
"Ibu Syura tak akan buat kau jadi makanan, Van." Adinda menepuk pundak anak sulungnya.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Kenandra. "Tak semua ibu sambung itu menyeramkan, Ken. Tak sedikit, ibu kandung yang bunuh anaknya sendiri. Tergantung bagaimana orangnya dan bagaimana nasib kita. Mamah sengaja ambil Givan dari ayah kandungnya dan perjuangkan hak asuhnya, karena Mamah tau tabiat ayah kandungnya. Papah Hendra itu doyan perempuannya luar biasa. Mamah berharap dengan Givan sama Mamah, Mamah bakal bisa besarin anak laki-laki yang baik. Karena khawatirnya Mamah, kalau dia ikut papah kandungnya, dia bakal jadi manusia yang b*******. Ternyata, ya sama juga. B*******-b******* juga." Adinda terkekeh sumbang.
"Aku cuma takut, Mah." Kenandra tertunduk dengan menekan matanya. Ia khawatir Bunga tidak beruntung sepertinya, ia khawatir nasib Bunga bahkan lebih buruk darinya.
"Kalau perempuannya Putri, ya mungkin. Tapi itu kan perempuannya Ria, kan? Apa mungkin Ria begitu?" Adinda mencondongkan posisi duduknya, karena merasa pinggangnya cukup lelah.
"Awal, memang tak mungkin. Kek bunda dulu, waktu belum ada anak dia kek yang urus ke kami. Tapi, begitu anak kandungnya lahir. Dunia kita, aktivitas kita, keseharian kita, itu berubah total. Tak sampai nunggu Langi besar, tapi pas begitu Langi lahir dan bunda pulang dari rumah sakit. Makan biasanya disuapin, disuruh mandiri. Abi pun nyadarin, makanya kami dicarikan pengasuh lagi. Pas abi baru nikah kan, pengasuh aku sama Kin dipulangkan. Kehidupan kami, benar-benar kek tak punya orang tua. Karir abi kan lagi melesat, sampai punya klinik sendiri. Abi pulang, cuma untuk tidur. Tapi bunda selalu ngeluh, abi ini ngepress betul jatah bulanan. Tak sekali, bunda pakai uangnya sendiri untuk kebutuhan yang tak terpenuhi. Sering cekcok, makian kasar keluar semua. Sampai pernah, abi ngusir bunda karena bunda minta cerai. Bunda pun bilang, ternyata kau lebih sayang anak daripada istri. Kata abi, iyalah, memang kau siapa. Kalau dengar perkelahian mereka ini, bikin otak mumet sendiri. Aku tertekan, Mah. Aku tak nyaman dan aku penuh ketakutan." Kenandra teramat ingin dirinya dimengerti orang-orang di sekelilingnya.
"Ya berarti, bunda kau pelit karena abi kau tak mau tau kebutuhan dapur. Jadi bunda juga sulit, karena istri itu pasti stress kalau kebutuhan dapur tak terpenuhi. Tinggallah di sini, biar kau tau berapa banyak biaya yang harus Mamah keluarkan untuk dapur dan lainnya. Biarpun Mamah udah tak kasih makan banyak anak, tapi Mamah selalu kirim mereka tiap-tiap harinya. Tak luput Giska juga, kecuali Icut karena dia begitu jauh." Adinda menyandarkan punggungnya ke sofa.
Ia lelah terlalu lama duduk.
"Mamah tuh tak paham jadi aku." Kenandra menggeleng lemah, ia merasa paling tersakiti di posisinya saat ini. Ia merasa paling tidak beruntung menjadi dirinya sejak dulu.
"Semua orang pasti ngerasa begitu, Ken. Kau pun tak akan paham capeknya jadi Mamah, meski Mamah cuma masak aja. Yang giling dan jemur baju, papah Adi. Yang beres-beres rumah, nyapu ngepel, asisten rumah tangga. Tapi capek, karena banyak tugas yang tak terlihat mata umum, tapi dirasakan kita sendiri. Masak telur memang paling gampang, tapi masak semur telur atau telur balado, itu butuh waktu untuk memprosesnya. Padahal, bahan baku yang sama. Belum hal lain, yang jadi kewajiban. Jangan dikira juga, ngurus anak itu tak capek. Kelak nanti kau punya anak, kau tak bisa sepelekan istri kau yang cuma tau urus anak aja. Karena lelahnya bukan main, Ken. Apalagi, anak yang baru bisa jalan. Tak diawasi, takut dia jatuh. Diawasi tiap waktu, sadar diri butuh istirahat juga. Jadi, biarin aja kalau istri kau tidur di masa anak kau tidur. Bisa sakit nanti dia, tenaga habis untuk jaga anak, istirahat tak, ya bisa-bisa hidup kurus kering." Adinda selalu ingin, jika setiap anak laki-lakinya memahami kelelahan istri-istri mereka. Karena mau bagaimana pun, ia juga merasakan lelahnya melakoni tugas sebagai istri.
__ADS_1
"Tapi kenapa bunda gitu sama aku?" Ia masih tidak mengerti, kenapa ibu sambungnya begitu perhitungan terhadap dirinya.
"Nanti Ai pulang, ayo kita rombongan pulang ke Cirebon. Mamah mau kau ikut temani Mamah, kita main ke abi kau, kita main ke bunda kau. Kita ngobrol, biar pikiran kau terang. Sekalipun memang hasilnya tak memuaskan. Setidaknya, kita nanti saling tau kekeliruan di hati kita. Biar kita bisa saling memaafkan dan hidup lebih rukun." Adinda tidak mau Kenandra masih memiliki selisih paham dalam hatinya, apalagi jika nanti Kenandra kembali menjadi seorang kepala keluarga.
"Mah, jangan capek-capek dong?" Givan mengusap-usap tangan ibunya.
"Biar misal nanti dia berjodoh sama Ria, dia bisa memanusiakan seorang istri dengan derajat tertinggi," jelas Adinda dengan menoleh memandang wajah anaknya.
"Duh, aku tak mau Mamah kecapean. Aku khawatir, kalau Mamah pergi-pergian jauh." Givan bergelayut pada lengan ibunya.
"Demi adik ipar kau, demi kakak kau. Biar mereka bahagia, tentram dan bahagia. Kalau Ken masih begitu, minim dia bakal bisa bahagia. Pola pikirnya udah salah kaprah, dia banyak membenarkan tentang pendapatnya sendiri." Adinda melirik anak angkatnya.
Kenandra langsung terkekeh di tengah kerumitan pikirannya. Adinda pun tak mampu menahan tawa gelinya, mendengar anaknya menirukan rengekan menantunya.
"Mas Givan....."
"Mas....."
__ADS_1
Suara yang Givan tirukan, kini langsung memanggilnya. Givan menepuk jidatnya, kemudian ia menoleh ke arah pintu datangnya suara tersebut.
"Ada, Canda. Di sini nih, Biyung." Givan melambaikan tangannya.
Canda langsung memamerkan senyumnya, kemudian ia melangkah cepat ke arah ruang keluarga. "Mas, capek abis jemur," rengeknya dibuat-buat.
"Sama aku juga, capek kurang tidur." Givan menirukan rengekan istrinya.
"Ehh, Bang Ken. Gimana kabarnya, Bang? Apa yang sakit? Ria nanyain tau." Canda menghempaskan tubuhnya di samping suaminya.
Canda tidak tahu, bahwa suaminya sengaja memberi jarak antara adiknya dan Kenandra. Namun, ia mengungkapkan di sini bahwa adiknya menanyakan keadaan Kenandra. Jelas, itu menarik rasa kecewa Givan.
"Ria nanya apa aja?" Kenandra sedikit senang, mendengar ucapan Canda. Bahkan, garis bibirnya tertarik samar.
"Nanya gimana keadaan kepala Abang, soalnya katanya tadi di-scan kah di-rontgen? Gimana gitu hasilnya, apa bahaya kah? Aku cuma kasih tau, kalau Mas Givan udah ada di rumah Mamah sama Abang juga. Tadi aku chatting sama Mas Givan soalnya." Canda memainkan ponselnya saat mengatakan hal itu.
"Video call aja nih sama Rianya, Bang. Kasian, barangkali dia khawatir. Abang juga ngapain tak antar sih? Kasih semangat dong, Ria kan mau sekolah di.......
__ADS_1
...****************...