
"Van, boleh minta waktunya tak?" Putri menghampiri Givan yang tengah mengipasi satu porsi seblak milik istrinya.
"Bentar, Put. Tunggu aja di dapur, nanti aku ke sana." Givan masih membantu istrinya yang tengah memakan kuah panas dengan sedikit cita rasa pedas. Givan tidak mengizinkan Canda untuk memakan seblak, dengan tingkat kepedasan yang kuat. Givan trauma Canda diare hebat, lalu dirinya sedang tidak ada di dekat Canda, seperti saat di kamar hotel di Jepara.
"Oh, oke. Ai masih di depan ya?" tanyanya dengan meninggikan lehernya, untuk bisa melihat orang-orang yang duduk di ruang tamu.
Givan dan Canda makan seblak di ruang keluarga. Keinginan ibu hamil ini, tidak ada jatah seblak untuk orang lain. Sedikit aneh memang, Canda ingin orang-orang ngiler melihat makanannya.
"Masih, abis dicek. Lagi nunggu papah, bang Ken mau urus tentang izin Ai di desa, biar dia tak disalahkan pas bawa Ai ke RS." Givan pun melirik ngiler, saat istrinya menyeruput kuah merah tersebut.
"Oh, parah kah? Kenapa dia? Kapan aku bisa ngobrol sama dia?" Putri ikut memperhatikan satu objek di dalam mangkuk tersebut.
"Pendarahan, sering begini. Katanya sih bayinya kena, fetal alcohol syndrome. Dia LC, jadi mungkin dia ngandung dan dia tak tau, jadi alkohol jalan terus. Entah sih, karena benihnya ini berasal dari laki-laki pemabuk. Aku tak paham juga, kata penjelasan medis begitu." Givan berbicara pada Putri, tapi fokusnya pada bibir Canda yang terus bergerak seiring kunyahan mulutnya itu.
"Nyicip dong." Givan mengusap ujung bibir Canda, yang terdapat sisa kuah merah tersebut.
"Tak, Mas lihatin aku dulu." Canda tetap ingin mendapat perhatian penuh, dari seseorang yang begitu menyayanginya itu.
"Kau ngidam aneh-aneh, Cendol! Segala berubah jadi pelit, sawan Adi Riyana keknya," sindir Givan, yang kecewa karena tidak bisa mencicipi makanan yang bukan berasal dari provinsi ini.
"Yang penting jangan sawan Mas." Canda melanjutkan suapan demi suapan.
"Aku betul tak dibelikan kah, Van?" Meski perutnya kenyang sekarang, Putri tetap berminat melihat makanan yang terkenal dengan rasa pedasnya itu.
Givan menoleh sekilas pada Putri. Ia tetap menggerakkan tangannya seirama, dengan anyaman bambu yang berbentuk segi empat tersebut. Givan masih berusaha menciptakan angin sepoi-sepoi, dari kipas manual tersebut. Ia ingin makanan yang Canda makan tidak terlalu panas, ketika sampai di mulut Canda. Ia pun sengaja mengusir keringat istrinya, yang sudah membasahi hijab istrinya yang berwarna coklat susu tersebut.
"Jangankan kau, aku pun tak beli. Padahal aku mampu. Minta Fira gofoodin aja, Put." Givan berharap mendapat satu suapan romantis dari istrinya.
"Hmm, ya udah deh." Putri kembali ke dapur, di mana Fira yang sejak tadi mengajaknya mengobrol dan membantu menyimak bukti dalam dokumen terangkum.
"Fir, disuruh Givan buat gofoodin." Putri duduk kembali di samping Fira.
"Ada bau seblak, memang tak beli banyak kah?" Fira memperhatikan Putri yang baru duduk di sampingnya.
__ADS_1
Putri menggeleng. Ia tidak tahu pasti, kenapa Canda hanya membeli satu porsi saja. Pikir Putri, mungkin hanya tersisa satu porsi seblak di pedagangnya.
"Aku tinggal sebentar deh, aku ke tempat tante Shasha dulu. Balik nanti aku bawa makanan. Ini bocah tak pulang-pulang, khawatir aku." Giliran Fira yang turun dari kursinya.
"Oh, ya udah." Putri mengangguk dan kembali memutar rekaman CCTV yang dipercepat olehnya sendiri, mencari menit yang tertera di bukti-bukti.
"Mau ke mana, Fir?" tanya Adinda yang melihat Fira muncul dari dalam rumahnya.
"Mau jemput anak-anak dulu, Mah. Tak pulang-pulang mereka, khawatir aku." Fira keluar dari rumah tersebut dengan tergesa-gesa.
Tak lama setelah Fira pergi. Adi masuk dengan memperhatikan alas kaki orang-orang yang tergeletak di teras rumahnya.
Tamu siapa? Ia bertanya-tanya sejak tadi. Apalagi, tamu lain yang tidak berada di ruang tamu tidak diketahuinya.
"Kok ada di sini, Ai?" Adi sedikit terkejut dengan keberadaan tahanan mandiri tersebut.
"Makan dulu, Bang." Adinda bangkit dan mengajak Adi ke belakang.
Ia biasa saja, melihat menantu dan anaknya yang tengah bermesraan itu. Keterkejutannya malah berpusat, pada seorang wanita yang tengah konsentrasi penuh tersebut.
"Dek?" Ia menoleh pada istrinya, dengan menunjuk keberadaan Putri.
"Iya, Bang. Abis nengok Jasmine." Adinda menjawab alasan mendasar kemunculan Putri.
"Iya, tapi kenapa dia ada di sini?" Nada suaranya rendah, tapi penuh penekanan.
"Dia mau bantu kaji tentang buktinya Givan dan kebenaran di Ai yang mampu bisa ia baca. Dia sarjana psikologi, selain manajemen bisnis. Tapi masalahnya sekarang, Ken lagi nungguin Abang, dia mau minta temani ke desa, mau minta izin Ai dibawa RS. Butuh penanganan katanya, obat-obatan aja belum bisa bantu. Harus dibantu dengan suntikan dan transfusi darah juga. Di tak tau pasti, karena ilmu tentang ibu hamil itu hanya dasar, tak mendalami kek ilmu bedahnya dia." Adinda memahami, bahwa anak angkatnya itu adalah dokter spesialis bedah. Ia paham obat-obatan, tapi hanya menyangkut umum saja.
"Ya ampun...." Adi geleng-geleng kepala, kemudian masuk ke area dapur begitu saja.
"Udah lama kah, Put?" sapa Adi, karena Putri tidak melihat keberadaannya.
Seketika, Putri menoleh. "Eh, Pah. Iya dari pagi, abis nengok Jasmine." Putri bangkit dan menghampiri Adi, ia mencium tangan Adi kemudian tersenyum ramah.
__ADS_1
Sopan santunnya bisa diadu ketimbang Fira, ataupun perempuan lain. Ia cukup bisa memposisikan dirinya, apalagi setelah kesalahan yang ia perbuat. Ia tidak ingin, semua orang bertambah benci padanya.
"Ohh, gimana keadaan di sana? Sehat?" Adi melupakan, ketika anaknya pernah memberi informasi bahwa orang tua Putri sudah tiada.
"Udah dikebumikan, Pah. Malah, udah datang tahlil tiga bulan pertama." Putri mencoba menahan raut kesedihannya. Selain sedih karena tempat tiga bulan peringatan meninggalnya orang tuanya, ia pun sedih karena tidak mampu menggelar acara doa bersama yang terbaik. Ia hanya mampu menitipkan nama-nama orang tuanya, di mushola yang mengadakan acara tahlilan mingguan khusus mendoakan orang yang telah tiada.
Sebagai bentuk kepeduliannya dan rasa terima kasihnya, ia memberikan beberapa dus air mineral kemasan gelas. Dengan, beberapa bungkus kue kering dalam ukuran satu kiloan.
"Ehh...." Adi menutup mulutnya sendiri.
Setelah mengambil air putih, Adi duduk di hadapan Putri. Sedangkan Adinda, tengah menyusun nasi dan lauk pauk untuk suaminya dalam satu piring.
"Maaf, tak tau." Adi merasa kurang sopan, karena malah bertanya akan hal itu.
Pembawaan Putri yang sopan. Membuatnya balik mendapatkan perlakuan yang sopan dari tuan rumah.
"Tak apa, Pah." Putri tersenyum lebar.
"Maaf ya, Pah? Kalau aku di sini ganggu acara makan siang Papah. Aku lagi cek video pengakuan dan CCTV sekarang." Putri memutar layar laptop Givan yang bisa diputar tiga ratus enam puluh derajat tersebut.
Adi melihat apa yang Putri tunjukkan. Ia manggut-manggut. "Ya, ya, ya. Selagi niat kau baik, lakukan. Kau pasti dapat balasan yang setimpal juga. Ibaratnya, tergantung kau tanam apa. Kau tanam ubi, ya tak mungkin buahnya jadi kecubung juga. Gitu kalau sama keluarga kita. Kau baik, kami seribu kali pasti bisa membalas kebaikan kau. Kau jahat, ya kau bahkan pernah merasakan sendiri balasan kami."
Adi mengingatkan Putri, pada kejadian beberapa tahun silam. Putri tersenyum dan mengangguk. "Iya, Pah. Maaf untuk masalah yang dulu, aku kalau udah berkata, apalagi dalam bentuk perjanjian. Ya harus sesuai ingin aku, Pah." Putri memohon maklum dari Adi, karena memang sifat ambisiusnya yang begitu besar dan sulit dikendalikan itu.
"Ya, semoga tak terulang lagi. Anak kau ada sama Givan. Kita harus saling menjaga untuk itu." Adi menerima piring yang penuh dengan isi tersebut.
"Makan, Put." Adi menawari Putri, sebelum dirinya mulai menikmati masakan istrinya tersebut bersama istrinya.
"Ah Iya, Pah. Silahkan." Putri kembali fokus pada layar laptop yang sudah kembali ke bentuk semula tersebut.
Ia mencatat dalam pikirannya, tentang beberapa kejanggalan yang ia dapat dari pengakuan beberapa orang tersebut. Belum lagi, keterangan Ai dalam kronologis tertulis, begitu berbeda dengan kejadian yang saat itu terjadi.
Putri merasa, jika Givan membawa naik masalah ini ke hukum negara. Ia akan mendapatkan kerumitan lain karena hal ini.
__ADS_1
...****************...