
"Di rumah nenek waktu itu, aku pusing Cani nangis terus. Cani kalau udah nangis gampang-gampang susah suruh berhentinya." Zio menyugar rambutnya ke arah kiri.
"Kalau Zio ketemu sama bunda mau tak? Zio kenalan, Zio ngobrol." Givan ingin mengetahui pendapat anaknya sendiri. Ia tidak akan memaksa Zio, jika Zio enggan bertemu dengan ibu kandungnya.
"Yah, sebetulnya ini dalam rangka apa? Aku ini anak pungut, atau gimana? Dengan nanti bunda ke sini, apa aku diminta ikut? Atau, dalam kepentingan apa? Aku tak ada dendam, aku tak marah juga sama pihak yang tak aku pahami. Tapi, untuk apa gitu? Kalau datang untuk jemput aku, aku bakal ikut kalau Ayah perintahkan. Ayah perintahkan pun, pasti dengan alasan kan? Bisa jadi, Ayah memang tak butuh aku lagi. Karena Ayah udah punya banyak anak, Ayah tak butuh anak pancingan kek aku lagi." Zio memiliki sudut pandang tersendiri. Ada rasa tersinggungnya, kala mendengar ibu kandungnya akan datang.
"Apa Ayah pernah bilang, kalau Zio bukan anak Ayah?" Givan kurang terima dengan pernyataan Zio. Menurut Givan, itu cukup kasar dan menyakiti hati anak itu sendiri.
Zio menggeleng. "Tapi dengan aku bukan anak biyung, berartikan aku bukan anak ayah."
Givan mencerna ucapan anaknya. Ia teringat, akan pemahaman edukasi se*k*u*l yang pernah ia berikan. Ia mengatakan bahwa berhubungan suami istri, beresiko memiliki anak. Givan menebak, mungkin Zio menjabarkan jika Canda dan Givan berhubungan akan menghasilkan anak, tapi dirinya bukanlah anak mereka, menandakan bahwa dirinya adalah anak pasangan suami istri yang lain. Logika dan rasional Givan mencoba memahami sudut pandang polos tentang pemikiran anaknya yang beranjak remaja tersebut.
"Hmm.... Papa Ghifar menikah dengan mama Aca, Zio lihat kan foto nikahannya?" Givan membentuk jemarinya seperti bingkai foto.
Givan menarik contoh tersebut, karena hanya Ghifarlah yang berganti istri beberapa kali.
Anak itu mengangguk. "Mamahnya Nahda kan? Mama asuh Ra?"
"Betul." Givan mencolek hidung anaknya.
"Zio ingat tak sama almarhum mama Kin?" lanjut Givan dengan memandang wajah anaknya.
"Ingat, mamanya Kal sama Kaf kan, Yah? Kemarin kan aku datang ke tahlilan peringatan tahunan meninggalnya mama Kin." Zio sesekali memandang ayahnya.
"Ya Zio kek gitu. Zio bersaudara kek Kaf dan Nahda." Givan berharap anaknya memahami contoh yang ia berikan.
__ADS_1
"Loh? Katanya bunda mau nengok?"
Givan menepuk jidatnya. "Iya, paham. Bedanya, mama Kin udah meninggal, terus papa Ghifar nikah lagi sama mama Aca. Nah, kalau Ayah nikah lagi tapi bundanya Zio tak meninggal." Givan khawatir dirinya dicap jelek, karena terkesan seperti membuang ibu kandung Zio dari rangkaian ucapannya.
"Kenapa?" Zio memandang netra ayahnya dengan tatapan bingung.
"Hmm, karena bertengkar terus. Ayah jarang pulang, soalnya kalau pulang berantem terus." Givan sengaja menyembunyikan bahwa ibu kandung Zio telah menjual beberapa barang orang tua Givan, tanpa izin sang pemilik.
"Memang bisa ganti-ganti istri, Yah? Bukannya itu kan pasangan yang udah Yang Kuasa kasih untuk kehidupan kita?"
Ketika anak-anaknya memahami sebuah rumus takdir, tapi Givan tidak bisa menjabarkan dengan contoh yang mudah. Akhirnya, ia memilih untuk menggaruk kepalanya berulang kali sampai menemukan penjabaran yang mudah.
"Gimana ya???" Givan masih sedikit bingung.
Ia memandang wajah anaknya yang mengamatinya dengan seksama. Apakah ia harus menjelaskan bahwa dirinya adalah bukan laki-laki baik? Tapi itu bukan suatu kebanggaan untuknya, ia tidak mau anaknya tahu tentang aibnya.
"Terus?" Zio masih memandang ayahnya dengan seksama.
"Terus bercerai sama bundanya Zio. Ayah fokus kerja, cari uang, bangun rumah. Ayah balik menikah lagi sama biyung, terus punya adek Ra, adek Cani, sama adek yang masih di perut biyung." Givan tersenyum lebar.
"Loh? Kak Key datang dari mana? Adek Ceysa? Kak Jasmine?"
Givan mengacak-acak rambutnya seketika. Ia melupakan cerita dari tiga tokoh tersebut.
"Begini deh, ulangi ya? Ayah ada lupa soalnya." Givan terkekeh kecil.
__ADS_1
"Oke, gimana?" Zio kembali menantikan cerita ayahnya.
"Awal pertama kalinya, Ayah menikah dengan mamah Fira." Givan akan meralat kebohongan ini dan memohon ampun setelahnya karena sudah membohongi anaknya.
"Mamahnya kak Key kan?" Zio aktif bertanya pada orang terdekatnya.
"Iya, betul. Terus bercerai lagi, karena ada masalah lagi." Givan terbingung-bingung, kala anaknya memasang telapak tangannya di depannya, membuat Givan tidak melanjutkan ceritanya.
"Ayah nikah cerai terus? Apa boleh begitu? Apa masalahnya berat? Apa mamah Fira juga tak maafin Ayah?"
Kepala Givan mulai berdenyut. Ia menyerah, harusnya ia tidak menceritakannya sekarang. Ia akan menunggu waktu yang cukup, agar Zio mengerti tentang segalanya.
"Iya. Kita ceritakan perlahan ya? Yang terpenting, Zio udah tau kan kalau bunda itu dan Ayah pernah menikah terus punya anak Zio?" Givan menyentuh kedua bahu anaknya.
"Iya, Ayah." Zio memahami urat tegas ayahnya, ia tidak berani untuk mengajukan pertanyaan kembali.
"Nanti setelah Zio udah besar, udah kerja, Ayah bakal ceritain untuk Zio jadikan pelajaran hidup. Kalau sekarang, belum waktunya, Nak. Zio harus fokus belajar, nanti SMA masuk pesantren ya? Nurut ya sama Ayah? Mau kan dipesantrenkan?" Givan dan Canda awalnya amat menginginkan anaknya dipesantrenkan lebih cepat. Tapi mengingat masa remaja datang di waktu pendidikan menengah pertama, Givan dan Canda ingin mengontrol dan memberitahu informasi dan wawasan sebanyak mungkin untuk anak-anaknya yang serba ingin tahu.
Agar masa beranjak dewasa anak-anaknya, di masa sekolah menengah atas nanti, anak-anaknya tidak begitu penasaran dan mencari tahu sendiri tentang rumus kehidupan dunia yang tidak ada di pelajaran mereka. Agar maksud baik Givan dan Canda memondokan mereka tersampaikan dengan baik, bukannya anak-anaknya malah berpikir bahwa mereka sengaja dibuang karena Givan dan Canda fokus pada anak-anak mereka yang kecil.
"Aku udah mau dari awal, Yah." Zio merasa dirinya pernah menyetujui rencana orang tuanya tentang hal itu.
"Iya, Zio harus punya ilmu tentang agama. Terus, Zio praktekan kebaikan yang Zio terima di pesantren, untuk kehidupan Zio dan masa depan Zio. Untuk sekarang sih ada Ayah sama biyung yang selalu ngarahin Zio dan kasih perintah Zio untuk sholat dan segala macam, tapi kalau Ayah dan biyung udah meninggal kan tak adanya nasehati dan kasih perintah untuk sholat lagi. Biar kelak Zio paham pentingnya tiang agama, tak harus disuruh aja untuk sholat. Waktu sholat, ya cepat sholat." Givan berhasil mengalihkan pembahasan mereka.
"Iya, Ayah. Siap. Jangan bahas meninggal-meninggal aja. Nanti aku sama siapa? Ibu suka bahas begitu, masa Ayah juga?" Suasana menjadi sendu, saat anak laki-laki tersebut memeluk ayahnya.
__ADS_1
...****************...