Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM168. Tidak memiliki pekerjaan


__ADS_3

"Ya, gimana?" Awang segera bergegas, saat namanya dipanggil oleh Givan.


Ia baru saja mencuci tangannya di wastafel dapur.


Givan melirik pada Ai yang duduk di sofa ruang keluarga bersama Nafisah. Sedangkan, ia tidak melihat ibunya berada di sini.


"Ada apa, Van?" Adinda membuka pintu kamarnya.


Givan segera menoleh ke samping kirinya, ia melihat ibunya keluar dari kamar dengan membenahi hijabnya. "Mamah baru selesai sholat?" tanyanya kemudian.


"He'em, Canda mana?" Adinda tahu jika salah satu anaknya itu sering datang satu paket dengan menantunya.


"Di rumah, mandi sholat." Givan menoleh ke arah datangnya Awang.


"Ya, gimana, Van?" Awang langsung memasang mimik serius ketika sampai di hadapan Givan.


"Aku mau ngobrol tentang rumah yang mau dijual itu." Givan langsung mengatakan tujuannya memanggil kakak dari Ai tersebut.


"Rumah dijual? Rumah siapa?" Ai bertanya cepat.


Givan menoleh ke arah Ai. "Katanya sih rumah orang tuanya." Dalam artian, orang tua Awang juga adalah orang tua Ai.


"Kenapa dijual, A? Nanti kita tinggal di mana?" Ai memperhatikan punggung kakaknya, karena Awang menghadap pada Givan.


Awang memutar sedikit tubuhnya. "Bisa ngontrak nanti, Ai. Gampang aja. Aa juga udah gak kerja di mobil semen lagi, mungkin pulang ke orang tuanya Teh Naf, bantu jualan nasi di sana." Awang sudah membicarakan hal ini dengan istrinya.


"Kok gitu? Deden sama Dedeng bakal tinggal di mana, A?" Ai teringat dua adiknya yang tidak pernah ia tanyakan kabarnya.


"Deden sama istrinya, dia ikut mertua di Purwakarta. Dedeng wafat masa dia SMA, dia korban tawuran sekolah."

__ADS_1


Sudah cukup dua kabar meninggalnya kedua orang tuanya, membuat keadaan Ai drop. Kini, disusul dengan kabar kematian adik bungsunya yang baru diketahuinya lagi.


"Satu bulan setelah abah gak ada, Dedeng nyusul," tambah Nafisah kemudian.


"Ya Allah...." Ai memeluk tubuhnya sendiri yang masih merasakan sakit.


Begitu lamakah ia pergi, sampai keluarganya meninggalkannya untuk selamanya tanpa ia ketahui?


Nafisah hanya mengusap-usap lengan Ai, yang terpuruk dengan lelehan penyesalannya.


"Rumah abah dijual, untuk bantu denda kamu. Terus kita ambil kontrakan di dekat warung nasinya ibunya Teh Naf. Sambil Aa cari kerjaan lain, barangkali bisa nyupir lagi, atau ikut kerja sama Mamah Dinda. Karena peternakannya gak jauh dari warung nasi ibunya Teh Naf, mungkin sekitar dua puluh menit naik motor." Awang tahu akan tempat peternakan puyuh yang diceritakan ayah mertuanya, karena mengundang protes warga akan limbahnya. Namun, sekarang limbah itu sudah diolah menjadi pupuk. Perusahaan pupuk tersebut pun, diolah oleh Givan juga.


"Kenapa Aa berhenti nyupir di semen? Kan Aa udah enak kerja di sana." Ai tahu berapa hasil kerja kakaknya sekali mengantarkan barang ke luar kota bahkan provinsi tersebut.


"Karena Aa cuma pekerja. Cuti yang diizinkan, cuma satu mingguan aja. Sedangkan Aa lama di sini, Pia sama Linda pun ikut wa Uung sampai Aa pulang nanti bareng sama kamu." Awang tidak tega jika harus membiarkan adiknya dihukum tanpa ditemani oleh keluarga.


"Aduh, A." Ai kalut sendiri, dengan rasa sakit dari perutnya yang semakin menjadi.


"Jangan banyak pikiran, Ai." Nafisah mencoba menenangkan Ai.


Beberapa kali rujukan rumah sakit pun, dialami olehnya kala kepala desa datang dan membahas masalah hukumannya. Setiap kali ia memiliki beban pikiran, ia langsung berubah tidak baik-baik saja.


"Kasih minum air hangat, Naf." Adinda menghampiri tempat Ai duduk.


Mereka langsung khawatir pada keadaan Ai pasca bersalin yang selalu kehilangan kesadaran. Nafisah bergegas menuju dapur, meninggalkan Ai bersama Adinda.


"Aduh, gimana ini?" Awang mendekati adiknya.


"Van, Van.... Ambilkan minyak angin." Adinda menunjuk kotak P3K.

__ADS_1


Givan menunaikan perintah ibunya, ia memberikan minyak angin setelah ia menemukannya. Ia memperhatikan keadaan panik yang terjadi, ingin membantu pun ia bingung ingin bagaimana.


"Mendingan belum, Ai? Ke rumah sakit lagi kah?" Adinda sudah memperhatikan perut Ai, khawatir luka operasi Ai kembali rembes.


Ai menggeleng, ia menarik oksigen lebih banyak dan mengusap air matanya. Ia merasa kehidupannya penuh dengan perjuangan, ia merasa ketidakberuntungannya di dunia ini.


"MAS GIVAN!!!!" Canda sudah pandai menirukan suara nyaring suaminya.


"Ini lagi si Cendol." Adinda melirik ke arah anak sulungnya.


"Sini, Canda. Aku ada, jangan ribut aja," sahut Givan kemudian.


"Ehh, ada apa nih?" tanyanya setelah melangkah menuju ruang keluarga.


"Sesak tak napasnya, Ai?" tanya Adinda dengan melonggarkan hijab Ai.


Ai mengangguk. Ia berubah seperti seseorang yang tengah sakit keras, jika sudah memiliki beban pikiran.


"Ai, kamu tenang aja. Kita pasti tetap bisa makan, sekalipun A Awang gak kerja. Rejeki datang dari segala arah, asalkan kita mau kerja. Kalau kamu mikirin beban hidup kamu nanti, bagaimana kita yang mikirin dua anak yang dua-duanya sekolah semua? Dua gadis yang sama-sama menginjak masa remaja, di mana egonya besar untuk punya kosmetik dan baju-baju trendy masa kini. Bismillah aja, aku bisa jualan sarapan. Di rumah pun, aku jualan sarapan. Aku bangun dari jam dua pagi, rampung jualan jam sembilan pagi dan lanjut sibuk ngurus rumah. Ngurus Pakaian, nyiapin makan siang untuk anak-anak, beberes dan segala macam. Anak pulang sekolah tuh, mereka tau aku tidur dan paham ibunya capek. Mereka makan tanpa diperintah, terus urusin kamar mereka yang belum sempat dirapikan pas berangkat sekolah. Misal A Awang gak kerja lagi juga, kita tetap bisa makan. Resiko tetap ada, apalagi tentang biaya sekolah anak. Yang penting kan mau berusaha, A Awang pun gak mungkin diam di rumah aja. Dia pasti cari kerjaan, entah jadi buruh sawah, atau jadi buruh bangunan." Nafisah mencoba memberi pemahaman Ai, bahwa setiap manusia memiliki resiko kehidupan sendiri.


Ia pun ingin tidak berjualan lagi, tapi ia butuh untuk menambah pemasukan. Terbukti dari rumah mendiang orang tua Awan, yang sudah berubin keramik dan bertembok semen. Tidak seperti dulu lagi, yang masih beralaskan tanah dengan dinding anyaman bambu. Rumah warisan itu, terpelihara di tangan Nafisah.


Tangis Ai tidak bersuara, tapi napasnya sampai sesenggukan memilukan hati orang yang mendengarnya.


"Karena kenikmatan hidup itu, hanya orang-orang yang bersyukurlah yang merasakannya. Kekayaan, tidak menjamin seseorang hidup bahagia. Tapi kemiskinan pun, biasanya memang buat kreatif juga. CD kami dulu sampai bermotif tambal sulam."


Semua mata tertuju pada Canda, bahkan delikan suaminya memberi kesan horor di dalam suasana tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2