
"Vin, aku ini gak kerja. Gimana caranya aku bayar sampai senilai delapan juta itu?" Ai tidak menyangka dengan ucapan adik Givan yang memiliki nama mirip dengan Givan tersebut.
"Loh, katanya dulu kan ada akad sampai lima puluh juta kan? Mau itu uang halal, mau itu uang haram, aku tak mau tau, yang penting Kakak bayar uang aku. Aku tak ikhlas dan aku hitung hutang uang tersebut."
Ai melongo saja, ia baru tahu ternyata ada anak orang kaya seperti Gavin. Ia kira, Gavin begitu royal seperti Givan.
"Kan udah aku pakai untuk kebutuhan hidup aku, Vin. Kamu sih gampangin banget! Minta sana ke Givan aja, aku kan di rumah sakit karena anak dia." Ai mengusap-usap perutnya.
Gavin membuang napas kasar. "Bang Givan tergantung kak Canda. Bang Givan tak ada izin dari kak Canda untuk bayarin biaya rumah sakit kau, Kak! Dia minta, kau bayar sendiri. Aku tak mau tau, kalau kau tak bayar, kau harus kasih aku barang kau senilai delapan juta. Entah itu HP kau kah, atau emas kah. Terserah, yang penting bayar," tegas Gavin dengan cepat.
Ai menggeleng berulang. "Tapi aku gak mau, Vin. Coba minta Givan langsung aja, jangan ke Canda." Kekesalan Ai bertambah, ketika ia tahu Canda melarang Givan untuk membayarkan biaya rumah sakitnya.
Dengan pernyataan Gavin seperti itu, Ai memahami bahwa Givan masih begitu royal dan ingin mengurusnya. Namun, terhalang oleh Canda yang seolah memisahkan Givan darinya.
"Aku udah malas kalau kek gini. Kelak nanti kau sekarat, aku tak bakal mau urus lagi. Udah biarin aja pingsan dan sampai lahiran di tempat juga, sungkan nolong orang kek kau. Uang ada, tapi tak mau bayar!" Mata Gavin menangkap ponsel yang berada di genggaman tangan Ai. "Udah tuh, HP kau aja! Sini biar aku bawa, biar masalah rumah sakit ini selesai."
Ai langsung menyembunyikan tangannya yang menggenggam ponsel di belakang tubuhnya. Ia seperti anak kecil yang menyembunyikan sebuah permen dari orang tuanya.
"Mau aku rampas HPnya, atau kau ganti uang aku?!" Pilihan tersebut tidaklah ramah untuk Ai.
"Ya udah, aku ganti uangnya." Ai terpaksa mengambil keputusan itu.
"Oke, kapan? Mau dibayar cash apa transfer?" Gavin masih menginginkan kepastian.
Ai malah ingin segera menyelesaikan masalah piutang dengan Gavin. Lintah darat saja, tidak seperti itu. Mereka malah senang, jika uangnya tidak dibayarkan karena akan semakin menggunung.
__ADS_1
"Transfer aja. Mana nomor rekening kamu?" Ai langsung membuka aplikasi mobile banking miliknya.
Gavin segera menyebutkan nomor rekening miliknya, ia pun sampai menunggu saja hingga Ai menyelesaikan transaksinya.
"Tuh buktinya, delapan juta." Ai membalik layar ponselnya ke arah Gavin.
"Oke." Gavin mengangguk dan segera pergi dari ambang pintu kamar tamu tersebut.
Ai menutup dan mengunci pintu kamar tersebut, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia berpikir, berapa lama lagi ia menunggu kejelasan seperti ini?
Uangnya sudah semakin habis, karena menurutnya jaminan uang dari Givan tidak seberapa. Hanya dua juta sebulan, berupa uang tunai yang Givan amplopkan untuknya. Jika sembako, Ai akui dirinya tidak kekurangan. Namun, jika ia bisa meminta. Ia akan lebih meminta untuk diberi uang saja, ketimbang dengan sembako tersebut.
Ai lebih suka memakan makanan siap saji, bukan mengolahnya lebih dulu agar bisa dimakan. Ia kerepotan untuk itu, meski segala-galanya sudah ada dalam kamar penginapannya.
"Gimana caranya biar Givan ngerti, kalau kebutuhan aku itu gak cukup dua juta?" Ai memutar-mutar ponselnya sendiri.
Ia bertambah yakin saja, jika Givan dan Canda hidup tanpa cinta. Hanya anak-anak yang menyatukan mereka, hanya anak-anak yang membuat Givan berat pada Canda. Belum lagi beban cucian kotor, ranjang yang harus rapi. Givan pasti membutuhkan seseorang yang mengurus hal itu, untuk kesehariannya. Pikir Ai seperti itu.
Meskipun pada dasarnya semua orang tua memikirkan anak-anak mereka. Sayangnya, Ai tidak mengetahui bahwa anak-anak Givan tidak diasuh oleh Canda secara langsung. Canda hanya mendidik, mengajari agama dan akhlak mereka. Pikir Ai kembali, Canda hanya sebatas baby sitter dan ART saja.
"Sulit untuk ambil Givan, karena anak-anaknya. Tapi kayanya mudah, untuk buat Canda pergi bawa anak-anaknya." Ai tersenyum lebar dengan memandang foto Givan yang terlihat masam dalam foto keluarga tersebut.
Sangat sulit menyadarkan diri sendiri, jika asumsi menurut versinya lebih masuk akal untuknya. Apalagi, sudut pandang Ai yang tidak mencangkup seluruh informasi yang dirinya tahu akan Givan dan Canda.
Ia semakin menjadi-jadi, untuk benar-benar bisa membawa Givan kembali. Ia masih begitu yakin, jika akhirnya usahanya tidak akan sia-sia.
__ADS_1
"Pahhhhhh...... Mah........ Ini baksonya dulu. Kata mas Givan antarkan dulu ini, terus mau pergi lagi kita."
Ai mendengarkan dengan seksama, suara Canda yang semakin mendekat dan bertambah jelas. Ia tiba-tiba teringat akan wujudnya saja, yang mampu membuat Canda pingsan. Ia berpikir, untuk keluar dari pintu kamar. Agar Canda berpikir, bahwa sekarang mertuanya berpihak pada Ai.
"Pakai korset hamil, Canda! Pakai motor kah kau?" Suara Adi, tidak kurang keras dari suara Canda tadi.
Ai segera melangkah ke luar kamar, sebelum Canda pergi dari rumah tersebut.
"Perut aku belum besar, ya mana bisa, Pah."
Bertepatan dengan pintu kamar terbuka. Canda dan Adi tengah mengobrol di ambang pintu utama tersebut.
Ai melangkahkan kakinya satu langkah ke depan, agar kehadirannya diketahui Canda.
"Papah, baksonya jangan dikasih Ai. Itu buat mamah sama Papah aja." Canda setengah berbisik, tapi terlanjur terdengar jelas di telinga Ai.
"Siapa yang pengen minta bakso?" Ai bertanya-tanya dalam benaknya.
"Oke, oke. Tenang aja. Nanti Papah sama mamah makannya di kamar, biar tak ada yang minta." Adi menyahutinya dengan suara yang ditekan juga.
Ai menyesal melangkah ke luar kamar, karena ia malah dituduh ingin meminta bakso. Ia ingin Canda shock melihat kehadirannya, bukan takut bakso yang ia belikan malah dimakan oleh dirinya.
"Oke. Tolong nanti tengokin Ceysa barangkali aku kelamaan di luar ya, Pah? Dia ada di rumah mangge, Shauwi lagi bantuin ibu Muna lipat baju." Canda beranjak memakai sandalnya kembali.
"Hamil besar nanti, gerak-gerak ya? Lipat baju aja masa nyuruh orang, Dek? Sulit kau cari ladang pahalanya, kerjaan rumah dibabat ART sama baby sitter semua." Adi hanya sebatas menasehati, bukan sengaja memberitahu Ai bahwa Canda tidak dijadikan sebagai baby sitter oleh Givan, apalagi pembantunya.
__ADS_1
Ai menajamkan telinganya, apa ia tidak salah mendengar?
...****************...