Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM224. Hadiah perhiasan


__ADS_3

"Satu dua bulan, dia diam, aku berharap dia masih nunggu untuk aku rujuki. Nyatanya, di bulan dia habis masa iddah agama. Dia bilang, aku mau balik sama bapaknya Elang, ternyata kita cuma salah paham aja, karena bapaknya Elang itu nganggur, bukannya niat sengaja tak mau kasih nafkah pas kemarin. Ya udah, aku berpikir pun mungkin ada accident dia keguguran atau gimana. Karena dia tak pernah bahas tentang kehamilannya lagi, jadi aku tak tau dia ternyata masih hamil begini. Kalau aku masih bisa diajak komunikasi baik-baik, buat apa coba dia sampai buang anak? Aku berpikir, dia ini memang ngerasa bersalah. Sampai tak berani nampakin batang hidungnya lagi. Kalau dia bilang, ini aku melahirkan, anaknya tolong diambil. Entah di DM, inbox gitu kan, ya aku pasti datang untuk ambil anaknya. Bukannya main taruh di teras aja." Kekecewaan Gavin dan kemarahannya bersatu, jika teringat akan tragedi datangnya anaknya tanpa kabar apapun.


"Sifat kau yang mana, sampai buat dia mudah betul lepasin kau?"


Gavin menoleh cepat dengan mengerutkan alisnya. Ia tidak percaya dengan ucapan kakak iparnya.


"Kok begitu sih, Kak? Memang nampak di mata Kakak ini aku gimana?" Gavin merasa dirinya sudah baik memperlakukan Ajeng. Jadi jelas ia komplain, mendengar penuturan kakak iparnya.


"Kasar, tak nurut, dikasih perintah harus lebih dari satu kali. Suka ngegas aja kalau ngomong, sorot matanya tak sopan kalau marah. Masa dimarahi itu malah balik melototi. Plus songong juga, kek mampu bisa sendiri. Padahal, mentah ke mana-mana. Mungkin kau begitu juga ke pasangan kau. Kek abang kau. Cuma Kakak tak ninggalin dia, karena Kakak cinta aja. Dia mau berubah, rasa sayangnya ke anak tak ada taruhannya." Canda berpikir, memang sudah seperti sifat turun temurun dari keluarga ini.


Ia teringat suara ayah mertuanya ketika mengamuk. Sudah mengalahkan suara halilintar yang mengagetkan dan begitu keras.


"Aku tak begitu." Gavin mengelak.


"Kan yang bisa nilai diri kau itu cuma orang lain yang berinteraksi sama kita. Itu pun, hanya sebatas sifat yang Kakak tau dari kau kecil. Sifat-sifat kau ke pasangan, ya Kakak tak tau. Bisa jadi lebih buruk, atau lebih baik. Mana tau, salah satu sifat itu buat Ajeng milih pergi." Canda susah merasa ASI-nya penuh dalam dadanya.


"Yuk ke rumah. Kau perlu tenangkan pikiran, kau butuh suasana baru." Canda menepuk pundak adik iparnya.


"Kalau aku datangi Ajeng aja gimana, Kak?" Gavin mengharapkan suatu penjelasan dari Ajeng, agar ia mampu menerima semuanya.


"Shtttttttttttt.... Shtttttttttttt.... Cendol...."


Gavin dan Canda langsung mencari sumber suara. Mereka melihat Ghifar berada di ambang pintu halaman belakang tersebut, hanya kepalanya saja yang melongok dari sana.


"Apa kau?" tanya Canda dengan memperhatikan wajah Ghifar yang berseri-seri.


"I miss you...." Ghifar menunjukkan isyarat saranghaeyo dengan jarinya ke arah Canda.


Canda langsung terkekeh, dengan Ghifar yang tertawa geli. Seiring dewasanya Gavin, ia baru tahu ternyata kakak sulung satu ayahnya adalah mantan kekasih kakak iparnya.


"Miss you too...." Canda melemparkan ciuman jarak jauh dengan telapak tangannya.


"Nih, emas. Mana Cala?" Ghifar menunjukkan kotak perhiasan berukuran cukup besar di tangannya.

__ADS_1


"Di rumah, sama mas Givan." Canda menunjuk ke arah rumahnya berada.


"Tak ada eh. Ke ibu kah mereka?" Ghifar menggaruk kepalanya.


"Keknya sih, aku belum pulang." Canda pun tidak tahu pasti keberadaan suaminya.


"Ini nih, Far," seru Adinda membuat Ghifar menarik kepalanya dari sana.


"Kakak mau ambil Cala dulu, mau ASIkan dia." Canda bangun dengan terburu-buru.


"Ati-ati sih, Kak." Gavin teringat akan Canda yang baru pulih.


"Ya ampun, toko emas berjalan." Canda geleng-geleng kepala, melihat Cali yang berada di dekapan ibunya, penuh dengan perhiasan. Canda yakin, Cali mendapatkan itu pun dari Ghifar.


"Canda, ASIkan nih. Tadi aku bawa tiga kantong ASIP ke rumah, udah habis tadi. Masih kelabakan aja nih dia." Givan berjalan mendekati istrinya.


"Sini dulu sih, mau dipakaikan juga." Ghifar pun menghampiri Canda.


"Nanti sih, Far. Mau diASIkan dulu." Givan tidak mau adiknya melihat pabrik ASI istrinya.


"Tenang aja sih, Bang. Udah pernah kok." Tubuhnya langsung terhuyung, karena Givan langsung mendorong pelipis Ghifar.


Ghifar tertawa lepas, dengan melihat ke arah Canda. Canda pun, ikut tertawa geli melihat reaksi suaminya.


"Kok emosi aku, kalau dengar Canda udah kau cicipi?" Givan melirik sinis pada adiknya.


"Orang cuma nyaplok aja." Ghifar hendak memasangkan satu perhiasan ke kami Cala. Namun, ia malah mendapat tarikan pada telinganya lebih dulu.


"Abang kau begitu, mulut kau lancar terus ngaku. Panas hati dia, Far." Geli bercampur tidak percaya Adinda melihat cara anak menantunya bergurau.


"Ck..... Udahlah! Orang udah juga. Masa mau diulang?"


Givan langsung memelototi Ghifar, dengan satu kakinya yang ia hentakan ke tanah. Ghifar langsung kalap, ia takut dipepes oleh kakaknya. Ia langsung menaruh kotak perhiasan itu di atas perut Cala, kemudian ia mengambil langkah seribu.

__ADS_1


"Kurang ajar!" maki Givan lirih.


"Banyak betul ini Ghifar kasih." Canda melipir untuk duduk di sofa ruang keluarga, dengan membawa sekotak perhiasan yang Ghifar kasih.


"Aca dimabuk emas. Kalau beli emas itu, udah macam kek beli untuk denda. Tak nakal dia belanja-belanja sih, tapi sekalinya beli perhiasan itu habis ratusan juta." Adinda baru tahu ternyata salah satu menantunya ada yang seperti itu.


"Ya itung-itung investasi jangka panjang, Mah. Daripada kek Cendol, mabuknya barang online." Givan mendekati istrinya dan ibunya yang duduk di kursi.


"Eh, lupa. Itu, Mas. Gavin di belakang, sana ajak ngobrol dulu." Canda mengusap lengan suaminya.


Namun, ia merasa ada godaan lain ketika menyentuh lengan suaminya. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Ia tiba-tiba ingat mendapat kesempatan untuk berdua di ranjang mereka, karena teringat gagahnya lengan suaminya ketika menopang tubuhnya di atasnya.


"Biar nanti suruh ke aku sendiri aja." Givan mendekati anak perempuan yang berada di dekapan ibunya.


"Kak Ifa mau dipanggil lagi tak ya, Mah? Kak Ifa, sama Aliyah tuh. Soalnya Zio udah mau mandiri juga, pengen kek bang Chandra katanya. Devi udah nyaman di sini, toh masa Mamah tak ada yang bantuin, kalau Devi aku tarik lagi?" Givan sudah memikirkan untuk mengambil dua pengasuh untuk membantunya mengurus dua anak bayi tersebut.


"Mau pastinya sih, Van. Dia malah minta kerjaan sama Mamah, bingung sih dia mau apa, suaminya udah tak ada, dia tak punya anak juga." Yang Adinda bicarakan adalah pengasuh Key.


"Nanti telponin, minta dia balik ke sini, Mah. Biar aku sama Canda ada yang bantu-bantu gitu." Givan tertawa kecil saat mengatakannya.


"Biar ada waktu berdua gitu ya?" tanya Adinda yang langsung mendapat anggukan dan tawa kecil dari Givan.


"Ikut KB dulu. Diingat, Van." Adinda khawatir menantunya kembali hamil karena ulah anaknya.


"Iya, Mah. Nanti kalau Canda udah empat puluh hari, aku ke rumah sakit kota, mau ikut KB suntik." Givan lebih mantap untuk melakukan KB tersebut.


"Hmm, pernah papah tuh. Down betul, Van. Jadi sulit untuk berdiri." Adinda membagi pengalamannya.


"Ya tak apa gitu kan? Jadi aku bisa lebih jarang." Givan berpikir itu tidak masalah, karena ia pun nantinya akan repot untuk urusan pekerjaan di awal Canda selesai nifas.


"Ya tak bisa gitu sih, Mas!" Komplain Canda, langsung ditanggapi dengan tawa Adinda.


Adinda dan Givan paham, jika Canda masih membutuhkan itu dan masih menggebu-gebu karena usianya tengah panas-panasnya. Bisa dikatakan, puber kedua perempuan datang di usia tiga puluh lima tahunan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2