Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM48. Pertengkaran menggemaskan


__ADS_3

"Beli sarung dulu sana, Mas. Aku tak mau main langsung." Pikir Canda, setidaknya ia tidak menikmati gejolak panas yang Givan berikan.


Benar saja, anak sulung tersebut langsung tersinggung. Ia merasa bahwa dirinya begitu kotor, sampai-sampai istri sendiri menolak untuk bermain bersamanya.


"Kemarin kau bahkan yang minta duluan, Canda. Udah tak butuh kah? Udah tak minat kah? Udah jijik kah?" Givan langsung turun dari atas tubuh istrinya.


Ia memasukkan kembali pusakanya yang sudah menegang sempurna karena cemburu tersebut. Sedikit linu, kini membuat kepala Givan cenut-cenut.


"Entah-entah. Mungkin aku.... Tak pengen aja." Sekalipun Canda jujur dirinya sedang tak minat, tanpa pamrih Givan akan membangkitkan minat istrinya padanya. Ia paham, tentang n**** perempuan adalah laki-lakinya.


Canda memejamkan matanya. Sebenarnya, ia tidak kuasa untuk menolak suaminya. Ia pun tidak bermaksud menolak juga, tapi ia seperti berat untuk memasrahkan dirinya. Bayangan tentang suaminya yang tersenyum bahagia di atas perempuan lain, ungkapan cinta suaminya atas perempuan lain, membuat rasa minat akan sentuhan Givan benar-benar padam.


Meski Canda tidak tahu bagaimana suasana asli, jika suaminya tengah berhadapan dengan perempuan lain. Tapi, bayangan buruknya seolah mereka bahwa adegan itu nyata.


"Dari siang kau begini terus, Canda. Kita udah baikan pun, kau tetap begini ke aku." Givan duduk di tepian ranjang, dengan memunggungi Canda.


Ia teringat akan layar monitornya yang masih menyala. Ia bangkit, hendak melangkah ke arah pintu. Tetapi, secuil kalimat dari Canda membuatnya urung untuk melangkah.


"Mau cari di luar kah? Mau sama yang siri kah?"


Dua pertanyaan itu, tidak berkenan untuk Givan. Seberapapun ia tidak mampu membujuk Canda, ia pasti akan terus membujuknya, atau mengeluarkan segala dalil yang berhubungan dengan hak suami dan kewajiban istri. Givan akan berusaha hanya pada istrinya, tanpa mencari di luar, atau memaksa istrinya untuk mau meladeninya.


"Siri! Siri! Siri! Aku pernah bilang, aku tak punya istri siri! Cuma kau yang aku resmikan, cuma Nadya yang aku sirikan. Kalau kau tak suka dengar nama Nadya aku bawa, jangan terus tanya tentang yang siri! Mau tak mau, memang itu kenyataannya. Tak ada siri-siri yang lain, tak punya resmi-resmi yang lain selain kau." Givan berbicara keras, tanpa menghadap ke istrinya.


Setelah itu, ia membuka pintu kamarnya dan berjalan ke arah ruang tamu. Ia segera mematikan laptopnya, lalu mengecek keadaan pintu dan jendela sekeliling rumah.

__ADS_1


Sayangnya, ia tidak bisa kembali masuk ke kamarnya. Emosinya langsung meletup lagi, kala tahu bahwa istrinya secara tidak langsung tidak memberinya izin tidur satu ranjang bersama.


Brughhhh, brughhhh, brughhhh....


Givan seperti ingin menghancurkan pintu kamar tersebut.


"CANDAAAAA!!!!! KAU NGAJAK AKU PERANG KAH?!!!!" teriakan itu, bahkan sampai terdengar ke rumah anak-anaknya dan rumah Ghifar.


Di dalam rumahnya, Ghifar saling beradu pandang dengan istrinya. "Ma, aku takut Canda dibunuh." Tanpa ragu, ia mengungkapkan kekhawatirannya.


"Keknya, Givan tak sampai begitu deh. Coba telepon aja Candanya." Istri Ghifar begitu ringannya meminta Ghifar untuk menghubungi mantan kekasihnya itu.


"Chat aja kali ya?" Ghifar berpikir, Canda pasti tengah beradu mulut dengan suaminya. Jika ia menelponnya, pasti permasalahan akan lebih menukik.


"Iya sok, Pa. Tanya juga, mau dipanggilkan mamah tak? Karena bingung juga kalau kita campuri urusan mereka, kita tak ada hak. Kalau orang tua kan, bisa menengahi juga," ungkapnya lirih. Ia tengah mencoba membuat anak bayinya terlelap. Dengan mengASIhinya, ia pun menepuk-nepuk pelan paha anaknya. Anaknya yang gampang terkejut, menuntut kedua orang tua tersebut untuk lebih menurunkan nada suaranya.


[Canda, kau tak apa? Bang Givan main tangan kah? Aku panggilkan mamah ya?] Tulis Ghifar dan langsung dikirimkan ke Canda.


Canda yang baru kembali ke ranjang, setelah membukakan pintu kamar untuk suaminya, langsung mengecek ponselnya yang membunyikan nada notifikasi masuk. Pesan chat dari kontak bernama Ghifar adik ipar, langsung dibuka oleh Canda.


[Tak apa kok. Tadi mas Givan teriak-teriak, karena aku kunci pintu kamarnya. Aku kira dia keluar rumah, ya udah aku coba tidur setelah ngunci pintu kamar. Ternyata, katanya dia matikan laptop dan ngunci pintu dan jendela aja. Jadi ngamuklah dia. Abang kau kan jagonya jadi reog.]


Ghifar terkekeh dan membagi cerita dengan istrinya, tentang balasan dari Canda tersebut. Mereka terkekeh bersama, membayangkan si sulung yang gengsian itu tengah menahan amarahnya terus menerus.


Ghifar hanya membaca pesan tersebut, ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri tentang kondisi Canda. Hanya itu, tanpa embel-embel dan niat lainnya untuk bisa lanjut bertukar chatting dengan Canda.

__ADS_1


"Mau kau tidur sendiri?! Kemarin kau tak tidur sama aku, kau dari Ghifar buat pegangan. Jangan sombong-sombong betul, kalau ngerasa masih doyan dan masih butuh tuh." Givan sedari tadi masih nyerocos saja memarahi istrinya.


"Ya Mas pun sama, aku belum kecukupan tapi gayanya mau nafkahi perempuan lain dan anaknya sampai dewasa." Canda berani membalikan ucapan suaminya, bahkan menarik satu informasi yang ia dengar dari mulut Ai sendiri ketika dirinya berada di penginapan.


"Di sebelah mana kau belum kecukupan? Scrub dan masker emas, bahkan aku penuhi. Kau kurang di bagian mananya? Mau kah aku belikan baju emas seberat sepuluh kilo?" Perdebatan tersebut seperti anak kecil yang beradu mulut.


"Aku mau mobil sendiri, pakai nama aku sendiri, kek Ghifar kasih ke istrinya."


Menurut Givan, itu hanya hal kecil saja. "Masalahnya, kau lebih suka nyusahin aku kan? Kau mana bisa nyetir sendiri dan mana mau gerak untuk pergi tanpa disetirin. Gaya kau minta mobil, rasanya pengen kuhamili dobel aja kau!" Givan menghempaskan tubuhnya di samping istrinya.


Ia langsung memeluk Canda, kemudian mencium pipi istrinya. Semarah-marahnya dia pada istrinya, amarah itu akan berubah gemas setelah beberapa saat kemudian.


"Aku mau, biar yang di sana panas." Canda kumat kekanak-kanakan menurut Givan. Itu pertanda baik, karena berarti istrinya yang selalu menggandengnya ke mana saja itu sudah kembali.


"Oke, mobil pakai nama kau sendiri. Besok dari cek kerjaan, aku juga bawa Cani ke dealer mobil. Kau tak usah ikut, nanti capek, bahaya bisa ngeflek." Givan tak mau terjadi hal yang buruk pada istrinya, karena ia yang akan mati karena hal buruk itu.


"Mau warna pink," tambah Canda dengan celotehan yang mulai membangkitkan rasa kantuknya.


"Oke, apalagi? Ada gambar Hello Kitty juga kah? Apa mau dikasih daftar nama anak-anak kita? Tanggal rujuk mau dijadikan list stiker di kaca belakang juga kah?" Givan memahami bahwa istrinya mulai mengantuk.


Secara tidak sadar, Canda mulai memeluk lengan suaminya. Ia tidak sadar, ia melakukan hal yang ia hindari itu dalam misi membuat Givan jera. Namun, sifat aslinya sudah latah melakukan hal-hal sederhana itu.


"Aku mau Mas cinta sama aku." Pandangan Canda sudah redup, membuat kalimat itu pun keluar begitu saja. Ia berharap suaminya peka dengan sendirinya, tapi sekarang ia mengatakannya.


Givan melirik istrinya yang sudah setengah terpejam tersebut. "Cinta......

__ADS_1


...****************...


__ADS_2