Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM29. Kembali ke rumah


__ADS_3

"Ada di rumah, aku sesak di rumah terus." Canda membersihkan wajahnya dengan hijabnya yang menjuntai.


"Ya udah tinggal di sini aja." Mulut istri Ghifar langsung ditepuk Ghifar, kala mendengar istrinya meminta mantan pacarnya itu tinggal satu rumah.


"Iya boleh deh, nikah siri aja tak apa."


Tawa istri Ghifar begitu menggema, berbeda dengan Ghifar yang malah tegang. Ia serasa mendapatkan hasil dari perjuangannya di meja judi, tapi ia ragu akan kehalalan uang tersebut.


"Kau kecil, Canda. Nanti khawatir tak muat."


Ghifar mengerti arah pembicaraan istrinya. Ia tidak heran, dengan Canda yang malah melongo saja. Karena Canda akan lama memahami sesuatu.


"Mana operasi sesar lagi," timpal Ghifar dengan merengkuh perut istrinya.


Tawa istri Ghifar bertambah keras, melihat Canda yang malah garuk-garuk kepala. Ekspresi Canda, seperti hiburan untuknya. Bukannya ia cemburu atau marah, tapi mala dih terlihat rileks dan menganggap bahwa itu hanyalah gurauan saja.


Canda tidak menghiraukan hal itu. Ia teringat akan nasibnya yang begitu tragis, apalagi sesaknya bertambah karena di rumah ibu mertuanya ada mantan pacar suaminya tersebut.


"Ai hamil." Kalimat dari Canda, langsung membuat Ghifar dan istrinya diam.


Istri Ghifar langsung merengkuh tubuh Canda, tangis Canda lepas kembali dalam pelukan istri Ghifar. Ghifar yang berhati lembut pun, tak kuasa membayangkan lemahnya perasaan Canda. Hatinya kembali berkabut, dengan tangannya yang merengkuh tubuh istrinya dan mantan pacarnya tersebut.


Selirih itu tangisan Canda, tapi mampu mengiris kekuatan di hati Ghifar. "Aku bantu proses cerainya ya?" ujar Ghifar langsung.


Istri Ghifar langsung menoleh ke arah suaminya, ia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan penuturan suaminya.

__ADS_1


"Aku tak mau langsung cerai, Far. Aku tak tau apa-apa, aku pun tak tau pasti kebenarannya." Canda dilanda dilema yang amat besar.


"Suami kau tak ada jelasin apapun ke kau?"


Canda menggeleng, menjawab pertanyaan dari istri Ghifar tersebut.


"Aku shock, aku masuk RS kemarin pagi dan baru pulang sorenya. Terus malam sampai siang ini, aku tak ada ngobrol apapun sama mas Givan. Aku jawab, kalau ditanya aja. Aku pengen nanya-nanya semuanya, tapi khawatir kondisi aku tak siap dengarnya. Aku pengen minta Ai cerita pun, rasanya nampak wajahnya aja aku udah tekanan batin aja." Canda memilih untuk mengikuti nasehat dari mendiang mantan suaminya.


"Saran aku sih, coba dengar penjelasan Givan dulu. Dia suami kau, kau harus tau kebenaran dari pihaknya. Atau kau tanya ke mertua kau, biasanya pun beliau pro menghadapi suatu masalah." Istri Ghifar memberikan saran terbaik menurutnya.


"Kalau begitu, mas Givan pasti akan cari titik kesalahan Ai terus. Pasti dia tak mau dicap bersalah, meski jelas Ai hamil karenanya." Canda merangkum nasehat mendiang mantan suaminya dalam otaknya.


"Terus mau kau gimana, Cendol?" Ghifar tidak perduli akan kebenarannya, yang ia fokuskan pada hanya keputusan Canda sekarang.


"Aku bingung, Far. Rasanya setengah hati betul aku ngurusin mas Givan." Canda menunduk sedih.


"Temui aja, Canda. Di lain waktu, kau bisa ceritakan semuanya." Istri Ghifar mengusap-usap pundak Canda.


Setidaknya, Canda sudah merasa sedikit tenang dan plong. Karena ia sudah menumpahkan tangisnya dan sisi lemahnya pada Ghifar dan istrinya.


Canda mengangguk, ia bergegas bangun dan meninggalkan kamar itu. Canda hanya menunduk, saat suaminya sudah berdiri di teras rumah Ghifar.


Ia tahu suaminya mencarinya, karena ia hanya pamit untuk ke rumah anak-anak mereka yang berada persis di depan rumahnya. Bukan keluar pagar dan mendatangi rumah adik iparnya ini. Tujuan Canda tadinya ingin berkeluh kesah pada ibu mertuanya, karena ia paham bahwa ibunya begitu gegabah sepertinya. Tapi keberadaan Ai di teras rumah ibu mertuanya tersebut, membuatnya tidak sengaja berbelok ke rumah Ghifar.


Givan memamerkan senyum pada istrinya. Ia tak ingin asal mengamuk, lalu membuat istrinya benar-benar pergi dari rumah. Ia sedang mencoba bersikap sebaik mungkin pada istrinya.

__ADS_1


"Kok tak ada izin ke aku, Canda?" tanya Givan dengan mendekati istrinya yang baru keluar dari dalam rumah adiknya tersebut.


Canda tahu dirinya salah, karena keluar dari rumah tanpa izin suaminya. Tapi rasanya ia begitu sesak, karena sejak tadi dengan suaminya hanya diam saja.


"Iya, maaf." Canda memandang wajah suaminya sekilas, kemudian ia menunduk lagi.


Sejak tersadar, Canda selalu memalingkan pandangannya dari suaminya. Ia hanya melihat sekilas wajah suaminya, lalu lebih sudi menatap objek lain dengan lama. Bukan tanpa alasan, ia begitu kecewa lantaran mengagumi hal yang seharusnya ia benci.


"Yuk pulang, kau harus banyak istirahat." Givan teringat akan pesan dokter yang menyarankan agar Canda istirahat total.


Canda mengangguk, kemudian ia berjalan lebih dulu. Bahkan ia menepis tangan suaminya yang singgah di bahunya, dengan ia berjalan lebih cepat satu langkah dari suaminya.


Perubahan pada diri Canda, membuat Givan semakin merasa bersalah. Ia mengutuk semua orang, yang membuat istrinya bisa membuatnya seperti ini. Bahkan, ia setiap detik menyesali rasa dendamnya pada Ai karena kini istrinya berubah.


Hingga sampailah mereka kembali ke dalam kamar pribadi mereka. Canda hanya diam dan memunggungi suaminya. Canda bingung ingin mencari tahu kebenarannya dari mana, sehingga ia lebih memilih untuk mengambil opsi kedua yang hanya diam. Canda pun memikirkan step selanjutnya, tentang bertahan walau terluka, atau pergi tanpa rasa sakit. Yang Canda yakini, pergi tanpa rasa sakit adalah akan dirinya yang tidak akan menyesali kepergiannya. Namun, ia pun sadar pada opsi yang beresiko itu. Ia tidak mungkin bisa menghidupi seluruh anaknya, dari tenaganya saja. Membiarkan anak-anaknya dengan suaminya saja, Canda tidak tega untuk meninggalkan mereka.


Canda belum mengetahui segalanya, khususnya resiko dan juga tanggung jawab yang diemban ketika ia memilih salah satu keputusan. Kali ini, ia tidak ingin ceroboh lagi karena anak-anak yang akan menjadi taruhannya.


"Canda, kau kenapa? Butuh sesuatu, bilanglah. Kau lapar? Kau ngidam makanan? Atau, kau pengen keluar jalan-jalan?" Givan menyentuh punggung istrinya yang memunggunginya.


Ia dilanda kebingungan yang luar biasa, dengan sikap Canda yang seperti bukan Canda ini. Dengan Canda seperti ini, Givan merasa Canda yang lama sudah hilang dan digantikan Canda yang baru dengan rupa yang sama.


Givan kehilangan keceriaan istrinya. Ini jauh lebih buruk, karena perubahan ini datang dalam sekejap.


"Aku tak butuh apa-apa, Mas." Canda tetap mempertahankan posisinya untuk menghadap ke sisi lain tersebut.

__ADS_1


"Terus terang aja, Canda. Kau kenapa? Apa ada yang pengen kau tanyakan?" Givan mencoba mengerti, bahwa perubahan itu datang dengan kesalahpahaman Canda.


...****************...


__ADS_2