Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM147. Sisa masalah


__ADS_3

"Tapi Keith manis betul, Mas. Kalem pembawaannya, pendiam tapi ramah, bikin kesengsem. Terus, dia ini bisa ngemong anak-anak juga." Canda mengadu telapak tangannya, ketika membayangkan rupa laki-laki yang usianya baru menginjak tiga puluh tahunan itu.


"Orang kalem itu, biasanya lebih agresif di ranjang. Kek Lendra aja gimana? Kau pasti tau sendiri."


Canda menoleh pada suaminya, ia ingin menepis pernyataan yang suaminya berikan. Canda merasa, suaminya sok tahu.


"Bang Daeng jarang ngajak begituan tau, Mas. Seminggu sekali tak nentu, abis haid pun dia tak langsung minta. Aku yang ngerengek terus minta dianu, tapi dia sering tinggal aku untuk tidur duluan." Canda teringat masa-masa saat dirinya dipaksa keadaan untuk agresif pada suaminya.


"Kok sama aku kau tak ngerengek, Canda? Kemarin malah kau ngehindarin aku terus, sebulan tak mau dicampuri." Givan merasa istrinya seperti lebih mencintai mendiang Nalendra ketimbang dirinya.


Padahal, Canda hanya tidak bisa melupakan cara Nalendra melakukannya. Tidak hanya di ranjang, Nalendra pun bisa meratukannya dan membuat Canda merasa bahwa dirinya amat dicintai.


"Tak n*** aku sama Mas."


Seperti mengibarkan bendera perang. Givan langsung memberikan tatapan nyalang pada istrinya. "Apa kau bilang?" Suara menurunnya terdengar menakutkan.


Canda menyadari bahwa ia sudah salah mengguraui suaminya. Ia menoleh dan memamerkan giginya yang tertata rapi dan begitu putih hasil vennernya.


"N**** kok, Mas. Makanya pagi tadi sampai keenakan." Canda tidak mau dirinya kembali dibabat suaminya.


"Tak! Awas aja kau nanti! Udah terlanjur kesal aku." Givan menggerutu sembari mengalihkan perhatiannya kembali pada laptopnya.


"I love you, Mas." Canda mendekati suaminya dan mencium pipi suaminya.


"Tak I love you aku sama kau!" ketus Givan yang terasa menusuk hati Canda.


Ia menegakkan punggungnya, dengan bibir rapat yang menahan tangis. Sesaat kemudian, ia langsung bangkit meninggalkan suaminya dengan menghentak-hentakkan kakinya pergi.

__ADS_1


Givan tidak menyadari bahwa ia menyakiti hati istrinya. Ia hanya memicingkan matanya, melihat istrinya berlalu. Givan tidak menyadari, bahwa Canda tengah menangis seorang diri di kamarnya.


Canda begitu miris dengan dirinya sendiri. Ia lelah mengabdi, ia tulus mendoakan, ia tak pernah bosan terus mencintai suaminya. Tapi semua seolah sia-sia, ia merasa tidak beruntung karena tidak bisa membuat suaminya jatuh cinta padanya. Ia menganggap benar ucapan Givan, berbeda dengan Givan yang sebenarnya hanya mengungkapkan kekesalan sesaatnya saja.


Di dalam rumah Adinda, Kenandra tengah terpejam pulas di pangkuan ibu angkatnya itu. Beberapa hari ini, ia merasa amat lelah ditambah dengan istirahat yang kurang dari cukup.


"Berarti, Ai di rumah sakit sendirian ya ini?" tanya Awang, ketika mendengar dengkuran halus Kenandra.


"Iya, Gavin juga pulas di kamarnya," sahut Adi, setelah menengok keadaan Gavin di kamar dengan twin bed. Teman satu kamar Gavin masih dalam masa pendidikannya di Brasil, ia akan mendapat gelarnya tahun depan. Adi dan Adinda pun berharap umurnya masih panjang, agar bisa ikut serta berfoto di hari anaknya mendapat gelar resmi.


"Waduh, kita ke rumah sakit aja deh. Makasih ya makan siangnya, Mah." Awang hendak pamit.


"Eh, sebentar. Ada yang mau kita sampaikan di sini." Adinda menahan Awang dan Nafisah untuk pergi.


"Saya gak tega, Mah. Ai belum bisa mandiri dengan luka operasinya." Hati nurani Awang teriris, setiap kali melihat adiknya meringis kesakitan.


Mangge Yusuf diminta tolong oleh Adi, agar mau sejenak menemani Ai di rumah sakit. Ayah kandung Nalendra tersebut, tanpa penolakan langsung menuju ke rumah sakit. Ia mengerti, orang baik yang selalu membantunya tersebut tengah membutuhkan peran tambahan.


Tanpa paksaan dan tanpa penolakan, Awang bersedia untuk mengantarkan anak Ai ke peristirahatan terakhirnya. Yang Kuasa lebih menyayangi anak itu, Yang Kuasa tidak menginginkan anak itu tumbuh dewasa dengan kekurangan fisiknya.


Ia tidak berpikir sedikitpun, untuk meminta Givan hadir atau menggendong keponakannya. Ia tidak memikirkan orang lain, yang ada di pikiran Awang hanya tentang keadaan adiknya. Ia ingin adiknya yang lama tidak bertemu itu, cepat pulih dan berkumpul bersama keluarganya. Ai sudah terlalu lama pergi, Awang khawatir dan rindu pada adiknya.


"Ngobrolin tentang apa, Mah?" tanya Awang ramah.


"Dek, kasih Ken bantal. Linu tak paha Adek?" Adi memberikan sebuah bantal yang ia dapatkan dari kamar Gavin.


"Biar, Bang. Kasian, lagi pulas-pulasnya." Adinda kembali mengipasi wajah Ken.

__ADS_1


Anak lima tahun yang pernah ia suapi dan ceboki tersebut, sudah menjelma menjadi laki-laki matang yang rupawan. Wajah Kenandra yang cenderung mirip ibu kandungnya, dengan postur tubuhnya yang juga tinggi dan atletis. Menambah nilai plus selain titelnya yang merupakan seorang dokter spesialis bedah.


Adi mengangguk. "Buat sandaran Adek aja." Adi membantu istrinya mengganjal punggungnya.


"Jadi gini, Wang. Kalian percaya tak, dengan cerita dari pihak kami? Kalau dirasa kurang percaya, kami punya beberapa bukti untuk lebih menjelaskan kejadian yang sebenarnya." Adinda mulai membuka obrolan dengan pembawaan santai.


Awang menoleh pada istrinya. Kemudian, ia memberikan senyum ramahnya pada Adinda. "Sebenarnya, Mah. Kami punya persepsi sendiri, sebelum Mamah ataupun Ai cerita tentang kejadian sebenarnya. Udah begini kejadiannya, udah terlewat. Pikir aku, ya udah aja, Mah. Aku sekarang lebih fokus untuk mikirin, tentang hukuman Ai di desa ini. Untuk pengusiran dari kampung, aku tidak mempersoalkannya, Mah. Biar aja, Ai gak punya kesempatan untuk balik ke kampung ini. Tapi, aku kepikiran tentang hukum Cambuk itu. Apa hukumannya bisa digantikan? Aku gak tega, Mah. Karena menurut bayangan aku, Ai pasti akan merasa malu luar biasa. Belum lagi sorakan dari orang-orang yang diberi hidangan fitnahnya Ai, pasti nambah Ai merasa malu. Dulu, Ai direndahkan Givan dengan ucapannya aja, aku berusaha sebaik mungkin untuk buat dia kapok. Nah, kalau pihak desa dan masyarakat yang mempermalukan Ai. Aku harus marah ke siapa? Sedangkan, Ai sendiri yang awalnya buat dirinya dapat hukuman di sini."


Adi dan Adinda saling melempar pandang.


"Nanti Saya panggil pak RT dan kepala desa, biar bisa benahi lagi tentang hukuman Ai. Cambuk bisa dicover denda, tapi biayanya tak sedikit. Givan pun kena denda, Wang. Dia pun kena cambuk, dapat masa hukuman mandiri juga satu minggu. Dendanya dalam rupa emas murni, dengan berat yang ditentukan. Ya, mungkin denda dari Givan ini bisa dialokasikan untuk pembuatan jalan dan pengaspalan ulang jalanan. Benar-benar besar gitu loh, tak main-main dendanya." Adi sengaja tidak menyebutkan nominalnya, karena dirinya tidak bermaksud menyombongkan diri di depan orang yang dengan taraf hidup sederhana seperti keluarga Ai. Adi yakin, Awang pun memikirkan ongkos pesawat mereka untuk kembali pulang ke Jawa Barat.


"Waduh...." Awang geleng-geleng kepala.


Ia sudah tahu, akan cerita Givan yang diadili oleh desa dan mendapatkan hukuman terkait kasusnya dengan Ai. Cerita yang dirangkum secara singkat itu, diceritakan oleh Adinda.


"Barangkali ada jalan keluar yang lainnya, Pah?" tanya Nafisah dengan tertunduk.


"Ya nanti kita obrolkan sama yang lebih paham tentang hukuman Ai, karena kemarin pun Ai itu izin dari masa hukumannya," terang Adi kemudian.


"Doble ya hukuman Ai ini?" tanya Nafisah dengan memperhatikan Adi. Ia mengagumi pak tua yang berkharisma dan baik terhadap adik iparnya itu.


"Iya, fitnah dan hukuman sama Givan ini," jawab Adi jelas.


"Memang nih, Pah. Sebenarnya, Givan ini melakukan belum? Bisa-bisanya sampai Givan kena hukuman juga itu?" Nafisah cenderung penasaran dengan bukti-bukti tersebut, tidak seperti suaminya yang lebih fokus pada sisa masalah yang belum terselesaikan.


"Kita punya beberapa buktinya. Sebentar ya? Saya ambil dulu." Adi beranjak dan masuk ke dalam kamarnya. Ia merasa, bahwa memang perlu untuk menunjukkan bukti itu meski Awang menolaknya. Karena, ada orang lain yang memiliki kedudukan setara Awang yang penasaran dengan kronologis dalam bukti tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2