Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM71. My wife is my life


__ADS_3

"Van, pengakuan mereka beda-beda. Abang udah buat rekaman videonya, karena mereka kan punya kesibukan sendiri terus nolak untuk pergi ke Aceh. Menurut mereka pun, mereka ini bayar, kalau resiko hamili ya itu ditanggung Ai."


Givan mengusap-usap surai istrinya, dengan mendengarkan penjelasan dari Kenandra lewat telepon.


"Ya udah, Bang. Kalau udah diusahakan, tapi hasilnya begitu. Balik aja, Bang. Kita bahas di rumah." Givan memikirkan pembahasan barusan yang ia bahas dengan istrinya, tentang Canda yang tidak mau ditinggalkan oleh dirinya meski hanya sementara untuk memenuhi masa hukumannya.


"Abang udah buat copyannya, udah kirim ke kau juga. Abang sih yakin bukti-bukti udah dipenuhi semua, tinggal nanti kau cetak bukti transfer aja, Van. Abang udah konfirmasi Vendra juga, katanya iya udah cukup."


Givan manggut-manggut. "Ya, Bang. Makasih, Bang. Hati-hati di jalan."


"Tapi aku balik ke Cirebon dulu, sidang akhir masalah Bunga itu. Sulit betul bawa anak balik, Abang ajak Riska rujuk dia tak mau juga." Semua orang memiliki masalah, termasuk Kenandra yang berperan membantu mencarikan bukti untuk Givan.


"Maaf ya, Bang? Aku banyak buat repot. Aku bisa bantu apa, biar kak Riska mau balik?" Givan memahami, bahwa harusnya dirinya pun memiliki timbal balik yang baik untuk Kenandra.


"Bantu jaga Bunga ya? Bantu didik Bunga, bantu urus Bunga. Tiga tahun tak ketemu, dia bukan anak yang ceria lagi. Wajahnya sendu terus, dia penyendiri. Keknya dia butuh psikolog, entah dia butuh peran orang tua yang lengkap." Kenandra pun tidak mengerti dengan perubahan pada diri anaknya itu. Selama tiga tahun mereka berpisah, baru sekarang-sekarang ini setelah dirinya sukses, ia mencoba membuka kasus untuk hak asuh anaknya agar jatuh padanya.


"Aku bakal dipenjara, Bang. Aku pun bingung, siapa yang urus Canda pasca sesar, gimana urus bayi kembar kami." Givan melirik istrinya yang sudah pulas, kemudian ia melamuni segalanya kembali.


"Canda ngandung bayi kembar???" Kekagetan terdengar di seberang telepon Givan.


"Iya, Bang," jawab Givan dengan mantap.


"Masya Allah, tabarakallah." Kenandra tidak menyangka hadiah terindah untuk Canda hadir di tengah badai seperti ini.


"Alhamdulillah, Bang. Berarti Ria ikut ke Cirebon dulu ya, Bang?" Givan menanyakan tentang adik iparnya itu.


"Iya, ikut dulu. Kemarin pun ikut, tapi dia Abang tinggal di rumah abi," ujar Kenandra dengan melirik pada gadis dewasa yang duduk di depannya dengan menikmati rokok.


"Oke, nitip dia, jaga dia, Bang." Givan tidak memungkiri bahwa ia merasa khawatir pada adik iparnya yang pergi dengan duda berusia empat puluh satu tahun tersebut.


"Iya, tenang aja. Udah dulu ya? Assalamualaikum...."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." Givan menyentuh ikon merah, kemudian menaruh ponselnya di dekat bantalnya.


Ia mengagumi rupa teduh istrinya yang tengah terlelap di malam hari ini. Ia tidak percaya dengan Canda yang sampai mengikuti kaki kanannya, yang ikatan tersebut terhubung dengan kaki kiri Canda. Dasinya yang memiliki nilai rupiah cukup tinggi tersebut, tidak lebih fungsinya sama seperti tali plastik.


"Canda, Canda. Tak paham lagi aku sama sifat kau. Makin ke sini, makin yakin kalau kau ini manusia jadi-jadian." Givan terkekeh kecil dengan mencium kepala istrinya.


Givan sedikit bingung dengan pemikiran Canda. Di awal, Canda begitu ingin mereka berpisah. Lalu setelahnya, Canda terlihat pasrah dengan keadaan. Hingga terakhir, Canda malah membelenggunya sekuat ini. Bahkan, jalur hukum tak tiba-tiba tak diizinkan oleh Canda, jika sampai dirinya mendapat masa tahanan di sel penjara.


Istrinya hanya satu, tapi seperti sepuluh manusia yang berada di dalamnya. Dengan keputusan Canda yang berubah-ubah, Givan semakin yakin bahwa Canda mendengar nasehat dan saran dari beberapa pihak tentang masalah mereka. Sehingga, membuat pendirian Canda tidak tetap.


Jika Canda adalah sifat manusia yang mudah terbawa angin seperti ini, ia semakin yakin untuk tetap mengikat Canda lebih kuat dari sebelumnya. Karena bisa saja, Canda akan terbang terbawa angin. Dalam artian, Canda bisa tak tentu arah jika lepas dari dirinya dan pengawasannya.


"Maaf, Canda. Kali ini, kau harus ikut keputusan aku. Keputusan kau buat aku bingung dan pusing, tapi pasti aku utamakan kau, aku pasti pikirkan kau, aku pasti usahakan kau." Givan mengusap-usap pipi istrinya dengan ujung jarinya.


"I love you my wife, my wife is my life." Givan mendaratkan kecupan ringan di pelipis Canda. Ia tersenyum samar, dengan mulai merebahkan tubuhnya di sisi istrinya.


Ia membiarkan kakinya dalam keadaan terikat semalam ini. Agar Canda mengerti, bahwa ia tidak akan melepaskan belenggu yang Canda berikan.


"Jangan nangis lagi, Canda. Lepas ini, kita ke ahli gizi lagi. Oke?" Givan mencoba menenangkan Canda kembali.


Meskipun rutin ke ahli gizi, nyatanya tidak membuat gadis kecil tersebut mau makan dan bertubuh ideal. Sampai jamu tradisional pernah Givan dan Canda buatkan untuk Ceysa, tapi tetap saja tak bisa membuat Ceysa mau memakan nasi dengan rutin. Segala macam vitamin dan makanan tambahan rutin yang mereka penuhi untuk Ceysa, malah membuat Ceysa semakin sulit untuk mau makan nasi atau makanan berat lainnya.


"Aku takut dia kek bang Daeng, Mas." Canda memeluk tubuh ringkih Ceysa.


"Ya kita doakan, semoga Ceysa sehat terus. Dhuha gih, daripada nangis." Givan menghapus air mata istrinya.


"Ayo, Yah. Ke nenek." Ceysa berdiri, kemudian pindah ke pangkuan ayahnya.


"Malu tak, Adek tak berangkat sekolah? Nanti ketemu temen-temen gimana?" Givan sudah berancang-ancang untuk bangkit dan menggendong Ceysa.


Ceysa mengalami demam ringan sejak kemarin. Givan melarang anaknya untuk bersekolah, ia meminta anaknya untuk beristirahat saja agar keadaannya cepat pulih. Namun, Givan memiliki rencana lain hari ini. Yaitu, untuk membawa anak tirinya itu ke ahli gizi.

__ADS_1


"Mas, aku tak diajak ke nenek?" Canda masih bersimpuh di ruang keluarga mereka.


"Dhuha dulu, terus siap-siap. Lepas ini, kita ke rumah sakit, ke ahli gizi lagi." Givan sudah bangkit dan menggendong Ceysa yang tengah membawa semangkuk kentang goreng tersebut.


"Oke deh. Pulangnya jalan-jalan dulu." Canda bangkit dari duduknya, dengan Givan yang langsung membantu Canda untuk berdiri.


Meski perut Canda masih kecil, tapi tetap saja Givan begitu khawatir karena ada dua nyawa tumbuh di dalam perut istrinya. Ia khawatir terjadi sesuatu, lalu berimbas pada keadaan istrinya.


"Siap, Cendol." Givan memberi hormat pada Canda, membuat Ceysa dan Canda tertawa geli.


Kemudian Canda beranjak ke kamarnya dan Givan keluar dari rumahnya. Sayangnya, wujud Ai ditemuinya lebih dulu di ruang tamu rumah orang tuanya tersebut.


Wajah masamnya langsung terpasang jelas. Ia masuk begitu saja, dengan menggendong anaknya itu. Ia mencari neneknya anaknya, karena Ceysa terus memanggil nama neneknya.


"Ehh, Ceysa Cantik." Adinda mencolek pipi cucunya yang paling cerdas tersebut.


"Main, Nek." Ceysa berpindah ke dekapan neneknya, kemudian ia merosot untuk turun dan menarik neneknya.


"Main apa, Dek?" Adinda mengikuti tarikan tangan cucunya. Givan pun, mengekori ibunya.


Mereka semua geleng-geleng kepala, ketika Ceysa menuju ke pintu samping dan memainkan kode pada koper bekas yang tergeletak di sudut gudang sementara tersebut.


"Tak gembok, kode pun jadi." Adinda geleng-geleng kepala, melihat cucunya diam mengutak-atik koper tersebut.


"Adek tuh pusing kah mikirin kode-kode, mikirin gembok yang susah dilepas, terus jadinya sakit gini?" Givan menyentuh dahi anaknya.


Ceysa menggeleng, ia kembali fokus pada mainan yang menarik untuknya tersebut. Givan melirik ibunya, yang diam juga dengan memperhatikan cucunya tersebut.


"Mah, itu gimana Ai? Kenapa masih di sini?" Givan mengetahui Ai, dari laporan Canda yang mengatakan Ai melirik pada bakso yang ia bawa saja saat sore kemarin.


"Ai.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2