
"Mah, Pah, sopir pamit dulu katanya." Givan mencari keberadaan orang tuanya.
"Ya, Van." Adi meninggalkan dapur, setelah berbicara sesuatu dengan Adinda.
Mereka meladeni sopir yang berpamitan tersebut, kemudian masuk serentak ke dalam rumah mereka. Kebingungan bertubrukan di ruang keluarga, Givan menoleh bergantian para orang tuanya yang berada di sampingnya. Sedangkan Canda, ia terus memperhatikan bayi yang berada di dekapan Gavin.
"Ya Allah...." Perhatian mereka teralihkan dengan adik bungsu Givan yang baru keluar dari kamar.
Gibran memamerkan senyum lebarnya, karena merasa malu sudah menjadi pusat perhatian semua orang.
"Permisi ya?" Gibran berjalan melewati mereka, dengan menggandeng ibunya.
"Mah, aku mimpi basah tiap hari aja. Kenapa ya, Mah?" aku Gibran lamat-lamat.
Givan dan ayah sambungnya saling memandang, ia mentertawakan pengakuan jujur Gibran pada Adinda yang ditarik pergi tersebut.
"Anak siapa?" tanya Givan kemudian, setelah hening sesaat.
Gavin kembali memenangkan bayi tersebut, dengan sufor dalam dot botol. Keringatnya bercucuran, ia kewalahan mengurus bayi perempuan tersebut.
"Anak istri orang," jawab Adi dingin.
Sampai saat ini, ia masih mendiamkan salah satu anaknya tersebut. Rasa kasihannya tertutup dengan rasa marahnya, karena anaknya mengabaikan nasehatnya.
"Pah, udah aku jelaskan. Itu istri aku." Gavin kembali mengulangi kalimat tersebut sejak sembilan hari yang lalu.
"Pah, pegang dulu. Aku terkentut-terkentut, mau BAB dulu." Canda mengalihkan pandangannya pada suaminya. "Bantuin, Mas. BAB pertama." Ada raut ketakutan di wajah Canda.
"Hmm, dibilangin susah. Dibilang jangan ditahan, BAB tinggal BAB aja. Udah terhitung sepuluh hari dari sadar kan, kau baru BAB sekarang?" Givan mengajak istrinya ke kamar mandi orang tuanya.
"Kemarin tak mulas-mulas, Mas," sahut Canda kemudian.
"Aku iri sama saudara lain ayah. Bukan cucu kandung, ditimang disayang. Cucu kandung, ditolong pas nangis pun tak," sindir Gavin, dengan berbelok ke arah kamar yang ditunjuk oleh adiknya itu.
Adiknya keberatan sekamar dengannya yang memiliki bayi, karena ia sulit untuk memejamkan matanya. Karena rasanya, ia ingin selalu menggodai sang bayi agar terbangun.
Adi hanya tidak percaya, bahwa itu adalah cucunya. Ditambah lagi, kehadiran bayi itu disusul dengan kejadian yang kurang baik.
"Sana cari kegiatan di luar. Tapi bersihkan diri kau dulu," pinta Adinda, untuk anak bungsunya.
Adinda keluar kembali dari dapur, dengan langsung berbelok ke kemar Givan yang Gavin tempati.
__ADS_1
"Kau selalu ngomong tak enak, tapi pintu kau kunci terus. Sana pergi bawa anak kau, kalau kau sok mampu sendiri gitu!" Adinda berkata kasar, pada anaknya yang terkenal paling nakal sejak kecil tersebut.
"Aku tuh kek bukan anak Mamah." Gavin semakin merasakan bahwa ia seperti hidup seorang diri.
"Bukan memang! Anak Adi kau sama perempuan lain!" Adinda mengambil alih bayi yang diletakan di atas kasur dengan masih menangis kejar tersebut.
Ia tidak mengerti pada Gavin, Gavin terlihat seperti ingin membunuh bayinya dengan perlahan.
"Dinda!" Adi menegaskan nama istrinya.
"Udah Gwen lagi kejang terus! Kau kurung diri bareng anak terus! Cala prematur! Kau mikir gimana beban pikiran orang tua kau, Vin!" Adinda membawa bayi tersebut keluar dari kamar Gavin.
Mumpung pintu kamar tersebut terbuka, Adinda merasa punya kesempatan untuk membawa anak bayi itu kabur dari kamar. Ia tidak ingin menciptakan keributan sendiri, dengan mendobrak kamar anaknya yang mengurung diri bersama seorang bayi. Pikir mereka pun, Gavin tengah menenangkan dirinya sendiri. Namun, selama ini bukan ketenangan yang terasa. Tetapi, cenderung seperti ingin mati perlahan.
"Masuk ke kamar, Dek," pinta Adi, yang melihat istrinya keluar dari kamar tersebut dengan seorang bayi perempuan yang belum diberi nama tersebut.
Adinda mengangguk, kemudian membawa anak bayi yang terus dikurung itu ke dalam kamarnya dan mengunci kamar tersebut.
Cala kembali merengek, ia sedikit merasa asing dengan aroma tubuh yang belum ia kenal tersebut. Belum lagi ia kesal, karena ASI miliknya hilang entah ke mana.
"Bentar, Dek. Kakek mau cek dapur dulu, takut nenek kelupaan matiin kompor." Adi berjalan ke arah dapur dengan menyangga tubuh cucunya tersebut.
"Yuk, yuk. Cari biyung yuk?" Adi kurang bisa menenangkan anak yang terkenal dengan suka mengamuk tersebut.
Ia mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, sebelum akhirnya dibukakan oleh istrinya. Adi langsung terpaku, setelah ia berhasil masuk dan mengunci pintu kamarnya kembali.
Bukan menantunya yang tengah berbaring dan anak tirinya yang mengolesi minyak aromaterapi ke atas perut menantunya yang menjadi perhatiannya saat ini. Tetapi, seorang bayi yang terlihat begitu kurus dengan rambut yang lebat.
"Gila anak Abang ini! Ayo ke rumah sakit lah." Adinda yakin, bahwa anak bayi tersebut tidak baik-baik saja.
"Yang lebih gila ibunya. Abang tak habis pikir, dengan dia yang tiba-tiba buang bayi di teras. Abang masih ingat wajah pucatnya yang kabur, setelah Abang keluar rumah karena dengar pintu rumah diketuk beberapa kali. Rasanya lebih nyesek, dari ingat Ghifar yang diserahkan ke Abang masa itu. Lebih shocknya lagi, dengan Gavin yang ngaku bahwa itu anaknya. Dia bilang, dia tau kalau perempuannya hamil. Cuma, dia minta pisah karena suami dari perempuannya jemput dia dan anak pertama perempuan itu ke Brasil." Adi mengulang kembali cerita yang ia ceritakan pada istrinya.
Givan menyimak dengan seksama, bahkan ia diam tak bergerak saat mendengar cerita tersebut. Ia berpikir, pantas saja seribu alasan adiknya berikan agar tidak diminta untuk pergi ke Brasil lagi.
"Jadi, itu anaknya Ajeng?" Canda tahu tentang wanita Gavin.
"Oh, namanya Ajeng kah?" tanya Adinda dengan menoleh pada menantunya.
Canda mengangguk. "Dia pernah tinggal bareng Gavin, waktu Gavin baru pulang dari Brasil itu. Itu di sana, di penginapan Mamah."
Givan tepuk jidat, karena istrinya menyampaikan informasi di waktu yang kurang tepat.
__ADS_1
"Sarapan dulu, Dek. Ayo katanya ke rumah sakit dulu, entah ke mana itu lepasnya tali pusarnya. Disimpan Gavin tak itu, Dek?" Adi membenahi baju bayi yang tersingkap tersebut.
"Memang ke sini masih ada tali pusarnya, Pah?" Canda bangkit dari duduknya.
"Masih, masih kotor. Rambut masih kecampur noda darah. Kek baru lahir, dibersihkan dilap-lap, terus dibawa ke sini. Nyeseknya tuh, sengaja diletakkan di teras, kek dibuang gitu. Dia tak kasih baik-baik bayi itu." Adi mengusap pelipis bayi yang tengah kelabakan mencari sumber nutrisinya tersebut.
"Sini sama Biyung." Canda mengambil alih anaknya yang berada di dekapan ayah mertuanya.
Reaksi girang Cala, langsung diekspresikan dengan kaki dan tangannya yang menendang tak beraturan.
"Buatin sufornya, Dek," pinta Adi, dengan mengangkat tubuh bayi yang diletakan di atas kasur tersebut.
Adinda keluar dari kamar, ia masuk ke dalam kamar anaknya. Di sana, Gavin terlihat tengah melamun di depan jendela yang terbuka. Asap rokok mengepul, dengan sebatang rokok yang tergolek di atas asbak.
"Susunya mana?" tanya Adinda kemudian.
"Mamah jangan sok peduli. Balikin dia ke sini lagi!" Gavin melirik marah pada ibunya.
"SUSUNYA MANA?!!!" bentaknya yang membuat nyali Gavin untuk menentang ibunya langsung ciut seketika.
"Tadi habisin, Mah." Ia langsung mengekerut di sofa single tersebut.
"Ck...." Adinda berbalik arah dan keluar dari kamar tersebut.
Brughhhhhhh....
Adinda membanting pintu kamar tersebut dengan sengaja. Gavin langsung tersentak, dengan mengusap-usap dadanya.
Mata yang penuh kabut kemarahan itu, tersiram dengan air kelaraannya. Ia menggosok matanya, dengan merapatkan bibirnya menahan rasa yang terus membuat matanya berair.
Luka dan kekecewaannya terasa tidak seberapa, dari amarah ibunya dan tutur kata ibunya yang mengatakan bahwa dirinya adalah bukan anaknya. Gavin melupakan kelaraannya dari wanitanya seketika, karena bentakan ibunya barusan.
Ia mengurung dirinya dan anaknya, semata-mata karena tidak mau orang lain menjadi sasaran amarahnya untuk Ajeng. Caranya salah, karena ia seolah terkesan menyiksa anak yang baru melihat dunia tersebut.
Ia kini dirundung rasa takut, karena ibunya benar-benar marah padanya sekarang. Permasalahannya dengan Ajeng, seolah tertutup sudah dan berganti dengan kekalutannya akan amarah ibunya setelah ini. Gavin yakin, dirinya akan diberi kata-kata kasar lagi oleh ibunya.
"Mamah jahat betul, Ya Allah." Ia memeluk tubuhnya sendiri, karena terngiang-ngiang dengan ucapan ibunya.
"Canda, Canda. Mending kasih sufor prematur punya Cala, daripada......
...****************...
__ADS_1