
"Cerna satu persatu, pahami sudut pandang berbagai pihak. Abang tau, tersakiti memang kalau jadi Adek. Udah berapa kali Givan begini kan? Tapi terus-terusan Adek harus terimakan. Tapi dibayangkan dulu, gimana kalau Adek jadi dia. Dibayangkan juga, gimana kalau Adek jadi orang ketiganya." Suara lembut itu, mengalun halus masuk ke telinga Canda.
"Apa ada orang yang bayangkan, gimana rasanya jadi aku?" Canda langsung bersedih, karena ia memikirkan posisinya sendiri yang tidak dipikirkan.
"Kalau Givan tak mikirin Adek, pasti dia langsung ambil jalan keluar kek yang kemarin. Di mana dia nikahin perempuan itu, kek kasusnya yang buat Adek pergi dari Aceh. Logikanya begitu aja, Dek."
Canda telat memahami situasi. Setelah ada yang menjelaskan seperti ini, ia baru memahami bahwa suaminya tidak begitu egois. Suaminya ada memikirkan tentang dirinya.
"Kalau mertua Adek gak pikirkan Adek, dia udah dorong anaknya untuk nikahin itu perempuan. Karena pasti umumnya orang tua berpikir, bahwa itu perempuan udah mengandung cucunya. Mereka ingin cucu-cucunya hadir ke dunia dengan tidak disusahkan," lanjut Nalendra sementara Canda mengambil kesimpulan sendiri.
Benar. Canda mulai membuka matanya mengenai situasi yang ada.
"Terus, untuk apa aku pikirkan tentang mereka? Mas Givan jahat sama aku. Ai pun lebih jahatnya." Canda berpikir, jika ia memikirkan mereka itu tidak ada gunanya.
"Memang jahat. Adek pun mungkin dirasa jahat dan ada menyakiti menurut orang lain, cuma Adek gak merasa aja. Kita ini manusia, bukan kehendak kita untuk menghukum. Kan agama Adek luas, pasti tau kan siapa yang lebih berhak menghukum dan lebih pas memberi hukuman sesuai porsinya? Sabar, sabar. Semua pasti dapat balasan, termasuk Adek, yang gak menyadari. Kasarnya kan begitu. Kesalahan sekecil apapun, pasti akan dibalas oleh Yang Kuasa. Apalagi kesalahan besar dan menyakiti hati orang baik kek Adek. Doa orang yang didzolimi, meskipun ia adalah orang kafir, pasti doanya langsung didengar Yang Kuasa. Apalagi doanya orang muslim dan taat beribadah terus kena dzolim, itu kan pasti mustajab betul. Tapi mungkin cara Allah menghukum dan Hakim Agung menghukum itu beda. Hukuman Allah, bisa datang perlahan, lama, atau ada suatu nikmat yang dicabut, atau bisa jadi menjadi perhitungan di akhirat nanti. Kalau hukuman dari pengadilan kan, mungkin hanya kebebasan saja yang dibatasi, raga yang dipenjara, atau dikenakan sanksi dana yang tidak sedikit. Adek gak berhak hukum suami sendiri, itu suami Adek, Adek pun pasti tersakiti jika suami sendiri dihukum. Apalagi, kalau yang menghukumnya diri sendiri. Adek udah kek lagi menghukum diri Adek sendiri tau gak? Adek udah sakit hati karena persoalan ini, ditambah sakit juga karena hukuman yang Adek kasih untuk suami sendiri. Diamkan suami, suruh suami pergi, suruh suami jauh, apa Adek tak tersiksa sendiri?" Canda mengangguk beberapa kali, ia membenarkan ucapan laki-laki yang pernah seranjang dengannya tersebut.
"Biarkan Allah yang kasih hukuman, biarkan Allah yang kasih keadilan. Itu bukan tugas Adek, tugas Adek ya temani suami Adek dalam suka dan duka. Masalah seperti ini pun, ya duka untuk suami Adek dan Adek. Dia tidak dalam keadaan senang, kalau Adek malah buang dia dalam keadaannya yang lagi butuh bantuan kek gini. Khawatirnya pas dia udah senang lagi, bukan Adek lagi yang diajak, karena Adek buang dia pas dia lagi dalam keadaan gak senang." Canda hanya menyimak suara yang masih ia dengarkan dari seberang telepon tersebut.
"Nasehat Abang beda-beda, aku jadi bingung." Canda malah teringat nasehat Nalendra beberapa waktu silam.
"Beda apanya? Yang kemarin kan, Adek bingung untuk cari fakta yang sebenarnya. Adek tak percaya Givan, tak percaya korbannya. Makanya Abang sarankan Adek cari informasi sendiri. Tapi tetap, salah kaprah pas praktek lapangan. Model-model kek Adek gini, ya memang harus ada yang pegangin terus, soalnya pembimbing aja gak cukup. Dibimbingnya apa, prakteknya apa. Yang disalahkan, ya yang ngasih saran." Nalendra seperti menggerutu.
Canda tertawa malu, ia sampai menutupi mulutnya sendiri. "Tapi aku udah cari informasi sendiri kok pas itu." Canda sedang membela dirinya.
__ADS_1
"Bukan cari informasi, kalau orang ketiga ngomong terus langsung dijadikan beban pikiran. Udah beberapa kali kejadian, ucapan pihak ketiga ini langsung ditelan bulat-bulat. Waktu Putri, begini kan? Sekarang, kejadian lagi."
Kembali, Canda baru menyadari ternyata dirinya memang seperti itu. Jika tidak ada yang mengatakannya langsung padanya, Canda tidak akan mengerti jika benar dirinya memang seperti itu.
"Aku mesti gimana, Bang?" Canda merebahkan tubuhnya di sofa kamarnya. Kantuknya mulai datang dari uapan lebarnya.
"Kalau memang gak percaya Givan, ya gak harus ucapan si korban juga dicerna bulat-bulat. Karena, bisa jadi korban juga mencari kecacatan pengakuan Givan dan ditambahkan dengan pengakuan yang semakin membuat orang iba padanya. Kalau memang gak percaya sama Givan, setidaknya percaya sama bukti lah. Kalau bukti kurang meyakinkan, coba cari keyakinan sendiri lewat tindakan Givan ke Adek atau ke pihak ketiganya. Misal masih ragu juga, coba minta petunjuk yang sejelas-jelasnya lewat Sang Penguasa. Udah dulu ya telponnya?" Mendengar telepon mau disudahi, Canda segera mengucek matanya dan mengecek detik dalam panggilan telepon yang masih berjalan itu.
Ghifar adik ipar. Nama kontak tersebut yang masih tersambung dengannya. Canda mulai kebingungan di sini, karena dia tadi bukan sedang berbicara dengan adik iparnya.
"Mau ke mana?" tanya Canda kemudian.
"Mau ke pasar malam sama mama, ikut tak? Kalau ikut, nanti kita samperin ke rumah."
"Ghifar?" Canda memastikan nama dari pemilik suara tersebut.
"Iya, Canda. Apa? Ikut tak? Aku udah di teras rumah aku nih, udah lagi gandeng Ra."
Astaghfirullah, Canda menyebut istighfar dalam hatinya.
"Tak, Far. Aku udah ngantuk." Canda masih tidak mood untuk berjalan-jalan.
"Oke, mau nitip makanan tak?" Ghifar di sana memahami jika tengah hamil begini, biasanya Canda doyan jajan, bukan doyan makan.
__ADS_1
"Tak, Far. Udah makan nasi tadi sebelum Maghrib, masih kenyang," sahut Canda lirih.
Canda masih kebingungan di sofa kamarnya. Tadi, ia berbicara dengan siapa sebenarnya?
"Kan sebelum Maghrib, ini kan udah lepas Isya. Biasanya tak masalah untuk jajanan aja sih."
Suara banyak anak-anak sampai terdengar ke telinga Canda. Suara istri Ghifar yang lamat-lamat terdengar pun, dikenali juga oleh Canda. Ini benar-benar Ghifar yang menelepon, yakin Canda dalam hatinya.
"Beneran, aku masih kenyang. Udah dulu ya, Far?" Canda memilih memutus panggilan telepon itu lebih dulu.
Setelah panggilan terhenti, Canda langsung mengecek riwayat panggilan teleponnya. Karena ia berpikir, panggilan telepon tersebut pernah terputus dan tersambung lagi. Namun, catatan panggilan tersebut menjadi Canda semakin bingung.
Riwayat panggilan teleponnya dengan Ghifar, lebih dari lima belas menit lamanya. Tapi ia yakin, bahwa tadi ia menelpon dengan mantan suaminya. Bukan berbicara dengan Ghifar, si adik iparnya.
[Far, tadi telponan sama aku?] Canda langsung mengirimkan pesan pada Ghifar.
Ia mengingat kembali semua percakapan mereka, Canda masih ingat jelas dan yakin bahwa itu adalah suara mantan suaminya. Tapi kenapa, panggilan telepon tersebut tersambungnya dengan Ghifar?
...****************...
Ada yang pernah ngalamin? 🤔
Aku pernah sih, tapi pas sadar itu HP aku udah geletak aja. Tapi masih nyala layar ponselnya, masih ada di log panggilan juga. Pernah juga nulis kemarin, yang salah tulis di novel IS itu. Merasa menulis, tapi masih ingat jelas bahwa aku gak buat kalimat tersebut. Yang, 'gelarnya bisa untuk berbuat dosa' nah, itulah 😆 mungkin karena keadaannya udah ngantuk parah 😂
__ADS_1