendol ngatain masakan Cendol semuanya cuma tau rasa garam. Sekarang akhirnya nemu tempat makan langganannya. Nanti diroyalin ya, Mah. Kasih daging, kasih sayur yang banyak, tempe, tahu, telor jangan lupa juga, Mah. Nanti aku belikan daging frozen, stok makanan mentah juga untuk Mamah olah."


Adinda tertawa lepas, mendengar sedikit cerita bahwa cucunya bertengkar kecil dengan menantunya. Tidak ada yang lebih heboh menurutnya, ketimbang anak-anak Canda yang mulai berani beradu mulut dengan kecerewetan Canda.


"Kau tenang aja, Van. Mamah cukup pandai untuk jadi ahli gizi Ceysa. Mungkin perutnya lapar sendiri, karena makanan cemilan, buah sama susu terus. Sedangkan di dapurnya, cuma ada masakan Canda yang menurutnya kurang enak mungkin. Soalnya Mamah pun ingat, kalau Lendra pun jarang doyan masakan Canda. Candanya gerutu terus, udah dimasakin tak pernah dimakan katanya. Jadi ya Ceysa cicip-cicip sana-sini mungkin. Kata bu Ummu, sebelum ke Mamah itu dia sempat ke bu Ummu dulu, nanyain masak apa. Pas tau masak sop ceker, dia malah bergidikan. Terus kata bu Ummu, dia langsung belok ke rumah Mamah, terus jadinya rutin sampai sekarang." Adinda bercerita dengan hati gembira.


Ia tahu sesulit apa usaha Givan, agar anak itu makan dengan teratur meski tidak makan nasi. Makanan olahan karbo dan variasi menu lainnya selain nasi pun, pernah Adinda coba buatkan. Namun, tidak menarik untuk anak tersebut. Tidak disangka, Ceysa malah datang sendiri meminta makan dengan lahap dan teratur. Seperti sebuah rezeki yang sudah dinanti sejak lama. Tidak hanyalah Givan, Adinda pun ikut berbahagia dengan perubahan Ceysa.


"Aku disarankan Putri untuk pindahkan Ceysa ke sekolah lain. Keknya harus ke luar kota, soalnya Putri searching katanya ada di Banda Aceh. Anak genius kek Ceysa, tak boleh ditempatkan di sekolah umum kek biasanya, Mah." Givan baru banyak mengobrol dengan ibunya, karena ia lebih sering mengurung diri bersama istrinya di rumah. Selebihnya, ia pergi untuk mengecek usahanya.

__ADS_1


"Lah, kau tak cerita ke Mamah. Nanti coba telpon Putri, suruh dia ke Mamah. Mamah mau banyak ngobrol tuh. Tapi nanti aja, setelah rombongan Ai pulang dari sini. Biar tak terlalu rumit tuh, biar clear satu persatu." Adinda menyentuh lengan anaknya yang tidak tertutup apapun.


Givan hanya mengenakan celana training panjangnya, karena terburu-buru membukakan pintu untuk ibundanya.


"Iya, Mah. Kemarin ada nelpon, katanya boleh tak rutin nengokin Jasmine kalau dia gajian. Kata aku boleh aja, asal jangan dibawa keluar. Ada sedikit takutnya sama dia, belum percaya full tuh. Beda sama Fira, bawa Key sampai ke Bali pun, aku yakin anaknya pasti diantarkan ke sini lagi." Givan mengerti akan Fira yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk anaknya.


"Iya, jangan dulu untuk alasan jalan-jalan keluar. Suruh main ke Mamah aja, sama Jasmine gitu. Biar Mamah perhatikan juga interaksi mereka. Duh, jadi ngobrol banyak. Main coba, Van. Kita ngobrol-ngobrol banyak, kita cerita-cerita. Udah dulu ya? Mamah ke warung dulu, nanti keburu kehabisan bahan masakan." Adinda melangkah keluar segera.


"Ya, Mah. Ati-ati." Givan baru menutup pintu rumahnya kembali, setelah ibunya menutup pintu pagar.


Ia khawatir ibunya tersinggung, jika ia segera menutup pintu rumahnya tatkala ibunya masih berada di jangkauan matanya. Kakinya melangkah kembali ke kamar, ia hanya bisa menghela napasnya ketika mendapati istrinya menangis dengan memeluk bantal.


"Maaf, Canda. Jangan nangis dong. Kurang kah? Tadi ada Mamah, aku tak enak masa ngusir Mamah." Givan merangkak ke atas ranjangnya kembali.


"Kenapa tak bilang?!" Canda begitu murka menarik rambut suaminya yang berada di pelipis.


Givan tertawa kecil dan meringis. "Aduh, aduh. Iya, maaf. Asyik ngobrol tadi. Jadi gimana sekarang kita? Aku panasin lagi ya? Yang ini sih gratis deh, kau tak usah bayar lagi." Givan mencium pipi istrinya.


"Ya aku pun tak bayar Mas! Mas suami aku! Dikiranya aku main sama laki-laki bayaran kah?!" Canda langsung mengeluarkan jati diri kecerewetannya itu.


Givan tertawa lepas, kemudian menciumi seluruh wajah istrinya bertubi-tubi. "Santai dong, Sayang. Ngegas terus, pengen yang laju ya rupanya?" Perlahan tapi pasti, Givan merasa Sobrinya mulai bereaksi kembali.


"Udah! Udah! Udah! Udah malas aku!" Canda membuang wajahnya.

__ADS_1


"Ish! Tidak bisa dong. Aku maksa nih, tadi terjeda, turn off secara paksa. Nyut-nyutan nih kepala aku, kau harus tanggung jawab." Tangannya mulai bekerja sebagaimana mestinya.


"Tak mau aku!" Kembali, Canda menepis tangan suaminya.


"Ish! Ah, Canda. Tinggal diam coba, Cendol. Jangan buat aku gemas nih, aku tak mau sembrono." Givan sedikit kesal karena istrinya menepis tangannya terus menerus.


"Ya Masnya ngapain biarin aku di kamar tak pakai baju. Masih pagi buta, dingin tau!" Tangis Canda mulai menjalar di pelukan suaminya.


"Iya, maaf ya? Aku minta maaf, aku janji tak ulangi lagi kok." Givan mencoba membujuk Canda dengan memberikan tempat ternyaman.


"Aku tak mau dinomor duakan, aku tak mau dikesampingkan." Canda masih merengek manja di pelukan suaminya.


"Iya, maaf ya? Maaf, maaf. Aku tadi kebawa obrolan sama mamah." Givan mengusap-usap kepala istrinya penuh kasih.


"Jangan diulangi lagi." Canda mulai meleleh dengan kenyamanan yang suaminya berikan.


"Iya, Sayangku, Istriku, Hidupku. Aku janji tak ulangi lagi. Nanti aku kasih tau dulu, misal aku terpaksa harus ninggalin kau tanpa baju lagi." Givan berhasil membujuk istrinya.


Dalam perlakuan manisnya, hubungan mereka makin intim di kedinginan udara pagi yang begitu menusuk. Mereka saling menghangatkan kembali, di tengah badai yang mulai reda.


Namun, tetap satu pertanyaan Canda setelah habis masalah yang mereka lewati ini. Apakah benar suaminya mempertahankannya karena anak-anaknya? Apakah suaminya mencintainya? Ia selalu menepis anggapan yang kadang terasa benar di matanya, tapi tidak tersampaikan dalam keyakinannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2