
Zio hanya diam, ia bertahan di tengah perdebatan antara Givan dan Nadya yang tidak setuju dengan keputusan Givan ingin memondokan Zio ke pondok pesantren yang cukup jauh dari daerahnya. Padahal Zio merasa tidak keberatan, ia tahu ayahnya ingin yang terbaik untuk kehidupannya. Bukan seperti yang ibu kandungnya katakan.
"Mas....," seru Canda yang merasa risih dengan perdebatan itu.
"Ya, Canda." Perhatian Givan langsung teralihkan.
"Jangan ribut, aku tak nyaman." Jujur Canda dengan alis yang menyatu.
Givan melirik Nadya, kemudian ia menggenggam tangan istrinya yang berbeda di pangkuan Zio. Suami istri tersebut, terhalang oleh Zio yang duduk dengan bingung.
"Maaf, Canda. Tapi aku rasa suami kau memang bertindak lain ke anak aku." Nadya memelototi Givan tanpa malu.
__ADS_1
"Nadya! Aku cuma tak ingin Zio kek aku atau kau! Apalagi, kalau dilihat dari jejak kehadirannya! Kau harus ingat itu, Nad!" Givan mengacungkan telunjuknya ke arah Nadya.
Zio langsung memikirkan ucapan ayahnya. Siapa aku? Datang dari mana aku? Apa aku adalah sebuah kesalahan orang tuaku? Hati kecilnya bertanya-tanya, tapi ia tak mampu mengutarakannya.
"Kau sadar ya kalau kau ini bukan laki-laki baik, Van." Nadya menggeleng berulang. "Ck.... Kasihan yang jadi istrinya." Ia melirik ke arah Canda.
Pandangan Givan langsung nyalang. Ia tidak suka dijelekkan di depan keturunannya, ditambah lagi Nadya terlihat seperti meledek Canda.
"Bunda pulang aja. Barangnya aku terima, terima kasih. Lain kali, tak usah nengokin aku lagi. Bunda tak perlu buat orang tua aku berantem, dengan kedatangan Bunda ke sini. Ayah udah didik aku dengan baik kok, Biyung udah kasih ilmu yang ternilai untuk aku. Bunda cuma perlu doakan yang terbaik untuk kehidupan aku dan masa depan aku, Bunda tak perlu lihat pertumbuhan aku di sini. Aku udah di tangan orang yang tepat, Bunda tak usah khawatir. Bunda sehat-sehat di sana, Bunda tak perlu pikirkan bagaimana aku, Bunda urus anak Bunda yang lain dengan baik. Bukan aku nolak untuk ketemu lagi sama Bunda, tapi memang menurut aku baiknya Bunda tak nemuin aku. Karena kehadiran Bunda itu, cuma buat aku merasa tak beruntung. Tak beruntung dapat ibu kandung kek Bunda. Kalau tau aku di sini, harusnya dari dulu nemuin aku, kek mamah Fira ke kak Key, atau ammak ke kak Jasmine. Biar kedatangan Bunda itu tunggu-tunggu, entah karena barang yang Bunda bawa, atau karena waktu bersama Bunda. Bukan pas aku besar begini, aku ngerasa asing sama Bunda, aku ngerasa asing sama saudara aku sendiri. Ditambah lagi, Bunda malah buat ribut di sini. Bunda.... Biyung aku lagi sakit, Bunda buat Biyung tak nyaman dengan kehadiran Bunda. Bunda.... Ayah aku udah kasih yang terbaik, Bunda tak perlu sok paling paham tentang aku, karena sifat aku aja kan Bunda tak tau. Bunda udah nyerahin aku ke Ayah, mau aku mati di tangan Ayah, mau aku melebur di tangan Ayah, itu bukan hak Bunda untuk ikut campur lagi. Aku udah nyaman hidup bersama orang tua aku yang sekarang. Maaf-maaf, kalau aku kurang sopan. Tapi tolong, jangan klaim aku anak durhaka. Bunda silahkan pulang aja, Bunda nikmati kehidupan Bunda tanpa harus terbebani untuk ngurus aku." Zio menengadahkan tangannya, mempersilahkan Nadya untuk pergi dari kediaman mereka.
"Oh, jadi kau dididik untuk berani ke orang tua ya? Ck, ck, ck...." Nadya tersenyum miring dengan geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Tak, sama sekali tak dididik untuk berani ke orang tua. Aku disenderin Biyung sampai tangan aku kebas mati rasa, aku tak pernah berani untuk minta Biyung pergi dari lengan aku. Tapi hadirnya Bunda di sini, buat aku banyak berpikir negatif tentang orang tua aku sekarang. Aku tak mau punya pikiran jelek ke mereka, mereka udah tulus didik dan sayangi aku. Aku belum bisa balas budi ke mereka, aku tak punya kuasa selain aku harus patuh sampai kapanpun ke mereka. Tapi, Bunda.... Bagaimana pun tentang orang tua aku di luar sana, aku tak mau dengar kalau hal itu buat aku benci ke mereka. Balas budi mereka aja aku tak bakal mampu, apalagi dengan tak sopannya aku harus marah dan benci ke mereka. Aku tak mau tau kalau Ayah aku pembunuh, perampok atau semacamnya, aku tak mau tau-tau. Itu tak penting untukku dan aku tak mau penasaran untuk itu, aku tak mau itu semua ganggu kepatuhan aku ke orang tua aku. Aku tak mau itu semua ganggu bakti aku ke orang tua aku, urusan orang tua aku, bukan urusan aku. Tapi kelak nanti Ayah ada hutang materi yang tak bisa Ayah lunasi, aku bakal jadi anak pertama yang bakal lunasi hutang Ayah biar Ayah tak sulit di akhirat nanti. Itu akan jadi urusan aku, selain itu aku tak mau tau tentang keburukan Ayah aku di luar sana." Zio memusatkan perhatiannya pada ibu kandungnya, berharap agar maksudnya tersampaikan dengan baik.
"Kau diajarkan ya buat ngomong kek gini?" Nadya tertawa sumbang, Zio merasa tak dihargai dengan tawa ibu kandungnya.
"Tak, malah Bunda kan yang ajarkan Abang untuk banyak ngomong biar nampak akrab ke aku? Hari itu Abang diam aja, hari ini beda betul. Aku tau, Bunda begitu pasti biar aku mau ikut kan? Tak, Bunda. Aku tak mau ninggalin orang tua aku, aku tak mau pergi sekalipun misalnya aku terasingkan di sini. Kelak nanti, aku yakin orang tua aku butuh tenaga aku. Kelak nanti, orang tua aku butuh kehadiran aku. Cukup sekali aja mainnya ya, Bunda? Aku tak mau ada Bunda di sini dan ngomong jelek lagi tentang Ayah, karena percuma aja menurut aku. Seberapa jelek Ayah di luar sana, nyatanya dia tetap Ayahnya aku dan saudara aku, dia Ayah yang udah ngasih makan aku dan saudara-saudara aku. Bunda ngerti tak maksud aku?" Zio sama sekali tidak menaikan nada bicaranya. Ia berbicara dengan nada stabil, tidak terlihat bahwa ia tengah menyiratkan emosinya di sana.
"Begitu ya? Ya udah kalau mau Zio, Bunda tak boleh ke sini lagi. Ini ada kartu nama Bunda, di sini ada alamat rumah Bunda. Zio besar bisa berkunjung ke sana, kalau kangen sama Bunda. Bunda cukup tau diri, Bunda tak akan ke sini lagi kalau itu maunya Zio. Zio sehat-sehat ya? Zio harus bahagia, Zio harus berjaya, Zio harus sukses. Pintu rumah Bunda selalu terbuka untuk Zio, Bunda selalu nungguin Zio datang." Nadya memberikan kartu namanya pada anaknya.
Ada secuil keyakinan dalam benaknya, bahwa perkataan anak tersebut adalah bualan anak saja. Itu hanya pelampiasan anak tersebut, karena tidak suka melihat kehadirannya kali ini. Nadya meyakini hal itu, ia tidak menganggap benar ucapan anaknya.
...****************...
__ADS_1