Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM60. Musyawarah


__ADS_3

Musyawarah tertutup yang diadili di balai desa tersebut, membuat penasaran para warga. Belum lagi, ada seorang warga yang ditarik sebagai saksi membuat mereka bertambah bertanya-tanya.


Ai duduk dengan tegang, sejajar dengan kursi Givan, Adi dan Adinda, juga seorang warga yang bernama Eva. Setelah diketahui ternyata Eva ditarik ke persidangan desa, ia menolak semua uang yang Ai tawarkan. Pengusiran secara tidak hormat bisa saja dialami olehnya, jika ia kedapatan memberi keterangan palsu atau pengakuan yang tidak sama dengan Ai. Ia akan lebih disalahkan karena telah menyebarkan fitnah, jika ia menyetujui permintaan Ai akan dirinya yang harus mengatakan bahwa ia yang mengatakan kalimat tidak benar tersebut.


Anak-anak Adi dan Adinda, juga keluarga dari Eva menjadi saksi atas musyawarah sederhana ini. Musyawarah ini dilakukan, semata-mata agar kampung ini kembali nyaman dan tentram.


Hanya obrolan dan tanya jawab seperti biasa, karena sifatnya musyawarah, bukan persidangan. Namun, begitu mencekam untuk seorang Ai.


"Dek Eva, betul tak Dek Ai pernah bercerita tentang dirinya menjadi istri siri Bang Givan beberapa waktu dulu?"


Ai mulai gemetaran, wajahnya seketika pucat pasi. Ai terlihat seperti orang yang belum makan sarapan di jam sembilan pagi ini.


Eva mengangguk. "Ya, Keuchik. Saya dikirimkan bukti fotonya juga, bukti tangkapan layarnya udah Saya kasih ke Pak RT." Eva menoleh ke arah RT setempat, yang duduk di sebelah kepala desa tersebut.


Ai tidak menyangka, ternyata Eva tidak pernah menghapus bukti chatting mereka.


"Terus, kau sebarkan ke siapa aja?" Obrolan tersebut terdengar santai.


"Tak pernah aku sebar, Keuchik. Tapi memang Saya pernah kasih tunjuk ke Bu Ummu, Ma Nilam, ke Canda dan Givan sendiri. Saya pun tidak bermaksud untuk menyebarkan, tapi menanyakan langsung kebenaran itu. Apalagi kan, Saya bukan orang jauh juga. Saya tetangga dekat Teungku Haji, juga kawan SD Givan." Eva menoleh pada orang-orang yang ia sebutkan, lalu ia fokus kembali pada kepala desa yang mendengarkan ceritanya.


Perempuan berpendidikan D2 tersebut, cukup cerdas untuk menyikapi suatu kebenaran. Naas saja, saat itu ia lebih percaya bualan Ai karena begitu kasihan pada Ai. Guru TPQ tersebut, sudah berkata jujur dengan informasi yang ia dapat.


"Tapi, kabar simpang siur itu didengar satu kampung. Kalau kau bukan yang menyebarkannya, terus siapa lagi?" Kepala desa tersebut mencerna tangkapan layar dan bukti foto tersebut.


"Mungkin saudari Ai sendiri, Keuchik. Saya paham norma dan sanksi, Keuchik. Kalau memang Saya terbukti bersalah, Keuchik bisa kasih Saya sanksi yang sepadan."

__ADS_1


Dengan merendahnya Eva pada kepala desa, membuat nyali Ai semakin ciut. Ia merasa tidak sanggup untuk mengatakan yang sejujurnya, karena semua hal dusta tersebut dirinya yang menyebarkan. Setiap ketika ada orang yang menanyakan siapa dirinya, Ai mulai bercerita bahwa dirinya ada istri siri dari seorang Ananda Givan. Tanpa malu, ia menunjukkan perut cembungnya bahwa ia mengandung anak Ananda Givan.


"Tenang, Dek Eva." Kepala desa tersebut tertawa kecil, yang membuat cair suasana menegangkan ini.


"Barangkali Keuchik tak percaya." Eva berbaur dalam tawa ringan itu.


"Yang penting jujur ya. Mohon kejujurannya ya semuanya?" Kepala desa tersebut tersenyum lebar pada mereka semua.


"Siap, Cikgu."


Tawa mereka lepas, karena reaksi dari hadirin yang hadir dari keluarga Adi's Bird. Canda pun terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri yang ditertawakan mereka.


"Kakak Ipar, Keuchik ya? No cikgu! Cakap betul-betul! Biar Awak ajarkan." Ghavi serasa ingin mencubiti kakak iparnya itu.


Canda yang duduk di sebelah Ghavi, malah mencubit Ghavi lebih dulu. Rasa geli Ghavi, bercampur dengan tidak percaya saat Canda mencubitnya padahal ia tidak bersalah.


Namun, tiba-tiba ada seseorang yang jatuh dari atas kursi dengan keadaan tidak sadar. Tubuh sintal itu terhuyung ke depan dan jatuh di lantai.


Karena sifat kemanusiaan, mereka bergegas menolong Ai. Sudah beberapa tetes minyak aromaterapi digunakan, nyatanya tak membuat perempuan hamil yang tengah cemas itu segera bangun.


Musyawarah kali ini ditunda begitu saja, lantaran kejadian yang tidak terduga ini. Mobil Pajero berplat DK itu, bersiap mengantarkan Ai menuju ke fasilitas kesehatan terdekat.


Adinda dan Adi pun, ikut serta di dalam Pajero tersebut bersama Ghifar. Tetapi, Canda mencekal lengan suaminya. Ia tidak rela ditinggalkan di balai desa oleh suaminya, yang tadi sempat membantu Ai untuk masuk ke dalam mobil.


"Kau tak ikut kah, Van?"

__ADS_1


Bersamaan dengan gelengan berulang dari Givan, yang mengerti akan istrinya yang tidak mau ditinggalkan barang sejenak itu. Mobil tersebut langsung melaju, untuk mengantarkan Ai ke puskesmas terdekat.


Hanya pingsan dan luka ringan, yang membuat mereka berpikir bahwa puskesmas saja cukup untuk Ai. Sempat Adinda berpikir bahwa itu adalah iklan yang diberikan Ai sendiri, tapi ternyata tubuh wanita hamil itu benar-benar tengah drop.


Tensinya begitu rendah, dengan rujukan dari puskesmas yang membuat Ai harus dirawat inap di fasilitas kesehatan. Dalam ruang inap pasien tersebut, kini Adi, Adinda dan Ghifar saling memandang.


Siapa di antara mereka yang sudi menjaga Ai sampai terbangun?


Ghifar pun langsung menggeleng, ia teringat akan anak bayinya yang suka begadang itu. Ia pun teringat dengan telur kejutan yang dipinta oleh anak tirinya, yang tengah demam di rumah.


"Aku cuma antar aja, Pah. Aku tak berniat nunggu dia," ucap Ghifar, dengan memperhatikan wanita yang terpasang alat bantu pernapasan tersebut.


Mereka tidak menyangka, ternyata kecemasan Ai itu berujung serius. Untuk vonis sementara, janin tersebut kekurangan suplai oksigen, karena ibunya tengah stress berat. Jika tidak tertolong, janin tersebut bisa meninggal di dalam kandungan Ai.


"Ya udah, Papah aja. Bawa Mamah kau pulang, Far." Adi berjalan ke arah sofa.


Adinda mendekati suaminya. "Kemarin biasa aja, kalau Abang nunggu di rumah sakit. Sekarangnya udah tua, udah pikun, aku malah takut Abang lupa kalau nungguin pasien, khawatirnya malah Abang inget bahwa Abang di sini pasien," ucapan tersebut sebenarnya tidak bermaksud untuk meledek Adi. Namun, Adi langsung tersinggung dan menarik tangan istrinya untuk duduk di sebelahnya.


"Ya udah sama Adek di sini berarti. Biar kita yang main dokter-dokteran karena udah pikun." Tanpa canggung, pak tua tersebut mencium istrinya di depan anaknya yang tengah memperhatikannya.


Ghifar hanya bisa menghela napas dan geleng-geleng kepala. "Ya udah aku pulang sendiri ya, Pah? Mah? Butuh apa, biar nanti bang Givan atau siapa yang anterin." Ghifar berjalan ke nakas, untuk mengambil air mineral kemasan botol miliknya. Kemudian, ia meneguknya beberapa kali.


"Ya, nanti dibuat list sama Mamah. Nanti Mamah chat ke nomor kau, Far. Coba pastikan dulu gimana suasana di balai desa, obrolannya dilanjut tak gitu," ujar Adinda kemudian.


...****************...

__ADS_1


Curiga obrolan masih lanjut di balai desa 🤔


__ADS_2