
"Mas Givan punya masalah di luar, kan sebaiknya tak dibawa masuk ke dalam rumah tangga." Canda duduk di sofa single.
Adi memperhatikan menantunya yang terlihat santai itu. "Kau mau jadi mamah Dinda? Mau tega ke suami sendiri? Suami loh yang nanggung beban dosa kau, Canda. Sebaiknya, diselesaikan bersama. Karena permasalahan ini pun, menyangkut rumah tangga kalian juga. Papah pengalaman ada perempuan ngaku hamil begini, sampai terlanjur dinikahi. Eh, tak taunya sih bukan anak Papah. Itu terjadi di belakang mamah, Papah coba selesaikan sendiri. Nyatanya dengan kami bersama-sama, kebenaran itu terungkap dan kami menang. Kan jangan sampai Givan salah ambil keputusan, kek Papah dulu. Bukannya membela pihak Ai juga, Papah pun bingung mau bantu gimana. Karena kami sendiri, masih cari tau kebenarannya. Papah yakin, anak Papah tak mungkin bohong. Tapi, Ai pun nampak begitu yakin kalau itu anak Givan. Ditambah lagi, ada jejak kriminal dari suami kau. Dia gelar Ai untuk lima laki-laki, padahal dalam akad jual belinya hanya untuk dipakai dirinya. Bisa selesai sih kalau proses hukum, Givan mendekam beberapa tahun di penjara. Tapi kami mikirnya anak Givan banyak, ada amanat usaha yang harus Givan emban juga. Kalau misal semua usahanya goyah, Papah mikirin gimana caranya kau berjuang untuk hidupi anak-anak kau. Pasti itu tak mudah, ditambah kau sendiri tak mampu megang tujuh anak, kehitung Jasmine yang diamanatkan juga. Belum lagi, anak yang di perut kau. Tuh, gimana kau nanti? Papah mikir di situnya. Papah tak mau gampangin, apalagi gampangin tenaga kau yang tak seberapa. Papah support finansial sih pasti. Tapi, keknya bakal habis kalau sampai ke biaya pendidikan semua anak kau itu. Belum biaya hidup, biaya kesehatan. Bukan Papah pelit, tapi logikanya kita begitu. Suami tampan aja, itu banyak yang mau. Apalagi, udah tampan plus kaya juga. Pasti ada aja pihak ketiga yang ngaku hamil anak mereka begini. Jangan jauh-jauh, kita tengok cerita para artis dan rumah tangganya di siaran gosip. Papah yang jelek aja, sempat punya kok kasus begini. Lantaran perempuan tersebut tau, kalau Papah punya warisan yang cukup untuk hidupi dia." Adi menarik ceritanya sendiri, agar menantunya yang lugu itu mampu memahami.
"Pah, kalau memang kita selesai pun. Kami pasti bagi anak juga, Chandra dan Ceysa pasti sama aku dan anak yang aku kandung ini. Terus aku ambil usaha bang Daeng dan konveksi aku, karena aku pun paham aku tak mampu lagi jualan seblak."
Kekehan geli Adi terukir, kalimat dari menantunya mengandung humor ringan. Meski ia paham, bahwa obrolan ini tengah serius.
"Givan pun tak bakal kek begini lagi keadaannya, kalau dia tak sama kau. Kau yakin, Givan masih pulang ke rumah kalau kalian pisah? Kau tak kasian sama anak kau yang ada di Givan, karena ayahnya jarang pulang? Itu tuh pasti, Canda. Kau rumah untuk Givan, kau alasannya untuk pulang. Anak, bukan alasan terbesarnya untuk pulang. Apalagi masa ia pekerjakan baby sitter, udah tuh tenang dia tak pulang-pulang. Pikiran laki-laki tak bisa kek perempuan, yang begitu memikirkan keadaan anak-anaknya. Laki-laki lebih memikirkan agar kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, bukan bagaimana anak-anaknya di rumah. Kalian tak sama-sama, Ai yang bakal menang. Dia pasti lagi berbangga diri, karena sekarang kau berani ngusir laki-laki yang ia ingin miliki." Adi mempertahankan suara stabilnya, meski sebenarnya ia terpancing emosi sendiri.
"Hanya laki-lakinya kan? Ya udah, minta Ai buat berjuang sama mas Givan sana. Kan mas Givan udah di luar rumah juga, bebas tuh Ai mau apakan itu laki-laki."
__ADS_1
Adi merasa, ini bukanlah menantunya yang paling ia sayangi. Itu adalah cerminan istrinya, dalam wujud teduh, bukan judes seperti yang berada di rumahnya.
"Kau lupa, suami kau pemimpin sebelas usahanya?" Suara Adi sudah naik satu oktaf.
"Memang kenapa? Kasarnya, dia yang kerja sama aku. Mas Givan tak bakal bisa jual aset-asetnya, aku punya kuasa untuk semua harta bendanya. Mas Givan tak bisa jual tanah ataupun perusahaan, tanpa tanda tangan dari aku. Untuk usaha itu? Kan itu atas nama anak-anak dan atas nama aku. Cuma tambang Putra Tunggal Berintan, yang atas namanya. Adi Wijaya Abadi, bahkan atas nama Papah. Sama rumah ini dan tanah sawah, itu pun atas kuasa aku, tak ada tanda tangan aku, dia tak bisa jual. Semua akses Bank, penarikan besar dan deposito juga, bisa cair kalau ada tanda tangan aku. Kalau memang dia milih perempuan itu, ya resikonya kan harus nunggu sedekahan dari aku. Paling, yang Ai dapat cuma pengambilan limit dari ATM yang mas Givan pegang. Selebihnya, dia harus ngemis tanda tangan aku. Bukannya aku sombong, ada hak dan perjuangan aku juga dalam aset itu. Kalau Ai cuma mau orangnya, ya tinggal ambil aja kalau mas Givan juga mau."
Adi yang dibuat melongo saja di sini. Ia tidak percaya, kini Canda menggunakan pikirannya persis seperti istrinya. Jika sudah begini, Adi khawatir Canda akan tidak butuh suaminya sendiri lagi.
"Ck, laki-laki sih bisa dusta. Mereka yang berselingkuh pun, pasti romantis ke istrinya biar tak ketahuan gerak-gerik perselingkuhannya. Mereka bisa tetap romantis, meski mereka juga tidur dengan yang lain."
Ingin tidak membenarkan, tapi Adi paham sendiri bahwa laki-laki pun memang benar bisa begitu. Adi terdiam sesaat, ia akan menggunakan cara apa agar Canda bisa menarik putra sulungnya untuk bersamanya kembali.
__ADS_1
"Ingat anak-anak kau, Canda. Ingat anak perempuan kau, ingat mereka yang begitu patuh ke suami kau. Kau bisa jawab apa, kalau mereka tau ayahnya tak serumah lagi dengan biyungnya?" Hanya ini stok nasehat terakhirnya untuk Canda.
"Mereka sama mas Givan, Pah. Bukan sama aku. Mereka masih bisa patuh ke ayahnya, mereka masih bisa dapat kasih sayang dari cinta pertamanya."
Ingin tidak membenarkan, tapi ucapan Canda tepat sekali. Adi kini bingung untuk menarik alasan lain, agar Givan kembali ke rumahnya.
Ia sudah angkat tangan. Ia akan meminta istrinya saja, untuk menasehati menantunya ini. Ia yakin, istrinya tidak akan gagal untuk membuat menantunya mengerti dengan maksud baik mereka.
Karena jika rumah tangganya seperti ini, Ai akan mendapatkan kesempatan besar untuk kembali mengecoh Givan dan mendapatkan Givan. Sedangkan kedua orang tua tersebut, mereka tidak ingin berganti menantu. Selain resiko besar yang akan diterima oleh cucu-cucunya, mereka yakin anak sulungnya pun tidak akan baik-baik saja tanpa Canda. Mereka cukup tahu, bahwa Givan begitu mencintai menantunya tersebut. Mereka paham watak dan sifat anak sulungnya.
...****************...
__ADS_1