
"Hallo, Pah. Minta orang untuk fogging kampung kita, di area PAUD tempat Cani sekolah juga."
Sontak, Adi panik mendengar ucapan anaknya dalam panggilan telepon tersebut.
"Siapa yang kena nyamuk? Kau di mana?" Suara panik Adi tidak bisa tersamarkan.
"Cani kena DBD, Pah." Bibir Givan sudah bergetar, tapi ia mampu menahan tangisnya.
Ia harus memberikan semangat dan kekuatan untuk anak perempuan yang ia dekap ini. Ia meminta pihak rumah sakit, untuk mengusahakan penyembuhan untuk Cani. Meski dokter mengatakan, bahwa gejala yang Cani alami tidak begitu serius. Namun, ia tetap saja khawatir hal itu merenggut nyawa anaknya.
"Astaghfirullah, cucu Papah." Hati Adi rasanya mencelos.
Anak perempuan yang pagi tadi ia gendong-gendong dalam kondisi demam itu, rupanya tengah tidak baik-baik saja sekarang.
"Percuma fogging banyak, Van. Lingkungan rumah kita dikelilingi lahan kopi." Adi berpikir, jika nyamuk yang berbahaya itu tetap akan terbang meluas. Meski, tempat tumbuh kembangnya di dalam area ladang.
"Fogging titik-titik yang biasanya nyamuk sembunyi di area ladang juga. Papah tolong carikan orang, aku yang cover biayanya." Givan khawatir tidak hanya Cani yang merasakan hal ini. Ia takut warga kampung yang kurang mengerti untuk penanganan DBD, malah membiarkan demam pada anak-anak mereka.
"Iya, iya. Kau tenang aja, Papah langsung gerak cari orang. Kau di mana sekarang?" Adi bergegas keluar dari area masjid.
Ia masih sibuk menemani keluarga Ai yang menunggu Ai pulih dari rasa pedas tersebut.
"Rumah sakit, Pah. Jangan kasih tau Canda, Pah. Biar nanti aku pulang dan kasih tau Canda sendiri." Givan khawatir informasi dari mulut orang lain, akan membuat istrinya histeris seketika.
"Iya, oke." Adi paham tabiat menantunya. Ia cukup mengerti maksud anaknya, untuk tidak memberi informasi itu pada Canda.
"Udah dulu, Pah. Assalamualaikum." Givan langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari salamnya.
Ia mengayun kembali tubuh Cani dalam kasih sayangnya. Tadi, anak itu tidak rewel sama sekali. Namun, setelah terpasang infus. Cani begitu rewel, dengan melulu menangis.
__ADS_1
Kamar rawat yang sesuai dengan inginnya. Gavin dan Cani dalam satu ruangan yang sama, hanya saja dalam brankar yang berbeda.
Gavin diketahui tidak memiliki indikasi penyakit khusus. Namun, tekanan darahnya dan HB-nya begitu rendah. Gavin tengah terus diberikan suntikan khusus, agar ia lekas bertenaga kembali.
Kondisi yang tidak begitu mengkhawatirkan, maka dari itu pihak rumah sakit mengizinkan Gavin untuk pindah ke ruang khusus anak-anak tersebut.
Gavin dan Gibran tengah terlelap di siang hari ini, Givan tidak berani membangunkan Gibran untuk menjaga Cani sementara ia pulang. Ia paham adiknya banyak begadang, karena menonton tontonan dewasa di malam hari. Ia akan membangunkan adiknya, jika ia merasa adiknya sudah cukup untuk beristirahat. Setelah itu, ia berniat bergegas pulang untuk bercerita pada Canda dan mengambil beberapa keperluannya dan adiknya. Ia pun berniat meminta Gibran untuk menemaninya dan membantunya di sini, karena hanya Gibran untuk tidak memiliki tanggung jawab di rumah.
Sore itu juga, dilakukan penyemprotan di satu kampung tersebut. Dengan pemberitahuan untuk terburu-buru, kegiatan fogging cukup mengganggu aktivitas warga. Beberapa dari mereka, terus bertanya kenapa diadakan fogging dadakan. Sebagian dari mereka lagi, menanyakan tentang biaya untuk fogging ini yang khawatirnya dibebankan pada mereka.
Canda pun terlihat bingung, karena fogging sampai menjamah halaman belakang dan samping rumahnya. Bahkan, area tepi ladang pun tak luput dari aktivitas fogging tersebut.
Sampai akhirnya kedatangan suaminya yang nampak lelah, membuat Canda kebingungan karena suaminya hanya datang seorang diri.
"Mana Cani, Mas?" Canda masih ingat jelas, jika anaknya yang tengah demam itu dibawa oleh suaminya.
"Sini masuk." Givan merangkul istrinya untuk masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Mas?" Canda bertanya-tanya sedari tadi.
Canda tidak berpikir sama sekali, jika kegiatan fogging tadi berhubungan dengan anaknya. Ia mencoba menanamkan pikiran positif, bahwa kegiatan fogging tadi adalah bentuk promosi dari caleg.
"Kau jangan kaget." Givan membawa istrinya untuk duduk di tepian ranjang mereka.
"Ada apa, Mas?" Perasaan Canda mulai tidak enak.
"Kau jangan kaget, aku tak pulang ya malam ini?" Givan menggenggam tangan istrinya.
"Kok tak pulang? Ada apa?" Tidak sengaja, Canda malah memikirkan bahwa suaminya akan mengantarkan Ai pulang ke kampung halamannya. Karena tadi, ia sempat melihat Ai berada di rumah mertuanya.
__ADS_1
"Cani dirawat di rumah sakit." Givan menjawab dengan satu tarikan napas.
"Loh?" Canda tidak bisa menyembunyikan reaksi terkejutnya.
"Aku nemenin Cani di sana ya? Dia kena DBD," ungkap Givan perlahan.
"Ya Allah....." Suara Canda langsung menurun dengan tubuh yang ia rada mendadak lemas.
"Minta ibu nginep di sini ya? Kau malam ini minta ibu bantu bangunin kau ya? Nanti aku kabarin terus perkembangannya, aku sering-sering telpon kau." Givan mencoba menghantarkan ketenangan untuk istrinya.
"Kok bisa dia kena DBD? Dia kena di mana, Mas?" Canda gemetaran menangis tergugu mengkhawatirkan anaknya.
"Tak tau, binatangnya terbang. Dia kan cuma di PAUD sama di rumah aja, tapi kan binatangnya terbang-terbang. Kau di sini aja ya? Sering-sering kasih minyak telon untuk Cala-Cali, infokan anak-anak suruh pakai lotion anti nyamuk. Kau pun jangan lupa pakai lotion anti nyamuk." Givan menghapus air mata istrinya.
"Mas juga ya?" Canda memeluk suaminya.
Ia tidak mengerti, kenapa hidupnya selalu saja ada masalah. Tidak masalah tentang hati ataupun pikiran, tapi permasalahan dengan kesehatannya dan kesehatan anak-anaknya. Ia tidak merasa berbuat dosa yang amat besar, tapi ia merasa hukuman seolah datang terus menerus untuk mereka.
Apa ibadahnya kurang? Apa sedekahnya kurang? Apa ia kurang mentaati perintah agama? Atau, ia kurang patuh ada suaminya? Pertanyaan itu kian bermunculan, terus berspekulasi bahwa masalah yang datang adalah bayaran dari semua dosa-dosanya.
"Aku bawa beberapa barang ya? Aku tinggal di rumah sakit untuk sementara. Aku bakal kangen kau, kangen anak-anak. Kau jaga diri ya, jaga anak-anak juga sementara aku tak bisa jaga kalian karena Cani butuh salah satu orang tuanya hadir di dekatnya. Bantu doa ya, Canda?" ungkapan Givan begitu dalam.
"Iya, Mas. Mas jangan khawatir. Mana yang Mas perlukan? Biar aku bantu." Canda mencoba memasang senyum untuk memberi suaminya semangat.
"Tolong siapin aja pakaian aku sama pakaian Cani. Aku ke mamah dulu ya? Gibran nemenin aku di sana, terus juga Gavin dalam perawatan rumah sakit juga." Givan meloloskan bajunya.
Ia sudah mandi di sana, tapi ia belum berganti pakaian.
"Loh, Gavin kenapa lagi?" Bertambah kekagetan Canda mendengar kabar lain dari suaminya.
__ADS_1
"VAN..... GIVAN...." Panggilan keras mengalihkan perhatian mereka.
...****************...