
"Kau tak bakat bohong ke Mamah, Van." Adinda merasa, bahwa yang Givan katakan hanyalah kebohongan belaka.
"Nanti aja pulangnya ya, Mah?" Givan memikirkan keadaan adiknya, jika ia terlalu lama mengobrol di sini.
"Ini bahaya tak?" Adinda mencoba percaya dan tidak terlalu mengkhawatirkan apa yang tidak ia ketahui.
"Insha Allah, tak ada apa-apa. Kami pamit dulu ya, Mah?" Givan merundukkan punggungnya dan mencium tangan ibunya.
"Iya, iya. Ati-ati." Tangan Adinda, bergantian dicium oleh dua orang anaknya.
"Iya, Mah." Mereka hampir menjawab dengan bersamaan.
"Kau tunggu depan pagar, Abang ambil mobil dulu." Givan bergegas mengenakan sandalnya.
"Jangan yang pink tuh, Bang." Yang Gibran maksudkan adalah mobil.
"Lah, biar aja. Orang mobil yang udah keluar dari garasi, yang warna pink. Lagian sama aja tuh, Bran." Givan melirik ke arah adiknya, lalu ia berjalan cepat ke arah pagar rumahnya setelah mereka keluar dari halaman rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Ya kan malu kali aku ini. Gagah-gagah, mainnya warna pink," gerutu Gibran dengan menoleh ke arah masjid.
Ia tahu ada apa di sana, ia pun tahu siapa yang tengah dihukum di sana. Namun, ia tidak ingin ikut campur dan ingin tahu pada acara tersebut. Karena ia tahu diri, jika dirinya adalah orang yang tidak tegaan. Ia khawatir terbayang-bayang, dengan hukum cambuk yang diterima oleh pelaku.
Cani dipindahkan untuk duduk di pangkuan Gibran. Gibran menuruti perintah kakaknya, untuk membuka kancing kemejanya, agar Cani bisa memeluknya dengan bersentuhan kulit. Baju Cani pun, disibakkan agar kulit mereka bisa bersentuhan.
"Nih aku, kalau ada anak mesti begini kah?" Gibran terkekeh, kala melihat bayangan dirinya dari spion tengah.
"Ya, kurang lebihnya akan merasakan juga kek gitu." Givan yakin tidak semua ayah akan melakukan hal tersebut, tapi biasanya seorang ayah mau untuk memeluk anaknya agar suhu badan anaknya lekas menurun.
Gibran tertawa geli, ia membayangkan saja sudah merasa geli sendiri, apalagi jika ia terjun dalam situasi seperti itu. "Agak-agak gimana aku rasa, pasti hidup aku serepot keseharian Abang ya?" Gibran menoleh ke arah kakaknya. Ia menunggu jawaban dari kakaknya.
"Sulit memang. Belum lagi macam dapat kek mamah." Gibran menahan tawanya, untuk tidak berlanjut mentertawakan ibunya.
"Idaman beuuuutttt...." Givan langsung mengeluarkan suara basnya dengan suara nyaring.
Tawa Gibran akhirnya pecah. "Itu jatah teungku haji Adi aja semoga."
__ADS_1
"Menantu kek mamah, mertua kek mamah, udah bisa-bisa perang dukun. Kau tau tak, misal Aca sama mamah lagi ngobrol? Bisingnya luar biasa, Masya Allah. Satu kali obrolan, dua tiga pulau terlampaui," tambah Givan kemudian.
"Tapi agak heran juga, laki-laki sealim bang Ghifar, kok dapat perempuannya yang hebring semua?" Gibran melirik ke arah bagian belakang mobil tersebut.
"Ghifar tak sengaja aja itu," timpal Givan membuat adiknya tertawa lagi.
"Iya, pernah aku tanya tuh. Katanya, iseng-iseng berhadiah. Tapi alhamdulilah, rukun ya, Bang? Hawanya tuh, positif terus gitu tuh. Ribut sedikit, cuap-cuap manja, akur lagi. Tak sampai lama marahan tuh. Tak kek bang Ghavi juga, marahan malah pulang ke mamah." Diam-diam, rupanya Gibran memperhatikan sekitarnya.
"Iya, Ghavi segitu mending. Ngeri, jarang marah tuh sekalinya marah ya naudzubillah. Dipendam-pendam, jadi pas meletup itu kata-katanya sakral semua. Talak kifayah, kata-kata kasar, ya keluar semua. Nah, perlunya dari sekarang kau harus bisa manage emosi kau. Biar istri kau tak trauma sama suaminya sendiri, Bran. Kau marah, usahakan jangan sampai buat istri kau takut. Karena apa ya? Karena nih, nanti dia bakal berubah ke kita. Yang tadinya mau cerita tentang hal yang sensitif, yang kemungkinan mancing amarah kita tuh, ya dia jadi lebih milih untuk dipendam dan disembunyikan. Kan otomatis, dia jadi tak terbuka lagi ke kita. Takut tuh, jadi menurut dia mending tak cerita aja, biar kita tak marah. Lain kondisinya, kalau memang udah sama-sama tahu sifat masing-masing kek Abang sama kakak ipar kau. Tak satu dua kali, setelah rujuk tuh, kalau Abang marah malah diketawain. Agak lain memang ipar kau sekarang, tapi kan dia jadi lebih santai, lebih rileks, tak tertekan lagi. Beda ceritanya, waktu pas pengantin baru. Ya memang jangan sampai juga nikah cerai, jangan sampai juga ada rujuk-rujuk beberapa kali. Tapi menurut Abang, tak penting nih perjalanan Abang. Yang penting untuk kau, ya kau yang bisa manage emosi kau kek Abang sekarang. Karena gimana ya? Marah sampai nyumpahin pun, rasanya percuma aja. Karena udah karakter wanita kita, ya kek gitu. Jadi jalan keluar biar langgeng tuh, ya kitanya yang pengertian, kitanya yang buat perubahan, kitanya yang cari solusi. Karena kalau berharap dia berubah terus itu, itu menyakiti harapan kita sendiri. Contoh kecilnya gini, kakak ipar kau orangnya memang ngebo. Tidur tuh pules betul. Anak nangis dia tak pernah dengar. Jalan keluarnya, ya cuma kita yang harus ambil peran dia. Kita bangun, angkat anak kita, terus kita timang, atau buatkan susu. Ada masanya mereka melek juga kok, ada masanya dia ngerti juga kok. Daripada kita ngamuk-ngamuk, bangunin dia kasar. Yang ada, kita makin dongkol sendiri. Masalah pun tak selesai juga kan? Anak kita tetap nangis ngamuk. Awalnya pun, Abang ambil opsi yang ngamuk-ngamuk itu. Tapi, yang ada tuh keributan makin ricuh. Anak nangis histeris, istri bangun dan nangis juga. Emosi Abang tuh tetap meluap, tak habis karena udah buat istri nangis. Yang ada, kita malah kesal dan merasa bersalah karena udah buat dia bangun kalap dan nangis gitu." Givan mencoba memberikan nasehat dalam obrolannya.
"Ya Abang pun tau, aku tak kek Abang kalau marah." Gibran merasa kondisi seperti yang kakaknya ceritakan tidak akan ia alami.
"Bakal beda keadaannya. Semarah-marahnya kau sama orang tua, kau tak akan bisa meletup-letup kek ke istri kau. Kau takut sama orang tua kau, Bran. Makanya, amarah kau tak pernah terealisasikan." Givan pun tidak tahu bagaimana kondisi adiknya marah. Karena ia hanya tahu Gibran kecil yang selalu mengadu dengan berlinang air matanya.
"Kalau memang aku sampai meletup-letup, kan berarti dia buat kesalahannya luar biasa, Bang." Logika Gibran mulai berjalan.
"Lain kondisinya tentang kesalahan itu, Bran. Hei, permasalahan dia sulit dibangunkan aja, itu nguras kesabaran luar biasa. Kita udah capek kerja, butuh istirahat kan? Tapi masanya istirahat, malah terganggu anak nangis tapi istri kita tak dengar. Ya emosi luar biasa kek gitu aja tuh, Bran. Cuma kan Abang mikirnya, udahlah, kasian anak. Abang ngamuk-ngamuk, bisa jadi anak nangis lebih kencang lagi itu. Permasalahan melebar, solusi tak didapat, malah istri nangis. Ya udah tuh, lebih kompleks. Makanya, Abang sejak pahami dan nyadarin, ya udah lebih milik tindak sendiri aja. Abang paham juga kok, kadang kan dia capek urus anak seharian. Tapi ya pikiran laki-laki, kita pun capek kerja. Kalau mikir gitu aja, tak akan pernah ikhlas. Tapi kalau udah mandeng anak, ya udah gitu, mau gimana lagi? Anak pun, ya anak kita." Givan menoleh ke arah adiknya dan tersenyum.
__ADS_1
Logika anak laki-laki yang mulai dewasa itu, terkontaminasi dengan paham positif dari kakaknya. Ia menyerapi dan memahami, bahwa ucapan kakaknya ada benarnya juga.
...****************...