Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM263. SDA dan seni


__ADS_3

"Loh?" Adi terlihat bingung, dengan mengambil secarik kertas yang diambil alih olehnya dari tangan istrinya.


"Kok bisa? Pantas aja, biaya kuliah beasiswa kok lebih mahal dari biaya kuliah Gavin?" Adi memberikan kertas tersebut pada istrinya.


"Untuk apa ambil desain?" Adinda memperhatikan anaknya.


Gibran khawatir disalahkan. Ia bersandar di tembok seberang ranjang, yang terletak di dekat jendela. Ia tertunduk takut, ia pun tidak berani menjawab pertanyaan ibunya.


"Aku cuma tertarik, Mah." Ia menelan ludahnya kasar.


"Kalau tertarik, kenapa tak dari awal? Jadi kau cuma perlu tekuni satu pendidikan aja. Pengembangan SDA kau, keknya percuma aja."


Gibran meluruskan pandangannya pada ibunya, ia tidak percaya dengan apa yang ibunya ucapkan.


"Tak ada yang namanya percuma, Mah." Givan menyentuh lengan ibunya sekilas.


"Percuma menurut Mamah, karena dia tak ada keminatan di bidang itu. Otomatis, itu jadi hal yang terpaksa dan berat dia lakuin. Kau dari awal Mamah tanya, Van. Kau mau kuliah di bidang apa? Kau jawab, kau mau tentang pertambangan. Oke, Mamah sesuaikan pendidikan kau mengarah ke usaha itu. Nyambung kan? Kau punya ilmu dasarnya kan? Ghifar, gimana? Aku tak mau kuliah, Mah. Aku udah pusing belajar, aku mau jadi kek Papah aja. Mamah kasih dia kebebasan dengan ladangnya, Mamah bebaskan dia berekspresi dengan ilmu dasar dari Papah kau. Rupanya, dia cuma belum menemukan keminatan dia, jadi dia berpikir bahwa ladang adalah keminatannya. Tak masalah, Mamah tak sesalkan. Gavin, mau bisnis. Cakap dia bisnis sana-sini. Urus yang di Brasil, bisa. Disuruh kau ini dan itu, dia mampu. Itu bidangnya, dia mampu handle dan tanpa keterpaksaan melakukannya. Bahkan, di awal tak ada perjanjian sama kau kan kalau dia dibayar sekian. Tak ada kan?" Givan langsung menggeleng, untuk merespon ucapan ibunya.

__ADS_1


"Ghava gimana? Kuliah satu semester tentang kewirausahaan, kelak nanti dapat gelar S.Bns. pindah ke Jakarta ambil tentang fotografi, S.Sn. Setelah itu, fokus dia sama fotografi, dia telat nyadarinnya. Ghavi, tetap lanjut sampai gelarnya S.Bns. Maksud Mamah, yang nyambung itu biar ada kecakapan di bidangnya. Udah begini ya udahlah tak perlu disesali juga. Cuma kelak nanti anak-anak kalian dewasa, arahkan yang benar. Yang jadi anaknya pun, jangan kek kau, Bran! Mamah bilang dari awal, mau di bidang apa? Mau tentang SDA aja, karena sumber daya alam di masa Mamah dan masa aku pasti beda. Pantaslah kau malas di segala bidang usaha yang ada di kakak kau. Kenapa tak sana ke bang Ghava, dia ada studio. Entah kau jadi juru potret di sana, atau jadi editor." Adinda tidak marah, ia hanya menjelaskan tujuannya sejak awal menanyakan tentang keminatan anaknya. Hanya saja, nada bicaranya bercampur kekesalannya karena Gibran terlalu lama diam dan tidak mengatakan tentang keminatannya. Jika mereka tahu lebih cepat, Adinda yakin di usianya, Gibran pasti sudah sukses di bidang yang ia kuasai.


"Aku kurang suka motret, Mah. Kecuali, motret cewek seksi," akunya lirih.


"Ya ampun!" Adi dan Adinda geleng-geleng dan menghela napasnya.


"Di sana ada kejuaraan buat mural, graffiti di tembok. Bahkan disediakan satu kampung, yang rela dinding-dindingnya di hias. Cuma, aku tau di sini aku tak berguna. Makanya, aku ambil bidang SDA aja, biar jadi pilihan aku untuk bertahan hidup di lingkungan ini. Seni cuma ego aku aja, Mah. Mungkin dasarnya, memang aku malas, jadi aku belum berhasil di usia aku sekarang. Aku tau, anak-anak Mamah pasti sukses di usia muda. Cuma aku yang tak, karena aku malas." Gibran merendah, karena dirinya takut.


"Kata siapa? Kemarin Papah ngobrol sama tukang cat di sekolah TK. Dia dibayar perjam, dua juta. Untuk buat kartun Upin dan Ipin, Spongebob Squarepants dan Robot Poli di dinding sekolah. Dia juga buat alfabet, angka dan hiasan gambar hidup yang menggambarkan taman di dinding pagar sekolah TK itu. Kau bisa pakai pilox atau pakai cat?" Adi langsung mendapat tepukan, karena pertanyaan akhirnya tak penting menurut Adinda.


"Cat, pilox, pensil warna, cat air, spidol, crayon dan pensil dan pulpen pun bisa. Di objek manapun bisa, cuma aku lebih suka di dinding. Kamar aku yang di sana pun, penuh gambar," terangnya kemudian.


"Mamah sih tukang cat berkualitas." Gibran terkekeh kecil dengan berjalan ke arah ibunya.


Ia duduk dan menepuk bahu kakaknya. "Abang kenapa bisa sukses di bidang ini dan itu?" Gibran memandang kakak tertuanya.


"Terpaksa," aku Givan dengan terkekeh.

__ADS_1


"Kakak ipar kau tak paham tentang bisnis, apalagi bangun konveksi besar. Mau tak mau, Abang sebagai suami harus turun tangan, karena tak mau usaha kakak ipar kau turun ke tangan orang lain. Kalau toko grosir material bangunan itu, karena adanya peluang. Di sini jauh toko material, padahal di sini banyak pembangunan besar-besaran. Kawasan ladang kan, yang bertahan cuma ladang Papah aja. Ladang pisang saksi bisu Ghava aja, udah jadi rumah penduduk semua." Givan terkekeh seorang diri, kala teringat kisah cinta adiknya itu.


"Sisanya kan, karena amanat. Titipan, untuk anak Abang sendiri. Kalau bukan untuk anak akhirnya, Abang tak mau capek-capek terbang ke sana ke mari. Di usaha Ghifar, Abang ada saham di sana, mau Ghifar maju, karena mau uang Abang yang di Ghifar pun beranak pinak," lanjutnya kemudian.


"Kau jangan dulu maruk, Bran. Sukseskan satu dulu, kau maunya di bidang apa? Sok, Papah modalin." Adi menguap, ini sudah waktunya tidur.


"Aku tak punya koneksi, untuk jadi tukang cat berkualitas itu." Gibran bingung untuk memulai usahanya.


"Kau upload gambar yang kau buat di sosial media kau. Terus, kau kasih follow akun-akun orang grafitti di sini. Setau Mamah, itu ada komunitasnya. Komunitas itu, jadikan informasi dan kadang rezeki kau, bukan untuk ngopi-ngopi aja. Kalau sampai di titik itu, kau tak berhasil. Mamah nantangin kau ubah ladang Papah pakai pengelohan terkini. Tak apa Mamah keluar modal, untuk ubah pengairan, atau beli mesin panen khusus, yang penting nguntungin untuk Mamah dan Papah di kemudian hari. Kalau kau berhasil, informasi tentang kau yang bisa ubah ladang untuk cepat sampai ke masa panen itu didengar peladang lain, otomatis kau dipanggil sana-sini untuk minta kau pakai jasa kau di mereka juga." Tantangan Adinda cukup menggiurkan.


Namun, Adi langsung menentangnya. "Lahan Abang bisa dibakar sama penduduk sini, Dek. Mereka nunggu masa panen, biar dapat upah dengan ikut panen. Kalau tenaga mereka tak bisa dipakai lagi, apa yang akan terjadi dengan lahan Abang setelah ini. Banyak doa dari mereka agar Abang cepat panen, untuk buruh yang menggantungkan hidupnya di lahan Abang. Kira-kira dong, Dek. Pakai hati nurani lah, pikirkan perasaan masyarakat bawah." Adi menepuk dadanya sendiri.


"Di lahan belakang, yang tak terjangkau itu loh. Kan banyak yang tak mau ikut rombongan ke lahan belakang, karena mereka ngeluh perjalanannya aja jauh meski pulang pergi diangkut mobil." Adinda meringis kuda.


"Itu bukan SDA, Mah. Itu SDM tuh. Kalau SDA itu, berpikir gimana caranya biar batubara di suatu tempat itu tak habis, emas di suatu sungai itu tak habis. Kalau pertambangan batu ya, gimana caranya batu itu tak habis dan tak menimbulkan permasalahan baru di tempat yang udah digerus pertambangan batu itu," jelas Gibran yang lebih mengerti di bidang yang ia pelajari.


"Iya kah?" Mereka semua tertawa bersama.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2