
"Iya, dia pakai dan dia bayar senilai digit yang Ai minta. Aku tak bilang kalau Ai hamil, nanti dia bisa kabur. Aku tanya-tanya aja berapa orang gitu. Tapi ternyata, dia juga pergi setelah selesai pakai Ai. Jadi pas aku bilang Ai ada komplain masalah upah, dia kata ya aku tak tau, uang kau udah aku bayarkan, ditambah juga sepuluh juta dari aku. Aku nanya-nanya di situ, tanpa buka kenyataan bahwa Ai hamil. Bisa mendadak tak mau respon lagi si Farhad ini, soalnya dia pun ada anak istri." Givan berterus-terang mengenai informasi yang ia dapat.
Canda yang hanya mendapatkan informasi dari pendengarannya pun, menyimak dengan seksama cerita tersebut. Ia harus pandai mencari kebenaran dalam pengakuan tersebut, ia pun harus bisa menyimpulkan mana yang benar dan salah.
"Aslinya ada berapa orang? Kemungkinan Ai dipakai berapa orang?" Canda mengajukan pertanyaan ringan.
"Ada enam orang sama aku. Aku, Farhad, Setiawan, tiga orang lagi tak aku kenal. Tapi, mereka udah lumayan parah mabuknya. Entah-entah, mereka panggil teman, untuk pakai Ai. Entah-entah, cuma mereka aja. Entah-entah, cuma beberapa dari mereka. Atau Ai main dengan pacarnya dan sengaja hamil anak pacar yang, terus ngakunya sama aku." Givan pun jujur di sini.
"Pacarnya itu siapa?"
Givan terkekeh kecil, ia merasa otak lugu istrinya mulai lagi.
"Mas bukan?"
Kekehan Givan langsung sirna. Ia kira, Canda tidak sedang menuduhnya.
"Gimana caranya aku pacaran sama orang. Kalau di mall aja pun, kau nunggu aku di depan toilet, kalau aku izin ke toilet. Kapan coba kita pisah-pisah? Kau berani ninggalin anak loh, masa Cani masih ASI dan kau harus dadakan ikut aku ke Singapore dan keadaan telinga Cani lagi dilarang untuk ikut penerbangan. Kita sampai segitunya loh, Canda. Aku mana ada waktu untuk perempuan lain, waktuku dipenuhi dengan kita sama-sama."
Anak mereka yang bernama Cani itu pernah mengalami infeksi telinga ringan, ketika tak sengaja kemasukan air saat mandi. Namun, sekarang anak begitu mirip dengan Canda bahkan sifatnya pun sudah sembuh dan tumbuh dengan sehat.
Benar, Canda membenarkan ucapan suaminya. Mereka selalu bersama, jadi kapan Givan memacari Ai.
"Berarti Mas bukan pacar Ai?" Canda memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Bukanlah, ngaco aja ini." Givan membingkai wajah istrinya, kemudian mencium bibir istrinya sekilas.
Ia langsung terlihat sehat, setelah perutnya terisi dan Canda menemaninya sejak tadi.
"Mas pernah cium bibir dia?" Canda mengusap bekas saliva suaminya yang menempel di permukaan bibirnya.
Ia tetap membayangkan hal jijik itu, ketika suaminya cukup berlebihan menyerangnya. Meski ia tahu, jika suaminya tertular penyakit dari Ai sejak dulu. Ia pun pasti akan tertular juga, karena mereka selalu bersama ketika kebenaran tentang Ai belum terungkap.
"Mana ada. Bibir ini pernah, pernah aku gigit juga." Givan menyentuh bibir istrinya yang memiliki pewarna berwarna kacang itu.
"Aku serius, Mas." Canda mengenyahkan tangan suaminya.
Ia bahkan memundurkan posisinya, karena mereka terlampau dekat.
"Apa untungnya buat aku?" Canda gengsi untuk mengatakan bahwa dirinya amat penasaran. Namun, lebih dari itu ia khawatir akan dirinya yang tidak siap mendengarnya.
"Tak ada, mungkin kau bakal lebih tak percaya sama aku. Aku tak tau, kenapa kau jadi gini. Tapi aku tak suka, kau tak percaya begini. Aku udah jujur, aku udah transparan, tapi masih tak dapat kepercayaan dari kau juga." Dalam ucapannya ini, harapannya besar agar Canda bisa percaya lagi padanya.
Canda menatap dalam netra suaminya, netra hitam pekat yang membawanya sadar ke alam nyata itu. Ia harus menghadapi ini, tapi ia takut untuk menghadapi ini. Ia mengingat lagi segala hal yang mendiang mantan suaminya berikan padanya lewat mimpi, ia merasa bahwa dirinya sudah mencoba menjadi kuat dan tidak kabur dari masalah sesuai saran tersebut. Tapi, akankah ia kuat jika kebenaran semakin menyakitinya.
"Aku tau sifat asli, Mas. Jadi gimana caranya aku harus percaya tentang masalah sebenarnya, yang buat aku percaya sama Mas." Canda terlalu berbelit-belit menurut Givan. Sedangkan, laki-laki pemilik usaha terbanyak ketimbang saudara yang lainnya pun tidak memahami maksud yang Canda katakan.
"Kau percaya, aku benar-benar hamili Ai? Apa kau percaya, tentang semua orang-orang katakan ke kau?" Givan mencoba mengupas semuanya satu persatu.
__ADS_1
Canda menggeleng. Lebih dari itu, masalah dasarnya yang membuat Canda ragu. Satu alasan, yang melebar ke mana-mana. Tentang perasaan Givan, yang menurut Canda tak pernah padam untuk Ai. Ia percaya bahwa suaminya masih begitu mencintai Ai.
Fakta-fakta yang sebenarnya pun, membuatnya tak percaya. Karena ketidakmungkinan itu bisa terjadi, dengan cinta Givan yang masih utuh di dalam hatinya untuk mantan kekasihnya. Hal-hal ini, membuat Canda menjadi bingung untuk percaya atau tidaknya.
Karena keyakinannya akan suaminya yang masih mencintai mantan kekasihnya itu, membuat semua fakta menjadi salah di mata Canda. Kebenaran yang sesungguhnya, malah bermakna bahwa suaminya tengah mencari pembenaran atas kesalahannya.
"Terus kenapa? Terus aku harus gimana?" Canda menarik tangan istrinya, untuk memeluknya yang tak mengenakan kaos tersebut.
Canda kembali menggeleng. Ia begitu ragu, untuk menanyakan akan perasaan sesungguhnya dari suaminya. Karena berpuluh kali ia bertanya, pengakuan suaminya selalu membingungkan. Membuatnya mengambil asumsi sendiri, bahwa Givan masih tidak bisa mencintainya.
Padahal jika dilihat dari buktinya, Givan begitu menggilainya. Rasa cinta Givan bahkan membelenggu Canda, agar bisa selalu bersamanya. Rasa sayang dan kasihnya, malah tak pernah ingin untuk membuat Canda kesusahan kedepannya. Hanya saja, Givan memang tak pernah mengatakannya karena ia yakin Canda akan menyepelekannya.
Givan trauma akan dirinya yang direndahkan dan disepelekan, ketika sang wanita tahu bahwa Givan begitu mencintainya. Hal itu, tak pernah ia ulang untuk merendahkan dirinya sendiri.
Terbukti dari beberapa banyak air matanya untuk Canda, tapi tidak pernah terjatuh untuk perempuan lain. Hanya Canda yang bisa membuatnya menangis seperti anak kecil, tidak dengan sekian banyak perempuan yang pernah singgah atau hanya menjadi mainannya saja.
"Mas benar, sebaiknya keknya kita harus bareng-bareng dulu." Canda mengoper pembahasan mereka, tentang hal lain yang mereka bahas sebelumnya.
Mendengar mereka akan bersama lagi, membuat Givan seketika lupa dengan sejengkal kenyataan yang sebentar lagi akan terkuak tersebut. Sayangnya, tak pernah terbesit di pikirannya bahwa Canda menginginkan kata cinta darinya.
Ia berpikir, Canda paham akan semua bukti cintanya. Tanpa ia mengatakan cinta pada Canda. Givan memiliki pemahaman yang berbeda dengan Canda.
...****************...
__ADS_1
Berapa episode masih di ranjang aja, Ya Allah ðŸ˜