Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM245. Fix menikah


__ADS_3

"Biar junub tiap pagi ada berkahnya, tak karena film aja!" sindir Adinda ketika mendapat lirikan dari anaknya.


"Tuh, enak. Nikah dibiayai orang tua. Ambillah! Kapan lagi coba?" Givan terkekeh kecil dengan menaikturunkan alisnya.


"Nah, setelah nikah kau ikut kerja sama Abang kau. Kau tak mungkin masih jadi ekor Papah aja yang diulah tujuh puluh lima ribu sehari. Meski cukup untuk kau dan untuk istri kau, tapi pasti cuma cukup makan-makan aja. Bukannya membandingkan, tapi contohlah materi yang dicapai kakak-kakak kau," ungkap Adi kemudian.


"Tadi siang pun, Bang Givan ada ngajakin katanya ayo ke rumah furniture. Tapi malah mendekam di sini aku." Gibran pun berniat ingin mencari sisi positifnya dalam bidang usaha apa.


"Tapi tak boleh keluar dari sini ya? Kalian, delapan saudara harus tetap di lingkungan ini. Tak apa nanti Papah pangkas habis tepian ladang sebelah rumah Giska itu, untuk rumah kalian berdua." Adi mengarahkan terlunjuknya pada Gavin dan Gibran.


"Ohh...." Gibran terkekeh kecil. "Pantaslah aku didukung nikah sama orang sini, biar aku tak pergi jauh," lanjutnya dengan melirik kedua orang tuanya.


"Memang kau mau pergi ke mana? Nanti kau mau ngadu ke siapa kalau jauh dari kami?" Gavin menepuk pangkuan adiknya sedikit keras.


Gibran tertawa malu, dengan menutupi wajahnya. "Ya udah tuh, Papah ngobrol-ngobrol aja sama bapaknya Mariam. Kalau masalah rasa sih, ya memang dari dulu hilang timbul. Kalau lagi kesel, capek, dia ribut aja, ya hilang respect. Tapi kalau lost contact karena dia sakit, timbul rasa kangen," akunya kemudian.


"Memang rasa-rasa cinta itu berasanya pas udah tak ada lagi orangnya, Bran. Abang pun dulu gitu, sadar sesadar-sadarnya pas itu." Givan berharap adiknya tak pernah merasa menyesal karena mengabaikan orang yang benar-benar menaruh rasa pada kita.


"Ya itu juga Mariam ngode pas aku jemput dia sidang-sidang kah apa begitu. Katanya, tahun ini aku wisuda nih. Aku udah boleh nikah, gitu dia bilang." Semua orang tertawa, kala Gibran menekan suaranya mencoba menirukan suara perempuan.


"Memang betul tak pacaran kau?" tanya Gavin dengan menyenggol lengan adiknya.


"Tak, Bang. Rutin chatting memang dari pas aku di Brasil aja. Banyak perempuan ngechat juga, lebih banyak pembahasan aku sama dia. Ada aja perdebatan yang mesti diselesaikan, banyak pendapatnya, dia tak mau klik sama aku kalau aku ini benar." Gibran menoleh ke arah kakaknya.


"Ya nanti sih setelah nikah, kau harus bisa cari jalan keluarnya. Jangan sampai debat terus," tukas Adinda kemudian.

__ADS_1


"Ya itu pun selesai, tapi dia maksa dulu kalau dia ini lebih benar. Kata aku, ya udah, ya udah, iya kau benar. Malas aku debat lama-lama, dia tak mau ngalah." Gibran pun berpikir, apa karena mereka sama-sama anak bungsu. Membuat mereka sulit untuk mengalah lebih dulu.


"Tapi setau Papah, dari ceritanya pak Talebnya sih. Cukup nurut si Mariam ini, bahkan cucian baju orang rumah pun dikerjakan dia. Sebelum berangkat kuliah tuh, dia udah selesaikan tugas cuci baju itu. Kan mereka tak pakai asisten rumah tangga tuh, jadi semuanya tuh ya dikerjakan istrinya pak Taleb. Mariam juga setau Papah dari ceritanya pak Taleb, dia ini muat berita juga ya? Bapaknya cerita ke Papah begini, Mariam main laptop mata sampai minus sebelah, muat berita dia ini, berita online gitu." Adi mengatakan apa yang ia tahu dari cerita teman sebayanya.


"Iya, Pah. Blogger, tukan review kosmetik gitu, tapi dalam bentuk tulisan. Entah-entah berpenghasilan atau tak, tapi setidaknya itu perempuan ngehabisin waktu untuk hal yang positif," terang Gibran menurut versi yang ia tahu saja.


"Ya udah, nanti Papah ngobrol sama pak Talebnya. Kau mulai ikut belajar usaha sama Abang kau, Bran. Dia ke mana, kau ikutilah, awal-awal jadi kacungnya dulu tak apa." Adi melirik anak tirinya.


"Pasti aku ajari, Pah. Apalagi, kalau dia datang dan terus terang minta diajarin. Aku pasti bimbing adik-adik aku, aku pasti usahakan untuk masa depan adik-adik aku. Jangankan adik satu ibu, satu ayah, adik ipar aja aku bimbing betul-betul. Cuma kan, memang kalau adik satu ayah, pada udah bawa takdirnya sendiri-sendiri. Mereka tak mau aku arahkan, paling mereka cuma minta bantuan modal." Givan bangkit, hendak melangkah keluar untuk memanggil perawat bahwa kantung infus anaknya hampir habis.


"Terus kau kasih percuma?" Adinda sedikit tidak suka mendengar pengakuan Givan.


Givan mengurungkan langkah kakinya. "Mereka ganti juga, tapi lama, Mah. Apalagi Canda kenal mereka, kasih aja mas, kasian-kasian. Ya aku kasih, Mah."


"Ya tak apa lah, Mah. Hitung-hitung untuk ladang akhirat aku nantinya. Di sana, aku kakak tertua. Di sini, aku kakak tertua. Mana-mana aja, selagi aku bisa bantu." Givan lanjut melangkah, setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Tak usah berlebihan lah, Dek." Adi menggenggam tangan istrinya.


"Ke mana aja saudaranya yang di sana, masa Givan lagi di bawah? Apa ada nanyain kabar, apa ada basa-basi nanyain istrinya hamil belum? Tak ada kok, mereka jauhin betul-betul." Adinda menampakkan wajah tidak sukanya.


Perawat masuk, meminta Adi untuk meletakkan Cani ke brankar karena akan diperiksa lebih dulu oleh dokter saat perawat mengganti infusannya. Seperti biasa, di selang infus itu disuntikkan obat-obatan, agar Cani lekas pulih dari kondisinya.


Tak disangka-sangka, Gavin pulih dan boleh pulang setelah esok paginya. Hanya saja, Gavin perlu menjaga kesehatan dan memperdulikan makanannya agar HB-nya lekas naik. Ia pun diberi wejangan dan resep untuk ia minum sampai tuntas.


Givan hanya sendirian di kamar rawat anaknya bersama anaknya. Semua orang sudah pulang, melakukan aktivitas mereka masing-masing.

__ADS_1


Givan teringat, jika hari ini pun ayah sambungnya memiliki keperluan mengurus Ai di balai desa. Ia khawatir Ai datang ke rumahnya dan menemui istrinya untuk berpamitan. Givan khawatir Ai mengatakan suatu hal lagi, hingga membuat Canda memiliki beban pikiran.


"Ayah, main HP." Cani sudah merasakan bosan di ruangannya.


"Mau lihat apa, Cantik?" Givan menyambar pipi anaknya.


"Telpon kakek, Adek rindu."


Givan tergelak mendengar pengakuan anaknya.


"Tak rindu biyung kah, Dek? Tak rindu adek Cala dan adek Cali juga kah?" Givan mencubit pipi anaknya pelan.


"Rindu, ayo telpon semuanya, Yah." Cani begitu girang dengan menarik-narik tangan ayahnya dan mengayunkannya.


"Oke, oke. Minta doa sama biyung ya? Biar Adek cepat sembuh." Givan langsung menyalakan layar ponselnya.


"Oke siap, Ayah. Cepetan-cepetan, aku mau ngomong sama semuanya." Cani bertambah bersemangat.


"Oke, oke. Mau ngomong apa memang?" Givan melakukan panggilan grup dengan Canda dan ibunya, karena ia tahu ayah sambungnya sedang sibuk sekarang.


"Ngomong, aku rindu...."


Givan tergelak lepas, mendengar ungkapan anaknya. Ia begitu bahagia, melihat anaknya nampak sekali sehat dan ceria.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2