Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM44. Ranjang penjelasan


__ADS_3

"Aku harus gimana lagi, Canda? Aku udah berusaha jadi yang kau mau, jadi yang kau harapkan. Tapi kau malah berubah begini." Givan memeluk perut istrinya dari belakang. Ia tahu istrinya tengah terisak samar, ia hanya bisa menenangkan dengan penjelasan. Karena ia yakin, Canda butuh suatu kejelasan dari mulutnya. Sayangnya tidak pernah terungkap dan tidak dimengerti olehnya, Givan tidak tahu kebenaran mana yang ingin istrinya dengar.


"Kau mau di sini? Atau aku ikut kau pulang?" Givan masih berharap dirinya tak terpisahkan dari istrinya.


Canda membersihkan wajahnya dari air cengengnya, kemudian ia berbalik badan, sehingga mereka kini berhadapan. Dengan rasa pasrahnya, Givan menyatukan dahinya dengan istrinya. Ia sama kacaunya, dengan kekacauan yang ia ciptakan sendiri, ditambah lagi dengan kerumitan Canda yang tak dimengerti olehnya. Dirinya yakin ada sesuatu, yang tak mampu Canda ucapkan. Namun, ia tidak memahami apakah itu.


"Kita begini aja dulu, Mas." Canda memejamkan matanya.


"Kita harus sama-sama, Canda." Canda memperhatikan kelopak mata yang tertutup rapat tersebut.


"Aku pengen bukti, Mas. Aku pengen tau perjuangan Mas. Kalau memang terlanjur nikah siri, lebih baik aku yang mundur. Aku tau diri, aku tak pantas diperjuangkan tanpa rasa. Masalah anak, kita udah pernah bicarakan. Mumpung kita belum terlalu tua, kita masih bisa melanjutkan kehidupan kita masing-masing tanpa ketergantungan masing-masing pihak." Begitu mengiris batinnya sendiri. Canda sampai enggan membuka matanya, karena ia tahu bahwa air matanya sudah seperti bendungan yang tidak mampu menampung air lagi.


"Siapa yang bilang aku nikah siri? Perempuan yang aku resmikan, cuma kau satu-satunya. Perempuan yang aku sirikan, cuma Nadya satu-satunya. Tak ada yang terikat pernikahan lagi dengan aku, aku di sini udah jujur, Canda." Givan menyentuh pelipis kiri istrinya.


Benarkah? Canda perlahan membuka matanya, embun air langsung membasahi bulu mata lentiknya yang tak luput dari perawatan yang suaminya tunjang. Bulu mata asli tersebut, sampai menggumpal karena air mata.


"Mas tak nikahin Ai?" Canda memperjelas teka-teki yang ingin ia tanyakan sejak tadi.


Givan menggeleng cepat. "Aku tak ada pernikahan sama dia, aku tak pernah menikah sama dia. Siapa yang bilang itu? Apa Ai sendiri? Biar aku tegur orangnya." Nada lantang Givan langsung terdengar.

__ADS_1


Ia tidak terima dengan pernyataan tersebut. Ditambah lagi, orang tersebut mengatakannya pada istrinya.


"Mas jujur kah?" Rupanya, Canda masih meragukan ucapan suaminya.


Ia menelisik ekspresi yang suaminya timbulkan. Tidak ada yang mencurigakan, tapi ia tetap kurang percaya saja.


"Aku pernah bohongi kau, bukan berarti aku selalu bohongi kau. Aku pernah mengecewakan kau, bukan berarti aku selalu buat kau kecewa. Kenapa sampai kau tak percaya ke aku? Apa aku harus bilang sumpah dulu? Apa harus kubawa nama Tuhanku dulu biar kau percaya, Canda?" Givan cukup tersinggung karena kejujuran yang dituntut oleh istrinya. Tanpa Canda menuntut kejujurannya, ia pasti akan berusaha untuk jujur dan transparan.


"Aku nemuin Ai, buat bilang tentang tes DNA yang rencananya akan dilakukan bulan depan. Kandungan dia udah empat bulan lebih, lima bulan itu DNA janinnya udah bisa dicek. Paling ke sana pun, aku peringatkan Ai, karena dia selalu nemuin anak-anak kita diam-diam. Anak-anak ada yang ngadu, tentang apa yang dibuat ayahnya sampai ayahnya dicap ayah jahat. Dia tau anak aku, ada yang bukan kau. Dia bilang ke Key juga, bahwa dia anak yang dibuang sama aku dan dipungut kembali. Aku tak pernah masuk ke kamar dia, masa aku nemuin dia di kamar penginapannya. Ngasih uang pun, itu lewat tangan mamah," tambah Givan mencoba membuat Canda percaya.


"Siapa yang bilang itu?" lanjut Givan bertanya, tapi hanya digelengi saja oleh Canda. Canda tidak memberitahu, siapa yang mengatakannya karena ia pun tak tau sumber awalnya.


Canda selalu membuka siapapun yang menyinggung atau menyakiti hatinya. Givan adalah tempatnya mengadu, sebelum kejadian ini merumit.


"Terus apa kau bilang tadi? Kau pengen tau bukti? Kau pengen aku berjuang?" Givan kembali memberikan banyak pertanyaan beruntun.


Canda tidak menjawab, ia malah meraih bantal dan memeluknya.


"Kau yakin mau aku berjuang sendirian? Apa kau percaya nanti, kalau aku berjuang tanpa kau ketahui dan tak nampak di mata kau? Apa kau bakal yakin, dengan perjuangan dan bukti yang aku kasih?" Karena begini saja, sudah membuat Canda hilang percaya pada suaminya. Givan khawatir, ia berjuang tanpa Canda, malah Canda tidak percaya dengan segalanya.

__ADS_1


"Menurut aku, kau ikutlah aku berjuang. Tak perlu temani aku berjuang dan buktikan, cukup ikuti aku aja. Aku tak mau perjuangan aku sia-sia, karena kau tak percaya." Inilah ingin Givan, jika ia berjuang untuk menguak semuanya.


Canda memandang suaminya sekilas. Kemudian, ia menatap sprei abu-abu gelap ini lagi.


Ia merasa ucapan suaminya itu ada benarnya juga. Jika ia hanya diam menerima hasil dan mendengar apa yang orang katakan saja, ia pasti akan merugi karena ada kebenaran yang tidak benar-benar ia ketahui dari sumbernya langsung.


"Mau mau lakuin apa dulu?"


Givan langsung berbaring menyamping dan menghadap istrinya lagi. "Aku udah daftar tes DNA untuk Ai, lewat bang Ken. Memang tesnya bisa dari usia lima bulan di kandungan, tapi loadingnya lama. Ada waktu kita harus mengantri, ada waktu di mana kita harus nunggu hasil. Ini kata bang Ken, bukan kata aku sendiri. Sambil menunggu untuk tes DNA, aku udah hubungi juga Farhad yang di Jepara itu. Aku tanya-tanya tentang malam itu, malam di mana aku booking Ai itu. Farhad kira, dia dituduh aku belum bayarkan uang itu ke Ai. Dia udah jelaskan, bahwa dia bayarkan itu dan merasa bahkan dilebihkan sama dia." Givan mengingat pembicaraan dalam teleponnya semalam.


"Dilebihkan? Apa uang itu, yang Mas transfer masa aku masuk rumah sakit?" Canda teringat kalan dirinya ingin bertanya langsung pada orang bernama Farhad itu. Ia memiliki curiga, dengan bukti transfer yang suaminya kirim ke Farhad.


Givan mengingat kembali kejadian itu. Ada keragu-raguan, karena ia melupakan waktu tepatnya.


"Keknya sih iya. Soalnya pas itu kan kau telpon bilang lagi diare, aku langsung kabur, tanpa bayar Ai di muka. Karena ini akad jual beli, aku langsung transfer masa itu juga. Pokoknya, aku transfer di malam yang sama aku booking Ai itu." Ditambah lagi pengaruh alkohol yang cukup tinggi, membuat Givan merasa samar dengan ingatan itu. Yang jelas, hanyalah tentang ia hampir meniduri Ai dan Canda menelpon.


"Kenapa Farhad lebihkan? Memang akad jual belinya berapa? Apa dia merasa pakai juga, jadi dia lebihkan?" Pertanyaan Canda cukup cerdas di sini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2