Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM128. Bingkisan amarah


__ADS_3

"Tuh kan? Ya usaha dong, Van!" Kenandra seperti tengah memarahi adik kecilnya.


"Udah gini aja." Givan memandang Ai. "Ai, aku minta nomor keluarga kau." Givan memandang Ai dengan sorot dalam.


Ai hanya mampu membalas pandangan itu sekilas. Kemudian, ia memutuskan pandangannya dan tertunduk.


"Aku gak punya, A," jawabnya lirih.


Givan menghela napasnya. Ia tidak mengerti, kenapa bisa seseorang tidak memiliki nomor telepon keluarganya.


"Ai, ini serius. Kau tau kan, kalau kau bakal dioperasi? Nah, pasca operasi itu kau tak mungkin bisa urus diri kau sendiri." Givan masih mencoba sabar dalam menghadapi Ai.

__ADS_1


"Aku kan berjuang lahirin anak Aa ke dunia ini. Aa tega sama aku? Aa tega sama ibu dari anak Aa sendiri?" Ai terisak mencoba mengambil belas kasih Givan.


Givan memejamkan matanya. Kepalanya berdenyut, tanda emosinya sudah tak terkontrol lagi. Beberapa tahun, ia mencoba menghindari emosi yang meledak-ledak. Semata-mata, karena Canda selalu ketakutan ketika ia mengamuk. Ia tidak ingin istrinya sendiri merasa takut padanya.


"Anak siapa, Ai??!" Givan membuka matanya dengan menampilkan semburat merah di netranya.


Givan sudah berubah menjadi setengah iblis, ketika emosinya menguasai dirinya.


"KAU SALAH JEBAK ORANG, AI!!!" Givan memekik keras, membuat Ai dan Kenandra seketika terhenyak.


"Muak betul sama tingkah kau! Percaya sekali itu anak aku, bahkan aku berulang kali bilang kalau itu bukan anak aku. Biar apa sih kau ngemis-ngemis begini? KAU PIKIR, AKU PEDULI SAMA KAU?!" Givan meninggikan suaranya lagi di akhir kalimat.

__ADS_1


Ai memberanikan diri memandang laki-laki yang menjadi tujuannya itu. "A, aku pikir kita masih bisa sama-sama." Ai terisak kembali. Ia baru melihat sisi lain Givan yang penuh amarah itu, karena sebelumnya ia tidak pernah mendapat bentakan Givan setinggi nada bicaranya sekarang.


"Sama-sama???" Givan memicingkan mata merahnya. "Sama-sama yang kek gimana?! Aku beristri, aku punya pasangan dan aku bangga ada di posisi menjadi suami Canda. Kenapa harus aku pikirkan, untuk sama-sama sama perempuan yang udah tau rasanya?! Pernah kau kuajak hidup bersama, tapi bukan berarti ajakan itu abadi. Aku mengajak, hanya di masa itu. Bukan di masa mendatang, masa depan, atau masa kita bertemu lagi! Jadi stop berpikir, kalau aku masih ingin hidup sama kau! Aku tak pernah ingin, tak pernah niat dan tak pernah mau, untuk hidup dengan perempuan lain. Tujuan hidup aku cuma Canda, akhirat aku pun ingin disatukan kembali dengan Canda. Tentang kita, aku dan kau, itu udah mati! Kau menolak dan aku tak lanjutkan perjuangan aku. Menurut aku itu jelas, kalau kita benar-benar selesai dan tak ada kisah penyambung lainnya. Jangan berharap aku mau hidup sama kau, tanggung jawab atas anak kau, jadi ayah anak kau atau penyumbang dana terbesar untuk kehidupan kau. Kau bukan siapa-siapa! Aku pernah mengemis, bukan berarti kau masih terlalu manis. Aku pernah memohon, bukan berarti kau masih aku tunggu. Belajar lupakan kau dan mencintai orang baru, itu tak sulit untuk aku. Jangan terlalu besar kepala, kalau berpikir bahwa aku belum bisa lupakan kau! Semua yang lihat dengan mata kepala kau, interaksi aku dan Canda, rasa kasih aku ke Canda, rasa sayang aku yang aku lakukan dengan tindakan aku pada Canda, itu bukan pura-pura, Ai! Tanya keluarga aku, tanya mereka yang menyaksikan setiap hari. Aku tak pernah berpura-pura, untuk curahkan rasa sayang, cinta dan tanggung jawab aku ke Canda. Kalau kau berpikir Canda bukan pasangan yang seimbang untuk aku dan merasa bahwa kau lebih pantas, nyatanya sampai hari ini Canda yang tetap aku usahakan kebahagiaannya, kecukupan, kasih sayangnya dan batinnya. Canda memang sederhana, mungkin kau pun jauh merasa lebih baik dari dia. Tapi, kesederhanaan itu yang tak bisa buat aku lepaskan dia. Sekalipun bercerai sama dia, aku tetap kontrol dia semampu tangan aku meraih dan semampu dana aku membantunya. Aku sadar, aku pernah nyakitin dia dan buat dia pergi dari aku. Tapi itu bukan mauku, itu bukan inginku. Aku pun sadar, kekurangan ekonomi itu salah satu penyebabnya yang mungkin tak berpikir untuk balik ke aku. Aku paham perempuan realistis dan butuh laki-laki untuk memenuhi pakaian, perut dan kebutuhan kecantikannya. Aku berjuang untuk stabilkan keadaan keuanganku, sampai aku jarang pulang ke istri aku setelah Canda itu, cuma gara-gara ingin cepat stabil dan bisa buat Canda terpenuhi dengan hasil jerih payah aku. Aku ngasih jatah anak sulung Canda, anak aku dan dia. Itu lebih dari jatah yang terhitung di kepalaku, menurut aku itu terlalu berlebihan untuk seorang anak usia dua tahun. Tapi tetap aku lebihkan dan lebihkan terus, karena memang sengaja niat biar uang itu kemakan Canda juga. Segitunya loh aku sama dia, perempuan yang menurut kau lebih rendah dari kau. Terus, usaha aku ke kau itu apa? Cuma datangi kau ke rumah kan? Cuma bujuk kau kan? Itu tak seberapa, untuk usaha aku demi perempuan yang pernah menjandakan dirinya sendiri karena tak tahan dengan tingkah aku itu. Tapi kau dengan begitu percaya dirinya, seolah kau lebih kusanjung dari pada Canda. Kau boleh berpikir kalau aku masih cinta sama kau, kalau aku masih respon kau, masih tanggap, masih urus kau dan masih memelihara kau! Nyatanya sekarang gimana?!! Apa ada aku melebihkan kau dari pada ke Canda? Tak kan? Aku jauh lebih mengusahakan Canda dan memperbaiki diri termasuk ekonomiku hanya untuk Canda, hanya untuk dia, bukan untuk kau!!! Apa otak kau udah terbuka, dengan mendengar sendiri semua ucapan dari mulut aku ini?!! Atau, kau masih ingin dengar lagi tentang semua usaha dan kerja keras aku untuk dia?!!!" Telunjuknya terulur persis di depan wajah Ai, dengan urat-urat rahang yang menonjol seiring dengan lontaran kalimat yang bernada kasar. Namun, dibingkis dengan suara dingin dan rendah.


"Aku tau, A. Aku tau kalau mulut Aa itu memang kasar. Tapi aku masih yakin, kalau fantasi dan keliaran Aa itu hanya bebas dengan aku."


Givan sampai ternganga sebentar. Lalu ia segera merapatkan bibirnya kembali, dengan menggeleng berulang. Otak Ai sepertinya bukan terisi pikiran waras manusia pada umumnya.


"Kau harus tau juga, Ai. Bahwa seorang suami yang baik itu, tidak membuat cacat hubungan suami istri. Bukan berarti keliaran dan fantasi aku tak bebas dengan Canda, tapi dengan Canda meng*e*a*g pun, itu udah buat candu untuk aku sendiri. Aku malah tak tega buat dia sakit, hanya untuk menuhin kebutuhan biologis aku. Banyak cara yang bisa dilakukan, untuk tetap dapatkan fantasi aku tanpa nyakitin dia. Cukup sekali aku buat Canda trauma dengan hubungan se*s, dengan cara merenggut keperawanannya dengan cara yang kasar. Aku cukup tau, cukup paham dan cukup peka, bagaimana untuk memperlakukan dia, dia yang menjadi istriku dan pemenuhan biologisku dengan jangka panjang. Sampai sini kau paham, Ai?! Sampai sini kau ngerti, Ai?! Sampai sini cukup jelas kan, Ai?!" Jemari Givan sampai hampir mencolok netra Ai. Tangannya ingin sekali menyakiti Ai, agar membuat perempuan itu paham.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2