
"Udahlah, Ai!" Awang mencekal lengan adiknya.
"Van, Canda.... Kami semua minta maaf ya? Maaf, kalau ada salah-salah kata. Maaf, kalau ada tindakan kami yang kurang mengenakan." Awang langsung mendahului untuk mengatakan hal itu.
"Cepetan aja serius ini? Tak mau duduk-duduk dulu?" Givan memahami kondisi, bahwa Awang tak ingin adiknya banyak berbicara.
"Iyalah, Van. Itu mobilnya udah nunggu di rumah mamah Dinda." Awang menunjuk arah rumah itu berada.
"Oke-oke. Kami sama-sama minta maaf aja ya? Aku dan Canda pun minta maaf, maaf juga nih kalau menjamunya kurang baik." Givan tertawa kecil.
"Iya, Van, Canda. Kami pamit ya? Maaf, udah ngerepotin dan buat masalah selama ini." Awang menangkupkan kedua tangannya ke arah Canda.
"Iya, Bang. Sama-sama, kami juga ya?" Canda pun mengikuti hal yang sama seperti yang Awang lakukan.
"Udah gitu aja, aku was-was kalau kelamaan di sini. Ngerti sendiri aja ya?" Awang tertawa garing.
"Iya, iya, iya." Givan menyambungi tawa kecil untuk Awang.
"Ayo, mari. Assalamualaikum." Awang kembali ke pintu rumah, dengan merangkul adiknya.
Ia khawatir adiknya mengeluarkan suaranya yang tidak ramah lagi. Awang terlampau malu, karena sikap adiknya selama ini.
"Mereka di antar siapa, Mas?" Canda mendekati suaminya.
"Dendi." Givan masih memperhatikan tamu-tamunya tadi yang berlalu pergi.
"Mamah sama bang Ken juga kah?" Canda sudah menggandeng tangan suaminya yang terbebas.
"Iya, Canda. Tadi pagi kan mamah udah bilang. Susuin sih, Canda." Givan menghadap istrinya dengan alis yang menyatu.
"Mas?" Canda terlihat bingung, karena suaminya pun terlihat seperti menuntut.
"Cala, masa aku? Mau kau nyusuin aku? Gigi aku tajam-tajam begini." Givan mengoper anaknya pada istrinya.
"Kan Mas pakai kira-kira, aku kan suka," jawaban Canda membuat Givan geleng-geleng kepala.
"Ngode aja! Diajakin dibilangnya aku ini tak tau waktu!" ucapnya lirih.
"Ya Masnya tuh, cuma itu aja, jangan anu." Penjelasan ambigu tersebut itu dimengerti oleh Givan.
__ADS_1
"Laki-laki mana bisa, begitu ya sepaket." Givan beranjak untuk merebahkan di sofa.
"Aku merem dulu sebentar, semalam pulang jam dua aku ini." Givan merasa matanya pedas.
"Ya sana di kamar. Anak-anaknya keluar masuk rumah aja tuh, diganggu nanti ngamoook," sindir Canda dengan beranjak pergi ke kamar yang ditempati dua anak bayinya.
"Biyung dulu dilamar laki-laki tapi diminta untuk kasih enam anak, Dek. Dulu tak mau, sekarang malah Cala saudaranya banyak. Agak geli cinta Biyung ke yayah ini." Canda berbicara dengan anaknya, dengan terkekeh seorang diri.
Matanya sudah terpejam, tapi pikirannya berkelana ke mana-mana. Givan ingin masalah yang menghampirinya terselesaikan satu persatu, termasuk masalah tentang salah satu adiknya.
Rengekan salah satu bayi, yang mirip ayah sambungnya terdengar di telinga Givan. Givan ingin segera menyelesaikan masalah ayah dari bayi itu.
Ia mengurungkan niatnya untuk terlelap sebentar. Ia bangkit dan mencari keberadaan tangis manja itu, ia tahu rengekan itu agar seseorang mau menggendongnya.
"Cali cantik." Givan tersenyum lebar, dengan memperhatikan anak perempuan yang baru didekap seorang pengasuh yang siaga di kamar tersebut.
"Minta ASI kah dia?" tanya Givan pada pengasuh Cali.
"Tak, Bang. Abis ASIP, sendawa, terus aku rebahin dia. Tapi dia tak mau, maunya di tangan," jelasnya dengan mengayunkan tubuhnya mencoba menenangkan Cali.
"Yuk sama Ayah?" Givan mengambil alih Cali.
"Kau beres-beres aja." Givan sudah berjalan keluar kamar membawa Cali.
"Nanti sih, kalau Ai berangkat." Canda memalingkan pandangannya, saat berbicara dengan suaminya.
"Oke, aku lihat mereka dari studio aja. Aku bawa Cali ya?" Givan mencoba memasangkan topi untuk Cali dengan satu tangannya.
"Ya, Mas. Jangan lama-lama ya?"
Givan hanya menghela napasnya. "Ya, Canda." Menurutnya percuma pesan Canda yang mengatakan agar ia pergi jangan lama-lama, karena selalu tidak pasti keperluannya di luar rumah.
"Cium dulu." Canda mengulurkan tangannya dan memonyongkan bibirnya.
"Hm, ya ampun." Givan mendekat, kemudian mengadu bibirnya yang juga meruncing.
"Sebentar ya, Biyung? Semoga, Biyung tak kesepian." Givan memamerkan giginya.
"Lebay!" Canda terkekeh geli dengan mencubit lengan suaminya pelan.
__ADS_1
"Dadah Kak Cala, Adek Cali mau jalan-jalan dulu." Givan menggerakkan tangan Cali pelan, untuk melambai pada Cala yang berada di dekapan istrinya.
"Iya, Adek. Hati-hati ya?" Canda mewakili Cala untuk menjawab.
"Iya." Givan beranjak pergi.
Ia lewat dari pintu samping, secara tidak sengaja ia bertemu dengan istri Ghifar yang tengah mengayun anaknya. "Ya ampun, orang ngidam pucat sekali." Givan geleng-geleng melihat kondisi Aca.
"Bawa ke sana sih, Van. Ghifar ada di sana tuh, aku lagi tidur siang. Kepala aku mumet betul, kurang tidurnya." Aca mendekati Givan yang berada di halaman rumahnya.
"Pakai kereta dorong tuh, aku lagi gendong Cali." Givan merasa tak sanggup menggendong dua anak, dengan satu anak yang sudah besar.
"Oke, oke." Aca berjalan memutar, untuk mengambil kereta dorong anaknya yang berada di garasi mobil.
"Yey, Hifzah ikut jalan-jalan." Givan mencolek-colek dagu Cali, mengajak anak itu berbicara.
"Yayah, I love you," pekik Ra, dari jendela ruang tamu. Ia tengah bermain di sana, ia tidak berniat untuk ikut dengan ayahnya.
"I love you too, Cantiknya Yayah." Givan melambaikan tangannya pada anaknya. Ia harus terbiasa mengatakan hal itu secara lisan, karena ia baru tahu jika hal itu penting.
"Nih, Van. Kasih aja ke Ghifar, aku lagi tidur siang gitu, pengasuh lagi nyuapin anak-anak." Aca menempatkan anaknya di dalam kereta dorong tersebut.
Anak satu tahun itu menolak, untungnya ada sabuk yang membuatnya aman di tempatnya.
"Berangkat, Dek." Givan mulai mendorong kereta bayi tersebut, dengan menyusuri teriknya matahari menjelang siang ini.
Ia melihat kendaraan milik orang tuanya, yang membawa rombongan tersebut. Ia pun melihat ibunya dan kakak angkatnya berada di dalam mobil, ia yakin kakak angkatnya mampu menjaga ibunya dengan baik.
"Cucu-cucu Kakek yang cantik." Adi mendekati Givan.
"Ghifar mana, Pah? Istrinya mau lanjut molor, orang ngidamnya mumet kepalanya katanya." Givan mengunci roda kereta dorong tersebut.
"Ada di dalam rumah, lagi bantu Gibran lepas ranjang. Mau dijadikan apa entah kamarnya, Papah cuma perlu ngontrol aja. Hifzah jalan-jalan sama Kakek aja, papa lagi sibuk." Adi membuka kunci kereta bayi tersebut, kemudian mengambil alih pegangan kereta bayi tersebut.
Hifzah dibawa kakeknya berjalan-jalan, menyisakan Givan yang masih berdiri di teras studio bersama Cali.
"Ayah kau mana, Dek? Yayah telpon dulu ya?" Givan mencari tempat duduk, kemudian mengubungi adiknya.
"Vin, gimana ke Brasilnya? Sini diobrolin." Givan mulai berbicara dengan teleponnya.
__ADS_1
"Oh, lagi di jalan. Ya udah, Abang tunggu di depan studio. Abang sama anak kau, ngerengek aja di rumah, minta diangkat terus." Givan melirik anak yang berada di dekapannya.
...****************...