Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM194. Staycation di rumah sakit


__ADS_3

"Sabar ya, Canda?" Givan mengusap keringat dingin istrinya untuk kesekian kalinya.


Ada pilihan lain, yang bisa diambil untuk menyelamatkan Canda dari kesakitan yang tiada habisnya. Kista tersebut tumbuh di luar perkiraan dokter yang menanganinya. Bahkan sekarang, beratnya sudah mengalahkan berat bayi yang tumbuh di rahim Canda.


Pilihan tersebut cukup mengkhawatirkan nyawa bayi yang tumbuh dengan sehat tersebut. Pasalnya, kista tersebut tumbuh beriringan dengan bayi. Berbeda jika kistanya tumbuh di ovarium, maka biasa diangkat tanpa menimbulkan resiko untuk janin, karena letaknya berbeda.


"Aku harus gimana lagi, Mas?" Canda sampai menggigit bantalnya sendiri, karena rasa yang luar biasa tersebut. Menurutnya, rasa sakitnya lebih dari persalinan normal.


"Kita tak usah punya anak lagi kah? Aku tak mau kenapa-kenapa, kalau aku maksa pertahankan bayi kita. Tapi, ada secuil harapan aku tentang dia yang harus tumbuh sehat. Maaf aku egois, Canda. Aku bingung harus gimana. Tapi aku tak mau lihat kau kenapa-kenapa begini, aku tak sanggup lihat kau kesakitan terus." Givan mendaratkan kecupan di dahi istrinya.


"Mas mau gugurkan anak kita?" Canda memandang Givan kaget.


Ia tidak pernah menyangka, jika keputusan itu keluar dari mulut suaminya. Meski itu adalah ucapan ragu suaminya, tapi dengan ucapan itu berarti suaminya memiliki pemikiran untuk menggugurkan anaknya.


"Kalau kau setuju, Canda. Aku tak tega lihat kau kesakitan terus. Maafin aku yang minta kau hamil untuk satu kali lagi. Anak-anak kita udah banyak, harusnya aku bersyukur untuk karunia itu. Bukannya malah minta anak lagi dan lagi, aku salah di sini, Canda. Aku minta maaf." Givan menggenggam tangan kanan Canda, lalu ia mencium punggung tangan tersebut dengan penuh penyesalan.


Ia tidak menginginkan istrinya kesakitan atas keputusannya yang terkesan memaksa itu. Ia tidak terpikirkan sama sekali, jika cerita tentang kehamilan terakhir Canda harus seperti ini.

__ADS_1


"Aku tak setuju, Mas. Aku udah mengandung enam bulan, udah tanggung, Mas. Bulan depan kan aku disesar kan? Bayi kita diusahakan lahir kan? Ya udah, kita ikut saran itu. Kita berdoa, semoga nanti bayi prematur kita kuat." Sudah satu bulan lamannya, dari waktu Givan membubuhkan tanda tangan di surat warisan orang tuanya.


"Aku yakin bayi kita pasti kuat. Tapi, aku ragu kau kuat. Aku tak mau kau kenapa-kenapa, Canda. Dalam sebulan ke depan, aku khawatir kau yang tak kuat nanggung sakitnya." Givan membawa tangan istrinya, untuk mengusap pelipisnya.


Kekuatan Givan serasa runtuh, kala melihat bibir Canda semakin memucat. Kekhawatirannya menjadi satu dengan ketakutannya, ia tidak mau hal buruk menimpa istrinya.


"Canda, kita ke rumah sakit aja yuk?" Givan tidak mau telah untuk memberi Canda pertolongan.


"Dari rumah sakit terus pulang lagi? Mau sampai kapan begitu, Mas? Aku malu bolak-balik rumah sakit terus." Canda merasa dirinya kuat menahan rasa nyeri yang menyerang panggulnya tersebut.


"Tak apa, Canda. Kita butuh pertolongan, kau tak perlu malu. Toh, aku bayar untuk itu." Givan bersiap untuk mengangkat tubuh istrinya.


"Kalau ada saran sebulan menuju persalinan di sana, aku akan ambil saran itu. Yang penting kau selamat, Canda. Yang penting, kau bisa samar ngerasain rasa sakit itu." Givan sudah mengangkat tubuh Canda, ia berjalan ke luar rumah di subuh pagi ini dengan istrinya yang begitu lemas.


"Mas tau itu biayanya tak sedikit." Diam-diam, Canda mengamati pengeluaran suaminya setiap dirinya di bawa ke rumah sakit.


"Tak apa, Canda. Yang penting kau selamat." Givan menurunkan istrinya lebih dulu, karena ia cukup kesulitan untuk membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


Mobil berwarna pink tersebut, kini sudah terparkir di parkiran rumah sakit kembali. Ketiadaan dokter, membuat mereka harus menunggu sampai waktu tugas dokter telah tiba.


Meski rasa sakit di panggul istrinya sudah mereda, tapi Givan tetap ingin istrinya berada di dalam kontrol medis. Ia tetap menginginkan istrinya untuk dirawat di rumah sakit, agar dirinya tidak selalu ketakutan ketika istrinya kambuh seperti ini.


"Bagaimana, Pak?" Dokter yang dinantikan akhirnya datang ke ruangan kamar Canda di rumah sakit tersebut.


Meski menurut perawat sebaiknya Canda dipulangkan, tapi Givan tetap memaksa agar istrinya dirawat di rumah sakit tersebut. Karena beberapa kesanggupan dan kekhawatiran yang Givan utarakan, akhirnya pihak rumah sakit memberikan satu ruangan inap untuk Canda.


"Gini, Dok. Saya sudah banyak mengobrol dengan istrinya, keputusan istri Saya tetap ingin bayinya lahir. Nah, aku tak merasa tenang untuk itu. Aku ingin istriku tetap dalam pengawasan medis, maksudku dia tetap berada di rumah sakit sampai masa persalinan tiba." Givan menunjukkan buku kontrol istrinya, yang ukuran bukunya sebesar tabungan siswa.


"Saya paham, Pak. Tapi, sekali lagi ini tak bisa jika cover asuransi. Seperti yang Saya terangkan sebelumnya, asuransi yang Bapak miliki, hanya bisa mengcover biaya persalinan nanti. Jika untuk kontrol, atau rawat inap selama itu, Bapak harus mengeluarkan kocek sendiri. Di samping itu juga, Saya berpikir nanti Ibu Canda bisa stress jika ia tetap berada di rumah sakit ini dalam waktu satu bulan. Meski ruangan elit seperti ini, namanya tetap rumah sakit, Pak. Kamar sebelah merintih, menangis, ya pasti terdengar jelas, apalagi kalau malam tiba. Suara-suara kek gitu terkesan horor, padahal memang suara pasien yang kesakitan. Stress itu lebih bahaya, dari kista yang Ibu Canda idap ini, Pak. Kalau Bapak menyanggupi dan memang ingin seperti itu, Saya bisa rekomendasi rumah sakit swasta yang ada di Tangerang. Di sana, operasi sesar pun tanpa rasa sakit setelah bius hilang. Enam jam setengah operasi langsung bisa jalan, langsung bisa mandiri. Tapi, biayanya setau Saya tidak bisa cover asuransi. Gimana, Pak?" Dokter seusia Givan tersebut berkata dengan perlahan.


"Memang rumah sakitnya bagaimana itu, Dok? Saya baru dengar, mungkin karena Saya hidup di kampung kali ya?" Givan terkekeh kecil.


"Lebih terkesan seperti hotel, Pak. Tapi, diawasi oleh dokter dan ada perawat juga. Ada beberapa ruangan juga seperti rumah, ada ruang tamu, dapur dan kamar mandi lengkap dan ada kamar lagi di dalam kamar pasien tersebut. Ada beberapa pilihan kamar, tapi yang Saya sebutkan itu tipe royal suite. Rumah sakitnya ada di Karang Tengah, Kota Tangerang. Operasi sesar bisa ambil metode sesar eracs, jadi bisa pulih dalam waktu enam jam. Bocoran biayanya, karena masih baru, untuk biaya eracs dan menginap satu malam di kamar royal suite itu, di kisaran lima puluh lima juta. Udah dapat perlengkapan menyusui, dapat juga foto estetik untuk bayinya nanti. Kalau untuk biaya rawat inap selama itu, Saya kurang tahu, Pak. Tapi kalau Bapak mau, Saya buatkan surat rujukan ke sana. Biar rekam medis Ibu Canda sampai ke sana juga begitu."


Tanpa pikir panjang, Givan langsung menganggukkan kepalanya. "Ya udah, Dok. Kapan kami bisa berangkat ke sana?" Givan hanya ingin yang terbaik untuk istrinya.

__ADS_1


"Oke, Saya hubungi pihak rumah sakitnya, Pak." Dokter tersebut tidak akan merekomendasikan rumah sakit tersebut, jika orangnya bukan Givan. Ia paham, jika rumah sakit yang dirinya maksud bukan untuk kalangan menengah ke bawah.


...****************...


__ADS_2