Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM47. Cemburu menyerang


__ADS_3

"Nanti aku tanyakan langsung ke mas Givan, Bu." Padahal ia sudah menanyakan langsung, tapi mendengar kabar seperti ini ia langsung ragu kembali.


Bu Ummu manggut-manggut. "Kamu beneran mau serumah lagi sama Givan?"


Dengan pertanyaan tersebut, Canda langsung melirik ke arah suaminya. Ia memperhatikan suaminya yang tengah berkutat dengan laptop tersebut.


"Yaaa...." Canda bingung untuk memilih kata.


"Ya apa, Ndhuk? Jangan gampang terpengaruh sama Givan, kamu kan tau dia egois." Bu Ummu kembali berbisik-bisik.


"Aku...." Canda menggaruk kepalanya.


"Canda.... Ada Ghifar ini," seruan dari Givan, mengalihkan perhatiannya seketika.


Ghifar langsung melongok ke arah ruang keluarga. Ia cengengesan malu, karena ada ibu Ummu bersama Canda.


"Tak tidur di sana kah?" Ghifar datang, berniat untuk menjemput Canda. Agar malam-malam, Canda tidak keluar rumah untuk mencari pegangan saat tidur.


Canda menggeleng, senyum malu-malunya kentara sekali. "Udah ditemani lagi. Nanti aku langsung ke sana, kalau tak ada kawan tidur."


Mendengar penuturan itu, Givan langsung menarik kerah kaos adiknya. Perseteruan dalam keluarga itu, membangkitkan emosi Givan kala mendengar bahwa istrinya tidur di rumah adiknya yang merupakan mantan kekasih Canda.


"Hei, Bang!" Ghifar melepaskan cekalan kakaknya.


Givan tidak tahu apa-apa, bahkan ketika pagi tadi Ghifar datang dan mengatakan pada ibunya tentang Canda. Adinda pun tak menyampaikan hal itu, karena Givan tengah sakit.


Givan menunjuk-nunjuk wajah adiknya. "Kau beristri, Van. Lagian, Canda bakal tak sudi betul kau madu." Karena ada masalah seperti ini, Canda sudah coba menghindarinya. Apalagi, jika terang-terangan ada perempuan lain dalam rumah tangganya. Canda pasti tidak sudi itu terjadi, Givan percaya akan hal ini.


"Bahkan dia minta jadi istri kedua aku kemarin. Aku lagi proses izin poligami." Tentu saja Ghifar hanya mengerjai kakaknya. Perihal Canda meminta menjadi istri keduanya, Ghifar pun paham itu hanya gurauan saja. Ia tahu untuk menyikapinya tidak serius.


Givan langsung mengepalkan tangannya. Sebelum pukulan itu mendarat, Canda langsung menahan tangan suaminya.


"Orang tuh main pukul-pukul aja! Mentang-mentang mampu bawa dia ke RS." Dengan penuh emosi, Canda meraup wajah suaminya.


Ghifar tertawa terbahak-bahak. Ia lepas dari cekalan tangan kakaknya dan mundur satu langkah, ia memberi jarak agar kakaknya sulit menjangkaunya.

__ADS_1


Ghifar tidak menyangka, kakaknya yang galak tersebut hanya diam saja ketika wajahnya diraup oleh istrinya.


"Kau pun sama." Canda berbalik menghadap Ghifar.


"Kok aku?" Ia terheran-heran.


"Ya iya, orang tuh diam aja. Heran tuh, tak pernah nampak kau pukul-pukulan. Mesti aja berantem tuh pasrah, diam aja." Canda malah memarahi Ghifar juga.


Kini, giliran Givan yang mentertawakan adiknya itu.


"Ya masa sama saudara sendiri aja diladeni." Karena Ghifar paham, mereka akan segera berbaikan kembali. Jika ia melawan terus menerus, perselisihan tidak akan pernah selesai.


"Ya iyalah! Lakik, gitu loh!" Canda memutar kepalanya lagi untuk melihat wajah suaminya.


"Jadi kau tak tidur di rumah aku kah?" Ghifar memastikan kembali.


Setiap mendengar hal itu, Givan langsung meletup-letup saja. Ia tidak menyangka, bahwa istrinya begitu mudah tidur dengan laki-laki lain. Ya persepsi Givan adalah, tentang istrinya yang tidur dengan berpegangan tangan dengan Givan. Apalagi ia tahu, bahwa istri Ghifar begitu mengerti akan kenyamanan dan kesenangan Ghifar. Ia yakin, bahwa istri Ghifar diam saja saat suaminya mengeloni kakak iparnya tersebut. Bukan berhubungan zina, yang ada di benak Givan. Namun, mereka tidur bersama dengan romantis.


"Tak, Far."


"Kau tidur sama Ghifar, Canda?" Givan langsung membingkai wajah istrinya. Jaraknya begitu dekat, hembusan napas saja sampai terasa.


Ibu Ummu tentu malu melihat kedekatan anaknya dan menantunya tersebut. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi terbentur dengan situasi yang kurang tepat. Ia pergi tanpa permisi ke anaknya, ia tak mau mengganggu aktivitas anaknya. Karena ia paham, meski masalah pada anaknya itu merugikan anaknya. Tapi mau bagaimana pun juga, anaknya masih hak suaminya.


"Iya, Mas." Canda menjawab tanpa beban.


Givan melepaskan tangannya dari pelipis istrinya. Kemudian, ia mendorong pelan istrinya sampai terpentok pada tembok. Ia mengunci netra istrinya, dengan ia sedikit membungkuk untuk bisa menyetarakan wajahnya.


"Iya? Tidur? Hei, Canda. Kau bersuami!" Givan berkata lantang di depan istrinya.


Canda mengangguk-angguk. Ia merasa tidak melakukan hal dosa, ia membenarkan ucapan suaminya.


"Maksud kau gimana?!"


Canda tidak menyadari, bahwa saat ini suaminya tengah cemburu buta padanya.

__ADS_1


"Aku tak bisa tidur sendiri. Rumah anak-anak udah pada sepi, lampunya udah mati semua. Jadi aku mau ke ibu, tapi papasan sama Ghifar terus diajak pulang ke rumahnya. Jadi aku tidur di rumahnya sama mama sama Ghifar juga."


Givan lebih melongo dari sebelumnya. Bagaimana bisa mereka tidur satu ranjang bertiga?


Givan tidak mengerti, otak siapa yang bermasalah. Istrinya kah? Adiknya kah? Atau adik iparnya itu? Apa isi pikiran mereka, saat ada orang lain tidur bersama-sama mereka.


"Terus gimana? Kenapa tak sama anak-anak aja?" Ghifar masih mengunci istrinya dengan tembok.


"Anak-anak udah tidur, itu aku menjelang tengah malam, sekitar jam sebelas malam. Ranjang anak-anak pun ranjang single."


Canda pun tidak mengetahui ketika ia tertidur, Ghifar dan istrinya melarikan diri. Karena saat ia terbangun, ia sudah tidur ditemani Ghifar dan anak bayinya. Sedangkan istri Ghifar, ia temui di dapur dengan asisten rumah tangganya.


"Kau rebutan barang satu?" Pikiran Givan mulai bercabang, apalagi ia teringat akan adiknya yang memiliki keminatan se****l yang cukup sulit dibangkitkan. Ia berpikir, bahwa adiknya itu pun penganut fantasi aneh.


"Barang yang mana? Guling? Kalau guling, mama malah bawakan lagi." Pikir Canda, suaminya pasti paham akan dirinya yang selalu memeluk guling ketika tidur.


"Bijinya Ghifar." Givan sampai memperjelas maksudnya.


Canda melebarkan matanya. "Tak lah, ngapain? Lagi hamil begini, coba-coba sama punya Ghifar. Ya bisa langsung pembukaan sepuluh." Secara tidak langsung, Canda seolah menyanjung senjata milik Ghifar.


Givan semakin terbakar cemburu, ia melupakan layar laptopnya yang masih menyala dan menampilkan laporan dalam email miliknya. Ia langsung mengangkat tubuh Canda, lalu membawa istrinya ke dalam kamar pribadi mereka.


"Kau bisa pembukaan sepuluh, karena ganjalan dari Ghifar? Terus sama aku, kau bisa pembukaan berapa?" Tentang ukuran yang Givan bahas di atas ranjang.


Ia mulai melepaskan bajunya, lalu bersembunyi di bawah selimut dengan mengungkung tubuh istrinya. Ia malah ingin memberi sedikit siksaan berkabut nikmat untuk istrinya, tentu ia tidak akan pernah melakukannya dengan kasar. Ia lebih memilih akan mengerjai istrinya.


"Ya jangan sampai pembukaan ya, orang aku baru hamil satu bulan lebih aja." Canda tidak terpikir, bahwa suaminya iri dengan milik adiknya yang selalu Canda sanjung, bahwa ukuran milik Ghifar lebih besar dari miliknya.


Canda pernah melakukan hal khilaf dengan Ghifar, saat dirinya berstatus menjadi istri dari mendiang Nalendra. Baca cerita ini, dalam novel Canda Pagi Dinanti.


"Coba genggam." Givan membimbing tangan istrinya untuk menggenggam sesuatu.


Canda tidak bisa menolak. Ia seketika mengerti dengan konsep di bawah selimut ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2