Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM170. Nasehat dalam cerita


__ADS_3

"Tak pernah ada dalam sejarah Mas Givan cemburu." Canda melirik tajam suaminya.


Givan terkekeh kecil, ia langsung merangkul istrinya. "Oh, ya? Masa iya? Apa iya? Yang benar? Benarkah? Kok aku tak tau ya?" Givan mencubit-cubit pelan pipi istrinya.


Terakhir, Givan mengakhiri sesi kegemasannya dengan menggigit pipi istrinya pelan. Canda langsung memukuli Givan secara acak, kemudian menyeka tempat basah yang berada di pipinya.


"Aku bilangin ke papah!" ancam Canda dengan berlalu pergi.


"Silahkan! Tak takut." Givan menantang Canda.


Drama yang menggelikan itu berakhir. Adinda merasa giginya sampai kering karena mentertawakan hal itu.


"Itu pertengkaran suami istri, Van?" tanya Nafisah polos.


Givan terkekeh geli kemudian memeluk sebuah bantal sofa. "Kusebut dengan drama, karena sehari ada lima kalinya," jawab Givan yang membuat semua orang tertawa lepas.


Dari interaksi tersebut, Ai memahami bahwa kehidupan Givan penuh canda tawa. Tidak hanya air mata yang menghiasi, yang membuat hubungan itu semakin kuat. Tetapi juga ada canda tawa, mengasihi, mengasuh dan mendidik.


Dari sini ia yakin, bahwa keseharian Givan tidak seperti pemikirannya. Yang selalu dipenuhi dengan emosi, kekesalan dan pertengkaran. Givan bisa bergurau bebas, meski dengan istrinya.


"MAS GIVAN!!!!! PULANG!!!!!" teriak Canda dari teras rumah tersebut, ia tidak sudi suaminya lama-lama bersama Ai. Ia cemburu dan panas hati, melihat suaminya berkumpul bersama Ai.

__ADS_1


Jika memang benar suaminya masih mencintai Ai, seperti apa yang ia pikirkan. Ia berpikir, lebih baik ia menjadi penghalang bagi keduanya. Terutama, suaminya. Ia tidak ingin kehilangan suaminya yang amat ia cintai, ia ingin sedikit memaksakan kehendaknya di sini.


Givan melirik ke Awang. "Nanti aku telepon kalau Canda kasih kelonggaran." Givan bergegas pergi.


Awang mengangguk dan menyaksikan Givan berlalu pergi. Mereka berpikir, bahwa Givan memiliki pekerjaan lain. Tidak dengan Adinda, yang paham tentang bagaimana menantunya.


"Mau pergi kali ya, Mah?" tanya Nafisah dengan memperhatikan Adinda.


Adinda menggeleng. "Tak ada jadwal pasar malam."


Nafisah menoleh ke arah suaminya, ia malah bingung dengan jawaban Adinda. Mereka tidak mengerti, apa hubungannya pasar malam dan sepasang suami istri tadi.


"Maksudnya gimana, Mah?" Awang mengajukan pertanyaan meminta penjelasan dari kalimat Adinda.


"Maksudnya, apa hubungannya pasar malam dan mereka gitu, Mah? Apa mereka penyedia tempat kah, atau pengelola acara?"


Adinda tergelak lepas, setelah mendengar kata yang keluar dari mulut Awang. Ia baru mengerti, ternyata Awang masih belum memahami.


"Tak ada hubungannya sama itu semua. Mereka real jalan-jalan dan jajan aja. Cuma, ya Canda memang rutin minta ke sana. Jarang dia minta ke minimarket, atau ke swalayan besar jalan-jalan nge-trend gitu. Dapat makanan, ya udah masuk lagi ke rumah. Di rumah aja itu sebenarnya Givan sama Canda itu, sama anak-anaknya, ngobrol, ibadah, segala macam. Jadi, tadi mereka pulang dari sini tuh. Ya mau ke rumah aja, pulang, ngumpul." Adinda memperjelas semuanya.


"Ohhh......" Nafisah manggut-manggut. "Tapi gak bosan atau gimana gitu ya, Mah? Hiburannya sederhana banget, cuma pasar malam aja." Di pikiran Nafisah, hiburan orang-orang kaya seperti Canda dan Givan adalah mall besar.

__ADS_1


"Tak bakal bosan, dengan drama-drama dari Canda. Berantem kecil, nanti akur lagi begitu. Jadi tuh, keseharian mereka lebih berwarna gitu. Kek tadi aja, Givan udah cemburu, marah kek gitu, tapi akhirnya bergurau lagi," ungkap Adinda dengan melirik Ai.


"Kalau dari segi pemahaman aku, Canda ini kaya gak ngerti ya kalau Givan lagi cemburu. Ayo lanjut terus ngomongin laki-laki yang bersangkutan kek tadi, sampai Givannya kaya murka sendiri." Awang yang dewasa, bisa menyimpulkan bahwa Givan benar-benar cemburu.


"Memang laki-laki cemburu kaya gitu apa, A?" tanya Nafisah dengan menyentuh lengan suaminya.


Awang mengangguk. "Laki-laki cemburu itu ngamuk, kaya perempuan aja kalau cemburu itu malah cari gara-gara. Ditanya, jawab terserah. Dipilihkan, jawabnya aku gak mau ini. Serba salah kan gitu ngambeknya? Kalau laki-laki, ya lebih cenderung murka. Ngamuk terus mulutnya itu sok kasar gitu, biar perempuannya nangis atau tersakiti." Awang adalah laki-laki, ia memahami sepak terjang para kaumnya.


"Ohh, kalau Aa marah-marah karena ada mas Ade juga gitu berarti?" Nafisah sering mendapati pertengkaran mereka, jika setelah kedatangan tamu tersebut.


"Aku marah karena kamu susah dibilangin. Dibilang jangan suka ngutang ke Bank keliling, ngutang lagi ke mereka, sudah dibilangin." Awang mencubit pelan pipi istrinya.


Nafisah tertawa lepas. "Eh, aku kirain cemburu?" Ia merasa malu sendiri karena sudah amat percaya diri.


"Campur, cuma laki-laki tak mau ngakuin kalau dia cemburu." Adinda cukup paham dengan tabiat laki-laki.


"Memang begitu ya, Mah? Aku sama A Awang pun, rasanya gak pernah cinta-cintaan di rumah tuh. Apalagi aku mikirnya, anak udah besar. Yang penting bapaknya gak macam-macam aja, Mah. Bapaknya masih cinta sama aku atau gak, ya aku gak begitu mikirin. Karena nyatanya, A Awang masih pulang ke aku. Ibu aku pernah nasehati soalnya, Mah. Katanya, sekalipun suami ngelakuin hal yang macam-macam di luar rumah. Selagi dia pulang dan ngutamain anak istri, ya gak perlu minta cerai. Karena biasanya kegilaan suami di masa dia lagi gelap mata begitu, ya gak bakal lama. Terbukti dari dia masih ingat ke anak istrinya, ya berarti suami kita ini masih mau sama-sama sama kita gitu. Beda kalau suami udah KDRT begitu, orang tua aku bilang, rumah mereka itu selalu terbuka untuk anak perempuannya. Bapak pun masih jadi wali anak perempuannya yang udah menikah, jadi masih punya hak kalau anak perempuannya terluka."


Awang memerhatikan istrinya yang sedang bercerita tersebut. Ia baru tahu hari ini, ternyata istrinya tidak memahami rasa cintanya yang ia berikan dengan waktunya. Ia selalu buru-buru pulang ke rumah untuk menemui Nafisah tanpa nongkrong bersama teman, atau sebatas ngopi saja. Semata-mata, karena ia rindu beberapa hari tidak bertemu istrinya, karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan ia meninggalkan istrinya untuk beberapa hari.


"Ya setau Mamah sih gitu, soalnya papah Adi begitu. Kalau ayahnya Givan, dia hampir cuek kelewat tak peduli. Entah Mamah yang tak pernah macam-macam, jadi dia tak punya waktu untuk cemburu. Entah karena memang, dia udah tak cinta ya Mamah tak tau juga. Intinya tak pernah marah-marah, hubungan cenderung adem tanpa masalah. Tapi justru itu yang bahaya, hubungan yang adem tanpa masalah itu biasanya ada masalah besar di sisi lainnya yang belum terungkap. Jadi, mending aja gitu kalau suami istri sering cekcok tipis. Karena mereka lagi mengasah perasaan masing-masing, biar semakin kuat ikatan pernikahan mereka ini. Mamah juga pernah ada anak yang rumah tangganya adem ayem, tak taunya dia punya istri lain. Dibuat sadar, karena hanya istri resmi yang jadi menantu mamah itu yang selalu ada di setiap keadaannya, mau dia susah atau senang. Tapi, malah bertingkah segala minta izin poligami secara resmi. Ya meski pernah begitu berantakan, tapi tak sampai bercerai kek Mamah dulu. Mereka rujuk secara agama dan punya anak lagi, yang barunya malah ditinggal. Karena dia sadar kan gitu, yang baru ini ada di saat dia senang aja. Dia kaya, dia punya segalanya, ya yang baru nempel terus. Di masa di miskin, sampai air pun tak ada, ya cuma yang tua yang ngerti dan malah bantu dia cari nafkah. Jadi yang perlu was-was adalah, kalau rumah tangga tak ada pertengkaran. Udah tuh, tiba-tiba serangan jantung aja." Adinda menyelipkan nasehat dalam ucapannya.

__ADS_1


"Jadi, maksud Mamah itu a Givan dan Canda ini saling cinta?" tanya Ai yang mengambil perhatian mereka semua.


...****************...


__ADS_2